Diposkan pada Experience

(Belum) Jadi Mamah Gajah

Apa itu Mamah Gajah?

Ada apa dengan Mamah Gajah?


Awalnya saya ragu buat ikutan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini. Selain karena workload di kantor lagi nggak santai, juga karena bingung mau cerita dari mana. Maklum, I am my own best friend and I am very proud of her. Jadi nanti kalau saya menceritakan tentang dia, si diri saya sendiri ini, either jadi boastful atau malah jadi curhat. 😁

Di kehidupan sehari-hari juga kayaknya saya jarang cerita tentang diri sendiri, kecuali kalau ditanya. Yah, masa nggak ada angin, nggak ada hujan ujug-ujug cerita “Eh, aku tuh ya, suka banget sama telur rebus, lho…”

Bisa dipastikan lawan bicara saya akan mengernyitkan dahi, sambil mungkin komen di dalam hati, “So what, gitu loh?” 🙈

Tapi, berhubung tantangan kali ini adalah ‘Tentang Dirimu, Mamah Gajah’. Kuy lah, anggap saja sedang difasilitasi untuk menceritakan diri sendiri (dan hubungannya dengan Mamah Gajah).

Sebenarnya page ‘About Me’ di blog ini sudah cukup mewakilkan siapa saya. Tentang asal-usul saya juga sudah pernah diceritakan sedikit di postingan curhat yang ini. Jadi, mungkin sesuai dengan award iseng-iseng seangkatan waktu kuliah yang saya peroleh, saya bingung mau mulai cerita dari mana.

(yes, award yang dulu pernah saya dapatkan adalah ‘Terbingung’ 😂😂)

Dari pada semakin bingung, memang kayaknya lebih baik me-refer ke postingan Tantangan di Mamah Gajah Ngeblog saja lah. *nggak kreatip ya maap 🤣*


Daily Behavior

Dari kecil selalu hidup teratur. Bangun tanpa perlu weker dan jam 9 malam sudah tidur. Sampai akhirnya masuk ITB. Bangun, sih, masih teratur, tapi tidurnya yang kadang suka nggak jelas. Kayaknya ini nggak cuma dialami oleh saya. Hampir semua mahasiswa sepertinya pernah merasakan begadang, entah itu demi mengerjakan tugas, atau karena ikut kepanitiaan.

Meskipun begitu, saya tidak pernah begadang demi ujian, lho. Bukan karena selalu siap, tapi karena keburu ngantuk duluan. Mengerjakan tugas pun, begadang hanya dilakukan saat mengerjakan tugas bersama kelompok. Kalau tugas pribadi, walau berujung deadliners, tapi biasanya sudah dicicil sedikit-sedikit, jadi deadliners-nya masih tetap bisa tidur.

Segalanya berubah saat merantau di negara empat musim. Badan saya sepertinya kaget dengan waktu terbitnya matahari yang berubah terus sepanjang tahun. Tak jarang saya menunggu waktu subuh dulu baru tidur di saat musim panas, dan merasa susah keluar dari selimut di saat musim dingin.

Sampai saat ini, setelah kembali ke Indonesia pun, jam badan saya sudah tidak seteratur dulu. Pokoknya harus setel alarm kalau tidak mau subuh kesiangan. Heuheu.


Keunikan

Menurut saya, semua orang itu unik dengan karakter, latar belakang, dan penampilannya masing-masing. Anak kembar identik sekalipun tetap punya minimal satu variable yang berbeda dalam kehidupan mereka.

Kalau saya pribadi, entah bisa disebut unik atau tidak, dalam berpenampilan saya cenderung cuek. Saking cueknya, saya nggak masalah dengan baju, tas, atau sepatu yang itu-itu saja.

Ibu-ibu kantor dan teman-teman saya sampai menghadiahkan baju dan sepatu karenanya. Saya bahkan pernah diberi bed sheet oleh seorang teman, saking seprai saya hanya satu dan dicuci-kering-pakai saja. Padahal kalaupun saat itu nggak bisa beli karena kiriman pas-pasan, ibu saya selalu punya tumpukan seprai bersih, bahkan baru dan belum pernah dipakai di lemarinya. Dan beliau akan dengan senang hati mengirimkan kalau saya memintanya.

Diberi hadiah begitu, tentu saja saya senang. Nggak ada lah itu ceritanya jadi malu atau tersinggung. Karena, buat apa jugaaa? Berterima kasih malah, berasa diperhatikan. 😁

Walaupun cueknya sampai ke level barang-barang dipakai sampai lusuh baru ganti, tapi saya sebenarnya cenderung clean freak. Suka keteraturan dan bisa migrain kalau lihat barang-barang berantakan.

Selain itu, cenderung sensitif juga sama cahaya dan suara. Pada dasarnya gampang tidur, tapi bisa sangat uring-uringan dengan pendar cahaya lampu di waktu tidur atau dengan suara rendah getaran mesin AC split atau kulkas.

(Belum) Menjadi Mamah Gajah

Sebenarnya (lagi-lagi) saya bingung, kenapa disebutnya Mamah Gajah, ya? Tau, sih, karena Ganesha yang jadi lambang ITB itu adalah Dewa Pengusir Segala Rintangan berbentuk gajah. Tapi, kenapa nggak sekalian menggunakan Ganesha saja. Jadi Mamah Ganesha, sepertinya lebih elegan. Huahaha. Just Kidding, ya, Mah… Walaupun bingung, nggak sampai jadi pet peeve saya, kok… 😉

Yang saya bingungkan juga kenapa sebutannya Mamah, ya? Berdasarkan penggunaannya, bukankah mamah itu untuk ibu atau orang tua perempuan? Jadi bagi yang belum jadi mamah, gimana dong? 😬

Tentu saja pertanyaan dari kebingungan saya tersebut hanya sebuah pertanyaan retoris. Toh, semua perempuan secara harfiah punya potensi menjadi mamah, bukan?


Pertama kali tau komunitas alumni mahasiswi ITB itu dari grup FB @itbmotherhood. Seiring dengan berjalannya waktu, komunitas tersebut berkembang juga menjadi sub-sub dengan ciri khas masing-masing. Mulai dari Mamah Gajah Berlari, Mamah Gajah Memasak, sampai Mamah Gajah Ngeblog.

Berhubung saya nggak suka lari (tapi kalau olah raga permainan masih suka, walau hanya jadi tim hore), saya belum tertarik dengan Mamah Gajah Berlari.

Begitu juga dengan Mamah Gajah Memasak. Saya, mah, tim menikmati hasil masakan saja. 😆

Tapi, saat tau ada subgrup Mamah Gajah Ngeblog, saya jadi tertarik buat bergabung. Walaupun belum ada niat untuk mengembangkan blog ini, tapi saya suka membaca (dan seringnya jadi silent reader 🙈) cerita-cerita daily life para perempuan. Apalagi perempuan-perempuan dengan latar belakang kampus Ganesha 10 yang dulunya minim perempuan ini.

Mulai dari Mamah Gajah yang Stay at Home, bekerja di luar rumah, sampai yang belum jadi mamah seperti saya.

Tidak hanya membuat jadi bernostalgia tentang hari-hari perkuliahan di Ganesha 10, tapi juga membuka wawasan dan pikiran saya terhadap banyak hal, terutama jika dilihat dari pandangan sebagai lulusan ITB.

Yah, masuk ITB bagi banyak orang memang membanggakan, tapi setelah lulus dan terjun ke masyarakat, ternyata lulusan ITB tidak se-spesial itu juga. Karena pada akhirnya yang dinilai bukan dari lulusan mana seseorang tersebut, tetapi kontribusi dan kebermanfaatan apa yang bisa dia berikan bagi orang lain.

Jadi, kenapa harus (terlalu) bangga dengan almamater, ya?

Bangga secukupnya saja. Cukup untuk mengingat bagaimana ‘menyenangkan’nya mencari ilmu, baik akademis maupun kehidupan. Juga cukup untuk modal menghadapi masa depan.

Bagaimana menurut Mamah dan Calon Mamah? 😉

Penulis:

To many special things to talk about... =p

4 tanggapan untuk “(Belum) Jadi Mamah Gajah

  1. aku dulu liat ITB, wowwwww, sepupu aku lulusan dan kuliah juga disana
    pas masuk dunia kerja, lulusan kampus apa aja ga keliatan, yang dinilai performa

    aku baru tau dong ada “terbingung” hahahaha, kalau aku apa ya kira-kira nanti awardnya

    1. Bener, mba… nama kampus kayaknya kepakenya pas ngelamar kerja aja. Itu juga ga selalu. Pas kerja, mau dari Harvard juga kalau performance tidak menguntungkan perusahaan, bakal disingkirkan juga

      Saya juga bingung, kenapa sampai ada kategori tersebut. Wkwkwk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s