Diposkan pada MindTalk

Moving Forward with The Memories of You

Saya pikir saya sudah tidak menyentuh blog ini setahun lamanya, ternyata sebulan pun belum berjalan. Begini, ya, rasanya ditinggal orang tersayang untuk selama-lamanya. Hari-hari berjalan sangat lambat, tertahan oleh rindu yang membebat.

Ya, ibu saya pergi menghadapNya tepat sebelum subuh di malam saya publish postingan terakhir di blog ini.

Bagi saya, cerita tentang ibu tidak akan ada habisnya. Karena sebagai anak, saya menjadi saksi hidup bagaimana seorang ibu itu bertumbuh, tidak cukup dari nature, tapi juga bagaimana beliau belajar untuk menjadi versi lebih baik dari dirinya, di setiap harinya.

Dan biarkan saya menjalani fase grieving ini dengan menuliskan (kembali) tentang ibu saya.

Lifelong Education

Ibu saya tidak bisa berbahasa Inggris, tapi beliau sangat mengingat kata-kata ini. Berbarengan dengan pepatah Arab yang mengatakan “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Dan sebagai seorang guru, passion ibu dalam belajar sama besarnya dengan dalam mengajar.

Berasal dari sebuah desa di mana (saat itu) SMP saja tak ada, ibu akhirnya jadi anak kos setelah tamat SD. Pulang-pergi seminggu sekali, mulai dari berjalan kaki hingga kemudian dengan sepeda sejauh 12km. Karena beliau bertubuh kecil, kakinya tak sampai ke pedal jika harus duduk di sadel. Maka beliau mengayuh sepeda tanpa duduk.

Setelah tamat sarjana muda, kakek saya berterus terang mengatakan bahwa beliau tidak mampu lagi membiayai ibu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Sehingga akhirnya beliau mulai mencari pekerjaan. Tapi, saat menjadi tenaga honorer, ibu menikah dan ikut ayah ke Aceh.

Saat hamil beliau ikut ujian CPNS dan diterima, mengajar di sekolah tak jauh dari rumah beberapa bulan kemudian.

Masih terbayang-bayang oleh saya, dengan ingatan yang sangat blurry, saya diboyong ibu ke Banda Aceh dari Lhokseumawe (sekitar 8 jam perjalanan dengan bus) saat batita, untuk mengikuti penataran CPNS.

Belasan tahun kemudian, ibu melanjutkan pendidikan sarjananya. Saat itu jurusan yang sejalan dengan background ibu tidak dibuka, tapi ibu tetap keukeuh dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya.

Saat beliau lulus, jurusan yang sesuai dengan background sarjana mudanya pun dibuka. Tentu saja, ibu tidak menyia-nyiakannya dan akhirnya memiliki dua gelar sarjana.

Begitu juga saat saya berangkat ke Jepang, ibu pun tak mau kalah, kata beliau agar saya semangat, jadi beliau ikut sekolah lagi mengambil S2.

Bahkan sampai saat-saat terakhirnya, ibu masih suka belajar. Entah itu belajar komputer, atau berselancar di internet mencari ilmu pengetahuan baru. Tak jarang ibu mengirimkan saya pertanyaan-pertanyaan untuk mengonfirmasi apa yang didapat di internet, agar tidak termakan hoax. Karena menurut ibu, saya sudah jauh berjalan dan pengetahuan saya lebih luas dari beliau. Beliau tidak pernah malu belajar dari siapapun, selama itu ilmu yang bermanfaat, termasuk dari anaknya sendiri.

and I have to thank my dad, too.

Karena beliau tidak pernah melarang ibu sekolah lagi, meskipun ayah sendiri hanya tamatan SMA.

Tak hanya untuk pendidikan, ibu pun belajar menjadi ibu. Setelah menjadi piatu di usia sembilan tahun, ibu tak punya sosok ibu tempat beliau bisa belajar menjadi ibu. Karena itu, beliau suka bergaul dengan perempuan-perempuan berusia jauh di atas beliau. Tempat beliau mencari setitik rasa memiliki ibu.

Karena itu pula lah, ibu jadi menantu kesayangan nenek. Bahkan nenek sendiri mengatakan bahwa baginya ibu itu bukan mantu tapi sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.

Hidup tanpa Keluh-kesah

Saya pribadi bukan orang yang anti dengan keluhan. Sesekali manusia perlu mengeluarkan unek-uneknya. Agar hati dan pikiran terasa lebih plong. Sesekali saja, kalau mengeluhkan hal yang sama berkali-kali, tapi tidak melakukan apa-apa untuk keluar dari kondisi yang dikeluhkan tersebut, IMO itu sama saja dengan menyebar energi negatif pada orang sekitar.

let’s put it aside, though.

Ibu saya seorang guru. Selama masa pengabdiannya, seberapa pun lelahnya beliau, seberapa pun saya protes waktu kecil karena teman-teman saya sangat jarang ada yang ibunya juga bekerja, tidak pernah sekalipun saya mendengar ibu mengeluh.

Sampai sekarang saya bertanya-tanya, apa yang membuat ibu bisa tidak mengeluhkan pekerjaannya sama sekali. Padahal, menjadi guru, berhadapan dengan ratusan murid dengan berbagai perangai, juga dengan sesama guru setiap harinya, pasti banyak potensi terjadinya konflik.

Tapi, adalah sebuah pepatah minang “Takuruang nak di lua, taimpik nak di ateh” (red: terkurung hendaknya di luar, terhimpit hendaknya di atas), yang oleh ibu dijadikan bercandaan dan beliau artikan sebagai “pandai-pandai lah membawa diri”.

Sebaik-baik Manusia adalah Mereka yang Bermanfaat

Seingat saya, semua keinginan-keinginan ibu berkaitan dengan orang lain.

“Ibu mau renov rumah jadi lebih besar. Saudara-saudara ibu banyak, biar pas nginep di sini nggak sempit-sempitan”

“Ibu mau mobil yang kapasitasnya besar. Biar muat orang banyak. Saudara-saudara ibu banyak…”

“Kita beli aja (panci listrik diameter 80cm) ini, buat acara-acara di kampung.”

“Hicha kalau punya rezeki, kirim sedekah atau zakatnya ke kampung aja. Sesusah-susahnya orang di sana, masih banyak yang lebih susah di kampung.”

Bahkan saat sehari sebelum drop pun, ibu masih membuat dan mengirimkan saya dan adik saya keripik pisang hasil kebun sendiri.

Juga saat keluar dari RS, masih berusaha menjamu para tamu yang masih datang menjenguk.

“Hicha yang ikhlas, ya, nak… menjamu tamu itu kebahagiaan tersendiri buat ibu,” kata beliau saat saya cemberut dengan para penjenguk. Bukannya saya tidak senang, tapi dengan kondisi ibu yang seharusnya lebih banyak istirahat, belum lagi masih pandemi begini, siapa yang tidak ingin marah-marah jadinya?

Tapi ibu tetaplah ibu. Bagi beliau menjadi manusia yang bermanfaat adalah salah satu tujuan hidupnya.


Dear Ibu…

Belum satu bulan ibu pergi. Tapi rasanya sudah rindu sekali.

Masih banyak yang ingin Hicha tanyakan. Tentang resep masakan, tentang cara bergaul dan bermasyarakat, tentang hidup ikhlas lillahita’ala, bahkan tentang kisah cinta ibu dan ayah yang membuat Hicha tidak perlu relationship goals yang lain, cukup dengan melihat hubungan ayah dan ibu saja.

Masih banyak yang ingin Hicha tunjukkan dan berikan. Mewujudkan keinginan ibu untuk baralek gadang walau anakmu ini tipenya cenderung ke yang penting sah secara agama dan hukum saja. Mengajak ibu jalan-jalan melihat tempat-tempat baru karena ibu adalah seorang candra (red: candu raun alias sangat suka jalan-jalan). Juga mengenalkan ibu pada cucu ibu sendiri, bukan cucu-cucu dari anak-anak kenalan yang sudah menganggap ibu seperti ibu mereka sendiri.

Ibu…

Sebelum sebulan yang lalu, Hicha tidak pernah menyesal akan hal-hal yang sudah Hicha pilih dan jalani. Tapi, dengan kepergian ibu, ada banyak kata-kata harusnya-begini-begitu yang muncul di kepala.

Harusnya lebih sering menelepon ibu, harusnya lebih sering bertanya tentang ibu, harusnya lebih sering mendengarkan cerita-cerita ibu, harusnya lebih sering mudik, harusnya lebih sering mengambil foto dan video bersama, harusnya lebih sering mengungkapkan sayang dengan kata-kata…

Dan entah berapa banyak lagi kata-kata “harusnya” yang terlintas di benak ini.

Sampai sebulan yang lalu, berkat didikan ibu, Hicha lupa kapan terakhir kali merasa iri.

Tapi sekarang, mungkin Hicha akan merasa iri pada mereka yang secara fisik ibunya masih ada.

Ibu…

Masih terbayang di minggu pagi video call terakhir kita, “Cantiknya anak ibu…” kata ibu saat melihat Hicha di layar, tetap penuh senyum seperti biasa. Bahkan kata-kata terakhir ibu sebelum menutup telepon adalah “Dadah cantik, doain ibu, ya…”. Semangat ibu untuk sembuh tetap membara walau badan tampak agak lemah dari biasanya.

Ibu…

Sampai saat ini Hicha masih bingung. Bagaimana harus menjalani hari-hari selanjutnya. Tidak ada yang berubah dengan dunia. Sampai terkadang merasa terisolasi karenanya.

Belum lagi bingung karena keyakinan diri ini bahwa segala pencapaian dan kemudahan hidup Hicha saat ini, ada andil besar doa ibu di dalamnya. Bagaimana Hicha ke depannya tanpa adanya doa ibu yang membersamai lagi?

Ibu…

Pada akhirnya, walau sebingung apa, Hicha akan tetap berusaha menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal.

Terima kasih sudah belajar dan bertumbuh bersama.

Terima kasih sudah mendoakan.

Terima kasih sudah mendukung semua keputusan.

Terima kasih sudah menjadi ibu Hicha.

I know I am not going to move on, but I will try my best to move forward with the memories of you.

And I will try my best to be able to meet you again there, too.

See you there, ibu…

Alfathihah 🀲

Penulis:

To many special things to talk about... =p

17 tanggapan untuk “Moving Forward with The Memories of You

  1. 😒😒
    Sangat teguh dan besar sekali perjuangan sang ibu untuk menuntut ilmu yaa, mbak. Tak pernah lelah belajar.
    Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan mengampuni dosa dosanya.
    Aamiin..

    1. Aamiin yaa rabbal’alamiin

      Terima kasih, mas Dodo. πŸ™

      Saya pikir ini blog baru mas Dodo, ternyata di-redirect ke Kanggmasjoe juga ya? Hehe

  2. Baca ini aku jadi ngeh kenapa username di twitter ganti 😁

    Hicha dan keluarga semoga selalu dikuatkan yaa~ Ibu mungkin udah ga ada di sini lagi tapi akan selalu ada di hati ❀️

  3. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka cita Hicha, semoga almarhumah ibu dilapangkan kuburnya, Hicha sekeluarga diberi ketabahan n kesabaran. Terharu banget baca cerita tentang ibunya 😦

  4. Kak Hicha, turut berdukacita 😭
    Semoga amal ibadah Almarhumah diterima di sisi-Nya πŸ™πŸ» dan Kakak serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan πŸ™πŸ»

  5. Hicha, turut berduka cita.
    Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Allahummagfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha, husnul khatimah InshAllah.

  6. Bacanya langsung sedih, dan keinget Ama mamaku di Medan 😭.. memang ya Cha, rasa kehilangan itu baru benar2 berasa saat shocknya sudah lewat. Pas papa mama mertua meninggal, aku kayak mati rasa, tapi setelah mereka dikubur, baru sedihnya datang bertubi2. Apalagi aku lebih Deket Ama mertua sebenernya.

    Thank you udah sharing cerita soal mama Cha. Aku cuma bisa doain, semoga mama diampuni segala kesalahan, diterangi kuburnya, dan diberikan tempat yg terbaik. Yg kuat ya Cha πŸ€—πŸ€—

    1. Iya, kak
      Sampai sekarang sejujurnya masih bingung. Linglung gimana harus menjalani hidup.

      Tapi, hidup harus tetap berjalan sih, yaa

      Alfathihah untuk papa mama mertua kak Fanny juga 🀲

  7. Yang sabar ya mbak, ibunya sosok yang luar biasa banget, pasti mendapat tempat yang indah di sisi Allah. Kehilangan orang tercinta memang berat, semoga mbak hicha dan keluarga diberi kekuatan untuk melewatinya… 🀲

  8. turut berduka cita mbak
    jadi inget juga almarhumah ibuku, baca ini jadi inget kalau aku memang nggak punya banyak simpenan foto atau video sejak ada kehadiran smartphone.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s