Unboxing iPhone 7 Plus

Percaya nggak percaya, saya baru punya smartphone pertama kali seumur hidup ya pas sampai di Jepang. Dari tahun 2003 sampai 2012, sejak pertama kali menggunakan telepon genggam kelas 1 SMA (Yah, ketauan deh umurnya :P), saya setia dengan HP monokrom yang tidak terkoneksi dengan dunia maya, hanya bisa telepon dan SMS saja. Continue reading

16th. Tips (dianggap) Lancar Berbahasa Jepang Part. 2

Hai, hai… Seperti yang tertulis di postingan yang ini. Mari kita lanjutkan tips agar “dianggap” lancar berbahasa Jepang. Nggak penting sih sebenarnya, tapi berawal dari “dianggap” ini siapa tahu jadi lebih terpacu gituh. 😉 Continue reading

It’s All About “Kepentingan”

Sebut saja A, seorang researcher, dalam perjalanan menuju international conference. Pada masa transit, A menyempatkan jalan-jalan di tempat menarik kota tersebut. A mendengar sekeluarga yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Dia diam saja. Tidak bertatap muka apalagi menyapa. Karena memang tidak ada kepentingannya.

Keesokan harinya, A bertemu kembali dengan orang yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Kali ini adalah seorang senior researcher dari universitas ternama di negaranya. A langsung memperkenalkan diri dan menjadi sangat ramah sekali. Secara kepentingan mungkin berhubungan dengan masa depan risetnya. Continue reading

15th. Tips (dianggap) Lancar Berbahasa Jepang

Kenapa judulnya ada kata “dianggap”-nya? Ya, karena saya sendiri juga sebenarnya nggak lancar-lancar amat bahasa Jepang-nya. Simply, hanya cukup untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh lawan bicara dan untuk survive dalam kehidupan sehari-hari. Lha wong ikut ujian JLPT level 3 aja saya belum pernah, apalagi level 2 atau level 1-nya. Hueee… Continue reading

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka punya banyak arti.
Merdeka dari penjajah, merdeka dari rasa malas, dari rasa takut, hingga dari rasa yang pernah ada.
Merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ke-kurang iman-an, hingga dari zona nyaman bernama zona teman, zona kakak-adek, zona tempat curhat, zona supir pribadi, atau bahkan zona obat nyamuk.

Ya, mari kita memerdekakan diri! Continue reading

14th. Memperpanjang Izin Tinggal di Jepang

Hai, hai, ketemu lagi dengan postingan jejepangan. Eh, mostly akhir-akhir ini memang tentang jejepangan, sih ya? Kalaupun curhat biasanya bentuk colongan yang tersirat. *aseek*

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit tentang cara memperpanjang izin tinggal di Jepang. Nah, sedikit FYI, di Jepang ini ada beberapa jenis izin tinggal yang berbeda statusnya dengan tourist visa. Kalau dulu Jepang menggunakan sistem Alien card untuk WNA yang menetap di Jepang, sejak Juli 2012 diberlakukan sistem baru yang semakin mempermudah. Sistem ini ditandai dengan digantinya Alien card menjadi Residence card dan tidak perlunya registrasi re-entry permit di kantor imigrasi saat akan melakukan perjalanan sementara ke luar Jepang. Jadi bisa langsung dilakukan saat melewati imigrasi di bandara internasional di Jepang. Sangat mempermudah dan tidak perlu repot-repot harus ke kantor imigrasi terlebih dahulu, bukan? Continue reading

Cerita Akomodasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di posting-an yang ini. Tentang inap-menginap sepertinya harus dibuat tulisan tersendiri. Dan kali ini saya ingin menuliskan sejarah per-inap-an (eh, bener nggak ya ini penulisannya?  :P). Sejujurnya entah karena saya-nya yang cemen atau gimana, dulu saya sangat menghindari menginap di hotel. Entah kenapa image hotel di mata saya kok jelek. Padahal ya by default, hotel itu tempat untuk menginap saat dalam perjalanan kan ya? Tapi sebisa mungkin saya menginap di tempat yang ada orang yang saya kenal. Saking tidak mau-nya menginap di hotel, saya pernah pulang-pergi Kobe-Hiroshima dalam sehari. Pulangnya sih pakai 18kippu, tapi perginya naik Shinkansen. Pokoknya nggak mau nginep di hotel ajah! (lah, terus apa gunanya pakai tiket murah sejenis 18kippu? -_-”). Continue reading