Tips Bersih-bersih Rumah ala SAHD (Stay at Home Dad)

He? Nggak salah? Stay at home mom mungkin? Nope, judulnya nggak salah kok. Tips beberes ini memang saya dapatkan dari seseorang yang memutuskan untuk menjadi SAHD. Bukan, dia bukan kenalan saya kok. Hehe. Dan berhubung Jepang juga masih patriarkis, jadi cukup unik kalau ada orang yang memutuskan menjadi SAHD.

Bisa dipakai buat lebaran nih. Buat yang sedang ditinggal ART mudik ๐Ÿ˜‰

Jadi, berhubung nggak punya TV, saya men-download aplikasi TBS Free di app store. Dengan aplikasi ini, kita bisa nonton beberapa acara TBS (salah satu stasiun televisi swasta di Jepang) secara free hingga seminggu setelah penayangan atau satu menit sebelum penayangan episode berikutnya. Lumayan banget buat melatih listening bahasa Jepang. Di setiap tayangan nggak ada subtitle soalnya. Hehe.

Salah satu acara yang ditayangkan adalah acara variety show yang tayang di TBS setiap hari Senin jam 19.00, yang berjudul ็ตๅฉšใ—ใŸใ‚‰ไบบ็”ŸๅŠ‡ๅค‰๏ผโ—‹โ—‹ใฎๅฆปใŸใก (The dramatic changes after married! The whole spouse life –> terjemahan langsung). Beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng nonton episode minggu lalu di aplikasi tersebut. Dan salah seorang bintang tamunya adalah Pak X (sebut saja begitu). Beliau sudah menjadi SAHD selama sepuluh tahun. Pak X ini sebenarnya lulusan Keio Univ. lho. Salah satu universitas prestisius di Jepang. Bahkan ada istilahnya Keio boy gitu untuk mendeskripsikan mahasiswa Keio yang biasanya dari golongan menengah ke atas (Univ. swasta sih ya… ), dan cerdas (berdasarkan ranking 2017 adalah universitas No. 2 terbaik setelah University of Tokyo). Jadi begitu pihak acara ini menemukan blog Pak X yang menceritakan kisah sehari-harinya sebagai SAHD (kalau saya nggak salah tangkep ya… maklum bahasa Jepang saya masih terbatas), diundanglah beliau untuk masuk acara tersebut.

Untuk session pak X sih pihak acara yang datang ke rumahnya. Dan dibahaslah bagaimana seorang alumni “Keio boy” mengurus rumahnya sehari-hari. Pak X ini sebenarnya dulunya adalah karyawan biasa. Tapi kemudian ketika sang istri melahirkan putri pertama mereka, beliau sendiri sering sakit-sakitan dan akhirnya memutuskan untuk istirahat dari pekerjaan. Ternyata “istirahat”nya kepanjangan dan jadilah beliau ini sudah sepuluh tahun menjadi SAHD. Istrinya sendiri bekerja sebagai seorang researcher, dan yah… namanya di Jepang sih ya… privasi sangat dijaga sekali, jadi sang istri kerja di mana, namanya siapa, bahkan wajahnya pun nggak ditayangkan.

Duh… ini baru intro kok sudah panjang bener…

Okay, jadi bagaimana contoh seorang alumni “Keio boy” menjadi SAHD? Ternyata, seperti kebanyakan orang Jepang lainnya, totalitas is a must. Yah, dianggap seperti pekerjaan biasa gitu. Karena itu beliau ini berusaha menjadikan “bersih-bersih” dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya sebagai pekerjaan yang dilakukan dengan se-efektif dan se-efisien mungkin.

  • Mem-vakum seluruh rumah setiap hari dalam waktu kurang lebih 20 menit saja

Rumah keluarga pak X ini 4LDK (4 rooms with living dining and kitchen) dengan tiga tingkat. Seperti orang Jepang lainnya, beliau tidak menyapu rumah, tetapi dibersihkan dengan vacuum cleaner setiap hari. Rumah segitu pak X hanya membutuhkan 20 menit saya untuk membersihkannya. Selain itu, beliau juga menggunakan vacuum cleaner yang relatif kecil dan wireless, agar anak-anak juga bisa dimintai tolong untuk bersih-bersih. Kasihan kan kalau pakai yang berat. Hehehe.

  • Benda-benda digantung

Ternyata hal ini (mem-vakum seluruh rumah dalam waktu 20 menit saja), bisa dilakukan karena pak X dan keluarga meletakkan se’sedikit’ mungkin benda-benda di lantai. Jadi, di living room-nya mereka hanya ada meja TV dan satu rak saja. Tong sampah pun digantung di rak tersebut.

1

Contohnya tong sampah yang digantung di rak

  • Kabel-kabel disatukan

Seperti kita ketahui, tempat kabel-kabel berada bisa jadi sarang debu. Nah, Pak X ini kabel-kabel yang berhubungan dengan TV disatukan dan disangkutkan dengan pengait di belakang TV. Jadi daerah di bawah meja TV bisa dibersihkan dengan segera.

  • Re-charge station

Ini juga berhubungan dengan kabel-kabel. Jadi di ruang keluarga dibuat semacam tempat khusus untuk menge-charge barang-barang elektronik seperti handphone, tablet, dll. Kabel-kabelnya disatukan dan dimasukkan ke dalam box khusus untuk mengurangi menumpuknya debu. Selain itu tujuan lain pak X adalah agar anggota keluarga tidak sibuk di kamar masing-masing melulu. Dengan dibuatnya re-charge station, diharapkan setidaknya saat malam hari saat masing-masing ingin menge-charge barang elektronik masing-masing, mereka jadi bisa berkumpul bersama di ruang keluarga.

Recharge-station

Recharge station

  • meminimalkan benda-benda di wastafel dan kamar mandi

Sama seperti di ruang keluarga, wastafel dan kamar mandi pun hampir tidak ada benda-benda bahkan sabun, shampo, dll. Jadi semuanya digantung di dinding luar kamar mandi dan dibawa masing-masing setiap akan mandi dan diletakkan kembali ke tempatnya setelahnya. Di bawah gantungan tersebut juga digantungkan tempat sampah dengan plastik kresek untuk menampung air yang tersisa. Dengan begitu, pak X bisa membersihkan area wastafel kurang dari 20 detik, begitu juga dengan kamar mandi dengan bathtub-nya bisa dibersihkan dalam waktu singkat.

Toothbrush

Sikat gigi dan alat-alat mandi juga digantung dan diberi tong sampah di bawahnya

  • Menggunakan delivery service untuk bahan baku makanan

Dari pengakuannya, pak X ini ternyata sebenarnya kurang suka dengan memasak. Tapi berhubung sudah memilih, beliau tetap harus menyiapkan makanan untuk keluarganya setiap hari. Untuk mengurangi waktu belanja, beliau menggunakan delivery service khusus bahan baku makanan. Dengan service ini, beliau tinggal memilih mau menu apa dan untuk berapa orang, kemudian akan dikirimkan. Dengan begitu bahan makanan tetap fresh dan kulkas lebih mudah dibersihkan.

Tambahan:

Ini bukan tips bersih-bersih sih, tapi pak X ini juga membantu anak-anaknya mengerjakan PR setiap hari. Yah, maklum saja, dunia kerja di Jepang itu agak kurang ‘normal’, menurut saya. Kerja sehari dua belas jam mah biasa. Belum lagi waktu untuk commuter  ke dan dari tempat kerja. Kalau naik kereta sih nggak macet, tapi tetap saja, yang bekerja di kota besar biasanya akan memilih tinggal di pinggiran dengan perjalanan kereta hingga 1-1.5 jam karena harga rumah atau harga sewa di Tokyo bisa lebih mahal dari gaji mereka. Jadi bisa dipastikan sang ibu hampir selalu pulang malam. Jadilah setiap hari pak X yang membantu anak-anaknya belajar.

Tips dari pak X agar anak tidak mengantuk saat belajar atau mengerjakan PR yaitu dengan menyediakan whiteboard di rumah. Dengan begitu anak-anak akan terbiasa untuk maju plus mengurangi bosan kalau harus duduk terus.

Nah, kurang lebih begitu lah yang saya tangkap. Semoga bermanfaat. Selamat Idul Fitri 1438 H bagi yang merayakan.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Semoga amal kita diterima Allah SWT dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. Kesalahan saya mohon dimaafkan ya… ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Wuih kayaknya dia ringkes dan cepet bgt kerjanya y

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: