Diposkan pada Japan and Japanese

(J-Corner Ep.7) Makanan dalam JPop Culture

Haloha! πŸ˜†

Sebelumnya, selamat menjalankan ibadah shaum ramadan, ya… Semoga ibadahnya diterima Allah SWT dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelahnya.

Walaupun saat ini di siang hari, yang lagi berpuasa tidak diperbolehkan makan dan minum, tapi di postingan J-Corner kali ini, kami akan ngobrolin tentang makanan. Yah, siapa tau bisa jadi ide makanan berbuka gitu, kan. πŸ˜‰

Yang merasa nggak kuat iman, bisa di-close tab dan dibacanya ntar aja kalau udah berbuka. Wkwk.

Baca postingan Eya juga di sini, ya…

Ngomong-ngomong soal makanan di ranah hiburan Jepang, dulu pernah dibahas sekilas beberapa dorama yang bertema makanan. Bisa dilihat di postingan di bawah ini.

Melanjutkan postingan tentang dorama, kali ini saya mau merekomendasikan lagi dua dorama lain bertemakan makanan.

Maiko-san chi no Makanai-san (The Makanai)

Dorama ini adalah dorama original Netflix karya Koreeda Hirokazu yang baru dirilis awal tahun ini. Bercerita tentang Kiyo dan Sumire yang meninggalkan kampung halamannya di Aomori, untuk mengikuti pelatihan menjadi maiko di Kyoto.

Sayangnya, hanya Sumire yang dianggap memiliki kemampuan untuk menjadi maiko. Sedangkan Kiyo dianggap kurang serius dalam pelatihan, sehingga lebih baik menyerah, dan pulang saja ke Aomori.

Kiyo ini tipikal anak yang go with the flow. Makanya, mungkin sebenarnya dia sendiri nggak tau apakah dirinya benar-benar ingin menjadi maiko atau tidak. Tapi, Sumire membelanya dan mengatakan walau Kiyo tampak seperti kurang berambisi, sebenarnya dia selalu bersungguh-sungguh dengan janjinya. Jadi, pulang ke Aomori bukanlah pilihan.

Kiyo yang dari awal tertarik dengan masakan makanai-san rumah maiko tempat mereka magang, akhirnya menjadi makanai-san pengganti saat makanai-san yang asli terpaksa libur karena masalah keluarga.

Meskipun Kiyo tidak bisa menjadi maiko, Kiyo sangat menikmati peran barunya, dan memasak makanan rumahan bagi para penghuni rumah maiko setiap harinya.

Dorama ini dibuat seperti layaknya tipikal karya-karya Koreeda-sensei. Slice of life yang minim konflik dengan color grading yang cerah memanjakan mata. Cocok bagi yang sedang mencari tontonan santai. Tentu saja, buat yang suka tontonan dramatis atau penuh ketegangan, mungkin akan terasa membosankan. Tapi, sangat worth ditonton, apalagi bagi yang tertarik dengan makanan rumahan ala orang Jepang, seperti tamago sando untuk sarapan, hiyashi soumen saat musim panas, sampai ke oyakodon yang bisa dianggap comfort food-nya orang Jepang. Saking beneran masakan rumahan, sampai ada tagline bahwa masakan makanai-san di rumah maiko itu, bukan yang enaknya luar biasa, tapi justru rasanya yang biasa aja itu yang bikin menenangkan dan berasa di rumah.

tamago sando (source)
hiyashi chuka, di bawahnya ada mi soumen (source)
oyakodon (source)

Bisa ditonton di sini.

Oh, iya! Kalau ada yang mau resep makanan-makanan rumahan ala Jepang yang muncul di The Makanai, bisa ceki-ceki di sini. πŸ˜‰

Little Forest

Kali ini kita beralih ke film.

Film yang dirilis tahun 2014 dan 2015 ini, adaptasi dari manga berjudul sama. Terdiri dari empat bagian yang masing-masing mewakili musim dingin, semi, panas, dan gugur. Tapi, dibuat menjadi dua film, masing-masing menceritakan dua bagian, Summer- Autumn dan Winter – Spring.

Sebenarnya, film ini nggak hanya fokus ke makanan, sih. Tapi, lebih ke kehidupan sehari-hari perempuan muda yang tinggal di pelosok dan mengusahakan sumber makanannya sendiri. Mulai dari bertani sampai mencari bahan makanan di hutan. Tak lupa pula interaksinya dengan orang di sekelilingnya, dan tentu saja bertaburan scenes memasak.

Lagi-lagi, tak ada konflik berarti. Film yang santuy dan cocok ditonton saat sedang tidak ingin menyaksikan tontonan yang ‘berat’.

Little Forest Summer – Autumn (source)
Little Forest Winter – Spring (source)

Sayangnya, belum ada di platform yang legal. πŸ™πŸ™

Tapi, boleh kontak saya, kalau mau info nonton di mana. πŸ˜‰

Food Wars!: Shokugeki no Soma

Sekarang kita ke manga (dan anime) tentang makanan.

Seperti biasa, manga kalau udah terkenal, biasa dibikin anime-nya juga. Begitu juga dengan manga yang satu ini.

Foodwars!: Shokugeki no Soma (source)

Bercerita tentang murid-murid di Akademi Kuliner Totsuki, sekolah kuliner elit di Tokyo, yang salah satunya Soma. Di sini mereka bersaing untuk menjadi murid terbaik dengan mengikuti berbagai kompetisi memasak di sekolah tersebut.

Namanya aja manga, ya… tentu saja isinya ‘berapi-api’. Apalagi judulnya sendiri udah ada kata ‘food wars’-nya. Jadi, walaupun temanya masak-memasak, tetap berasa seru.

Oh iya, walaupun tema utamanya tentang ‘perang’ masak-memasak, baik manga maupun animenya, sebenarnya agak NSFW. Mungkin mengambil filosofi foodgasm, jadi reaksi para pemakan hasil masakan Soma dan kawan-kawan, sering ditampilkan rada vulgar. Jadi, hati-hati. Jangan dibaca atau ditonton saat puasa. Double kill, ntar. Wkwk.

Untuk animenya bisa ditonton di sini.

Yakitate!! Japan

Masih tentang manga bertema makanan yang ada animenya. Saya pengin membahas komik yang satu ini karena cukup berkesan buat saya. Kalau tidak salah, pertama kali membacanya di persewaan komik dekat rumah, yang sekarang kayaknya udah ditutup. πŸ˜…

Kali ini membahas per-roti-an. Makanya judulnya Japan, dengan tulisan untuk kata ‘pan’ dalam huruf katakana, yang merujuk pada roti dalam bahasa Jepang.

Yakitate!! Japan (source)

Bercerita tentang Azuma yang berambisi membuat roti yang dapat dijadikan sebagai roti nasional Jepang. Agak mirip dengan Foodwars!, karena sama-sama menampilkan banyak kompetisi memasak. Reaksi para pemakan hasil baking-an peserta juga mirip lebay-nya. Bedanya, selain yang dimasak khusus roti-rotian, reaksinya juga tidak sevulgar Foodwars!.

Mungkin kurleb sama dengan Kantaro yang pernah dibahas Eya di postingan Doramatalk yang ini.

Untuk animenya sendiri, ada di Netflix JP, nggak tau juga masuk ke Netflix ID atau nggak. Bisa dicek di sini.

Masakan Jepang IRL

Sebelum ke Jepang, makanan Jepang yang saya kenal itu cuma sushi dan ramen. Itu juga ala-ala, karena ternyata rasanya jauh berbeda dengan aslinya. Waktu itu, terutama di Bandung, kayaknya memang masih sangat sulit menemukan restoran otentik Jepang. Kalaupun ada, sudah pasti di luar jangkauan keuangan saya sebagai anak kos. 😝

Setibanya di Jepang, berhubung makanan yang muslim friendly juga terbatas, jadi makanan Jepang yang saya kenal juga cuma itu-itu aja. Kalau nggak ramen, sushi, atau tempura. Kadang-kadang kalau lagi ada duit, nyobain perdagingan juga, yang bersertifikasi halal tentunya. Jadi, harap maklum kalau hanya bisa icip-icip 1-2 kali setahun. Harganya ngabisin jatah makan 1-2 minggu soalnya. Hahaha.

Sushi (source)
Daging Yakiniku (source)

Menurut saya, makanan Jepang di Jepang itu rasanya subtle dan cenderung plain. Apalagi bagi lidah orang Indonesia yang terbiasa makan makanan berbumbu medhok. Para mamak-bapak yang seumur hidupnya terbiasa makan rendang, gulai nangka, dan asam padeh, kayaknya bakal sutris kalau harus tinggal lama-lama di Jepang. Nggak cocok sama makanan ceunah. Wkwk.

Tapi, kalau udah terbiasa, atau bagi yang sehari-harinya lidahnya sudah kaya akan perbendaharaan rasa, kenikmatan masakan Jepang itu berasa bedanya, karena yang ingin ditimbulkan adalah rasa asli dari bahan utama masakannya. Jadi, bumbu-bumbunya sendiri dipakai untuk menguatkan rasa asli si bahan utama.

Saya sendiri, saat sudah mulai terbiasa dengan masakan Jepang, kalau ‘kena’ masakan Jepang yang enak, tuh, rasanya ‘dalem’, kayak merasuk sanubari dan bikin happy *halah*. Bikin tanpa sadar nyebut oishii-oishii mulu. πŸ˜‹

Kayaknya, kalau ditingkatin dikit lagi ke-lebay-annya, reaksi saya sama kayak reaksi para penikmat makanan di Foodwars! atau Yakitate! Japan, kali yaa… wkwk.

Tapi anehnya, bagi saya pribadi, seenak apapun masakan Jepang, belum pernah bikin saya pengin nambah. Enak banget, cuma pas udah kenyang, ya udah aja gitu. Paling cepet baru bakal pengin makan lagi tuh beberapa hari kemudian.

Beda banget sama masakan Indonesia, terutama yang rasanya ‘kuat’ kayak nasi padang, dkk. Kayaknya rempah-rempah di dalamnya di’desain’ buat bikin lupa rasa kenyang, kali yaa? Rasanya kek nggak puas-puas, pengin nambah terus, gitu lho… 🀣


Bagaimana pendapat teman-teman tentang tontonan atau bacaan bertemakan makanan? Adakah makanan Jepang yang teman-teman sukai?

Sampai jumpa di postingan selanjutnya~~

Iklan

Penulis:

To many special things to talk about... =p

6 tanggapan untuk “(J-Corner Ep.7) Makanan dalam JPop Culture

  1. Dari daftar tontonan dan bacaan di atas, yang aku pernah “konsumsi” cuma Little Forest mba Hicha (you know where I watched it fromπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜­πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚). Lihat tokoh utamanya masak-masak tuh kayak enak gitu, hampir semua bahannya dia ambil sendiri dari kebun atau hutan. Rasanya pingin tinggal seperti dia tapi dengan uang yang banyak, HAHAHAHAHAHAHA. *digaplok*

    Kalau masakan Jepang di sini aku suka makan ramen dengan kuah kare, chicken katsu dan teriyaki juga suka, sama apa ya namanya yang bentuknya kayak kimbap gitu tapi digoreng karo di Ichiban Sushi. *SEBUT MEREK* πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Belum pernah makan sushi karena gak doyan ikan dan seafood. πŸ™ˆ Sama onigiri mininarket itu juga suka, wkwwkwkwkwk (walau nasinya suka buyar kalo bungkusnya dibukaπŸ˜†).

    1. Percayalah, Ndah… uang banyak di hutan itu nggak gitu guna. Nggak ada yg jualan juga… wkwkwkwk

      Padahal di Jepangnya sendiri sushi kayak kimbap digoreng itu NGGAK ADA, dong… 🀣🀣🀣 Atau ada kali ya, di resto khusus jualan makanan fushion. Kalau di resto sushi biasa, ya, sushi-sushi bentukan simple dengan nasi dan topping seafood mentah atau paling banter di-torch bentar doang. Tapi, anehnya kok ya di lidahku sekarang malah enak-enak aja. Padahal dulu aku juga bukan pecinta seafood. Hahaha.

      Onigiri minimarket juga ter-de best kalau lagi traveling atau mager masak. Di Jepang harganya relatif murah (11 12 kayak di Indo, tapi dgn UMR 3x Jakarta, jadi berasa murah πŸ˜†), tapi praktis, cepat, dan enak. Kalau soal nasinya buyar, selain karena jenis beras yang dipake beda, mungkin karena kalau di Indonesia suka ditawarin buat diangetin dulu juga kali, ya? Nasi dingin diangetin dgn microwave kan bawaannya jadi buyar wkwk

  2. IH AKU KOK BELUM KOMEN, KOMENKU KE MANA 😭😭

    Aku belum nonton The Makanai (belum balik langganan netflix lagi nih heu), tapi Little Forest, Shokugeki no Soma sama Yakitate Japan udah, yang terakhir baca komiknya doang sih walaupun belum sampai tamat πŸ˜‚

    Iya siih Shokugeki no Soma tidak dianjurkan ditonton saat berpuasa hahahaa dobel-dobel soalnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Hicha berarti makanan paling mahal di Jepang tuh perdagingan yaa, dibandingkan sushi dan lainnya? Pantesan kalau nonton bangumi terus ada yang hadiahnya ada daging, kayaknya pada happy banget pesertanya πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. Eh, pernah komen tapi nggak masuk gitu kah? 😯

      Shokugeki no Soma, pas bukan puasanya aja, NSFW, yak… Padahal tentang makanan, tapi kalau nonton pake headset terus suaranya bocor, asa bakal malu sendiri, dikirain lagi nonton film biru. 🀣

      Iyess, daging yang murah itu kayaknya cuma ibab wkwkwk. Seafood juga mahal, sih… terutama yg fresh dan jarang, kayak blue fin tuna. Sushi artisan ootoro (dari belly fat tuna high quality) bisa nyentuh jutaan juga buat sesayat doang. Heu… Kalau sering daging wagyu high end yg dijadikan hadiah, mungkin karena relatif lebih tahan lama kali, ya… bisa lah disimpen 2-3 hari. Kalau ikan buat sushi, biasanya begitu disayat langsung disajikan.

  3. aku belum nonton semua list diatas mbak
    tapi aku suka nontonin acara atau film atau drama yang temanya masak-masak gitu, tapi kalau isinya konflikkk mulu ya agak bosen juga
    tapi kalau lebih banyak porsi masaknya, ya betah nontonnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s