Archive for the ‘MindTalk’ Category

Memories

Kenapa kita sering terlalu fokus pada mengabadikan kenangan sehingga lupa menikmati hal yang ingin dikenang itu sendiri? 

Yah, kan biar nanti bisa dilihat-lihat lagi kenangan indah yang sudah dilewati. 

Bukan postingan penting. Hanya postingan (sok) serius sebagai last post di 2016 😝

Unboxing iPhone 7 Plus

Percaya nggak percaya, saya baru punya smartphone pertama kali seumur hidup ya pas sampai di Jepang. Dari tahun 2003 sampai 2012, sejak pertama kali menggunakan telepon genggam kelas 1 SMA (Yah, ketauan deh umurnya :P), saya setia dengan HP monokrom yang tidak terkoneksi dengan dunia maya, hanya bisa telepon dan SMS saja. Continue reading

16th. Tips (dianggap) Lancar Berbahasa Jepang Part. 2

Hai, hai… Seperti yang tertulis di postingan yang ini. Mari kita lanjutkan tips agar “dianggap” lancar berbahasa Jepang. Nggak penting sih sebenarnya, tapi berawal dari “dianggap” ini siapa tahu jadi lebih terpacu gituh. 😉 Continue reading

It’s All About “Kepentingan”

Sebut saja A, seorang researcher, dalam perjalanan menuju international conference. Pada masa transit, A menyempatkan jalan-jalan di tempat menarik kota tersebut. A mendengar sekeluarga yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Dia diam saja. Tidak bertatap muka apalagi menyapa. Karena memang tidak ada kepentingannya.

Keesokan harinya, A bertemu kembali dengan orang yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Kali ini adalah seorang senior researcher dari universitas ternama di negaranya. A langsung memperkenalkan diri dan menjadi sangat ramah sekali. Secara kepentingan mungkin berhubungan dengan masa depan risetnya. Continue reading

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka punya banyak arti.
Merdeka dari penjajah, merdeka dari rasa malas, dari rasa takut, hingga dari rasa yang pernah ada.
Merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ke-kurang iman-an, hingga dari zona nyaman bernama zona teman, zona kakak-adek, zona tempat curhat, zona supir pribadi, atau bahkan zona obat nyamuk.

Ya, mari kita memerdekakan diri! Continue reading

5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja. Continue reading

Pay It Forward

Yes, I take a 2000 movie title for this blog post title. I haven’t seen it yet, though. And have no idea who start this phrase for the first time. Well, It’s not a problem. A good thing will remain good whoever started it, right? However, I don’t know whether this post also a good one or not. Because, honestly, it probably just a piece of grumble.

I usually don’t have any complaint with Japan nor Japanese. It is a great country with mostly good people. The transportation is very good and punctual, all public facilities are very well-organized, and you don’t have to much worry about your safety, even in many cases show that what is yours will be back to you even you left it in a random place. In addition, things related to services are just awesome.

It’s true that sometimes I heard some foreigner friends or acquaintances who live in Japan complained about Japanese workaholic culture and the lip-service things. I haven’t had work here yet and I don’t really bother about what people think as long as it’s in their mind. You got something you don’t like about me, tell me in private directly. Otherwise, It ain’t my business. So, most of the time I live here peacefully. Continue reading