Archive for the ‘Japan and Japanese’ Category

Ganjitsu

Yuhuuu… the first day in 2017! Dan saya baru nyadar kalau nambah tahun ternyata sama juga dengan berkurangnya jatah hidup. Baru nyadarnya setelah happy abis berburu hatsuhinode (初日の出) alias first sunrise. Heu. Continue reading

Advertisements

15th. Tips (dianggap) Lancar Berbahasa Jepang

Kenapa judulnya ada kata “dianggap”-nya? Ya, karena saya sendiri juga sebenarnya nggak lancar-lancar amat bahasa Jepang-nya. Simply, hanya cukup untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh lawan bicara dan untuk survive dalam kehidupan sehari-hari. Lha wong ikut ujian JLPT level 3 aja saya belum pernah, apalagi level 2 atau level 1-nya. Hueee… Continue reading

Cerita Akomodasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di posting-an yang ini. Tentang inap-menginap sepertinya harus dibuat tulisan tersendiri. Dan kali ini saya ingin menuliskan sejarah per-inap-an (eh, bener nggak ya ini penulisannya?  :P). Sejujurnya entah karena saya-nya yang cemen atau gimana, dulu saya sangat menghindari menginap di hotel. Entah kenapa image hotel di mata saya kok jelek. Padahal ya by default, hotel itu tempat untuk menginap saat dalam perjalanan kan ya? Tapi sebisa mungkin saya menginap di tempat yang ada orang yang saya kenal. Saking tidak mau-nya menginap di hotel, saya pernah pulang-pergi Kobe-Hiroshima dalam sehari. Pulangnya sih pakai 18kippu, tapi perginya naik Shinkansen. Pokoknya nggak mau nginep di hotel ajah! (lah, terus apa gunanya pakai tiket murah sejenis 18kippu? -_-”). Continue reading

5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja. Continue reading

13th. Pointing and Calling

Shisakankou (指差喚呼) atau yubisashikosyou (指差し呼称)adalah salah satu hal baik yang baru saya kenal di Jepang. Mungkin sebenarnya di mana pun di tempat-tempat dengan prasyarat keselamatan, metode ini sudah menjadi bagian dari SOP. Tapi dasarnya saya kurang ngeh sama hal sekitar, bahkan metode ini pun baru saya ketahui setelah hampir dua tahun setengah tinggal di sini.

Awal tahunya juga gara-gara kurang lebih setahun-dua tahun yang lalu (lupa pas-nya kapan), saya bersama beberapa anggota PPI yang lain sedang menunggu kereta ke mana gitu di platform. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, kenapa ada petugas yang sedang berdiri di platform itu ngomong sendiri sambil nunjuk-nunjuk sesuatu. Dan saya pun baru sadar kalau ternyata memang petugas tersebut mengarahkan tangannya ke sesuatu sambil ngomong sendiri. Saya tidak tahu, dan bingung juga bagaimana mencari tahu. Mau googling kok males kalau pakai bahasa Jepang dan tidak yakin ada kalau menggunakan query bahasa Inggris atau Indonesia. Intinya males saja sih sebenarnya. Hehe. Continue reading

Pay It Forward

Yes, I take a 2000 movie title for this blog post title. I haven’t seen it yet, though. And have no idea who start this phrase for the first time. Well, It’s not a problem. A good thing will remain good whoever started it, right? However, I don’t know whether this post also a good one or not. Because, honestly, it probably just a piece of grumble.

I usually don’t have any complaint with Japan nor Japanese. It is a great country with mostly good people. The transportation is very good and punctual, all public facilities are very well-organized, and you don’t have to much worry about your safety, even in many cases show that what is yours will be back to you even you left it in a random place. In addition, things related to services are just awesome.

It’s true that sometimes I heard some foreigner friends or acquaintances who live in Japan complained about Japanese workaholic culture and the lip-service things. I haven’t had work here yet and I don’t really bother about what people think as long as it’s in their mind. You got something you don’t like about me, tell me in private directly. Otherwise, It ain’t my business. So, most of the time I live here peacefully. Continue reading

12th. Menjadi Picky Eater di Jepang

Walaupun dianggap makannya banyak sama orang-orang sekitar saya, sejak kecil sebenarnya saya suka pilah-pilih makanan. Seafood apapun itu jenisnya adalah big no! Kecuali ikan gembung (?) kuah tumis tauco. Sayuran pun kadang masih pilih-pilih. Comfort food saya cuma telur. Dalam sehari makan sepuluh butir telur pun kayaknya saya sanggup-sanggup aja. Nggak sampe yang addict banget, yang kalau nggak ada telur nggak bisa makan, sih. Tapi dari pada makan yang saya nggak suka, saya lebih memilih telur. Continue reading