Menjadi Malu-maluin

I write this not to offend nor to demean anyone. I write this as a reminder for myself that as long as I am alive, there will always be a second chance to get up after a fall and to try again after a failure.

Beberapa minggu yang lalu, saya iseng-iseng nge-chat seorang teman yang sedang study di Prancis. Setelah berbasa-basi ngeceng-cengin ala ala zaman dahulu kala, tibalah pada pertanyaan “gimana PhD?” yang saya jawab dengan balik bertanya “lu mau lanjut S3 di mana?” dan jawabannya sejujurnya menohok jantung saya, rasanya langsung jleb di dada *lebay*

“Tau nih, gw jadi ga pede mau lanjut. Rasanya ga siap. Daripada ntar malu-maluin,” kurang lebih begitulah kata-katanya. Saya nggak hafal redaksi tepatnya. Reaksi saya saat itu bengong sesaat. Bagaimana tidak, lah yang ngomong begitu padahal IPKnya termasuk yang paling tinggi seangkatan saya, lho. Kalau dia saja takut jadi ‘malu-maluin’, berarti saya nggak tahu malu, dong? (-___-)”

Karena chatting sesaat itu saya jadi me-recall hal-hal yang sudah saya alami. Saya jadi mengingat-ingat lagi apa alasan saya sampai saya ‘berani-berani’nya lanjut S3. Padahal secara akademik dibandingkan teman saya tadi saya cuma seorang mediocre. Tiap mata kuliah lulus sih, tapi ya IPKnya jangan ditanya. Segitu-gitu saja. And as far as I can remember, I never got a perfect score saat kuliah S1 dulu.

Untuk lanjut master pun saya baru lulus setelah 3 kali ikut ujian. Itu pun dengan akhirnya pindah departemen, karena di departemen sebelumnya tidak ada intake mahasiswa saat fall, sedangkan saya sudah harus kuliah saat fall kalau tidak ya terpaksa kembali ke Indonesia tanpa merasakan perkuliahan S2.

Alhamdulillah, ya. Akhirnya lulus juga, setelah fisik dan mental jungkir-balik menghadapinya. Kalau dikenang-kenang jadi senyum-senyum ‘sok bijak’, tapi ogah banget kalau harus disuruh mengulang lagi. hehehe.

Belum lagi saya punya kecenderungan untuk “malu-maluin” yang sangat besar dengan kecerobohan saya. Bagaimana tidak, masih jadi bahan ceng-cengan si teman tadi, bagaimana kecerobohan saya saat kami sekelompok di kuliah perancangan pesawat saat tingkat empat dulu. Saya membuat kesalahan yang “tampak” kecil, tapi berakibat fatal. Saya salah setting angle ke dalam bentuk degree, padahal seharusnya radian. Dan itu baru saya sadari saat presentasi akhir. Tentu saja itu berakibat “malu-maluin” bagi kelompok kami. Sekarang sih teman saya tadi sudah bisa menjadikannya bahan ceng-cengan, padahal pas presentasi saat itu, saya tahu dia sangat kesal.

Kembali ke pertanyaan, kenapa saya berani-beraninya lanjut S3?

Sejujurnya, tema riset master saya berbeda sangat jauh dengan tugas akhir S1 dulu (apalagi dengan pekerjaan saya setelah lulus S1! ). Dan saya harus belajar semuanya sendiri dari hampir nol. Kenapa saya bilang hampir nol? Yah, setidaknya saya tahu lah kalau ada persamaan yang namanya Navier-Stokes, tapi basic CFD, dll yang tidak saya ambil saat kuliah S1 dulu (karena memang bukan mata kuliah S1) ya saya hanya tahu sebatas bahwa kepanjangan CFD adalah Computational Fluid Dynamic saja. 😝

Jadi apa yang membuat saya waktu itu mantap melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya?

  • kerjaan saya di S2 belum beres. nggak enak banget rasanya kalau ninggalin separuhnya begitu
  • saya merasa sangat kurang belajar di masa lalu, bahkan sampai saat ini masih berada di tahap “bingung bagaimana harus memulai belajar”. Ya, saya tidak tahu caranya belajar. Satu-satunya penyesalan hidup saya saat ini yang konsekuensinya mau tidak mau harus saya terima. Dengan melanjutkan study, saya berasumsi bahwa saya diberikan kesempatan lagi untuk belajar. Meskipun sejujurnya masih sangat sulit bagi saya menahan kantuk saat mulai belajar πŸ˜…
  • IMO, memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan merupakan salah satu bentuk rasa syukur. Tentu saja, bagi yang melepaskannya mungkin saja mereka punya alasan masing-masing. I won’t judge, because who am I to judge?  Tapi bagi saya pribadi, saya hanya tidak ingin melepaskan kesempatan yang telah diberikan.

Itulah alasan-alasan yang bisa saya temukan. Alasan yang harus saya tanam dalam-dalam di alam bawah sadar saya, agar jika suatu saat saya berada di titik nadir, mudah-mudahan bisa menjadi alat untuk bangkit kembali.

Saya tidak tahu akan berapa banyak lagi fase “malu-maluin” yang akan saya lewati. Walaupun, tentu saja bukan mau saya untuk melakukan “kesalahan-kesalahan” itu. Bahkan sejujurnya, ada banyak momen saat saya merasa kepercayaan-diri saya hilang entah kemana. Kenapa persoalan mudah begini saja saya tidak bisa? Kenapa hal yang sederhana begini saja saya bisa lupa?  Dan entah “kenapa-kenapa” lainnya.

Yah, entahlah sudah berapa banyak hal “malu-maluin” yang saya lakukan. Saya merasa bersalah karenanya, tentu saja. Apalagi jika kesalahan saya justru merugikan orang lain. Sungguh, itu bukan suatu hal yang bisa dibanggakan. Tapi biarlah, dengan begitu saya belajar. Saya belajar untuk memulai belajar, saya belajar untuk lebih berhati-hati, saya belajar agar tidak “malu-maluin” lagi di kemudian hari.

“That which does not kill us, makes us stronger,” said Friedrich Nietzsche. Yeah, we can learn to get up after a fall, we can learn to do things carefully after making mistakes, we can appreciate a smile after feeling blue, we can learn to fight after defeats. As long as it doesn’t kill you, there will always be a next time to be stronger.

Last but not least, buat teman saya tersebut, I know you’re much  better than me. Menjadi malu-maluin won’t kill you, anyway. Toh, isi blog lu juga 90% isinya udah malu-maluin ini. 😜

PS: Lagunya nggak cocok amat sih. Tapi biarin deh, enak didenger plus ber”hawa” positif ini πŸ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: