Terakhir

…. di tahun ini. 😛

Sudah dipenghujung tahun. Dan ternyata postingan terakhir saya di blog ini tuh ada di bulan Juli. WOW!! Hampir setengah tahun nggak nulis, ke mana aja, neng? Nggak ke mana-mana kok. Saya literally cuma bolak-balik kampus-rumah-tempat kerja part time-kampus-rumah-tempat kerja part time. Gitu aja terus sampai tahun 2017 pun hampir berlalu. Sebenarnya yang mau ditulis tuh ada buanyaaakkk banget. Yah, maklum yah, saya kan orangnya pendiam *prett*, dan orang pendiam itu kan sebenarnya mulutnya aja yang nggak bersuara, otaknya mah penuh-membuncah-meluap-luap ngomong terus sama diri sendiri, sampai pusing sendiri. Tapi ya itu, mau mulai menuliskannya, kok pas udah di depan komputer malah ikutan jadi pendiam juga otaknya. Haha.

kakatua

Eike aja sampai mau jungkir-balik nih, cyinn… 😛

Baiklah, sebelum postingan ini jadi hanya berisi ke-negatif-an, lebih baik saya menguatkan hati dan mencoba menuliskannya ya. Semoga tulisan ini bisa kelar alias tidak berhenti di tengah jalan seperti tulisan-tulisan yang ada di draft. Wkwk.

Okay, jadi bulan Juli lalu itu ada kabar mengejutkan bagi saya yang dulu ngefans abis sama Linkin Park. Yup, vokalis-nya meninggal karena bunuh diri. Saya coba menuliskannya, sayangnya baru kelar setengah otak saya keburu nge-blank. Semoga suatu saat bisa kelar.

Terus beberapa hari yang lalu, berita suicide-nya orang terkenal beredar lagi di TL. Dan kali ini anggota salah satu boyband terkenal Korea.

Sejujurnya, saya cuma tahu Shinee (nama boyband yang lead vocal-nya meninggal tersebut) karena lagu mereka yang Ring Ding Dong merupakan salah satu lagu favorit di mesin Pump It Up yang saya dan teman-teman saya dulu sempat tergila-gila maininnya, yup, di saat energi masa muda masih membuncah-buncah, sekarang selain susah nyari mesinnya di Jepang, baru mainin satu lagu saja udah ngos-ngosan, sepertinya sih lebih karena kurang olah raga dari pada faktor U *nggak mau ngaku*. Tapi ya sudah, hanya sekedar tahu saja, kalau ada boyband bernama Shinee. Siapa dan yang mana anggotanya saya tidak tahu dan tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu. Dan kemudian berita itu muncul. Baru lah saya googling untuk sekedar tahu yang mana orangnya.

Maenan zaman energi belum habis buat riset *eh* (Nggak sampe di level 15 juga sih, anaknya masih cupu, paling banter cuma level 8 ^_^”)

Sejujurnya, kalau saja meninggalnya sebelum saya ke Jepang, mungkin saya akan tetap cuek-cuek saja. Toh, tidak ada hubungannya sama saya. Bahkan bisa jadi saya ikutan nyinyir, meskipun kemungkinan besar nyinyirnya hanya di dalam hati saja. Entahlah, mungkin saya terlalu malas membuang energi yang saya miliki hanya untuk berlaku nyinyir.

Tapi memang ada kalanya berada di posisi sebagai minoritas lebih membukakan mata bahwa yang namanya manusia itu beda-beda. Termasuk diantaranya berbeda dalam hal bereaksi terhadap masalah yang dihadapi. Berada di negara sebagai seorang minoritas, mata saya sedikit-banyak jadi lebih terbuka, bahwa tidak semua orang diberikan privilege dalam mengenal Tuhan. Bisa jadi karena memang tidak mendapatkannya, atau karena dia sendiri merasa mengenal Tuhan bukan suatu privilege.

Kalau saya bilang kasihan karena hal tersebut pun, bukan tidak ada kemungkinan orang tersebut merasa tidak perlu dikasihani, karena lagi-lagi, ada banyak orang yang menganggap Tuhan itu antara ada dan tiada atau bahkan tidak ada sama sekali. Dan sekali lagi, saya tidak bisa, bahkan tidak ada seorang manusia pun bisa memaksakan pemikirannya terhadap orang lain. Sudah sunnatullah-nya, tidak ada yang bisa.

Kalau dulu saat saya berada di posisi sebagai mayoritas, saat ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, besar kemungkinan reaksi saya hanya sekedar “makanya jadi orang jangan kurang iman, ada masalah kok milih bunuh diri!” Yup, sebuah ke-nyinyir-an yang sungguh hakiki. Padahal tidak pernah saya pelajari sekali pun ada ajaran agama yang meng-encourage penganutnya untuk nyinyir pada orang yang berbuat salah.

Sampai saya berada di sini. Berada di tempat di mana Tuhan kadang, bahkan sering, dianggap tidak berkuasa; di mana ada begitu banyak orang yang berusaha mati-matian semuanya demi seseorang atau bahkan hanya demi dirinya seorang; di mana konsep ikhlas lillahita’ala dianggap sebagai sesuatu yang sama semunya dengan eksistensi alien di alam semesta.

Beberapa orang yang masih saja ‘nyinyir’ akan berpendapat “salah sendiri, kenapa tidak mencari tahu? kenapa hidayah tidak dicari?” Lah, bagaimana dia bisa mencari sesuatu yang dia tahu saja tidak tentang hal itu, apalagi merasa membutuhkannya?

Mungkin yang sering-sering nyinyir itu mainnya kurang jauh, bacaannya kurang berbobot, quality time dengan orang-orang terdekatnya kurang berkualitas (?), atau malah simply kurang piknik saja. Hmm.

Yah, begitulah. Kenapa saya jadi ikutan nyinyir begini? Nyinyirin orang nyinyir. Nyinyir-ception kan jadinya (?).

Dohh, tulisan macam apa ini?? Baiklah saya akhiri saja, sebelum tambah kemana-mana.

Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah.

Doakan saya agar lebih rajin dan bersemangat di tahun depan, ya. Rajin dan bersemangat dalam semua hal, terutama dalam memanfaatkan jatah waktu hidup yang telah diberikan.

Terima kasih doa baiknya. 🙂

Advertisements

One response to this post.

  1. aminn cha.. keren nih tulisannya. banyak bgt disekitar tia jg nyinyirin knp ngga cari hidayah, bla bla bla.. dan tia rasa mrk maennya memang kurang jauh.. Apa mungkin kita yg kejauhan maennya? hahaha

    semoga selalu berada dalam lindungan Allah SWT wahai sahabat..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: