Diposkan pada Experience, MindTalk

Zona Nyaman

Seperti yang sudah saya sebutkan di postingan sebelumnya, saya sudah merasa tidak nyaman dengan kosan karena berisik pompa air. Belum lagi, lingkungan belakang kosan yang juga rada ‘serem’ karena cenderung bebas dan banyak preman. Padahal, pintu masuk kosan itu dari belakang. Makanya kalau lewat rasanya was-was melulu. 😣

Yah, emang nggak boleh prejudice a.k.a suudzon, sih… apalagi, alhamdulillah juga, sampai saat ini nggak pernah diganggu, kecuali dengan dangdutan sampai tengah malam, ding… πŸ€¦β€β™€οΈ

Pernahnya diprotes, gara-gara saya dulu itu sering ngasih makan kucing di sekitar situ, terus si kucingnya jadi pup di sana. Heran juga saya, kenapa juga tempat makannya malah di-BAB-in? Beneran majikan level “lo kasih gw makan, lo juga yang harus bersihin kotoran gw”, gitu kali, ya?

*yak, mulai hilang fokus πŸ™ˆ*

Majikan yang afgan, nggak cuma minta makan, tapi juga minta dibersihin kotoran

Kembali ke kosan tadi.

Sebenarnya pemilik kosnya baik, sih… Ibu kos juga selama Ramadhan berbaik hati ngasih takjil literally tiap hari. Begitu juga pas lebaran. Biar kata koronces bikin kacau segala rencana, alhamdulillah saya tetap bisa makan ketupat lengkap dengan rendang dari ibu kos.

Tapi, entah karena sayanya mulai bosan atau karena walaupun baik, bapak kosnya lumayan ‘perhitungan’, jadi pompa air udah dua bulan nggak dibenerin juga, akhirnya saya memutuskan untuk pindah kosan aja lah sekalian. Muhahaha.

Setelah itu saya mulai hunting-hunting dan saat ini alhamdulillah sudah pindah. 😁✌

Gara-gara kejadian tersebut saya jadi kepikiran tentang zona nyaman.

Saya sering bingung sama istilah β€œJangan terjebak pada zona nyaman” atau β€œAyo, keluar dari zona nyaman”. Berangkat dari pengalaman soal tempat tinggal tadi, saya yang pindah, mencari tempat yang lebih nyaman, malah membuat saya tambah yakin bahwa manusia itu defaultnya ya memang berada di zona nyaman.

Agak aneh rasanya, kalau sudah nyaman, kenapa juga harus ditinggalkan?

Toh kita selama ini sekolah dari kecil, sampai bekerja saat dewasa, semuanya untuk hidup yang lebih nyaman. Jadi saat sudah mendapatkan kenyamanan tersebut, kenapa juga harus keluar dari sana, kan?

Kalau terus-terusan di zona nyaman nanti nggak maju-maju.

Yah, kalau memang nyamannya berada di satu titik dan memang nggak pengen maju, kenapa juga harus dipaksa maju, gitu? Bukan mobil di jalanan yang kalau nggak maju bikin macet ini, kan?

Kalau dengan tidak maju dan stuck di zona nyamannya, seseorang itu tidak merugikan siapa-siapa, ya nggak apa-apa, dong, tetap berada di sana.

Mungkin beda kasus jika membawa kemaslahatan orang banyak, seperti di perusahaan atau di sebuah negara. Contohnya pemerintah yang menutup mata dengan kondisi terkini rakyatnya.

Tapi, saya ragu juga, yang begitu itu karena pemerintah terjebak zona nyaman atau sebenarnya lebih ke takut efek yang ditimbulkan saat membuat keputusan yang ‘mendobrak zona nyaman’ sebuah negara. Contohnya di bidang hukum. Kalau mau keluar dari zona nyamannya para koruptor, tinggal bikin peraturan hukuman mati. Tapi, yang bikin aturan ya mereka-mereka juga. Ya, kali mereka mau keluar dari zona nyaman mereka, kan?

Malah pertanyaan sebelumnya jadi terbukti, ngapain juga harus keluar dari zona nyaman?

–walaupun sangat tidak nyaman bagi rakyat *sigh*

Susah, sih, kalau udah ngomongin pemerintahan yang erat kaitannya dengan uang dan kekuasaan.

Jadi, mari kembali ke zona nyaman pada individu saja.

Misalnya, saat melihat kesuksesan orang lain.

Oke, definisi sukses itu sendiri sebenarnya relatif. Jadi, kita ambil saja sukses secara karir.

Melihat teman atau kenalan yang karirnya tampak lebih sukses, terkadang bagi beberapa orang, terutama yang suka membandingkan dirinya dengan orang lain, akan menimbulkan rasa iri. Tapi, untuk menjadi seperti yang diirikan, harus mengeluarkan effort lebih banyak. Ada lebih banyak waktu dan energi yang dibutuhkan untuk mencapai zona si orang yang menurut kita sukses tersebut.

Sudahlah butuh usaha lebih, tapi tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan tersebut dapat diraih.

Intinya sudah tidak nyaman, tapi ‘tampak’ lebih nyaman daripada ketidakpastian.

Untuk mengatasi hal ini, menurut saya hanya diperlukan dua langkah, yaitu akui dan jalani.

AKUI

Akui saja kalau memang sebenarnya sudah tidak nyaman. Daripada denial, kemudian hanya berputar-putar dengan perasaan sendiri.

Dengan mengakui, setidaknya pintu penyelesaian sudah terbuka setengahnya. Entah itu berusaha keluar dari zona ‘tampak’ nyaman saat ini, atau berusaha untuk merasa nyaman dengan ketidaknyamanan.

JALANI

Setelah mengakui, tinggal menjalani jalan yang sudah dipilih.

Kalau memilih untuk keluar dari kondisi saat ini, berarti saatnya untuk menyiapkan energi, pikiran, perasaan, dan waktu demi tujuan yang ingin dicapai. Sambil tak lupa juga mengelola ekspektasi. Usaha memang tidak akan berkhianat, tapi belum tentu hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, bukan?

Kalau memilih untuk berusaha menyamankan diri dengan ketidaknyamanan, berarti singkirkan saja rasa iri tersebut dari hati. Bagaimana caranya?

Hmm… sejujurnya, kutak tahu… πŸ˜…πŸ˜…

I choose to be happy for someone’s achievement, rather than get an uncomfortable feeling due to jealousy. πŸ’†β€β™€οΈ

Mungkin bisa dengan mensyukuri apa yang telah dicapai dan dimiliki saat ini. Atau bisa juga mencari kelebihan saat ini, dengan membandingkan diri sendiri di masa lalu dan di masa kini. Yes, bandinginnya sama diri sendiri juga, bukan dengan orang lain. Kondisi dan starting point-nya beda-beda ini…πŸ˜‰

made with Canva

Easier said than done, ofc!

Apalagi kalau yang ngomong gini orang lain, kan… Hahaha.

So, you do you. Kamu yang lebih tahu diri dan hidupmu. Hanya berharap, semoga untuk case yang bagaimanapun itu, kita tidak terlalu lama terjebak di fase denial, ya…

Let me know what you think in the comments below.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya~~😘

Penulis:

To many special things to talk about... =p

14 tanggapan untuk “Zona Nyaman

  1. Halo kak,
    aku sependapat sih kak soal zona nyaman. kalau emang nyaman kenapa harus ditinggalkan? toh tujuan kita susah payah selama ini kan emang nyari kenyamanan. dan lagi, soal sukses atau kesuksesan emang relatif, back to the person nya. kalo sukses bagi dia adalah bisa duduk dibawah pohon berayun angin dan terpaan sinar matahari sore mirip si choi woong di drakor our beloved summer, gimana? itu zona nyaman dia dan impian dia meski aneh, hehe.

    dan soal pengembangan diri, jadi stuck di zona nyaman dan gak berkembang. well, menurutku sih harusnya bukan keluar dari zona nyaman ya, tapi justru MEMPERLUAS area zona nyaman kita. dari satu tempat aja ada banyak hal yang bisa upskill dan upgrade skill kita meski kita lihatnya, oh oke disini aku udah sukses. eit, belum tentu.

    karena untuk keluar dari satu zona nyaman dan mencoba masuk zona nyaman baru, effortnyaq luar biasa loh. gak gampang dan kita harus terjun bebas lagi, kerja keras lagi dan bla-bla-bla. gimana kalo situasinya masih sama atau malah sebaliknya? ya sia-sia dong.

    tapi kalo zona nya emang udah gak bikin nyaman, ya wajib keluar sih. daripada nyiksa diri kan? hehehe

    1. Halo, kak Eka
      Terima kasih insight-nya 😊

      Mungkin bisa juga disebut memperluas zona nyaman, karena namanya aja zona, ya… bukan cuma satu titik aja. Dan sama seperti kesuksesan yang abstrak, zona nyaman itu juga abstrak. Seperti yang kak Eka bilang, bagi beberapa orang bisa jadi sukses adalah hidup tenang, bisa bersantai di bawah pohon berayun angin. Semoga bukan angin musim panas yg bikin sumuk atau angin musim dingin yang menusuk tulang aja. Wkwkwk malah ilang fokus 😁✌

  2. Kakkk.. kucingnya ikutan pindah ga karena kakak pindah?? Hahaha Tempat tinggal kalo ga enak ditinggalin emang ga enak sihh. Aku pernah tuh kos di kamar yang kena serang rayap.. Ga enak banget… Pernah juga ya kamar mandinya suka ada kelabang.. bahkan gede bingit kelabangnya sampe syokk… plus suka bau rokok! Huh. Langsung cari tempat kos lain dah… Ga betaaaah huhuhu

    Aku sendiri juga orang yang lebih suka di zona nyaman kak wkwkw. Meski kata orang nanti jadi ga maju-maju.. Tapi kalo untuk memulai suatu hal baru malah bikin hasilnya turun dari titik yang sekarang kan sue namanya kak… Wkwkwk Aku memang bukan tipe high risk taker sih.. Makanya mending ambil yang pasti-pasti gituuu.. Kalo emang bakal ningkatin value dan nyaman di situ ya ambil.. tapi kalo malah bikin stress meskin menambahkan value… Ya gimana ya…. hidup uda susah, kenapa cari yang lebih susah kan kak? wkwkwkwk

    1. nah aku juga lupa nanya tuh, meong nya ikut gak? hihihi. tos dulu ah sama kak Frisca….tipe gak suka ambil high risk,hihihi. kita lebih suka kepastian emang ya jadi yaahh yang pasti-pasti aja deh, hehehe

    2. Gaaa, kucingnya udah ngilang dari abis lebaran. Mungkin dia bertualang mencari babu baru. Hahahaha.

      Waduh, serem banget kalau sampai ada rayap, apalagi kelabang. Ini kosan yang di Bandung, mba? Kosan kan tempat buat istirahat sehabis berkegiatan setelah kuliah ataupun kerja kan, ya… Jadi emang lebih baik nyari yang nyaman. Hehehe.

      Nah iya, kan… kecuali emang orangnya suka tantangan, kenapa juga jadi harus ngambil risiko gitu, ya…

      1. Hahaha perjalanan mencari babu baru 🀣🀣🀣 Lucu uga

        Bukan kak. Kos yang di Jakarta. Kalo yang di Bandung mah paling kecoak doang wkwkwk

        Ini sebetulnya kalo dibaca sama orang yang suka tantangan, kita bakal dikatain “cari excuse” aja daah hahahaha

  3. Pendapat yang kurang populer, tapi aku 100% setuju, Kak πŸ˜†. Kalau udah nyaman dengan kondisi sekarang dan itu gak mengganggu orang lain, kenapa harus keluar dari zona nyaman? Toh kita hidup di dunia ini untuk mencari kenyamanan πŸ€ͺ. Dan lagi, kalau seumpamanya sekarang udah nyaman, eh maksain keluar dari zona nyaman terus kalau hasilnya gak senyaman zona nyaman sebelumnya gimana. πŸ™ˆ

    Ngomong-ngomong aku dulu pernah di posisi suka membandingkan diri dengan orang lain yang kelihatannya lebih sukses. Tentu aja hasilnya diri ini merasa iri. Dan itu capek banget. Alhamdulillah sekarang aku sudah tobat. Alih-alih iri dengan kesuksesan orang lain, aku mencoba untuk ikut senang dengan kesuksesan mereka. Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, aku mencoba untuk membandingkan diriku sendiri di saat ini dengan aku di masa lalu. Dan rasanya, perasaanku sekarang jauh lebih. ☺

    Nganu, Kak Hicha. Aku lihat kucingnya jadi mikir: apa memang semua kucing oren itu bar-bar? Contoh nyatanya ya majikan Kak Hicha di kosan lama ini. Udah dikasih makan, eh minta eek nya dibersihkan pula. 🀣🀣🀣

    1. Apalagi kalau jadi bikin merasa terpaksa, ya… Syukur kalau sukses, kalau ternyata malah gagal, padahal udah capek-capek “ninggalin” zona nyaman, jadi double kecewanya.

      Kadang-kadang iri itu bagus, bisa dijadiin semangat. Tapi, kalau bikin hati nggak tenang dan capek, ya, ngapain juga ngiri, yang ada rugi sendiri. Hehehehe.

      Aku kalau ngeliat video2 kucing di IG, banyakan emang kucing oren yang level ke-majikan-annya ga ngadi2 🀣🀣🀣

  4. Hahahah. Setuju banget..
    Knapa ya disuruh mendobrak zona nyaman.. 🀣 entah ini quote darimana..

    Dan bner banget mba soal “balaplah dengan diri sendiri, jangan dengan orang lain..” kesuksesan orang lain bisa dijadikan motivasi dan dipetik pengalamannya tapi jangan smpe iri hati.. 😁

    Happy New Year ya Mba Hicha.

    1. mungkin yg nyuruh pengen ada temen, biar ga berada di zona tidak nyaman sendirian *suudzon 🀣*

      Bener, mas Bayu, sama buat jadi tau posisi kita saat ini di mana, biar lebih jelas ancang2 bagaimana yg mau diambil. Tetap perbandingannya ya ke diri sendiri, ya…

      Happy New Year, Mas Bayu πŸŽ‰πŸŽ‰

  5. Aku setujuuuuu nih Cha. Kadang aku bingung, kenapa kita ga boleh stay di zona nyaman? Lah kalo itu memang lebih sesuai buat kita, ga ganggu orang lain, Yo Wis to… Ga usah ceramah panjang lebar, ntar bakal ga maju2, ga pinter2 dan pake omongan judging lainnya.

    Buatku pribadi, aku tipe yg ga ambisius soal kerja. Passionku jalan2. Kalo income yg aku dpt skr udh mencukupi utk membiayai passion tadi, ya udah. Aku ga mau ngoyo dengan cari kerjaan atau ngejar posisi higher demi dpt uang LBH banyak. Ga mau.

    Makanya dulu pas di kantor aku aman dari sikut kanan kiri staff lainnya, yg berlomba2 pengen cari posisi. Krn mereka tahu aku ga ngejar itu. Cendrung santai, yg penting kerjaan bener dan beres.

    Trus akukan keluar dari kerjaan krn perubahan job desk secara sepihak, di mana aku wajib jualan jadinya. Sementara aku tuh tahu bgt kelebihan dan kekuranganku apa. Pekerjaan yg bersifat analisis, memerlukan kecermatan tinggi dalam melihat angka, aku jago. Tapi jgn suruh aku jualan. Aku ga bisa dan ga nyaman ngelakuin itu. Makanya aku kluar. Ngapain denial segala kalo memang ga nyaman. Sikapku tadi banyak bikin temen2 pada nuduh, aku ga mau maju, aku ga mau belajar hal baru dll.

    Bukan masalah itu menurutku. Masalahnya aku tahu apa yg bisa aku lakukan dengan baik, apa yg tidak.

    Tapi kalo skr sih, bodo amat Ama orang2 yg menuduh seenaknya 🀣. Yg penting passionku masih bisa aku biayai hahahaha. Hidup zona nyaman πŸ˜πŸ’ƒπŸ’ƒ

    1. Iya, kak… padahal apa salahnya ada di zona nyaman, ga ngerugiin siapa2 ini kan, yaa πŸ˜‘

      Aku juga makin nambah umur kok kayaknya makin ga ambis. Ga tau juga mau ambis buat apa. Selama hidup cukup, apa lagi yg dicari, kan… 😌

  6. aku tau istilah zona nyaman pertama kali kayaknya gara-gara baca majalah Cita cinta waktu kuliah, waktu kuliah kan belum ngerasain riweuhnya kerja di dunia perkantoran
    dan setelah sekian taun menjalani kehidupan sebagai karyawan, aku jadi tau kalau istilah itu untuk bikin orang supaya bergerak maju dan nggak diem di tempat mulu
    mungkin maksudnya, carilah pengalaman lain di luaran sana, gitu kali ya

    tapi sekarang aku ngerasa nyaman sama zona kerjaan sekarang dan malah kok males mau pindah

    1. Seperti komen mba Eka, kalau memang pengen maju, ngapain harus keluar dari zona nyaman kalau bisa memperluasnya. Mungkin maksud dari artikel di majalah itu begitu kali ya, mba Ainun 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s