It’s All About “Kepentingan”

Sebut saja A, seorang researcher, dalam perjalanan menuju international conference. Pada masa transit, A menyempatkan jalan-jalan di tempat menarik kota tersebut. A mendengar sekeluarga yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Dia diam saja. Tidak bertatap muka apalagi menyapa. Karena memang tidak ada kepentingannya.

Keesokan harinya, A bertemu kembali dengan orang yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Kali ini adalah seorang senior researcher dari universitas ternama di negaranya. A langsung memperkenalkan diri dan menjadi sangat ramah sekali. Secara kepentingan mungkin berhubungan dengan masa depan risetnya. Continue reading

15. Tips (dianggap) Lancar Berbahasa Jepang

Kenapa judulnya ada kata “dianggap”-nya? Ya, karena saya sendiri juga sebenarnya nggak lancar-lancar amat bahasa Jepang-nya. Simply, hanya cukup untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh lawan bicara dan untuk survive dalam kehidupan sehari-hari. Lha wong ikut ujian JLPT level 3 aja saya belum pernah, apalagi level 2 atau level 1-nya. Hueee… Continue reading

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka punya banyak arti.
Merdeka dari penjajah, merdeka dari rasa malas, dari rasa takut, hingga dari rasa yang pernah ada.
Merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ke-kurang iman-an, hingga dari zona nyaman bernama zona teman, zona kakak-adek, zona tempat curhat, zona supir pribadi, atau bahkan zona obat nyamuk.

Ya, mari kita memerdekakan diri! Continue reading

14. Memperpanjang Izin Tinggal di Jepang

Hai, hai, ketemu lagi dengan postingan jejepangan. Eh, mostly akhir-akhir ini memang tentang jejepangan, sih ya? Kalaupun curhat biasanya bentuk colongan yang tersirat. *aseek*

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit tentang cara memperpanjang izin tinggal di Jepang. Nah, sedikit FYI, di Jepang ini ada beberapa jenis izin tinggal yang berbeda statusnya dengan tourist visa. Kalau dulu Jepang menggunakan sistem Alien card untuk WNA yang menetap di Jepang, sejak Juli 2012 diberlakukan sistem baru yang semakin mempermudah. Sistem ini ditandai dengan digantinya Alien card menjadi Residence card dan tidak perlunya registrasi re-entry permit di kantor imigrasi saat akan melakukan perjalanan sementara ke luar Jepang. Jadi bisa langsung dilakukan saat melewati imigrasi di bandara internasional di Jepang. Sangat mempermudah dan tidak perlu repot-repot harus ke kantor imigrasi terlebih dahulu, bukan? Continue reading

Cerita Akomodasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di posting-an yang ini. Tentang inap-menginap sepertinya harus dibuat tulisan tersendiri. Dan kali ini saya ingin menuliskan sejarah per-inap-an (eh, bener nggak ya ini penulisannya?  :P). Sejujurnya entah karena saya-nya yang cemen atau gimana, dulu saya sangat menghindari menginap di hotel. Entah kenapa image hotel di mata saya kok jelek. Padahal ya by default, hotel itu tempat untuk menginap saat dalam perjalanan kan ya? Tapi sebisa mungkin saya menginap di tempat yang ada orang yang saya kenal. Saking tidak mau-nya menginap di hotel, saya pernah pulang-pergi Kobe-Hiroshima dalam sehari. Pulangnya sih pakai 18kippu, tapi perginya naik Shinkansen. Pokoknya nggak mau nginep di hotel ajah! (lah, terus apa gunanya pakai tiket murah sejenis 18kippu? -_-”). Continue reading

5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja. Continue reading

13. Pointing and Calling

Shisakankou (指差喚呼) atau yubisashikosyou (指差し呼称)adalah salah satu hal baik yang baru saya kenal di Jepang. Mungkin sebenarnya di mana pun di tempat-tempat dengan prasyarat keselamatan, metode ini sudah menjadi bagian dari SOP. Tapi dasarnya saya kurang ngeh sama hal sekitar, bahkan metode ini pun baru saya ketahui setelah hampir dua tahun setengah tinggal di sini.

Awal tahunya juga gara-gara kurang lebih setahun-dua tahun yang lalu (lupa pas-nya kapan), saya bersama beberapa anggota PPI yang lain sedang menunggu kereta ke mana gitu di platform. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, kenapa ada petugas yang sedang berdiri di platform itu ngomong sendiri sambil nunjuk-nunjuk sesuatu. Dan saya pun baru sadar kalau ternyata memang petugas tersebut mengarahkan tangannya ke sesuatu sambil ngomong sendiri. Saya tidak tahu, dan bingung juga bagaimana mencari tahu. Mau googling kok males kalau pakai bahasa Jepang dan tidak yakin ada kalau menggunakan query bahasa Inggris atau Indonesia. Intinya males saja sih sebenarnya. Hehe. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,340 other followers