5th. A Lovely City Named Kobe

Kalau orang Indonesia mendengar kata Kobe, mungkin hal yang pertama kali terlintas dibenaknya adalah merk tepung bumbu jadul yang sekarang pesaingnya sudah banyak sekali. Atau kalau googling, seringnya yang keluar nama pebasket terkenal Kobe Bryant. Masih mending sih kalau ada yang ingat sama Kobe beef, toh sapinya memang dari Kobe. Hihihi.

Kobe


Bagaimana tidak jatuh cinta kalau pas googling, nemunya foto seperti ini?😉 Pict. taken from here

Saya sendiri mendengar kota Kobe dari sebuah acara televisi saat saya sekolah dulu (entah itu SD, SMP, atau SMA. Lupa.). Acara tersebut menceritakan tentang mesjid yang pertama kali dibangun di Jepang yang tak lain dan tak bukan bertempat di kota ini. Tapi saat itu hanya sebatas menambah pengetahuan. Tidak pernah terbayang sama sekali kalau beberapa tahun kemudian saya akan menuntut ilmu di sini.

Saat professor dari Kobe University membalas e-mail saya, saya langsung penasaran dengan kota Kobe itu sendiri. Dan mulai lah saya berkelana di dunia maya (baca: googling) mencari tahu kira-kira kota seperti apa yang mungkin akan saya tempati nanti. 

Setibanya di sini, baru beberapa minggu kemudian saya sempat main ke Meriken Park dan Kobe Port Tower yang jadi sightseeing spot utama-nya Kobe. Yah, kayaknya belum ke Kobe kalau belum ke sana gitu deh.. huehehe. Lalu apa saja yang membuat Kobe menjadi “The Lovely City” buat saya? Ini beberapa alasannya😉

Ada mesjid

Tidak terhingga bahagianya saat saya me-recall ingatan dan dengan bantuan google saya menemukan mesjid Kobe. Salah satu dari sedikit mesjid yang ada di Jepang dan salah satu mesjid dari lebih sedikit lagi yang benar-benar terlihat seperti mesjid pada umumnya di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Relatif mudah menemukan toko halal

Dengan adanya mesjid, otomatis disekitarnya ada beberapa toko dan restoran halal. Kebanyakan masakan india sih. Tapi setidaknya bisa mengobati saat ingin memakan daging halal.

Kota besar tapi tidak terlalu ramai.

Ini juga salah satu hal yang saya sukai dari Kobe. Kalau baca disini, Kobe merupakan kota terbesar ke-enam di Jepang. Meskipun begitu, saya sama sekali tidak merasakan aura padatnya ibukota. Yang terlihat justru lebih sering jalanan yang tidak begitu ramai (dibandingkan dengan Bandung saja, jauh kalah ramainya). Kemacetan pun hampir tidak pernah terjadi. Bahkan kebanyakan toko (kecuali supermarket dan tempat hiburan malam), biasanya jam enam sore sudah tutup. 

Kalau ada yang nanya apakah saya pernah merasakan seperti berada di kaleng sarden di kereta saat rush hourJawabannya, sama sekali tidak. Seramai-ramainya rush hour di Kobe, penumpang kereta masih bisa berdiri dengan layak tanpa harus gencet-gencetan.

Berada di antara gunung dan laut

Namanya saja kota pelabuhan, tentu saja berada di tepi laut. Dan pegunungan yang mengelilinginya jadi lebih memperindah. Ibarat kata, mau hiking trek-nya nggak begitu jauh, mau main ke pantai juga tinggal “ngesot”. Walaupun tentu saja, belum bisa mengalahkan pantai-pantai indah di negara sendiri ;) 

Berada di tengah-tengah daerah Kansai

Meskipun KJRI itu adanya di Osaka (kota besar ke dua di Jepang), tapi karena yang posisinya lebih di tengah itu Kobe, jadi event-event seperti Shalat Ied berjamaah, diadakan di Kobe. Dan penduduk Kobe sendiri kalau mau kemana-mana di daerah Kansai relatif dekat.

Selain itu, karena berada di tengah, aksen Kansai-nya (Kansai-ben) juga tidak sejelas di Osaka yang saking jelasnya kadang disebut Osaka-ben. Kobe-ben juga ada sih, tapi karena bercampur Kansai-ben, jadi kadang tidak terlalu ketara. Untuk sesama orang Jepang, mungkin tidak terlalu masalah. Tapi untuk orang asing yang belajarnya bahasa Jepang standard, tentu akan memusingkan. 

Cukup terbuka dengan orang asing

Mungkin karena sejarahnya dulu sebagai satu pintu masuk perdagangan international di Jepang, maka penduduknya relatif lebih terbuka. Terlihat dari adanya pemukiman eropa di daerah Kitano dan China town di Motomachi.

Ada Kobe University!

Ahahaha… ini mah saya-nya aja yang nambah-nambahin. Iya dong… tempat menuntut ilmu gituhh. Menyugesti diri biar tetap semangat itu adalah “mesti”😉

5 responses to this post.

  1. Cha, aku baru inget mau nanya: pernah nggak, ngerasain gempa disana? Kalo nggak salah ada kan, kota yg langganan gempa, ya?

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on March 31, 2014 at 6:24 am

      Di daerah barat, termasuk Kobe relatif jarang mbak. Tapi sekalinya gempa biasanya gede. Bulan kemarin pas lagi mudik katanya ada sih. Tapi yang terkenal yang tahun 1995 yang kerusakan terberatnya ada di Kobe. Gempa terbesar di Jepang sebelum yang 2011 kemarin. Sampai dibuat filmnya malah.

      Reply

  2. Cha, keinget deh dulu pernah bikin postingan jalan-jalan di sekitaran Kobe kan ya?
    Jadi penasaran dan pengen ke sana deh. Dari dulu kalo baca Jepang kan selalu Tokyo dan Shibuya gitu yang diceritain..

    Reply

  3. […] tentang Kobe, kali ini terinspirasi dari komen-nya baginda ratu, saya ingin bercerita tentang […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: