Diposkan pada MindTalk

Investasi pada Pernikahan

Mentang-mentang baru nikah, jadi ngomonginnya soal nikah, nih? Wkwkwk. Padahal mah tulisan ini udah nongkrong di draft jauh sebelum saya nikah. Eh, nggak jauh-jauh banget, ding. Kurang lebih dua bulan, lah… 😬

Jadi, kenapa tiba-tiba ngomongin pernikahan di blog? πŸ˜†

Jawabannya, karena saya nemu thread menarik di Twitter. Sayang banget kalau tidak diabadikan sekalian. Tidak bertujuan menggurui. Ya keleuss, sendirinya baru memulai ini.

Thread aslinya bisa dibaca di sini.

Biasa, kan, di Twitter itu kadang suka muncul threads dengan tema tertentu di TL. Mulai dari yang lucu-lucu, sampai yang serius.

Originally tweeted by Bryan Porter (@jbryanporter) on May 21, 2022.

Pas baca twit pertama dari thread Mas Porter (((Mas 🀣))) di atas, saya bingung. Kenapa tiba-tiba bisa muncul thread bertema marriage di TL saya. Karena menarik, tetap saya baca dan bikin pengen langsung ambil notes buat mencatat. Siapa tau bisa jadi bekal di masa depan, gitu kan… *wink*

Dari twit pertama, dia menyebutkan tentang strategi investasi. Mungkin benar juga. Karena pada akhirnya setelah anak-anak dewasa, setelah mereka punya kehidupannya sendiri, hanya ada pasangan yang bisa membersamai sampai maut memisahkan, bukan?

Berikut saya rangkum dan plus komen seenak jidat saya πŸ˜›.

Investasi dengan mencintai pasangan setiap hari

“Only thinking about my wife while I’m with her limits depth. Dwelling on her while apart prepares me to engage when we’re together. Marriage isn’t meant to be compartmentalized.”

Kata om Porter, dia memikirkan sang istri setiap saat. Bahkan saat sedang tidak bersama sekalipun. Jadi, saat (mungkin) ketemu lagi setelah berkegiatan di luar, mereka bisa lebih merasa engageor maybe more intimate (?) satu sama lain.

Saya, sih, setuju untuk menginvestasikan waktu terhadap pasangan setiap harinya. Tapi, apakah harus dengan memikirkannya setiap saat? Apakah tidak jadi mengganggu pekerjaan, ya? Manusia bukan makhluk multitasking. Jadi, sangat berisiko mengganggu profesionalitas jika saat bekerja pun harus memikirkan si istri/suami.

Fokus saat bekerja agar bisa cepat pulang dan fokus dengan pasangan saat sedang berdua juga bentuk investasi dari mencintai pasangan, kan, ya? Tentu saja, kadang rasa cinta saja tidak cukup. Karena cinta itu kata kerja, jadi dibutuhkan usaha untuk mempertahankannya.

*ahzeeeg*

Investasi dalam mempelajarinya

“Know how they receive love and approach conflict. They are likely not the same ways you do. Our spouse wants to be known and loved for who THEY are.”

Manusia itu makhluk dinamis. Tapi, tidak semudah itu berubah. Ada trigger dan proses yang dilalui. Itu pun mereka berubah karena mereka sendiri. Mau jungkir-balik meminta mereka berubah, kalau orangnya sendiri ogah, ya, nggak bakal berubah. Toh, kita sendiri juga begitu, kan, ya?

Karena itu, dari pendapat om Porter di atas, investasi dalam mempelajari pasangan juga diperlukan. Bagaimana cara mereka menerima cinta dan memandang sebuah konflik –IMO, juga cara mereka menyelesaikan konflik, dan bagaimana mereka ingin diterima dan dicintai, bisa jadi sangat berbeda dengan pandangan kita.

Karena itu diperlukan investasi waktu dan tenaga untuk mempelajari dan mengomunikasikannya.

Investasi pada pembicaraan berat

“We rate our marriage 1-10. Usually our scores are different. The truth can hurt, but hard conversations are vital to lasting relationships. This exercise can uncover major disconnects. The “Why?” behind the score yields fruitful conversations.”

Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, komunikasi sangat diperlukan dalam mempelajari pasangan. Salah satu bentuknya adalah pembicaraan yang berat. Atau bahasa kekiniannya deep talk. Walaupun tidak selalu deep talk itu terasa berat. Tergantung definisi berat bagi masing-masing orang.

Untuk investasi ini, mungkin yang dimaksud dengan pembicaraan berat adalah pembicaraan yang triggering. Bisa jadi memantik emosi, kalau tidak dilakukan dengan hati-hati.

Tidak hanya soal sekali-dua kali meletakkan handuk basah di kasur. Tapi, lebih ke perasaan TIDAK DIHARGAI yang ditimbulkan dari meletakkan handuk basah di kasur, tidak menutup tutup toilet setelah digunakan, meletakkan kaus kaki yang sudah dipakai secara serampangan, dll, dsb, dst, yang dilakukan SETIAP HARI, meskipun sudah diingatkan berkali-kali.

Juga termasuk di antaranya perasaan merasa eksistensi disepelekan karena ingkar janji yang juga dilakukan berkali-kali.

Pembicaraan mengenai perasaan-perasaan tersebut sangat susah untuk disampaikan tanpa terbawa emosi. Namanya saja pembicaraan ‘berat’. Butuh energi ekstra untuk memulainya, juga hati yang cukup lapang, yang dapat menerima bahwa bahkan dengan mengomunikasikannya pun belum tentu pasangan langsung berubah menjadi seperti yang kita inginkan.

Tenang saja. Kalau dia juga memiliki perasaan yang sama, dia sendiri pun akan berusaha.

Investasi dengan menghilangkan sifat defensif

“Self-protection blocks genuine connection. It doesn’t matter who’s right. What matters is hearing and knowing them. Focus on hearing what they are saying instead of making your point.”

Ini sebenarnya berlaku tidak hanya dalam pernikahan. Tapi juga dalam hubungan dengan manusia lainnya. Saya sering banget menemukan orang yang saat dikritisi atau sedang adu argumen dengan orang lain, bukannya fokus pada penyelesaian masalah, malah fokus pada sikap defensif. Bukannya mendengarkan, malah bersikap ‘yang penting argumen aku yang menang’. Regardless, benar-salahnya. Yah, bisa jadi saya sendiri juga gitu, sih. Cuma nggak sadar aja. Hehehe.

Padahal kalau dipikir-pikir, sikap terlalu defensif seperti itu, hanya menunjukkan betapa sempitnya pemikiran kita. Jadi seperti katak dalam tempurung, bukan? Apa salahnya dengarkan dan resapi dulu pendapat lawan kita tersebut. Siapa tau, ada poin yang justru bisa menambah value kehidupan dan justru bermanfaat bagi kita sendiri.

Investasi pada aspirasi mereka

“Is my spouse thriving because of me or in spite of me? –@jontyson

My wife isn’t a means for me to get what I want. My responsibility is to magnify her as a person and help her pursue her calling.”

Hmm… ini maksudnya sebagai pasangan, sudah seharusnya saling mendukung gitu, kan, ya?

Kalau ada orang yang setelah menikah justru kehidupannya malah menjadi lebih buruk in terms of kesehatan fisik dan psikis, sepertinya perlu di-review lagi pernikahannya.

Investasi pada hal-hal positif

“Our spouses annoy, frustrate, and let us down. They’re human, and life is hard. If we aren’t careful, we can treat the person we love most worse than the stranger serving us coffee. Negativity has no value. It only impedes working through challenges.”

Namanya kehidupan nggak selalu manis-manisnya aja. Termasuk pasangan kita. Mana ada manusia yang sempurna. Toh, kitanya sendiri juga nggak sempurna. Tapi, kalau kita fokus pada hal-hal yang negatif saja, hidup hanya akan jadi tambah berat. Lebih baik investasikan pikiran kita pada hal-hal positif. Dan tentu saja ini juga berlaku pada hubungan dengan manusia lainnya.

Asal tidak jadi toxic positivity saja tentunya. πŸ˜›

Investasi dalam ‘menikmati’ mereka

“Marriages thrive when spouses want to be around each other. Hormones fade over time, and conflicts happen. Be intentional about finding joy together. Focus more on what’s right than what’s wrong. Be slow to anger and quick to forgive.”

Saya rada bingung dengan kata ‘enjoying’ yang ditulis oleh om Porter ini. Mungkin maksudnya menginvestasikan waktu dan tenaga untuk merasa enjoy bersama si pasangan kali, ya.


Oke, deh, sekian dulu postingan saya kali ini. Masih mengutip kata-kata om Porter, pernikahan itu adalah bentuk investment yang panjang. Pada akhirnya, saat anak-anak sudah memiliki kehidupannya masing-masing, hanya tinggal kita dan pasangan. Kalau tidak berusaha menginvestasikan sejak awal, bagaimana mungkin kita bisa berharap ‘hasil’-nya di masa yang akan datang, bukan?

Kalau menurut teman-teman bagaimana? Ada tambahan atau opini lainnya? πŸ˜‰

Iklan

Penulis:

To many special things to talk about... =p

8 tanggapan untuk “Investasi pada Pernikahan

  1. Wowwww… Topik yang berat.. Tapi cara mba Hicha bungkus mudah dipahamii.. 😁 Terimakasihh Mba Hicha buat insightnya.

    Aku tuh kalau soal pernikahan sepertinya masih buta sih πŸ˜‚… Yang aku pegang selama ini “Jangan menikah hanya karena merasa kesepian atau merasa tertekan atas tuntutan orang..” terus sama “Pernikahan itu bukan jawaban.. Jadi, jangan menjawab kesulitan dengan pernikahan..” sama “Lebih baik ditanya jutaan kali pertanyaan ‘Kapan Nikah’ ketimbang anak orang sakit dan nggak bahagia karena keenggak siapan aku menjadi partner hidupnya..” wkwkwk .. ini jatuhnya kaya agak “Curcol” yaaa.. hahah 😁

    Sehat-sehat buat Mba Hicha dan Pak Su di Jepun yaaa.. Ditunggu kisah petualangan Jepunnya. wkwk πŸ˜›

    1. Mantap, mas Bayu. Iya, nikmati dulu aja. Masih 17++ iniii 😝

      Aamiin… sehat-sehat juga mas Bayu dan ikan, dan burung, dan para bestie-nya πŸ€—

    1. Wkwkwk
      Insight-nya mah dari yang nulis twit 🀣

      Pengennya rajin nulis, apa daya waktunya kadang tak ada πŸ˜‚πŸ™ˆ

  2. Sebelumnya selamat atas pernikahannya. Sudah pernah mengucapkan belum ya saya?^^
    Pernikahan adalah adaptasi antara dua isi kepala yang tentu berbeda…berikan waktu tidak usah buru-buru…

  3. Aku yg 11 tahun nikah, sampe skr kadang masih bingung dengan pak suami. Kami tuh beda banget. Bertolak belakang bisa dibilang. Awal2 nikah ga usah tanya lah berantemnya sampe gimana. Tapi lama2 aku belajar utk Nerima kekurangan. Kalo anaknya memang ga bisa Diksh tau soal sepele kayak handuk, dudukan WC ga pernah diangkat, lidah susah adaptasi Ama makanan sumatra, ya sudahlah… Langsung aku inget2 semua kebaikan dia, yang jauh lebih banyak. Dan kalo udah gitu, kesalahan dia mah kliatan ga berarti biasanya 😁.. intinya kalo nikah itu, memang hrs saling adaptasi dan Nerima seperti apapun pasangan. Diksh tau boleh, tapi kadang kalo udh jadi karakternya, susah utk berubah kan.

    Aku sendiri toh punya banyak kekurangan juga buat dia. Dan selaman ini aku liat pak suami juga Nerima, drpd ribut berantem mungkin 🀣

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s