4th. Tidur di mana malam ini?

Judulnya bikin saya kelihatan “nomaden” aja ya. Pencitraan, biar kesannya petualang, padahal sehari-hari kosan-kereta-kampus doang. Haha.

Kalau sudah sampai di Jepang (ataupun di negara lain), saya yakin 100% orang tersebut sudah tahu akan menginap di mana, entah itu di hotel,atau nebeng kenalan. Kecuali cuma numpang lewat sih ya… (mungkin karena transit atau seperti kenalan saya seorang ibu-ibu gahul orang sini yang ke KorSel PP dalam sehari nggak pake nginep).

Dan untuk yang akan menetap, biasanya juga sudah harus tahu akan tinggal di mana, karena kalau nggak ya nggak akan dapat visa. Saya sendiri, kalau visa diurus sama Kedutaan Besar Jepang, masalah tempat tinggal pas awal-awal, diurus langsung oleh universitas. Kebetulan, Kobe University punya beberapa student dormitory plus dormitory milik JASSO yang boleh ditempati mahasiswa asing. Jadi, saya tinggal tahu beres saja.

Awalnya, saya di tempatkan di Kobe University International Residence di Port Island. Port Island ini nama salah satu pulau buatan di Kobe yang sepertinya dikhususkan sebagai daerah pemukiman. Karena pulau buatan, jadi relatif kecil dan sepiii. Kayaknya jalan kaki sejam-dua jam juga sudah bisa mengelilingi pulau ini, deh. Karena itu juga, pemandangan sehari-harinya ya apartemen-apartemen begitu. Berhubung Jepang itu wilayahnya tidak luas, jadi maklum saja kalau gedung apartemen banyak bertebaran di sini. Malah rumah stand-alone termasuk barang mewah. Tanahnya mahal, bo!

View dari Kamar di dorm yang dulu. Kalau dari tempat tinggal yang sekarang, berhubung di lantai satu, pemandangannya ya jemuran. Hihihi.

Setelah satu tahun di dorm, saya diharuskan pindah dari dorm. Jadi mau tidak mau harus mencari tempat tinggal lagi. Berhubung Jepang itu negara yang sangat teratur, maka untuk tempat tinggal pun biasanya melalui agen, jadi tidak langsung ke pemilik rumah. Enaknya sih kita jadi punya banyak pilihan, tapi nggak enaknya, jadi harus bayar jasa agen yang biasanya mencapai setengah harga sewa kamar yang disetujui (hanya sekali bayar, untuk biaya bulanan selanjutnya, biasanya tergantung kesepakatan antara agen dan pemilik rumah) Untuk tahap awal, mungkin bisa searching di internet. Agen-agen besar seperti Mini-mini, Able, dll bergabung dengan My Navi Chintai. Situs yang dikhususkan untuk mencari tempat tinggal. Mereka masing-masing juga punya situs sendiri sih, tapi lebih banyak pilihan di situs gabungan.

Sayangnya, kebanyakan situs tersebut dalam bahasa Jepang! Jadi daripada mata jereng duluan, langsung ke kantor agennya juga nggak masalah kok.

Kalau saya sendiri, diawali dengan berkunjung ke beberapa teman yang tempatnya potensial. Kebetulan beberapa teman dorm saya sudah ada yang pindah duluan, sambil silaturahim sambil mencari-cari informasi. Setelah itu, baru saya datang ke agennya. Saya pilih Able, karena saya dengar ada karyawannya yang bisa berbahasa Inggris. Sayangnya, saat saya datang dia-nya lagi tidak di tempat. Ya sudah, hajar bleh dengan bahasa Jepang saya yang levelnya masih kalah sama anak SD sini. Haha.

Untuk tahapan pencarian, sebenarnya nggak susah kok. Kita tinggal bilang, kita mau kamar yang seperti apa, daerahnya di mana, jendela menghadap mana, fasilitasnya apa saja, harganya berapa. Pokoknya jelaskan saja yang kita mau yang bagaimana. Nanti orang agen yang akan mengutak-atik komputernya untuk mencarikan. Setelah dapat beberapa pilihan, pegawai agen akan mengantarkan ke masing-masing prospek tempat tersebut. Nggak usah malu-malu, kalau jadi bayarnya mahal ini. Hihihi..

Kalau kira-kira sudah cocok, baru dibicarakan lebih lanjut ke pemilik rumahnya dan kalau beliau-nya setuju-setuju saja, tinggal mengurus surat-surat. Semuanya diurus oleh agen, kecuali jaminan dari kampus, yang harus diurus sendiri. Berhubung untuk jaminan, Ryuugakusei Senta (International Student Center) Kobe Univ. sudah biasa mengurusi hal begini, jadi serahkan saja ke mereka (khusus untuk mahasiswa Kobe Dai tentunya). Nggak sampai seminggu surat jaminannya beres dan tinggal dikembalikan ke pihak agen. Setelah itu tinggal pembayaran dan pindah deh.😉

Kalau sudah pindah, urus-mengurus belum bisa dibilang beres juga sih. Masih ada air, listrik, gas, plus mengurus pindah alamat di kantor pos, Ward Office (semacam kantor kecamatan), dan bank. Semua bisa diurus via telepon atau internet, kecuali yang ke ward office harus datang langsung ke sana.

Berhubung mahasiswa asing biasanya dikasih tutor, silakan dimanfaatkan. Tapi ya siap-siap ribet menyesuaikan jadwal dengan sang tutor. Kalau mau mencoba mengurus sendiri, juga nggak apa-apa kok. Hitung-hitung menambah pengalaman juga, kan ya. Tenang, belum ada ceritanya ada customer service yang nge-jutekin customer. Kalau ada yang begitu tinggal dilaporin, dan bukan tidak mungkin petugas tersebut nantinya akan kehilangan pekerjaan, lho…

Kurang lebih begitu lah cerita tentang tempat tinggal-nya. Sebenarnya untuk yang sudah berkeluarga, ada tempat tinggal murah program pemerintah (dan harganya bahkan lebih murah dari setengah harga tempat saya yang sekarang!), tapi berhubung saya belum memenuhi syarat (baca: berkeluarga), jadi belum berani cerita lebih detil. Butuh riset lebih mendalam, bo! *halah*

Dan untuk tempat tinggal bagi yang hanya ingin travelling atau jalan-jalan, mungkin bisa pilih-pilih penginapan di Japanican atau Booking.com. Atau kalau mau menambah kenalan, bisa juga search yang mau jadi host kita di Couchsurfing. Yang penting berani dan pinter-pinter aja nyarinya, ya..😀

6 responses to this post.

  1. Di jepang apa ya Cha, yg nggak mahal..? Makanya, denger2 orang jepang yg kerja di Indo langsung betaaaahh. Soalnha dgn gaji mereka disini, mereka bisa sew rumah, punya ART, sopir, plus kemana2 dianter pk mobil pribadi.. disana? Katanya kudu jadi multi jutawan kalo mau hidup begitu…

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on February 13, 2014 at 1:58 pm

      disini jadi me-“rakyat” mbak,, hihihihi…
      abis gimana nggak mahal, yg nyapu2 aja pake jas plus bertampang boyband..😀

      Reply

  2. mahal ya disana😦 nginep di hotel kecil aja segitu mahal apalagi nyewa flat/apartemen ya kan Cha?

    Reply

  3. mau nanya dong, aku mau belajar di sana.. tapi make uang sendiri, istilahnya mah survive.. oy, aku nyari info katanya sebelum kita masuk ke universitas di sana , kita belum bisa kerja part time ya..? berarti harus siapin uang yang gede dulu dong ya sebelum kesana.. ? wah aku malah jadi semangat kesana, ada pencerahan sedikit gak buat aku.. ? hehe makasih ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: