Posts Tagged ‘Life in Kobe’

Ganjitsu

Yuhuuu… the first day in 2017! Dan saya baru nyadar kalau nambah tahun ternyata sama juga dengan berkurangnya jatah hidup. Baru nyadarnya setelah happy abis berburu hatsuhinode (初日の出) alias first sunrise. Heu. Continue reading

Advertisements

13th. Pointing and Calling

Shisakankou (指差喚呼) atau yubisashikosyou (指差し呼称)adalah salah satu hal baik yang baru saya kenal di Jepang. Mungkin sebenarnya di mana pun di tempat-tempat dengan prasyarat keselamatan, metode ini sudah menjadi bagian dari SOP. Tapi dasarnya saya kurang ngeh sama hal sekitar, bahkan metode ini pun baru saya ketahui setelah hampir dua tahun setengah tinggal di sini.

Awal tahunya juga gara-gara kurang lebih setahun-dua tahun yang lalu (lupa pas-nya kapan), saya bersama beberapa anggota PPI yang lain sedang menunggu kereta ke mana gitu di platform. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, kenapa ada petugas yang sedang berdiri di platform itu ngomong sendiri sambil nunjuk-nunjuk sesuatu. Dan saya pun baru sadar kalau ternyata memang petugas tersebut mengarahkan tangannya ke sesuatu sambil ngomong sendiri. Saya tidak tahu, dan bingung juga bagaimana mencari tahu. Mau googling kok males kalau pakai bahasa Jepang dan tidak yakin ada kalau menggunakan query bahasa Inggris atau Indonesia. Intinya males saja sih sebenarnya. Hehe. Continue reading

10th. A Little Story of Autumn

Sudah masuk bulan November. November ke empat saya di Kobe. Dan saya baru nyadar kalau belum pernah cerita sekalipun tentang musim gugur di sini. (eh, atau udah ya? Perasaan sih belum. Hehe.)

Kebanyakan orang yang tinggal di sini memilih musim semi atau musim gugur sebagai musim yang paling disenangi. Yah, habisnya musim dingin di Kobe saljunya seuprit dinginnya amit-amit. Give a yay for the rhyme!prokk… prokk… prokkk…*mulai geje*. Sedangkan musim panasnya, lembab-lembab bergembira bak sauna raksasa yang bikin malas ngapain aja. *itu mah, lu doang, cha!* Continue reading

Ramadhan ke-4

…di Kobe. Udah hari terakhir aja. Dan udah melebihi bang Toyib yang nggak pulang tiga kali lebaran. Saya pulang ding, bukan saat Ramadhan tapi. Hehe. Terus, terus, gimana Ramadhannya? Kalau Ramadhan pertama saya “bergulat” dengan ujian masuk, Ramadhan kedua masih “bergulat” dengan ujian masuk. Saking “jungkir-balik”nya *lebay* sampai nggak dibikin postingan-nya *bilang aja males, cha! ~_~”*. Continue reading

9th. Sebagai Minoritas

Udah hampir dua bulan berlalu di tahun 2015 ya boo… Dan ini blog makin nggak keurus aja. Pengennya sih nyelesein 30 (nonconsecutive) days blog writing challenge-nya, tapi nonconsecutive-nya udah keterlaluan, malu euy buat ngelanjutin. Hiks. Jadi ya sudahlah, tag “30 days blog writing challenge”-nya nggak usah dipakai lagi aja. Tapi tetap diberi nomor deh. Anggap saja jadi “30 stories about Japan of Hicha”. Huehehe.

Nah, dari judulnya mungkin sudah bisa ditebak kali ya, tulisan ini tentang apa. Tapi kali ini saya belum ingin menuliskan tentang bagaimana tinggal di Jepang sebagai muslim yang masih minoritas. Untuk itu kali lain mungkin akan saya ceritakan.  Continue reading

Something Called… Life!

Yeah, it is something. Something that could be either so-so, useful, or even useless. Something that you planned, but God decided. Something that you should pull yourself to the highest one, push to the deepest one, struggle to the hardest one. But, in the end, let’s hope the latest one will be the best one. Yeah, it is something so-called L-I-F-E.

Huah… udah lama juga saya nggak nge-update blog ya. Hmm.. (sok) sibuk euy. Hahaha. Baiklah, setelah beberapa waktu disamarkan, kali ini saya pengen cerita ah. Buat orang lain mungkin biasa aja kali ya. Tapi buat saya cukup bikin hidup tambah “seru” kok. Hihihi.

Jadi mau cerita tentang apa, cha? 

Cerita tentang… yah gitu lah, langsung baca wee.. 😛 Continue reading

Part-time Work Di Jepang

Sepertinya, belakangan saya mem-posting hal yang ‘ga jelas’ melulu, padahal akan lebih baik kalau yang ditulis itu hal yang bermanfaat kan, ya? Hmm.. Baiklah, akan saya coba untuk memperbanyak tulisan yang lebih bermanfaat. Walaupun nggak janji, tulisan ‘geje’-nya juga ikut berkurang. 😛

Terinspirasi dari tulisan Bapaknya Dek Anggit, saya juga jadi ingin menulis tentang Arubaito a.k.a kerja part-time di Jepang. Berhubung di link di atas kayaknya sudah sangat jelas menjabarkan tahapan-tahapan yang mungkin dilalui, saya akan menulis tentang pengalaman saya ber-arubaito-ria saja.  Continue reading