Diposkan pada Experience, MindTalk

2022 Setengah Tahun (Lebih)

Dengan hari ini, berarti sudah tujuh bulan berlalu sejak tahun baru 2022. Sudah lebih dari setengah tahun, ya. Bagi beberapa orang rasanya baru setengah tahun, tapi bagi beberapa yang lain mungkin terasa sudah setengah tahun saja.

Bagi saya pribadi, setengah tahun ini benar-benar roller coaster dengan segala ups and downs-nya. Sampai jarang update blog dan blogwalking saking naik turunnya.

Padahal ada banyak hal yang ingin diabadikan. Sebelum kadung lupa, sebaiknya saya summarize di sini saja lah, ya…

Januari

Tahun baru dimulai dengan proses recovery ibu setelah masuk RS akhir November tahun lalu. Selalu salut dengan ibu dan semangatnya untuk kembali sehat. Wajah beliau selalu berseri-seri saat video call, meskipun proses pengobatan masih berjalan dan masih harus bolak-balik RS.

Di sisi lain kami juga sudah merencanakan untuk pertemuan keluarga secara online dengan keluarga N, my significant other. Apa daya, tepat seminggu sebelum hari yang direncanakan, ayah N meninggalkan kami semua setelah masuk ICU sebelumnya.

Padahal saya masih LINE-an tiga hari sebelumnya. Kondisi beliau juga sempat membaik. Apadaya Tuhan berkehendak lain.

Februari

N masih di rumah, belum kembali ke kota tempat dia merantau untuk bekerja. Sebagai anak pertama, banyak hal yang harus diurus. Mulai dari pemakaman sang ayah, segala bentuk administrasi sipil dan kantor, sampai ke pengurusan asuransi dan kartu kredit. Untungnya adiknya yang tinggal di kota yang lebih dekat, bisa diajak kerja sama.

Di lain pihak, ibu saya yang sebelumnya menunjukkan progres yang baik, tiba-tiba harus dirawat lagi. Saat ditelepon, kondisinya jauh lebih baik daripada saat dirawat pertama kali di bulan November. Tapi sayangnya, tiga hari kemudian, tepat sebulan setelah kepergian ayah N, ibu meninggalkan kami semua.

Sejujurnya, menyaksikan proses kepergian ibu melalui video call membuat saya merasa wajar jika saya marah. Lebih tepatnya marah terhadap sistem kesehatan negara ini yang membuat orang-orang yang seharusnya bisa diselamatkan, malah jadi seperti didekatkan dengan maut.

Tapi, akhirnya saya memilih untuk mengikhlaskan. Selain karena tidak tahu bagaimana cara mengubah sistem tersebut, saya juga tidak tahu apa manfaat dari mengekspresikan kemarahan saya. Lebih baik saya alihkan energi yang saya punya untuk mendoakan almh. ibu agar dimudahkan hisab dan diterima amalannya.

Maret

Saat saya berencana kembali ke Jakarta, ternyata saya positif Covid-19. Kalau dipikir-pikir, dengan banyaknya tamu yang datang melayat, dan hampir semuanya nggak pakai masker, justru aneh kalau saya tidak terkena Covid.

Saya baru tahu kalau positif, saat saya antigen sebagai syarat penerbangan. Tapi, saya sudah curiga, karena tiga hari sebelumnya saya sempat tidak enak badan.

Awalnya demam 38 derajat dan badan terutama tulang-tulang bagian pusar ke bawah berasa jompo. Keesokan harinya demam sudah turun, tapi muncul batuk kering yang bikin susah tidur. Dua hari kemudian batuknya hilang dan kondisi badan sudah 90% biasanya.

Dari kantor meminta untuk isoman selama 5 hari. Karena pas antigen pertama juga sebenarnya saya sudah 90% fit, tentu saja setelah 5 hari hasilnya sudah negatif. Saya kembali ke Jakarta, hanya saja manajemen meminta saya untuk WFH dulu selama 5 hari, baru setelah itu exit PCR dan kalau negatif boleh kembali ke kantor.

April

Saya dan N sebenarnya sudah mulai merencanakan pernikahan sejak pertengahan 2020. Saat pandemi gelombang pertama mulai naik. Saat itu harapannya, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang, pandemi kali ini akan lebih pendek dari Spain Flu.

Sayangnya kenyataan berkata lain, dan baru di tahun 2022 SARS-COV-2 mulai melunak.

Sebenarnya N berencana ke Indonesia untuk mengurus dokumen-dokumen saat Golden Week (akhir April – awal Mei), tapi karena sejak awal April, proses kedatangan di Indonesia sudah jauh lebih mudah, dan pertimbangan kalau libur GW di Jepang maka Kedubes Jepang di Indonesia juga libur, akhirnya saya memintanya untuk ke Indonesia pertengahan April saja.

Awalnya N keberatan. Saya maklum, sih, untuk tipikal orang dominan introvert dan ber-goldar A yang cenderung penuh pertimbangan dan perfeksionis seperti N, keputusan impulsif apalagi untuk hal-hal yang ada hubungannya dengan masa depan, tentu bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah.

Saat-saat seperti inilah komunikasi berorientasi penyelesaian masalah sangat diperlukan. Akhirnya setelah ‘online meeting’ dengan analisis SWOT selama tiga jam, dia lebih yakin dan siap untuk ke Indonesia dalam rentang waktu hanya dua minggu dari pembicaraan dilakukan.

Agar mengurangi beban pikirannya, akhirnya saya yang gerak untuk pembuatan visiting visa, prenup, dan persiapan lainnya. Dia hanya melakukan apa yang saya minta lakukan. Dan kalau saya perhatikan, dalam persiapan pernikahan, sebenarnya laki-laki itu bukannya tidak mau tahu, hanya saja mereka seringnya tidak tahu dan sulit untuk multitasking dengan pekerjaannya.

Kalau dikomunikasikan dan dia bisa mengerjakannya, akan dia lakukan juga, kok. Namanya juga untuk orang yang dia sayang, kan, ya… Huehehe.

N tiba di Jakarta tanggal 17 April, setelah mengambil CNI (Surat Keterangan Belum Menikah) yang harus diambil sendiri di Kedubes Jepang di Jakarta dan proses penandatanganan prenup, kami bertolak ke kampung halaman saya untuk memasukkan berkas-berkas ke KUA.

Tanggal 24 April, N balik ke Jepang. Benar-benar di Indonesia hanya untuk pengurusan dokumen saja πŸ˜…

Mei

Saya kembali mudik, untuk berlebaran. Persiapan pernikahan saya serahkan pada ayah dan keluarga di kampung. Saya hanya mencari MUA, fotografer, dan performer untuk acara babako dan resepsi saja. Tak lupa pula tambahan (jadinya banyak juga yang diurus… wkwk) untuk mahar, henna, dan menyiapkan undangan dari pihak saya yang saya tahu akan sulit untuk datang. Maklum, lahir sampai SMP di Aceh, SMA di Padang, kuliah di Bandung dan Jepang, kerja di Bandung dan Jakarta, tapi nikahannya di daerah dengan 3 jam perjalanan dari Padang. Mau meminta undangan saya untuk datang juga rasanya tak tega. πŸ™ˆ

Makanya, undangan masih belum saya bikin bahkan sampai awal Juli. Hahaha.

Juni

Tenggelam dengan pekerjaan πŸ€Έβ€β™€οΈ

Juli

Akhirnya setelah 1.5tahun temenan, 1.5tahun short distance relationship level tiap weekdays ketemu di kampus, 3 tahun LDR beda prefektur, dan 3 tahun LDR beda negara, akhirnya disatukan juga dalam wadah pernikahan.

Waw… panjang juga ya ternyata. Wkwk.

Semoga panjang juga dalam berumahtangga di dunia dan di akhirat. Dan semoga bisa menyongsong happier, healthier, dan brighter future together, to infinity and beyond πŸ˜†βœ¨


Sampai jumpa di postingan berikutnya~~ 😘😘

Penulis:

To many special things to talk about... =p

3 tanggapan untuk “2022 Setengah Tahun (Lebih)

    1. Tentu tydackk πŸ˜†πŸ˜†
      Yaampuun… “terendus media” 🀣 Apakah aku saingannya Maudy Ayunda? 🀣🀣
      Makasih banyak, Liaaa πŸ’–

  1. Ikutaaan Liaaa mau ngucapin di sini… wkwkwk
    SELAMAAAATTT BUAT MBA HICHAAAA

    udah 6 bulan lebih yaaaa…. dan aku masih ngerasa kaya nggak ada perkembangann.. hauahahahahh 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s