Posted in Japan and Japanese, Miscellaneous

JDorama vs Drakor

Beberapa waktu yang lalu (lebih dari dua bulan kayaknya πŸ™ˆ), saya iseng-iseng nanya di IG Story, kenapa biasanya yang suka drakor tidak sreg dengan JDorama, begitu pula sebaliknya.

Ini berbalik ke saya sih, sebenarnya. Karena saya penyuka JDorama, tapi sampai sekarang belum ketemu drakor yang bikin saya pengen mengulang buat ditonton. Yang tidak diulang saja banyak yang akhirnya terputus di tengah jalan karena tidak sesuai selera.

Walaupun memang sih, kalau capek dengan realita kehidupan dan pengen yang ringan-ringan, juga yang bikin nggak merasa bersalah kalau ditinggal di tengah-tengah, drakor juga yang jadi pilihan saya.😝

Ketika di Jepang, dalam setahun belum tentu saya bisa menyelesaikan satu judul drakor, karena JDorama legal masih gampang diakses. Sekarang, dalam setahun saya bisa menyelesaikan 3-4 judul drakor, karena JDorama masih sulit saja untuk ditonton di luar Jepang. πŸ˜”

Kembali ke pertanyaan di IG Story, ternyata saya salah sangka. Untuk mutual saya di IG ternyata, yang suka nonton drakor memang tidak terlalu memilih menonton JDorama, tapi penyuka JDorama masih mau-mau aja nonton drakor. Wah… 🧐

Dan berikut saya coba bandingkan alasannya. Saya berusaha untuk netral, tapi biar bagaimana pun karena saya JDoramania, mungkin jadinya tetap terasa bias. Hehehe. ✌️

1. Cerita

Dorama memiliki cerita yang sangaaaaat beragam, mulai dari tentang pekerjaan yang umum dijadikan cerita, seperti dokter, pengacara, dan polisi, sampai ke pekerjaan yang bikin bertanya-tanya, kok bisa kepikiran bikin dorama tentang itu. Misalnya ahli forensik (Unnatural), proof reader majalah (Pretty Proofreader), pemilik fasilitas kremasi (Ending Planner), sampai agen penjual rumah (Your Home is My Business).

Itu untuk cerita tentang pekerjaan. Yang bukan tentang pekerjaan pun beragam sekali, seperti tentang mantan yakuza yang memilih jadi bapak rumah tangga (The Way of Househusband), isu-isu rumah tangga (The Family Game, Disappointing Husband, Mother, etc).

Selain itu dorama tidak jarang tidak (iya, tidak-nya dua kali demi menguatkan pernyataan πŸ˜›) memasukkan unsur romance ke dalam cerita yang memang tidak perlu ada romance-nya. Misalnya dorama-dorama soal pekerjaan, ceritanya ya fokus di perkembangan karakter utama maupun orang di sekitarnya terkait pekerjaan yang dilakukan tersebut. Jadi, IMO tidak membuang-buang waktu buat hal-hal dramatis.

Yah, baik drakor maupun dorama, dua-duanya mengambil kata β€˜drama’, sih… Tapi, buat saya yang kehidupan sehari-harinya relatif minim drama, menonton tontonan yang terlalu didramatisasi itu bikin merasa β€œHadeeeh, apaan beut dah…” 😬

Tentu saja ini personal preference saya. Karena banyak juga yang memilih menonton drakor justru karena ceritanya. Hanya perbedaan soal selera saja.

Drakor sendiri juga sepertinya ceritanya cukup beragam. Apalagi kalau dibandingkan dengan sinetron Indonesia *eh*.

Tapi, yang bikin saya kadang mengernyitkan dahi saat nonton drakor, kadang bumbu cerita cinta dan second lead yang merana-nya itu yang IMO sebenarnya nggak penting-penting amat, tapi malah jadi menutupi premis utamanya. *Eh, halo Start-up dengan tim Han Ji Pyeong dan Nam Do San*

Lagi-lagi ini hanya soal selera saja. Karena, bisa jadi cerita cinta dan second lead syndrome yang bikin drakor jadi menarik di mata pencintanya.

2. Durasi dan Alur

Dorama biasanya ditayangkan dengan hanya 10-12 episode per judul. Durasi per episode-nya juga kurang dari satu jam. Itu untuk dorama prime time. Kalau mini dorama kadang malah cuma 24 menit saja per episode-nya. Apalagi asadora (drama pagi NHK) yang cuma 15 menit per episode. Tapi, untuk asadora satu judul biasanya 150an episode, sih… Jadi, durasi total sama dengan tiga season dorama prime time juga. Hahaha.

Ini yang membuat dorama bagi saya terasa β€˜padat’ dan tidak bertele-tele.

Meskipun begitu, bagi yang suka mendalami cerita, drakor mungkin memang jadi pilihan yang tepat. Di drakor, apalagi untuk adegan yang menghanyutkan perasaan, totalitas seperti sebuah kewajiban. Satu adegan merenung dengan BGM yang mendayu atau adegan menegangkan bikin jantung mau copot, bisa mengambil durasi lebih dari lima menit.

Tapi mungkin ini juga yang bikin fans drakor jadi fans garis keras. Karena mereka diberi kesempatan untuk mendalami tiap adegan. Sehingga bagi penyukanya, adegan yang berkesan akan terus mengisi relung hati (((relung hati))) mereka.

3. Sinematografi

Untuk urusan sinematografi sebenarnya agak sulit dibandingkan, karena tergantung budget produksinya juga. Dorama ber-budget rendah ya nggak apple-to-apple kalau dibandingkan dengan drakor dengan CGI, begitu juga sebaliknya.

Tapi kalau kita bandingkan dorama dengan drakor ber-genre mirip, saya akui kadang drakor punya visualisasi yang lebih indah dari segi tone warna, totalitas setting lokasi syuting, sampai detil barang-barang yang digunakan. Untuk yang terakhir kadang sampai ke level kurang masuk akal.

Yah, agak timpang aja jatuhnya, Seo Dalmi yang katanya dari kalangan menengah ke bawah, tapi tas sehari-harinya Dior dan make-upnya Lancome. Emang sih, itu karena barang sponsor gitu, kan, ya… tapi jadi tampak kurang realistis.

Di lain pihak, dorama itu sepertinya untuk setting tempat dan stuffs keukeuh dengan realita yang ada. Peran pekerja kantoran freshgrad dan single, ya tinggalnya di apato (sebutan untuk apartemen, tapi lebih mirip kontrakan bertingkat) dengan ruang tidur, dapur, dan kamar mandi saja.

Barang-barang yang digunakan juga disesuaikan kelasnya. Bahkan pengulangan kostum itu bukan suatu masalah.

Sama aja kayak kebanyakan kita yang bajunya bisa dipake berulang. Ya kali sekali pake langsung dijual/disumbangkan/dibuang. Benar-benar selayaknya dunia nyata.

4. Aktor dan aktris

Kalau dari segi appearance, terlepas dari selera masing-masing, saya juga mengakui aktor dan aktris yang tampil di drakor ini lebih sesuai dengan society standard untuk ketampanan dan kecantikan.

Badan tinggi, yang cowok punya β€˜roti sobek’, yang cewek kayak hourglass, belum lagi kulit mulus, putih, tak terlihat pori apalagi bopeng. Pokoknya cocok banget lah disebut selebritis… *lha emang mereka seleb sih πŸ˜›*

Bagi penyuka visual yang demikian, tentu saja sangat memanjakan mata. Bagi saya sendiri, tampak artificial terutama dengan penggunaan complexion make-up yang tebal pada cowok yang tak jarang jadi terlihat bagai dempul.

Mungkin karena secara tekstur dan secara hormonal, kulit cowok sejatinya cenderung lebih kasar, sehingga saat menggunakan foundation atau BB cream malah terlihat kurang natural.

Kalau di Jepang sendiri, meski baik perempuan maupun laki-laki merawat diri dengan toner, moisturizer cream, lip balm, dan sunblock, bahkan kadang-kadang pakai sheetmask juga, tapi saya belum pernah ketemu langsung sama cowok Jepang yang sehari-harinya pakai BB Cream.

Bahkan untuk aktor yang sudah punya nama seperti Ninomiya Kazunari, dia tidak pernah mau mukanya diapa-apain. Makanya kadang bahkan terlihat seperti belum mandi. 🀣 Mungkin karena itu juga perannya sering jadi orang kelas menengah ke bawah. Tentu saja dia bisa melakukannya setelah punya nama. Sebelum-sebelumnya mah, anak baru nurut-nurut aja, lah, ya… mau di-make up-in kayak apa juga… 🀣

Penampilan yang lebih natural ini yang membuat dorama (bagi saya) terkesan lebih realistis. Penampilan karakter di dorama, selayaknya yang ada di dunia nyata.

Tapi sungguh berbeda dengan gaya rambut. Beberapa tahun yang lalu, di Jepang pernah ada trend-nya cowok populer itu yang potongan rambutnya ala rambut host di host club Jepang yang sungguh bukan selera saya sekali. πŸ˜…

Makanya, saya sering skip kalau ada dorama yang ceritanya tentang ikemen (cowok keren) tapi rambutnya ala host. Dari pada nonton sambil misuh-misuh, kan… 😝

5. Kualitas Akting

Dari segi akting juga sebenarnya agak sulit untuk dibandingkan, karena penggunaan bahasa dan budaya yang berbeda. Bahasa Jepang itu ekspresif sedangkan orang Jepang itu tidak. Jadi bukan hanya yang memerankan, yang nonton pun kadang dibuat bingung dengan seperti apa seharusnya para pemeran tersebut berakting.

Apalagi untuk adegan-adegan emosional. Kalau di manga atau anime biasanya relatif lebih β€˜lepas’ ekspresinya, karena, yah… namanya aja tokoh 2D, alias buatan gitu, nggak ada fisiknya. Jadi terserah yang ngarang mau dibikin kayak gimana.

Tapi begitu dibawakan oleh manusia, mereka diharuskan berakting sambil melawan budaya menahan diri yang sudah jadi kebiasaan sehari-hari.

Mungkin karena itu juga, bagi penyuka drakor, akting pemain di dorama jadi terlihat berlebihan. Apalagi kalau nonton dorama yang diangkat dari manga/anime yang jelas-jelas makhluk 2D dan bebas berekspresi sesuai imajinasi pembuatnya.

Selain itu, Bahasa Korea pada drakor pengucapannya berirama, sedangkan Bahasa Jepang cenderung bernada rendah. Bagi saya yang lebih familiar dengan dorama, saat menonton drakor, impresi saya jadi heran sendiri, kenapa lakon di drakor ini bawaannya ngegas melulu? πŸ˜…

Sedangkan yang terbiasa menonton drakor, mereka bilang mereka nggak β€˜dapet feel’ dari lakon yang diperankan di dorama itu.

Nggak tau juga, di saya sih dapet-dapet aja. Mungkin karena lebih familiar tadi, jadi lebih mengena buat saya.

6. Kemudahan akses dan promosi besar-besaran

Beberapa waktu yang lalu Pak Anton bikin thread di Kafe MM dan bertanya kenapa KPop dan film Korea bisa sangat ngehits? Pertanyaan itu pula yang bikin saya akhirnya tergerak buat menyelesaikan tulisan yang sudah berminggu-minggu di draft ini.

Saya juga kadang bingung kenapa yang berhubungan dengan Korea sekarang sangat booming di mana-mana. Sebagai pecinta dorama, yang sungguh terbatas jumlahnya di situs-situs menonton legal, akhirnya saya menyimpulkan bahwa penyebab pertama dan utama dari ngehits-nya per-Korea-an ini adalah, akses yang dipermudah, contohnya akun-akun channel TV Korea di Youtube yang tetap menayangkan variety show mereka. Bahkan ada versi member cut dari acara tersebut. Belum lagi video-videonya bisa diakses dari seluruh dunia.

Tambahan lagi promosi besar-besaran dan penetrasi pasar ke negara lain dengan penyesuaian terhadap negara tersebut. Contohnya BoA yang saat awal debut malah di-titik berat-kan promosinya di Jepang. Dia membawakan lagu berbahasa Jepang dan berinteraksi dengan fans juga dalam Bahasa Jepang demi bisa diterima warga Jepang yang sangat tinggi pride-nya akan negaranya sendiri.

Sampai sekarang pun boyband/girlband Korea yang sedang berusaha masuk ke Jepang, pasti juga mengeluarkan lagunya dalam Bahasa Jepang.

Berkebalikan dengan Jepang, yang entah kenapa masih menyukai ekslusivitas. Mulai lagu-lagu mereka di akun Youtube resmi label yang tidak bisa diputar di luar Jepang, sampai ke dorama-dorama yang padahal di Jepang sendiri bisa ditonton gratis selama seminggu setelah penayangan, tapi lagi-lagi tidak bisa diakses di luar Jepang. πŸ˜”


Kira-kira begitulah hasil analisis saya. Sungguh penting sekali, ya… 😝

Tulisan ini tidak bermaksud menjadikan yang satu lebih superior dan menginferiorkan yang lain. Juga tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Murni hanya iseng-iseng untuk senang-senang saja. πŸ˜‰

Sampai jumpa di tulisan lainnya 😘

Author:

To many special things to talk about... =p

17 thoughts on “JDorama vs Drakor

  1. Kak Hicha, tulisannya detil banget 😍. Berhubung aku pernah nonton dua-duanya, jadi hampir semua point, aku relate dan setuju. Tentang drakor yang kadang kurang realistis, terus sering berulang kejadian kisah cinta segitiga dan second lead yang selalu nampak ganteng tapi merana πŸ˜‚
    Dan bener juga kata Kak Hicha perihal bahasa Jepang itu ekspresif tapi orang Jepang kurang ekspresif 🀣 beberapa kali aku nonton film atau seri Jepang, nada suaranya tinggi tapi mukanya cenderung datar, malah lucu jadinya 🀣. Terus aktor dan aktris Jepang lebih natural dari segi penampilan sih, yang cowok ya kelihatan cowok banget.
    Semua yang dijelaskan Kak Hicha, benar deh 🀣. Aku sendiri bingung kenapa bisa lebih suka drakor 🀣 mungkin karena udah kebiasa lihat visualnya orang Korea jadi lebih seneng aja wkwk

    1. Apakah aku sudah cocok jadi drama analyst? 🀣🀣

      Mungkin karena promo besar2an tadi, Li…
      Jadi lebih sering terpapar, jadi lebih gampang suka juga. Kan pepatahnya β€œwiting tresno jalaran soko kulino” ceunah wkwkwk

  2. kalo dari segi cerita sama2 enak sih, beda di elaborasi aja. drakor banyak filler, dorama fokus di cerita. untuk adaptasi dorama ke drakor, drakor ke dorama juga ada. tapi satu yang dorama menang itu di scoring musik sama ost. apalagi klo taiga drama.

    malah sebenarnya ada drakor yg comot scoring dorama, cuma ditweak dikit aja. perasaan kok pernah dengar gitu. terkadang juga scoring dari serial barat dicomot drakor.

    drakor menang sinematografi sih. gila aja drama tapi levelnya kyk nonton bioskop. klo dorama level2 sinetron plus dengan versi banyak angle. terkadang emang kelihatan jelas kulit wajahnya/pori. ini sih emang budget ngaruh. netflix korea udah bagus2, yg jepang masih dikit. Sweet Home vs Alice in borderlands imbang.

    mungkin sekian dulu pendapat aing.

    1. Iya nih, bagi penyuka cerita yang kaya (dengan filler) mungkin lebih suka drakor, yg pengen fokus lebih cocok ke dorama. Saya jarang nonton taiga drama, sih… jadi ga bisa komen buat scoring-nya. Tapi saya berapa kali naksir sm lagu gegara jadi ost dorama. Mana liriknya suka β€˜dalem’ lagi… 😁

      Kalau untuk sinematografi, mungkin untuk dorama romcom atau family drama gitu, emang lebih milih buat fokus di ceritanya. Jadi budget untuk sinematografinya dibatasi. Tapi kalau memang kodawari (preference) production house-nya ke sinematografinya, ada juga lho dorama romance yg tone warna dan angle-nya bagus. Contohnya Love and Fortune, IMO cantik banget pengambilan gambarnya.

      Btw, penasaran siapa dibalik β€œaing yamaken” ini πŸ˜…

  3. Eh si Tokyo love story aku nonton versi dulu dan versi skarang (thanks to Viu), dan dua duanya kunikmati, dan puas sama nonton yg versi skrg, Dulu jaman Oshin juga udahlah ya kubawa ke hati banget cinta ke Kota meski Oshin sama Ryuzo ihik. Kurasa aku gak nonton jepang lagi karena emang gak ada akses dan gak terpapar jugak ya, maksudku si drakor itu kudipengaruhi banget karena dikelilingi yg suka drakor. Kmrn sempat tertarik Familiar Wife versi Jepang krn ada di Viu tapi pernah baca Familiar WIfe ini time travel juga jadi pernah nonton Go Back Couple Korea kujadi ragu, males perulangan ide hahaha. Nonton Kdrama itu aku nonton setiap thema sebijik aja, jadi kayak Sky Castle yg ibu ibu ambi, cinta masa kini si My First Life, family friendship di Reply 88 (gak ketarik nonton Reply series lainnya dibilang ebagus apapun), time travel drama keluarga si Go Back Couple, time travel komedi (dan sekalian setting kerajaan) si Mr Queen, tentang kehidupan penjara si Prison Playbook, sama komedi klub ibu melahirkan yang BirthCentre. Yang love lovean doang kuemang malas ya, mungkin juga karena durasi hahaha ngebayangin kisah cinta modern sepasang manusia aja di 16 episode 1 jam-1,5 jam keknya……paaaan-jaaang. Oh ada satu lagiii udah kutonton sampe aku pengen ngajak anak anak nonton Hot Stove League, itu no romansanya Chaaaa. Setelah miniseries Queen Gambit (yg oke) dan Lupin (yang kuciwa hahaha) aku mau ngajak suami nonton Korea antara aku ngulang Prison Playbook atau sama-sama nonton baru Fiery Priest yg katanya lucu. Cuma kau di friendlistku yang nonton jepang ya, dan itupun kau gak gencar kasih info hahahahah Jadi kalo aku ngerasa kalo di aku masalah exposure. Tapi yang kusadari pasti, kami bosan sama film amerika hahahaha

    1. Aku nonton versi terbaru, yg lama dulu cuma nonton iklannya doang 🀣
      Terus setelah nonton yg baru, nyobain nonton yg lama lagi. Beda jaman, auranya berasa beda gitu ya, kak… Rika versi lama lebih cute, sedangkan yg baru lebih playful. Untuk Oshin aku cuma inget setting rumah kayunya doang, yg lain2nya blass, ga inget sama sekali 🀣🀣

      Setuju, kak. Kenapa lah ini dunia entertainment-nya Jepang belagu pisan. Ga pengen terkenal sedunia, apa gimana, nih? 🀣🀣

      Familiar Wife, aku ngikutin dua2nya. Tapi emang adaptasi drakor ke dorama tu jadinya aneh, IMO. Ga masuk sm realita kebanyakan orang Jepang yg daripada marah-marah ala Korea, nyatanya biasanya pada milih menjauh duluπŸ˜…

      Nah, durasi itu juga yg bikin ku pusing nonton drakor. Satu episode aja udah kek nonton film πŸ™ˆ

      Iya, nih… belakangan makin jarang nonton film amerika. Apalagi sejak ga bisa ke bioskop. Udahlah, dadah babay babang mbak hollywood. 🀣🀣

  4. Totalitas promosi industri hiburan korea itu sekarang makin menjadi-jadi kak, jadi ya gak heran lagi kenapa bisa ngehits. Penampilan juga jadi nomor satu buat mereka, dari atas kepala sampai akhir harus 100, mereka kayak gak mau di tengah-tengah, tertinggi atau terbawah lol.

    aku termasuk yang…bisa nyangkut di keduanya (multifan), drakor oke, jdorama juga oke, tapi itu dia akses nonton jdorama masih kurang.
    Kalau untuk drama aku masih newbie, jadi gak bisa komentar banyak soal ini, dan aku selektif banget kalo milih Drakor, udah tau capek sendiri kalo tema percintaan, karena nasibnya ….ya Allah kenapa begitu sih, gak ada plot twist apa yang bikin orang terkejut.

    Aku kayaknya udah setuju sama apa yang kak Hicha sampaikan, tapi untuk cerita. Drakor itu juga punya topik yang beragam namun bagaimana pengemasan ceritanya terkadang ada adegan yang membuat sebagian orang gak nyaman selama menyaksikannya hahaha. Sampai saat ini drakor yang aku tonton ya masih disitu-situ aja kak, lebih banyak nonton filmnya sih, lebih compact dan ringkas. Kalo Kmovie, kusarankan kak Hicha mulai coba juga.

    anyway aku pengin minta rekomendasi kak Hicha Jdorama thriller atau misteri detektif gitu yang bagus ada gak kak? ><, aku terakhir kali nonton Jdorama itu doramanya Yamapi- Proposal daisakusen sama Yukan club, jadul banget kan ini wkkk, jadi rindu nonton Jdorama.

    1. Pada akhirnya memang exposure, ya…
      Makin sering terpapar, makin terbiasa, makin gampang jadi suka juga… πŸ˜†

      Iya, nih… baik Jepang maupun Korea, jarang nonton filmnya. Mungkin karena durasinya yang panjang. Jadi, sering kelamaan mikir tentang waktu buat nontonnya 🀣

      Aku baru nyoba nonton Parasite n bagus banget, sih, kataku. Cocok lah dapet best picture di Academy Award. Tapi buat film2 lainnya belum nyoba nonton.

      Kalau thriller, aku masih kesengsem sama Alice in Borderland. Kalau misteri, aku rekomen Your Turn to Kill sama Reverse. Kalau detektif2 gitu Galileo atau Unnatural juga menurutku bagus 😊

      1. Bener kak makin sering terpapar semakin terbiasa πŸ˜…
        Parasite banyak mendapat apresiasi dan pujian bahkan dari orang2 yang mengikuti tren korea.

        Ah detektif galileo sip aku juga ada rencana untuk nonton serial ini, terima kasih kak Hicha buat rekomendasinya ^^

  5. Sebelumnya aku mau ngakak soal rambut ala Host Club πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ inget ini dorama tahun-tahun 2005-2010an yak kayaknya… jaman-jamannya HanaKimi sama Gokusen, rambut cowoknya begini semua πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Mba Hichaa kita banyak sepemikirannya niih πŸ˜„ Aku juga cukup sulit menikmati drakor, poin-poinnya kurang lebih sama kayak Mba Hicha πŸ˜† Menurutku, Jdorama tuh lebih membumi, dari segi cerita sampai penampilan karakternya. Yang diceritakan miskin beneran terlihat miskin. Inget Oguri Shun di Binbo Danshi sumpah lusuh banget mana pakai baju itu-itu terus πŸ˜‚ Beda sama yang biasa kujumpai di drakor (aku ga bisa memastikan juga karena pengetahuan drakorku terbatas haha) yang seolah penampilan karakternya harus selalu sempurna. Yaa memang dalam beberapa kasus jadinya enak dilihat kan pada bening-bening, tapi kadang capek sendiri lihat yang baru bangun tidur aja make up udah paripurna πŸ™ˆ

    Aku juga setuju soal Jdorama tuh lebih to the point, hampir enggak pernah nemu adegan cinta berlebihan, bahkan yang genrenya drama pun kalau memang ga perlu adegan cinta-cintaan ya beneran ga ada. Sebenernya drakor juga ceritanya beragam sih, cuma kebanyakan masih pakai pola sejenis kayak pasti ada cinta segi empat, terus second lead yang merana mendamba padahal biasanya karakter mereka jauh lebih bagus daripada karakter utama. Entahlah menurutku kebanyakan karakter utama pria di drakor tuh menyebalkan wkwkwk.

    Tapi kayaknya justru ini yang disukai fans drakor ga sih? Aku pernah ngobrol sama seorang teman yang merasa ga cocok sama dorama karena karakternya terlalu datar dan ga greget karena jarang ada second lead gitu πŸ˜‚πŸ˜‚ memang ini tuh masalah selera sih yaa? Tapi kadang aku sebel kalau ada yang nyeletuk “apa sih bagusnya dorama? cowoknya pada ga ganteng” zzzz coba sini yuk kenalan sama Ikuta Toma atau Mackenyu 😌

    Wkwkwk komentarku kenapa panjang sekaliii?? πŸ™ˆπŸ™ˆ

    1. 🀣🀣🀣
      Eh tapi aku suka, lho, sama HanaKimi. Walaupun bodor gaje plus rambutnya pada kek host, tapi seneng dengan cerita persahabatannya. Itu buat yg pertama, ya… Yg remake baru nonton lima menit langsung drop saking pada kaku aktingnya πŸ˜‚πŸ˜‚ Gokusen juga suka dengan perjuangan dan ketulusan bu guru Yankumi. Jadi rambut2 itu bisa diabaikan 🀣🀣

      Pada akhirnya emang balik ke selera, ya… yang bagus/ganteng menurut kita belum tentu menurut orang lain. Yang ganteng menurut orang lain, bisa aja di kita malah cantik *lho?🀣*

      Ayo, mba eya, sekalian dibikin blogpost, ceritakan tentang perjalanan dirimu bersama dorama di blog, dong… *nyari temen😝*

      1. Waah HanaKimi termasuk salah satu all time favorit aku juga Mba Hicha. Ceritanya luar biasa absurd (rada melenceng dari manga tapi in a good way) πŸ˜‚πŸ˜‚ samaa aku juga ga suka remakenya wkwkwk

        Dulu pernah niat nulis tentang perjalanan dorama siih tapi habis itu rada jarang nonton dorama jadi terlupakan πŸ˜‚ okee mungkin aku bisa menggali-gali lagi nanti buat nulis soal dorama πŸ˜‚πŸ˜‚ makasih lho Mba Hicha idenyaa 😊

      2. Benerrrr… aku dari mulai ngakak2 smp geleng2 kepala saking absurd-nya 🀣🀣

        Ditunggu lho tulisannyaaa 😊

  6. Aku banyak setujuuuuuuu Cha Ama poin2 nya :D.

    Tapj kalo mau jujur, aku ttp msh LBH suka drakor drpada dorama. Mungkin Krn ide cerita dan akting yg LBH intenseeee bangeeeet dibanding dorama. Setelah baca poin no 5, aku lgs mikir, iya juga siiih.

    Orang Jepang itu cendrung nahan diri banget, jd kesannya datar, flat, aktingnya ga terlalu dpt feel buatku loh yaaaa. Sementara Korea LBH ekspresif :).

    Sebagai org Batak yg juga ekspresif ini LBH relate ke aku hahahahahaha.

    Tapi kalo urusan ganteng2, aku hrs akuin, aktor Jepang LBH natural dan ganteng :D. Iya sih yg pemain Korea apalagi cowo nya, aku suka bingung sendiri itu muka tanpa pori bangettt ya Allah, bikin rasa rendah diri makin tinggi wkwkwkwk

    Kalo Jepang, aktornya cakep2 dan apa adanya aja, lebih human , yg masih ada pori2 πŸ˜€

    Jd kalo udh nonton dorama, aku suka betah mandangin pemainnya πŸ˜€

    1. Iya, kak… mungkin karena ekspresifnya itu, bagi beberapa orang drakor lebih β€˜nampol’ gitu ya aktingnya…

      Buat pemikir kayak aku, dorama itu berasa lebih β€˜dalem’. Karena emosinya harus disampaikan tanpa harus totalitas dari gesture atau ekspresi wajah. Kalau yang aktingnya bagus, bisa lebih ngena. Sayangnya yang begini ini ga semua orang bisa. Karena salah2 malah jatuhnya terlalu datar. Biasanya hanya bisa dilakukan aktor/aktris senior yg jam terbangnya udah tinggi.

      Pas nyampe Jepang aku malah kaget, kenapa ini orang biasanya malah lebih cakep daripada yg tampil di dorama, dong… 🀣🀣 mana pada tinggi2 pula cowok2nya. Kata siapa itu orang Jepang pendek2 🀣🀣

      Pas ke Korea, IMO, orang biasanya ya biasa2 aja, ga sebening artis2nya. Feel-nya 11-12 lah sama di Indonesia. Seleb sama orang biasa, relatif gampang bedainnya πŸ˜†

  7. hahaha, setuju mbak. Saya pernah komen di kafe MM, sinetron kita itu agak lebih mirip drakor. pola ceritanya mirip-mirip dan favoritnya adalah memasukkan cinta segibanyak.

    Ulasan di atas ini hampir saya setujui semua nih. Karena awalnya kenal j dorama dulu, saya emang cenderung fond sama j dorama sih. apalagi yang temanya sehari-hari, kayak lebih ‘kena’ aja gitu meskipun nggak ada adegan ngegas atau pemerannya nggak cakep-cakep dan cantik-cantik amat.

    hahaha, itu menandakan bahwa jelas, buat saya drakor lebih eyecatching. fashion dan penampilan pemerannya terus terang emang lebih kinclong. tapi ya kalau dari sisi menyentuh, saya rasa j dorama masih lebih menang. sekalipun temanya ajaib, saya selalu sukses nangis berkat j dorama. favorit saya adalah drama jadul Atashinchi no danshi. Jadul banget yaa..

    1. Ah iya, waktu itu aku baca di sana. Bedanya sinetron produksinya kayak lebih ngasal gitu, ya… πŸ˜…

      Kalau sealmamater kita, kayaknya ada masa2 nyangkut di dorama, ya… Udahlah, Rileks to the rescue aja. Para sesepuhnya banyak yang wibu, euy… Aku dulu sampe pernah nyangkut di Tokusatsu sejenis Kamen Rider, dong, saking banyaknya beredar di sana 🀣🀣

      Nah, iya, tuh… buat orang visual, drakor mungkin lebih eyecatching dengan segala kekinclongannya. Untuk soal menyentuhnya sendiri, mungkin gara2 kebanyakan nonton dorama menyentuh, drakor yang kata orang2 menyentuh banget di aku jadi terasa biasa aja. Yah… pada akhirnya balik ke selera masing-masing juga sih, ya… 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s