Diposkan pada Experience

Cerita Pindahan Antar Negara

Ada kah manusia yang seumur hidupnya dari lahir sampai meninggal di tempat yang sama? Hmm… mungkin ada, tapi kayaknya lebih banyak yang pernah pindah. Entah itu pindah karena sekolah, bekerja, atau membentuk keluarga baru.

Kali ini saya pindah untuk yang ke-15 kalinya. Ternyata sudah lumayan sering juga, ya. Masing-masing durasinya beragam. Mulai dari sembilan tahun di rumah tempat orang tua saya mengontrak setelah menikah, sampai hanya tiga minggu di sebuah kos-kosan di Bandung.

Pindahan kali ini, demi tidak LDM dengan pasangan. Yah, sadar diri dengan karakter sendiri yang sulit untuk menjaga relasi jarak jauh. Lagian sudahlah 6.5 tahun LDR, rasanya nggak sanggup juga kalau harus lanjut LDM. Apalagi (saat ini) saya bukan termasuk golongan ambis atau mengejar karier. Jadi, ya, nggak merasa berat resign dari kerjaan dan pindah demi bisa tinggal bersama.

Mengenai pindahan ini, tentu saja sudah dibicarakan sejak sebelum menikah. Kami memutuskan saya yang pindah mengikutinya karena dari segi pekerjaan dan penghasilan pilihan itulah yang paling menguntungkan.

Risikonya tentu ada, sama seperti pilihan lainnya. Tapi, setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya di sinilah saya. Lebih dua bulan sudah kembali di negeri sakura.

Kalau sebelumnya saya pernah membuat tulisan tentang kembali ke Indonesia dari Jepang (part I, part II), kali ini saya mau menuliskan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk pindah ke Jepang dari Indonesia berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Mental

Hal pertama dan sangat penting untuk disiapkan pertama kali adalah mental. Apakah sudah siap tinggal jauh dari keluarga? Siap untuk beradaptasi dengan lingkungan baru? Siap meninggalkan kenyamanan yang sudah ada saat ini? Dan kesiapan hal-hal lain yang mungkin tidak ada di tempat baru.

Sebagai orang yang cenderung intuitif, I trust my gut in every decision I made. Saya menganggapnya sebagai sebuah privilege, karena dengan intuisi dan insting tersebut, membuat saya jadi lebih percaya diri dengan keputusan yang sudah saya ambil.

Tentu saja bagi mereka yang kecenderungannya lebih ke sense daripada intuisi, bisa menyiapkan mental dengan cara berbeda. Misalnya, mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat baru tersebut dan menyiapkan hal-hal yang sekiranya diperlukan berdasarkan informasi tersebut.

Pekerjaan

Selayaknya orang dewasa dan bukan keturunan sultan yang tidak perlu memikirkan uang, memiliki pekerjaan adalah salah satu bentuk bertahan hidup. Kalau pindah bukan karena demi lebih mengembangkan karier, maka pekerjaan juga jadi salah satu bahan pertimbangan yang harus dipikirkan. Apakah memang harus resign? Bagaimana dengan di tempat tujuan nantinya? Apakah bisa mencari pekerjaan baru? Atau kalaupun memilih untuk tidak bekerja, apakah sandang-pangan-papan terjamin?

Kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah terjawab, tahap selanjutnya persiapan menjelang kepindahan, seperti:

  • Pengunduran diri

Mengundurkan diri adalah hak semua karyawan. Tapi, tentunya tidak etis kalau ujug-ujug tanpa babibu langsung keluar. Minimal beri tahu atasan 1-2 bulan sebelumnya dan lengkapi dengan surat pengunduran diri. Bisa 30 hari notis atau sesuai Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Pekerja-Perusahaan.

Bagaimana kalau dipersulit? Kalau perusahaannya sudah tersertifikasi ISO9001, mestinya nggak susah, selama sesuai dengan PKB dan peraturan Depnaker. Kalau tetap dipersulit, mungkin bisa minta bantuan pihak ketiga, seperti serikat pekerja atau menempuh jalur hukum.

Cuma, ya, jangan sampai lah yaa. Masuk baik-baik, keluarnya juga sudah seharusnya baik-baik pula.

  • Proses serah-terima pekerjaan

Yang namanya pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya, maka dari itu setelah kita nggak ada nantinya, harus ada yang melanjutkan perjuangan pekerjaan kita. Karenanya, setelah ada pembicaraan mengenai pengunduran diri, biasanya atasan akan mempersiapkan pengganti. Sudah kewajiban kita untuk melakukan serah-terima pekerjaan. Entah itu list item pekerjaan, cara mengerjakan, orang-orang yang akan dihubungi dan berpotensi menghubungi kita, dll, dsb, dst.

Karena inilah dibutuhkan notis setidaknya 30 hari sebelum berhenti kerja. Karena kalau tidak, sudah pasti jadi menyusahkan banyak orang. Sudah ada notis saja kadang masih ada miskom dan misunderstanding-nya. Apalagi kalau nggak ada. Heuheu. *curcol, bu? 🙈*

Dokumen

Mau pindah antar negara atau antar kota, keduanya sama-sama memerlukan pengurusan administrasi. Kalau masih di dalam negeri, mungkin cukup dengan melapor pada RT, RW, kelurahan. Tapi, kalau pindah antar negara, ada proses imigrasi juga. Jadi pastikan visa atau izin tinggal sudah beres sebelum hari keberangkatan.

Terdampar di sini karena dokumen pindahan

Untuk visa sendiri, persyaratannya tergantung negara tujuan dan tujuan kepindahan. Tapi, secara umum harus ada pernyataan jaminan, entah itu invitation letter atau guarantee letter dari pihak yang akan menjadi guarantor. Kalaupun mau jadi penjamin untuk diri sendiri, biasanya ada syarat minimal jumlah uang yang dibutuhkan.

Misalnya untuk visa pelajar di Jepang. Kalau dengan biaya sendiri, kalau saya tidak salah harus ada minimal 1.5juta JPY (~150juta IDR) di tabungan, dan ada acceptance letter dari sekolah/kampus yang menerima.

Begitu juga untuk visa pekerja. Harus ada surat keterangan dari perusahaan yang akan menerimanya di negara yang dituju.

Kalau untuk spouse visa harus ada CoE dari imigrasi negara yang dituju.

Pokoknya cari informasi dan persiapkan selengkap-lengkapnya dokumen yang dibutuhkan, ya. Biar proses pindahannya smooth. 😉

Persiapan Perjalanan

Mental sudah oke, pekerjaan juga sudah dialih-tugaskan, dokumen pun sudah lengkap, tinggal berangkat, dong?

Eitss… jangan lupa juga siapkan perjalanan. Mulai dari tiket; itinerary dan transit (jika ada); alur perpindahan moda (dari tempat awal ke bandara keberangkatan dan bandara tujuan ke tempat pindahan); dana (cash/CC/digital, penukaran uang, etc), sampai ke bagasi.

Mengenai bagasi, karena bagasi untuk penerbangan itu terbatas, jadi pastikan juga barang-barang kita tidak melebihi ketentuan. Untuk penerbangan ekonomi, full-service airline biasanya sudah memasukkan biaya bagasi hingga 2 x 23kg (ada juga yang 2 x 32kg) di dalam biaya tiketnya. Sedangkan untuk LCC, biaya bagasi terpisah dari harga tiket.

Kalaupun ada mau mengirimkan barang-barang ke tempat tujuan, pastikan barang-barang yang boleh dikirim dan peraturan bea cukainya sudah jelas.

Saya sendiri, berhubung ngontrak di Jakarta dengan kontrakan full-furnished, jadi sebenarnya tidak terlalu banyak barang. Yeah, saya pikir begitu, ternyata printilan-printilan kalau dikumpulkan jadinya berkardus-kardus juga. Wkwkwk.

Rencananya saya bawa 1 koper besar, 1 koper sedang, 1 koper kabin, dan tas ransel. Lah dalah pas packing kok jadi beranak 1 kardus 70x50x50cm3 dan 1 kardus 40x25x25cm3 🙈

Padahal itu sudah banyak dikurangin dengan moving out garage sale dan udah banyak juga yang dikasih-kasihin. 🙈🙈

Packing apa ini? 🙈🙈

Terus, saya baru sadarnya H-3. Gimana nggak tambah pusing, tuh? Wkwkwk.

Saya coba cari info pengiriman. Kalau pakai Fed*Ex atau D*H*L, langsung angkat tangan dengan biayanya. Bisa pakai kargo laut PT. P*o*s, tapi selain pengirimannya membutuhkan waktu sampai 3 bulan, biayanya nggak beda jauh sama biaya extra baggage di pesawat. Udah gitu yang anehnya, katanya kalau untuk barang pindahan harus menyertakan boarding pass. Lah, saya belum berangkat gimana caranya bisa dapat boarding pass? Lagian kalaupun ada, terus saya sertakan sebagai syarat pengiriman barang, ntar saya naik pesawatnya gimana, dong? Aneh-aneh aja dah yang bikin aturan. 🤦‍♀️

Akhirnya daripada pusing, saya beli extra baggage di maskapai penerbangan yang saya gunakan. Ditotal-total barang bawaan saya ada kali 100kg. Huahahahaha. *ketawa guling-guling padahal mau nangis 🤣*

Padahal saya kalau traveling biasanya cuma bawa ransel atau cabin baggage. Entah kenapa tiap pindahan kok yang sampai banyak banget. Ckckck.

Pelajaran dari pindahan

Bagi saya, walaupun sudah sering, tetap saja pindahan itu bikin stress. Saya yang bukan golongan perfeksionis aja cukup stress dengan urusan ini-itu, apalagi mereka yang perfeksionis, ya… Hanya bisa mendoakan semoga sehat-aman-selamat sampai tujuan.

Selain itu, pindahan juga berarti belajar melepaskan/meninggalkan, sekaligus memulai sesuatu yang baru. Ada yang harus direlakan, tapi bersamaan dengan itu ada kesempatan untuk mendapatkan dan merasakan pengalaman yang baru.

Cukup sering saya melihat mereka yang jadi tidak menikmati tempat baru, karena sulit merelakan apa yang ditinggalkan di tempat lama. Jadinya banyakan ngeluhnya dan misuh-misuh tempat baru itu lebih tidak enak daripada tempat lama. Padahal, mungkin dia-nya saja yang terlalu fokus pada ‘pintu’ yang dia tutup sendiri di belakang, sampai lupa menikmati pemandangan pada pintu baru yang terbuka di hadapannya.

Sunset, tanpa edit dan filter aja udah cantik

Jadi, daripada saya ngeluh-ngeluh dengan minimnya layanan delivery makanan (terutama yang halal) di sini *bye GoFood dan GrabFood wk*, lebih baik saya belajar improve skill masak saya, biar bisa bikin sendiri makanan yang saya mau.

Eaaa… mohon doa-nya, saudara-saudari 😝


Terus, kalau ditanya apakah saya mau pindah lagi? Jawabannya, jangan dulu lah! Gila lu ndro, baru juga sedikit lega dengan urusan pindah, masa disuruh ngurus-ngurus lagi. Wkwkwk.

Tapi, nggak apa-apa juga kalau dikasih rejeki pindah. Entah itu ke Eropa atau NZ, gitu… *manifesting dulu 😆*

Sampai jumpa di postingan berikutnya~~ 😘

Iklan

Penulis:

To many special things to talk about... =p

11 tanggapan untuk “Cerita Pindahan Antar Negara

  1. kalau aku juga diposisi yang sama kayak mba hicha, udah pasti riweuh juga 😀
    ngurus dokumentasi yang nggak cuman kelar sehari, trus surat surat ini itu , terus masih urusan serah terima kerjaan, terus packing.
    Stres, seneng, happy, kayaknya jadi satu ya
    apalagi Jepang yang bisa dibilang hapal luar dalam buat mba Hicha, bisa balik lagi ke Jepang dan menetap, pasti hepi juga. udah kayak second hometown pokoknya

  2. Ribeeet yaaa… wkwkw. Pindah Rumah yg satu kota aja menurutku udah ribet.. Ini gimana yang pindah rumah antar negara. wkwk 🤣. Untung sekrang udah beres ya mba (?)

    Ditunggu kelanjutan ceritanya. kaya perbedaan hidup di Indo sama Jepang gimana. xixixi

    1. Iya, mas Bayu.
      Alhamdulillah sudah beres dengan lancar 😊
      Iya, nih, ada banyak hal yang pengen diceritain, tapi kenapa banyak mager memulainya, ya… hahaha

  3. Kenapa langit di Jepang selalu cakep kalau di foto 😭😭😭 jadi bikin pengin ke sanaaa! Wkwk

    Btw, perjuangan pindah negara melelahkan ya, Kak 😂. Syukurlah semuanya udah berlalu! Semoga Kak Hicha berada di lingkungan yang nyaman di sana~
    Dan good luck untuk improve skill masaknyaa! 💪🏻. Jadi sekarang udah bisa masak apa aja nih, Kak? 😝

    1. Kayaknya ga cuma di Jepang, Li. Di negara sub tropik rata-rata langitnya cakep. Pengaruh posisi, sih, emang. Indonesia juga bisa dibikin cakep, tapi seringnya harus masuk proses editing dulu. Kecuali di Bali sama Gili, kalau ga hujan juga langitnya cakepp.

      Aamiin… makasih, Liaa 💖
      Yang jelas belum bisa masak rendang hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s