Diposkan pada Experience, Learning or Studying

Kata Ibu Tentang Hidup

December has been always my mom’s month.

Yeah, walaupun dengan segala kontroversinya, bulan Desember identik dengan perayaan Hari Ibu dan bulan ini juga bulan di mana ibu saya dilahirkan.

Ditambah lagi, entah gimana ceritanya saya nyasar ke tulisan lama di sini. Kalau baca tulisan berusia hampir 12 tahun yang lalu itu, ternyata cara menulis saya lumayan berubah, meskipun dari pola pikir kayaknya masih gitu-gitu aja. Hahaha.

Berhubung masih ada beberapa nasihat ibu yang seperti tertanam di otak saya, walaupun tidak selalu dipraktekkan 🙈, dan mengambil momentum bulan Desember juga, kenapa nggak dijadiin postingan aja gitu, kan. Hehehe.

  • About helping others

Kalau soal tolong-menolong, yang namanya tinggal di kota kecil, hubungan dengan orang lain masih jadi menu utama dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua saya sampai saat ini masih sering berkumpul dengan tetangga dan saudara-saudara yang umumnya tinggal berdekatan. Makanya kehidupan saling tolong-menolong juga sudah jadi makanan sehari-hari. Pas kasus Covid-19 kemarin lagi tinggi-tingginya kemarin sempat bikin gemes, sih… Heuheu.

Berbeda dengan saya yang seperti kebanyakan penduduk perkotaan, yang dikarenakan pekerjaan dan perjalanan menuju tempat kerja jadi sudah terlalu lelah untuk berinteraksi dengan tetangga, orang tua saya bisa dibilang social butterfly.

Apalagi sejak keduanya sudah pensiun. Tiap hari adaaa aja kegiatannya. Biasanya orang tua yang susah menghubungi anak, ini tak jarang saya yang susah menghubungi, karena orang tua saya sedang dalam perjalanan dan tidak ada sinyal.

*nasib tinggal di daerah 😅*

Kadang pergi berkumpul dengan teman-teman dari perkumpulan ini-itu, menjenguk orang sakit, takziah, arisan, sampai membantu persiapan pernikahan anak teman, saudara, atau tetangga yang kebanyakan dilaksanakan di rumah, bukan di gedung.

Begitulah salah dua prinsip ibu yang dipegang erat dan sudah sering terbukti karena beliau sangat meyakininya.

Semoga tetap menjaga prokes ya, Bu… 😁


  • About giving

Pada suatu hari, saat saya kelas 5/6 SD, ibu membuat pisang goreng dan saya diminta untuk mengantarkannya ke tetangga. Saat memilih pisang goreng tersebut, beliau memilih yang tampilannya paling bagus dan baik.

Saat itu saya agak bingung, kenapa pisgor yang tampilannya bagus dikasihkan ke tetangga, sedangkan yang benyek-benyek ditinggal.

Baru setelah merantau saya mengerti. Untuk pemberian, terutama untuk yang tidak diminta, yang bagus-bagus aja belum tentu dibutuhkan oleh penerimanya. Apalagi kalau kita ngasih yang jelek, kan…

Bisa saja kita berasumsi orang tersebut membutuhkan, tapi ternyata pemberian kita malah jadi beban terhadap penerimanya.

Meskipun begitu, jika kita yang berada di posisi penerima, tetap hargai pemberian orang lain, ya… minimal hargai effort-nya.

Ini saya sempat ditegur sama ibu gara-gara hal ini. Karena kadang reaksinya terlalu datar saat menerima pemberian. Heuheu.


  • About wealth

Ibu, seperti stereotip bloomers, sering terikat kenangan pada barang-barang. Jadi cenderung susah untuk membuang barang. Makanya, bahkan sampai buku-buku tulis waktu SD dan baju seragam TK saya masih disimpan. Sebelum akhirnya saya yang bersikeras buat dibuang aja. Ya, ngapain juga disimpan, kan… nggak akan dipakai ini lagi. Mau didonasikan sudah terlalu usang karena tuanya. Mau dijadikan kain lap, yang belum terpakai saja ada banyak.

Ibu kayaknya sadar kalau menjadi hoarder itu sebenarnya memberatkan diri sendiri. Makanya beliau sendiri juga yang bilang “Harta itu memperbudak”.

Harta nggak seberapa aja bikin pusing, apalagi yang punya aset tanah, property, dll di mana-mana. Apa nggak pusing ya itu ngurusnya? Hahaha.

Yah, kalau sudah terlalu kaya, bisa pakai asisten, sih… tapi, akan beda lagi ‘perbudakan’nya.


  • About gratefulness

Masih berhubungan dengan wealth, Hal-hal yang berhubungan dengan nafsu duniawi seperti harta dan kekuasaan nggak akan ada habisnya kalau tidak ada remnya. Terlalu mengejar ke-duniawi-an, bukan tidak mungkin suatu saat akan jatuh ke dalam jurang. Entah itu jurang perasaan tidak tenang, karena hati sudah dibalut keserakahan, atau bisa hal lainnya.

Seperti kata ibu, kuncinya ada pada bersyukur, “Kalau kita bersyukur, nanti akan Allah tambahkan nikmatnya”. Well, ini sebenarnya bukan pure dari ibu saya. Karena ini ada di dalam Al-quran,

Maklum, ibu saya dulu guru agama, jadi kadang-kadang kalau ngobrol, sering memasukkan pendidikan agama juga. Hehehe.


  • About problem

Sebenarnya kalau dilihat dari temperamen waktu kecil, saya punya kecenderungan drama queen. Segala hal didramatisir, playing victim seolah dunia paling nggak adil ke saya.

But I learned a lot while growing-up.

Saya belajar untuk introspeksi dan mempertanyakan banyak hal pada diri sendiri, sebelum bersikap konfrontasi terhadap sesuatu atau seseorang. Saya juga belajar untuk membuat batasan terhadap sebuah permasalahan. Pusing, atuhlah, kalau semua hal dipermasalahkan.

Seperti yang ibu katakan, “Masalah besar dikecilin, masalah kecil dihilangin.”

Dengan begitu hidup jadi lebih tentram tanpa perlu buang-buang waktu dan energi untuk sesuatu yang bisa jadi sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.


Mungkin saya bukan anak yang penurut, kadang cenderung membangkang, terutama pada hal-hal yang tidak masuk di akal saya. Bukan juga tipe anak yang menceritakan segala hal pada ibu. Meskipun saya tahu kalau ibu berharap bisa menjadi tempat bercerita anak-anaknya. Lebih ke nggak mau menambah beban pikiran aja sebenarnya.

Walau begitu, satu hal yang saya yakin benar, I can’t be more grateful to have her as my mom.

Barakallu fii umrik, ibu… Semoga cepat sehat seperti sedia kala. Biar di usia 80 tahun masih bisa hiking dengan anak-cucu *sungguh sebuah goals 😁*

Penulis:

To many special things to talk about... =p

8 tanggapan untuk “Kata Ibu Tentang Hidup

  1. Ahhh baca ini heartwarming banget.. terimakasih ya Mba Hicha buat tulisannya… 😁 dan sehat selalu Ibunya Mba Hicha.. 😊
    Dan Barakkallahu Fii Umrik Ibunya Mba Hicha..

    Ibu tuh sosok yang ahhhh.. aku sndiri dekat banget sama Ibu. Dulu pas awal2 kuliah di Semarang rasanya berat bangett buat ninggalin rumah. Home Sick nggak karuan. Smpe tiap malem nelponn bilang kangen kangen.. wkwk. Sekalinya nelpon 2 jam mana cukupp.. 😁

    Entah nanti bisa ketemu lagi nggk ya. Tapi yakin Insha Allah bisa dipertemukan kembali..

    1. Terima kasih, Mas Bayu… Aamiin yaa Rabbal’alamiin

      Kayaknya hampir selalu ibu itu center of family, ya… 😉

      InsyaAllah akan dipertemukan kembali. Al-fathihah buat ibunya Mas Bayu 🤲

  2. Yg paling aku inget dari mama, level kebersihannya yang udah tingkat dewa 🤣🤣. Ntah kenapa jadi kebawa ama aku juga, walopun aku ga seketat mama soal kebersihan. Inget banget, kalo mama nyapu, itu kok ya kayaknya semua kotoran bisa kesedot kluar 😂, sementara aku nyapu sampahnya ga sebanyak mama. Rumahku di Aceh dulu, itu selalu kliatan cling dan bersih , seolah ga ada anak2. Kalo kami main, wajib hukumnya beresin lagi seperti semula, kalo ga mau diomelin mama.

    Poin2 di atas, yg diajarin mama mba hicha, itu aku dapet dari papa, bukan dari mama 😁. Papa memang yg lebih disiplin kalo soal agama dan hubungan dengan manusia. Sama kayak poin ttg giving. Kalo ngasih orang lain, KSH yg terbaik.

    Makanya aku paling marah kalo suami minta asistenku utk KSH sepatu2 bututnya ke tukang bersih2, tukang sampah atau lainnya. Krn menurutku ga layak. Mending KSH duit drpd KSH barang kita yg butut. Kec kondisinya msh bagus aku baru mau kasih ke orang. Kalo memang ga layak, mendingan aku buang. Kalopun diambil Ama tukang pemulung, itu beda cerita. Yg penting aku ga memberikan sesuatu yg jelek utk orang lain.

    1. Kita berkebalikan berarti ya, kak… kalau aku, ayahku yg pecinta kebersihan banget. Bangun pagi udah nyapu, ngepel seluruh rumah 😆

      Iya, kak. Kalau memang udah ga layak, lebih baik dibuang, terus kalau mau ngasi, mending beli baru aja sekalian 😊

  3. sama kayak kak bayu, tulisannya bikin hangatttt
    aku sendiri sebenernya nggak terlalu banyak terbuka ke ibuku atau bapakku.
    untuk hal-hal tertentu kadang aku ceritainnya ke sahabat
    pelajaran hidup sederhana kayak gini, kurang lebih juga sama mbak. Kalau misalkan mau ngasih-ngasih ke tetangga juga dipilih, nggak yang jelek yang dikasihi.
    menjaga omongan dari tetangga juga, ntar dikiranya makanan ga layak yang dikasihkan

    1. Aku juga baru mulai banyak cerita2 ke ortu sejak jadi anak rantau waktu SMA. Sebelumnya jarang cerita, karena kayaknya ortuku udah riweuh dengan masalah sendiri 😅

    1. So sorry to hear that 😦

      Semoga ketidaknyamanan tersebut berhenti di km, ya… ga berlanjut lagi ke generasi selanjutnya 🤲

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s