Posts Tagged ‘Life in Japan’

17th. Tips Liburan di Jepang

Makin ke sini makin banyak saja yang liburan ke Jepang. Kayaknya belum gaul deh kalau belum liburan di Jepang. Nah, sebagai WNI yang baru sudah menetap di Jepang selama 4.5 tahun, ada beberapa hal yang menurut saya akan memudahkan bagi yang mau traveling ke Jepang. πŸ˜‰ Continue reading

Unboxing iPhone 7 Plus

Percaya nggak percaya, saya baru punya smartphone pertama kali seumur hidup ya pas sampai di Jepang. Dari tahun 2003 sampai 2012, sejak pertama kali menggunakan telepon genggam kelas 1 SMA (Yah, ketauan deh umurnya :P), saya setia dengan HP monokrom yang tidak terkoneksi dengan dunia maya, hanya bisa telepon dan SMS saja. Continue reading

Cerita Akomodasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di posting-an yang ini. Tentang inap-menginap sepertinya harus dibuat tulisan tersendiri. Dan kali ini saya ingin menuliskan sejarah per-inap-an (eh, bener nggak ya ini penulisannya? Β :P). Sejujurnya entah karena saya-nya yang cemen atau gimana, dulu saya sangat menghindari menginap di hotel. Entah kenapa image hotel di mata saya kok jelek. Padahal ya by default, hotel itu tempat untuk menginap saat dalam perjalanan kan ya? Tapi sebisa mungkin saya menginap di tempat yang ada orang yang saya kenal. Saking tidak mau-nya menginap di hotel, saya pernah pulang-pergi Kobe-Hiroshima dalam sehari. Pulangnya sih pakai 18kippu, tapi perginya naik Shinkansen. Pokoknya nggak mau nginep di hotel ajah! (lah, terus apa gunanya pakai tiket murah sejenis 18kippu? -_-”). Continue reading

5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja. Continue reading