Diposkan pada Experience, Japan and Japanese

Hai, Miiko! (#JanexLiaRC)

Ada yang belum kenal Miiko? Apa? Belumm?! Iiih… kok bisa?

*simulasi jadi netijen nyebelin 😝✌*

Kali ini saya mau membahas komik yang baru saya kenal 12 tahun terakhir. Masih lumayan baru, mengingat manga-nya sendiri terbit sudah sejak tahun 1990.

Wow! Udah lebih 30 tahun aja!

Dari Bu Ono masih 20an, sampai sekarang hampir masuk usia ι‚„ζš¦ (kanreki) alias 60 tahun.

Dari belum punya anak, sampai sekarang anak-anaknya udah masuk kepala tiga. πŸ‘πŸ‘

Saya kenal dengan Miiko secara tak sengaja, saat main ke Togamas di Bandung. Gambarnya yang lucu, bikin saya langsung ambil dan bawa pulang –tentu saja tak lupa dibayar dulu, dong… 😁

Setelah baca satu volume (yang saya lupa nomor berapa πŸ™ˆ), saya langsung naksir dan memborong semua volume yang ada. Untung aja saat itu udah kerja, jadi nggak perlu minta duit ortu. Hehehe.

Kemudian, karena saya pindah ke Jepang, sempat vakum beli volume terbaru selama 3 tahun. Lanjut borong lagi pas mudik, dan pas balik lagi, akhirnya memutuskan buat hajar weh beli versi aslinya aja.

Untung aja, selain dialognya itu kalimat-kalimat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pada tiap huruf kanji disertakan furigana juga untuk memudahkan membaca. Saya sekalian belajar membaca juga kan jadinya… 😁

Karena itulah, Hai, Miiko! (dan 3 volume prequel-nya yang saya lupa judulnya) jadi satu-satunya series komik yang saya punya dengan lengkap.

Saat ini sudah ada 34 volume yang terbit di Indonesia. Original Manga-nya sendiri sudah sampai volume 35. Biasanya jeda setahun, tapi sepertinya akan semakin melambat, seiring dengan semakin menuanya sang mangaka. Bahkan menurut pengakuan Bu Ono sendiri, beliau sebenarnya ingin mengakhiri komik ini. Tapi, akhirnya para editor berhasil meyakinkan dan membantu Bu Ono untuk terus mengembangkan cerita Miiko. Makanya sejak vol. 32, Miiko naik kelas jadi murid kelas 6.

Akhirnya… setelah hampir 30 tahun kelas 5 terus. πŸ˜‚


Cuma ada dua volume Hai, Miiko! yang ada di tangan. Yang lain ditinggal di rumah ortu. Maklum, status masih nomaden, bentar lagi pindah (lagi) pun wkwk.

Judul: Hai, Miiko! Vol. 34

Penulis: ONO Eriko

Jumlah halaman: 168

ISBN: 978-623-03-0615-0

Ada 9 cerita di volume ini. Termasuk salah satunya tambahan tentang sejarah bagaimana komik Hai, Miiko! bisa sampai seperti sekarang ini.

Di volume ini juga, Miiko dan teman-temannya lulus dari SD Suginoki dan melanjutkan ke SMP Suginoki. Kecuali Yoshida yang masuk SMP swasta.

Cerita pertama, tentang bagaimana Miiko, Mari-chan, dan beberapa teman lainnya bereaksi saat mengetahui idol kesukaan mereka menikah.

Cerita di chapter ini bikin saya teringat dua tahun lalu, sempat nge-fans dengan aktor Jepang muda (banget, wong saat itu masih 21 tahun πŸ™ˆ) yang mengklarifikasi hubungannya dengan mantan member grup idol yang kurang terkenal.

Biasanya, saya santuy aja kalau aktor atau aktris yang saya suka menikah atau pacaran. Toh, mereka manusia juga, kan. Tapi, untuk aktor yang satu ini sejujurnya sempat gemes sendiri. Lebih karena, ya, ngapain juga diklarifikasi. Sampai agensinya pun mengiyakan.

Bukannya apa-apa, selain masih muda banget, aktor ini belum bisa dibilang terkenal. Jadi, bisa dibilang masih merintis karir. Nggak mikir apa, ya, dengan begitu dia bakal banyak kehilangan fans? Terbukti dengan followers IGnya, yang masih belum seberapa, sampai turun puluhan ribu gara-gara berita itu.

Padahal kalau dia diam-diam aja, atau minimal agensinya jawab pakai template “itu urusan pribadi mereka”, orang Jepang yang defaultnya cukup menghargai privasi itu nggak akan terlalu ‘ribut’. Ini kok malah mengiyakan kalau mereka mulai sering menginap bersama di kediaman si aktor. πŸ€¦β€β™€οΈ

Ok, mari kembali ke Miiko, sebelum hilang fokus. πŸ™ˆ

Seperti biasa, komiknya Miiko mah isinya anak baik-baik, kok… Marah atau sebel itu biasa, selalu ada penyelesaian yang heartwarming. Termasuk untuk kasus idol tersebut. Tentu saja ada andil Yukko, teman se-geng Miiko yang keibuan dan pemikirannya sungguh dewasa.

Untuk chapter berikutnya, cerita di volume ini fokus pada persiapan perpisahan dan kisah-kisah Miiko jadi murid SMP.

Mulai dari bagaimana murid-murid kelas 6-3 menyiapkan kenang-kenangan untuk Pak Oonishi, wali kelas mereka. Juga cerita-cerita tentang menjadi murid paling junior di sekolah dan lika-liku memilih ekskulnya.

Tak lupa pula cerita pacaran pertama salah satu teman Miiko. Di sini disebutnya ‘jalan bareng’, sih. mungkin karena bahasa Jepang δ»˜γεˆγ†(tsukiau) kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris jadi go-out together, alias ‘jalan bersama’ kalau dalam bahasa Indonesia. Hehehe.

Ngomong-ngomong tentang lika-liku memilih ekskul, awalnya saya kira Miiko akan terseret oleh Mari-chan yang keukeuh ingin masuk ekskul membuat Komik (red: di Jepang sendiri biasanya disebut 漫画研穢部, manga kenkyuu bu, atau ekskul penelitian komik). Tapi, ternyata Miiko bisa membuat pilihan sesuai keinginannya dan Mari-chan juga mau berlapang dada dengan pilihan Miiko.

Ckckck… beda emang yang udah SMP.

*terharu*

*kenapa jadi terharu, dah… 🀣🀣*


Ada juga cerita tentang Yoshida, teman SD Miiko yang naksir Miiko sejak lama, tapi Miiko-nya nggak nyadar-nyadar juga. Hahaha.

Yoshida ini murid teladan, jadi dia melanjutkan sekolah ke SMP swasta yang berbeda dengan Miiko dan kawan-kawan SD Suginoki lainnya. Untungnya ada satu kejadian yang bikin Yoshida berkesempatan untuk bertemu Miiko lagi. Nggak tau juga kesempatan ini akan berlanjut terus atau tidak.

Saya pribadi, sejujurnya lebih mendukung Miiko dengan Yoshida yang pintar dan baik hati daripada dengan Tappei yang tsundere. Wkwkwk. Maaf ya, buat yang nge-ship Miiko-Tappei. Semakin dewasa, semakin bikin tersadar, yang (sok) cuek dan jahil itu lebih bikin lelah. Yang kalem-kalem weh lah udah… bikin tenang dan merasa disayang. Wkwkwk.

Tapi, sepertinya saya akan berbalik mendukung Tappei kalau di SMP dia lebih dewasa dan mau jujur dengan perasaannya.πŸ€”

*huahahaha suka-suka elu dah, cha! Bu Ono mah punya pertimbangan sendiri keleus… 😝*


Di chapter terakhir, ada cerita Miiko dan Mari-chan mewawancarai Bu Ono tentang perjalanan komik Miiko. Seingat saya, Bu Ono pernah memasukkan potongan-potongan ceritanya dalam tiap volume-nya.

Misalnya, tentang bagaimana beliau mengejar deadline padahal baru selesai melahirkan dan bagaimana beliau mendapat banyak bantuan dari orang-orang sekitarnya sehingga tetap bisa membuat komik Miiko.

Saya selalu salut sama totalitas orang Jepang. Meskipun Bu Ono-nya sendiri berpesan agar tetap mengambil cuti melahirkan. Jangan seperti beliau yang ngegeber diri bikin komik padahal baru aja lahiran.

Yah, bahaya juga, kan, ya… Untung nggak kena Postpartum Depression, saking lelahnya mengurus anak sambil membuat komik.

Kalau sekarang, Bu Ono sepertinya tidak terlalu memaksakan diri lagi. Selain bawaan umur, mungkin juga karena Miiko sudah punya penggemar setianya sendiri. Apalagi di Indonesia, salah satu dari sedikit negara yang dikunjungi Bu Ono untuk bertemu dengan penggemar Miiko.

Cerita Bu Ono di Jakarta masuk ke komik versi original juga, lho… Membaca bagaimana terkesannya beliau dengan penggemar Indonesia, bikin saya ikut terharu. 😊


Sebagai satu dari banyaknya fans Hai, Miiko!, saya hanya bisa berdoa semoga Bu Ono diberikan kesehatan dan komik ini dapat terus berlanjut.

Teman-teman ada yang suka baca Miiko juga, tak? πŸ€—

Penulis:

To many special things to talk about... =p

11 tanggapan untuk “Hai, Miiko! (#JanexLiaRC)

  1. Aku tau Miiko tapi ga pernah baca wk
    Entah mengapa lebih tertarik ke komik anak SD lain (Detektif Conan) ketimbang cerita anak SD ini 🀣 Komik pertamaku bahkan Detektif Conan yang dibeli saat aku masih kelas 4 SD wkwkwk
    Tapi baca review kak Hicha seru juga ya ceritanya. Santai tapi berkesan dan hangat juga. Hehehe

    1. Beda selera ya, mba Frisca… πŸ˜†

      Dulu aku ngikutin Conan, tapi lama kelamaan kok berasanya dipanjang2in gitu, jadi sekarang ga ngikutin lagi, deh… πŸ˜…

      1. yes beda selera hahaha… betul sih Conan ini cerita utamanya kaya dipanjang-panjangin.. tapi aku suka aja sama kasus-kasus hariannya hihihi

  2. AKU SUKA SEKALI SAMA MIIKO!! 😭😭, dan lucunya bulan Februari kemarin banyak yang bahas Miiko juga dong, Kak Hicha 🀣
    Awalnya aku pikir Miiko juga akan ikutan Mari-chan untuk ambil ekskul Manga dan merasa kasihan sama Miiko kalau harus ikut-ikutan terus, sementara hatinya ingin yang lain 😭. Untung akhirnya Miiko bisa memantapkan pilihan sendiri, lega bangettt! terasa ya perkembangan karakternya dari SD ke SMP 🀣
    Akupun di satu sisi penginnya Miiko sama Yoshida, tapi di satu sisi pengin Miiko sama Tappei juga WKWK *labil*. Habis gimana, aku nggak tega kalau lihat mereka pas cemburu gitu 🀣
    Semoga Bu Ono diberi kesehatan selalu agar bisa tetap terus menulis Miiko, paling nggak sampai tamat gitu komiknya 😭 jangan digantungin wkwk

    1. Aku baru nyadar, ternyata JanexLiaRC bulan Februari ada empat orang yg membahas Miiko. Pada sehati, nih… πŸ˜‚πŸ˜‚

      Iya, Li, aku seneng Miiko bisa menentukan pilihan, ga ikut-ikutan terus. Miiko-nya kayaknya lebih ke Tappei, ya… tapi Tappei-nya gitu, sih… sok-sok tsundere 🀣🀣

      Walau kurang rela kalau komiknya selesai, tapi lebih ga rela kalau ngegantung ya, Li… 😒😒

  3. Aku suka banget sama komik Miiko mba Hicha😍 Punya koleksi lengkap juga di rumah, punya yang edisi khusus zaman Edo juga, terus dulu sempet punya fanbook tapi aku kasih ke ponakan wkwk. Tinggal yang Hai, Miiko! Cilik aja. Prekuelnya Hai, Miiko! tuh yang Namaku Miiko bukan sih? Yang cuma empat volumeπŸ€”

    Btw Yoshida buat Haruna ajaaaaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† udah cocok mereka berdua wkwk. *Team Miiko-Tappei* Tbh aku pingin lho komik ini diakhiri dengan mereka semua tumbuh dewasa kayak yang ada di volume 25. Biar nggak kentang gitu lhooo kita-kita ini yang ngikutinnya udah dari belasan tahun yang lalu. Semoga bu Ono sehat selalu🀲

    Cerita yang Miiko dkk ngasih kenang-kenangan Pak Oonishi itu aku kagum, mereka itu selalu mulai dari hal-hal yang sederhana tapi heartwarmingπŸ₯° mendidik pembacanya untuk gausah mewah-mewahan dulu kalau masih SD, yang penting kreatifπŸ‘

    1. Oh, iya! Namaku Miiko! *baru inget 🀣* Miiko masih kotak gitu rambutnya πŸ˜‚πŸ˜‚

      Wkwkwk. Sayangnya sama kayak Miiko ke Yoshida, Yoshida juga kayaknya ga nyadar kalau Haruna ada hati, ya… Makanya, Tappei jangan tsundere2 amat atuhlah… *netijen ngatur 🀣🀣*

      Iya, gapapa deh kalau Miiko harus tamat, yang penting jangan gantung gitu ya, mba Endah πŸ˜†πŸ˜†

      Kayaknya ini udah ditanamkan sejak kecil sm anak2 Jepang, ya… aku pernah dapat kenang2an origami dari anak2 SD di tempat penitipan di Jepang karena udah presentasi ngenalin Indonesia ke mereka. Mana pakai kata2 gitu, kata mereka biar aku bisa tetap inget mereka kalau pas balik ke Indonesia. Ya, tentu saja jadi berkaca2 lah… padahal cuma sekali tapi totalitasnya nyampe ke hati πŸ’“

  4. Aku agak roaming bacanya, Krn memang ga pernah baca komik ini 🀣🀣. Tau sih komiknya, tapi ga ada kesempatan untuk baca. Kok aku ga inget yaaa temen2ku pernah baca ini juga Cha. Dulu pas di Aceh aku kan beli buku di toko buku di lhokseumawe tuh, yg jadi langganan banyak orang. Nah komik miiko aku ga pernah liat. Makanya bisa jadi Krn ga pernah Nemu komiknya, JD ga familier. Seiingetku baru tahu miiko pas pindah ke Jakarta. Tapi sayangnya udh ga tertarik Ama komik πŸ€£πŸ˜….

    Kalo aku sih lebih milih komik itu ada edisi trakhir mendingan. Mau seterkenal apapun, tapi jujur capek ngikutin tanpa jelas tamatnya kapan 🀣🀣. Kayak topeng kaca aja si pengarangnya keburu meninggal. Trus ga ada yg lanjutin 😀🀣. Sakit ati bangettt aku waktu itu ahahhaha. Tapi untungnya miiko ini langsung tamat yaaa. Ga perlu nunggu sambungan cerita. Masih mending sih 🀭

    1. Apakah kak Fanny beli komik di toko buku Arun Post? πŸ˜†
      Komiknya sendiri kayaknya emang baru diterjemahin ke Bahasa Indonesia di akhir 2000an, kak. Jadi wajar aja ga ada di Lhokseumawe. 😁

      Kalau komik yang bersambung gitu, emang enaknya baca kalau pas udah selesai ya, kak. Ini kayak Detektif Conan atau One Piece ga kelar2. Miiko juga, sih… tapi karena ceritanya santai dan bisa dibaca terpisah, jadi kalau aku masih cukup menikmati 😁

  5. Ahhhh seru sekali Mba Hicha sempat punya komik aslinya yaa! Masih disimpan nggak, Mbaa, sampai sekarang? πŸ˜€

    Aku baru ngeh lho ternyata Bu Ono udah berumur juga, yak. Apa rasanya ngembangin karakter komik selama itu. Pantes aja bonding Bu Ono dengan Miiko dkk tuh deep bangettt. Berasa cucu sendiri kali ya sekarang mah πŸ˜‚

    Cerita soal idola itu kocak banget yaowooo aku sampe ngakak. Sebagai seorang fan, aku nggak pernah mempermasalahkan idolaku pacaran atau nikah. Justru aku sangat mendorong mereka untuk cepetan nikah (kalau emang yang kepingin). Umur woyyy! 🀣

    Btw, prequel komik yang dimaksud Mba Hicha itu Namaku Miiko bukan yaa? Aku juga punya ituuu dulu. Sekarang udah entah ke mana gara-gara pindah rumah beberapa kali, hikss. Nyesel juga nggak disimpen, tau komik sekarang makin mahal πŸ˜‚

    Aminnnn! Semoga Bu Ono sehat selalu dan bisa menyelesaikan komik Miiko tepat pada waktunya nanti πŸ˜‰

    1. Masih, mbaa… Tapi kok ya lupa foto, padahal kemarin abis mudik πŸ™ˆ

      Dari berasa anak sendiri, sekarang jadi berasa cucu sendiri ya, mba… πŸ˜‚πŸ˜‚

      Iya, kepikiran aja ya bu Ono soal idola. Aku juga sebenarnya support2 aja, sih… tapi kalau pas masih belum terkenal dan mengumbar (terutama utk pacaran, kalau nikah sih selama tidak di bawah umur ya sok weh *netijen ngatur wkwk*) itu asa sayang gitu sm karirnya, mba… heuheu

      Bener, mba Jane. Wah, sayang banget, ya… sekarang harga komik bikin ngelus dada. Ga beda jauh sama novel πŸ™ˆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s