3rd. So you think you can survive?

Bisa dong! In shaa Allah. Kalau Allah mengizinkan😉

It’s already a week! oh no! Ternyata, masih belum bisa untuk dibuat minimal tiga hari sekali. Hikss… Masih tetap di 30 Days Blog Writing Challenge, dan masih bertahan di nonconsecutive ways 😛

Image

Nada Ward Office, photo taken from here

Tinggal dan melanjutkan studi di luar negeri nggak selamanya menyenangkan. Yah, sama saja seperti hidup di negara sendiri. Hanya saja dengan lingkungan yang berbeda. Yang jelas, pasti beda rasanya antara ke suatu tempat untuk jalan-jalan, jika dibandingkan dengan untuk menetap. Tapi tetap dua-duanya lebih berwarna kok. Cuma beda kombinasi warnanya saja. Hihihi.

Menurunkan ekspektasi

Saat pertama kali ke tempat baru, apalagi kalau tempat tersebut adalah tempat yang kita punya rasa tertarik sejak lama, maka mungkin akan ada rasa exciting, kegirangan, de el el. Apalagi kalau tempat itu lebih “superior” dari tempat yang lama.

Berhubung niatnya ini tentang Jepang, maka saya akan mencontohkah Jepang saja. Karena emang nggak ada negara lain juga sih😛. Sebelumnya saya sudah sering mendengar kalau di Jepang itu tingkat kejahatan rendah, pemerataan kesejahteraan tinggi, etos kerja tinggi, orangnya jujur, ramah dan sopan. Kalau dimintain tolong, tidak pernah menolak, dan lain-lain yang pokoknya bikin ngerasa “huaah”.

Tapi, ya namanya manusia ya, Dimana pun itu tetap punya karakter sebagai Homo sapiens. Nggak semuanya baik.

Karena itu, penting sekali untuk menurunkan ekspektasi, atau bahasa anak muda-nya “jangan ngarep”.

Tingkat kejahatan rendah? Jangan sampai karena berpikir seperti itu lantas asal saja meninggalkan sepeda di parkir tanpa dikunci. Karena kalau pun bukan maling sepeda, bisa saja sepedanya diangkut satpol PP-nya sini. Eh, itu karena parkir sembarangan sih ya… Hahaha.

Etos kerja yang tinggi? Terlalu tinggi juga nggak selamanya baik kok. Bisa menimbulkan stress dan kecenderungan ketergantungan pada alkohol yang juga tinggi. plus angka bunuh diri yang juga tinggi. Hiii…

Orangnya jujur, ramah, dan sopan? Untuk jujur dan sopan mungkin iya sih. Tapi ya nggak semuanya juga. Selama statusnya masih manusia, pokoknya nggak akan ada yang 100% baik atau yang 100% jahat deh. Kalau untuk keramahan, saya lupa siapa yang bilang, tapi yang ini kecenderungan nggak-nya malah lebih besar. Bukan apa-apa sih, untuk orang Jepang sendiri, budayanya itu budaya enryo (遠慮) alias sungkan. Jadi biasanya mereka sungkan untuk menegur terlebih dahulu, sungkan untuk menanyakan perlu bantuan atau nggak ke orang lain karena orang lainnya juga biasanya sungkan untuk minta tolong. Yah, pokoknya banyak sungkannya deh. Tapi bagusnya, biasanya mereka juga sungkan untuk menolak. Kalau ini ada bagus dan buruknya juga sih, ya.

Intinya sih, di mana pun itu, nggak semua yang kita dengar itu 100% sesuai kenyataan. Jadi lebih baik turunkan saja ekspektasi. Kalau ternyata kenyataannya lebih baik dari yang diekspektasi-kan, Alhamdulillah. Kalau tidak, yah, kalau ekspektasinya cukup rendah, biasanya tidak akan lebih buruk kok. Etapi, jangan sampai ber-negative thinking juga sih ya. Nanti bawaannya malah nggak tenang terus. Huehehe…

 Me-maintain ekspektasi

Sudah tidak terlalu ngarep, eh ternyata yang dialami jauh lebih baik dari yang dibayangkan? Nah, tahapan selanjutnya adalah me-maintain ekspektasi agar tetap berada di titik stabil. Tidak terlalu tinggi yang kalau jatuh bakal bikin sakit, remuk sampai ke tulang *lebay*. Tapi juga tidak terlalu rendah.

Pas awal-awal datang dulu, saya menerima perlakuan yang saya rasa luar biasa baiknya. Pokoknya jauh lebih baik dari ekspektasi saya (emang waktu itu nggak ngarepin apa-apa juga sih. Pokoknya asal nggak dijahatin aja dah. Hahaha…)

Dari situ jadi seneng banget dong… kecenderungannya ekspektasi naik. Apa-apa mikirnya “wah… orang Jepang baik-baik banget!” jadi lupa deh, kalau mereka masih satu spesies sama kita. Sama-sama Homo sapiens. Bukan spesies Super homo sapiens, apalagi malaikat. Hehehe.

Teteup, nggak akan pernah hatinya bersih seratus persen. Yah, selama nggak sampai merugikan siapa-siapa, dan masih banyak baiknya dianggap baik saja. Tapi juga jangan jadi berharap sih ya. Berharap mah sama Sang Pencipta saja. Pokoknya tetap maintain ekspektasi agar tidak terlalu tinggi.

Tidak suudzan

Alias tidak berburuk sangka. Kalau ekspektasi sudah tinggi (atau rendah diawal, lalu naik, dan ternyata naik terlalu tinggi), lalu ternyata kenyataannya tidak sesuai harapan, kecenderungannya jadi berburuk sangka. Misalnya, saat diawal banyak dibantu oleh orang-orang, lalu kita berpikir “wah, orang Jepang senang menolong ya…” dan kemudian kita tahu bahwa bisa saja dia menolong karena nggak bisa menolak, karena orang Jepang memang budayanya susah untuk menolak. Lantas jadi buruk sangka. Tiap ada yang berbuat baik, langsung berpikir kalau itu nggak tulus. Ada sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Dan sesuatu itu adalah buruk. Ya ampuuun, cape nggak sih kalau punya pikiran begitu terus? Yuk deh, kita coba hilangkan buruk sangka, tapi juga tidak berekspektasi tinggi *teteup*

Mengikuti semua peraturan

Jepang itu negara yang sangat birokratif. Apa-apa harus ada prosedurnya, apa-apa harus sesuai SOP, dan itu sangat detil. Jadi untuk bertahan di sini, ikuti saja peraturan yang ada. Untuk pendatang yang akan menetap, saat baru datang, dalam 14 hari harus sudah melaporkan diri ke Ward Office (Kuyakusho/ 区役所). Kemudian, jangan lupa mengurus asuransi kesehatan, membereskan segala bentuk administrasi di kampus atau di tempat kerja. Pokoknya ikuti saja sesuai aturannya.

Untungnya, meskipun birokratif, tapi nggak menyusahkan kok. Nggak ada tuh ceritanya kalau mau dipermudah, harus ada “pelicin”-nya. Dan emang nggak ribet-ribet banget juga. Biasanya cukup datang, isi formulir, masukkan formulir, bayar (untuk beberapa hal, dan itu memang standard-nya begitu, jadi bukan “uang pelicin”), tunggu sebentar (sesuai antrian), dipanggil deh. Atau untuk beberapa kasus (misalnya asuransi kesehatan) yang butuh beberapa hari, biasanya akan dikirim ke alamat rumah via pos.

Mungkin karena itu juga kali ya, kantor pos di sini sangat hidup. Karena apa-apa dikirim via pos. Biar kitanya nggak bolak-balik juga sih ya…

Dan tentu saja untuk yang masih kuliah atau sudah bekerja, ikuti saja aturan di kampus atau di tempat kerja. Nurut saja dengan “Pak Boss” atau “Pak Guru” selama belum bikin merugikan. Kalau merugikan, bagaimana? Hmmm… Kalau itu tergantung kasus sih ya.😀

Yak, untuk sementara segitu dulu kali ya, tips-tips bertahan hidup *halah* di Jepang ala Hicha. Dan percaya lah, si Hicha-nya sendiri masih harus banyak belajar juga tentang hal-hal yang dia sebutkan di atas. Huehehe…

So you think you can survive? Yes, I can! *kepalkan tangan lalu tinju ke arah langit dan berdoa di dalam hati*

4 responses to this post.

  1. berapa tahun mbak studinya?🙂 semoga dimudahkan yaa..

    Reply

  2. Hoooo. Cocok banget sama sayah inimah. Ekspektasi ke orangnya ketinggian jadi pas kerja bareng ama mereka banyakan kecewanya. Iya Orang Jepang. Apa kebetulan yang di sini aja yang pada ga oke ya? *lhakok malah curcol*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: