Diposkan pada MindTalk

Tentang Menyerah

*Tulisan 2000 kata lebih dikit.  You’ve been warned, read with your own risk! 😛*

Sudah cukup lama sebenarnya terpikirkan dengan hal ini. Baca-baca tentang ‘perjuangan’ hampir semua orang berusaha untuk selalu mengeluarkan positive vibes. “Jangan menyerah!”, “Yosh! Mari kita semangat!”, “Ayo! Sedikit lagi”. Entah itu untuk menyemangati diri sendiri maupun orang lain. Bagus, sih. Apalagi kalau yang melihat atau membacanya jadi ketularan ‘semangat’nya.  Lanjutkan membaca “Tentang Menyerah”

Diposkan pada Experience

14th. Memperpanjang Izin Tinggal di Jepang

Hai, hai, ketemu lagi dengan postingan jejepangan. Eh, mostly akhir-akhir ini memang tentang jejepangan, sih ya? Kalaupun curhat biasanya bentuk colongan yang tersirat. *aseek*

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit tentang cara memperpanjang izin tinggal di Jepang. Nah, sedikit FYI, di Jepang ini ada beberapa jenis izin tinggal yang berbeda statusnya dengan tourist visa. Kalau dulu Jepang menggunakan sistem Alien card untuk WNA yang menetap di Jepang, sejak Juli 2012 diberlakukan sistem baru yang semakin mempermudah. Sistem ini ditandai dengan digantinya Alien card menjadi Residence card dan tidak perlunya registrasi re-entry permit di kantor imigrasi saat akan melakukan perjalanan sementara ke luar Jepang. Jadi bisa langsung dilakukan saat melewati imigrasi di bandara internasional di Jepang. Sangat mempermudah dan tidak perlu repot-repot harus ke kantor imigrasi terlebih dahulu, bukan? Lanjutkan membaca “14th. Memperpanjang Izin Tinggal di Jepang”

Diposkan pada Experience, Japan and Japanese, MindTalk

5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja. Lanjutkan membaca “5 Jam pertama di Tokyo”