Diposkan pada Experience, Japan and Japanese, MindTalk

(Doramatalk Ep.6) Being An Anti-mainstream (and Member of JOMO)

Heyho… judulnya udah cukup kepanjangan nggak, tuh? Hahaha.

Sebenarnya, awalnya Eya ngasih ide buat bikin tulisan tentang 5 JDramas to Start with. Tapi, mengingat akses dorama legal yang masih terbatas, saya bingung juga mau menuliskan apa. Lah, tiba-tiba muncul Squid Game yang nge-hyped di mana-mana. Menurut saya overhyped, sih. Tapi, yah… mungkin aja karena sayanya aja yang seleranya beda sama mayoritas. Jadi, ya udah, nggak mikirin apa-apa.

Sampai kemudian, gara-gara Squid Game (SG) ini, Alice in Borderland (AiB) jadi ikut nge-hyped juga, karena premisnya yang mirip. Kalau saya pribadi tentu saja lebih cocok AiB dan menurut saya beda pendapat itu biasa aja.

Eh, tapi kok ya ke-triggered sama oknum (yes, oknum, karena nggak semuanya, kok…) fans drakor yang malah menjelek-jelekan AiB. Terutama dari segi akting. Membuat saya jadi gatel pengen komen “hah?! emang berapa banyak JDrama yang pernah lo tonton sampe bisa berkomentar begitu?”

Ditambah lagi, kemarin itu, AiB dapat award di Asia Contents Awards, gitu kan… Terus, kok ya komen pemberi award-nya malah tiba-tiba mengaitkan dengan SG. Berasa party killer banget nggak, sih? Saya langsung rolled-eye jadinya.

Hmm… entah menurut saya doang atau gimana, tapi nggak tau kenapa, dunia hiburan Korsel akhir-akhir ini berasa sering blunder nggak, sih?

Komen yang sungguh killjoy karena tidak pada tempatnya πŸ™„

Tapi, yah, daripada mendebat mayoritas, apalagi debatnya berasal dari opini, bukan fakta, yang jelas-jelas nggak bakal ada ujungnya. Jadi, saya balikin ke diri sendiri lagi aja, dan kepikiranlah tentang judul postingan yang terutama dilihat dari segi pecinta JDrama di tengah terpaan drakor dari segala arah ini. 😁

Untung aja pas saya propose, Eya dengan senang hati menerima. Tararengkyu, teman wibu-ku… πŸ€—πŸ€£


Mainstream sendiri, kalau berdasarkan Cambridge Dictionary berarti: considered normal, and having or using ideas, beliefs, etc that are accepted by most people. Berarti kalau anti-mainstream artinya kebalikannya. 😁

Sedangkan JOMO atau the Joy of Missing Out merupakan antitesis dari FOMO (the Fear of Missing Out), yang semakin bikin tambah cemas seiring dengan pesatnya arus informasi dan media sosial.

Menjadi anti-mainstream terkadang bisa disandingkan dengan JOMO ini. Karena bisa aja sebenarnya cuma JOMO, tapi jadi tampak anti-mainstream karena terlalu malas untuk mengejar the missing out point, dan memilih untuk menikmatinya saja.

  • The Beginning

Sejujurnya, mungkin karena bawaan anak pertama yang tidak punya kakak untuk ditiru, saya punya kecenderungan untuk tidak mau meniru juga, terutama apa yang ada di sekitar saya. Waktu bocah, sih, pengennya jadi trendsetter, padahal nggak ada juga trend yang berhasil diset, saking seleranya nggak umum. Hahaha.

Belum lagi, walaupun ‘tampak’ anti-mainstream, tapi saya juga waktu itu sebenarnya meniru juga. Hanya saja yang ditiru bukan hal-hal yang ramai diikuti oleh kebanyakan orang di sekitar saya. Misalnya meniru artis-artis barat, di saat lingkungan sekitar saya kebanyakan menyukai India; drama Korea di saat drama Taiwan sedang berjaya, atau seperti sekarang Jejepangan di tengah gelombang hallyu Korea di mana-mana.

Kalau dulu rasanya gengsi aja buat ikut-ikutan apa yang lagi ngetren. Kalau sekarang, mungkin masih ada sisa-sisa anti-trennya, tapi sudah lebih santuy dan pengen senyamannya aja.

Inget banget, saya nggak sempat mencicipi HP Esia Hidayah yang biaya telepon ke sesama Esia Rp.50/menit dan hampir semua teman-teman saya punya. Saya juga nggak pernah punya Blackberry karena memang saat itu merasa tidak butuh. πŸ˜‚

Dan emang nggak ada duit buat ikut-ikutan juga, sih… πŸ˜›

Sungguh sebuah berkah, saya dikelilingi orang-orang yang santuy-santuy aja dengan perbedaan. Udah pada maklum dengan ‘keunikan’ masing-masing. Jadi nggak ada yang maksa buat ngikutin selera yang lain. Toh, jika memang terlalu beda, akan jadi berjarak dengan sendirinya. Dan nggak apa-apa banget jadi ‘berjarak’. Hanya masalah selera ini, bukan karena memusuhi, kan… Dan suatu saat jika berada dalam situasi dengan ‘frekuensi’ yang sama, tetap akan ‘nyambung’ juga, kok… πŸ€—

  • The Entertainment

Untuk dunia hiburan, terutama untuk musik dan tontonan, seperti yang sudah saya sebutkan di atas sebenarnya saya kenal drakor duluan sebelum gandrung dengan dorama. Meskipun dulunya pernah nonton Oshin dan Rindu-rindu Aizawa, tapi tidak sampai gandrung dan pengen melanjutkan dengan dorama lainnya.

Rindu-rindu Aizawa, ada yang ngikutin dorama ini zaman masih tayang di TPI, kah? *ketauan umurnya πŸ˜†* Pemerannya sendiri masih aktif sebagai aktris di dunia hiburan Jepang, lho… (source)

Perkenalan saya dengan drakor dimulai karena anak ibu kos yang punya koleksi CD (belum pakai DVD! 🀣) yang sangat up-to-date. Full House belum selesai tayang pertama kali di Indosiar, dia sudah punya CDnya. Berikut CD-CD drakor lain seperti Winter Sonata dan Endless Love.

*tapi nggak ada yang selesai saya tonton karena pada marathon, sedangkan saya ngantuk… Hehehe*

Kemudian berlanjut dengan musik dan variety shows. Dulu ngikutin Running Man dari episode 1. Berhenti di episode entah berapa lupa, kayaknya 90an, karena bosan dengan tipe permainan dan lawakannya. Beralih ke We Got Married, sempat nonton pasangan YongHwa-Seohyun dan JoKwon-Gain, juga beberapa pasangan lain dengan episode yang lebih pendek. Tapi, akhirnya tidak berlanjut karena nggak ngikutin Korea-koreaan lagi.

YongSeo Couple (source)

Untuk musik sendiri, meskipun sampai sekarang saya masih nggak bisa bedain wajah anggota grup idol, tapi saya sempat mendengarkan lagu-lagunya SNSD maupun SuJu. Kalau main Pump It Up pun senengnya lagu Ding Ding Dong-nya SHINee atau Kara (yang saya lupa judulnya). Malah saat itu saya ‘buta’ dengan JPop kecuali lagu-lagu yang jadi OST dorama.

Saat itu tetap menonton dorama yang dimulai dari kampus dan akhirnya gandrung sampai sekarang. Setelah lulus kuliah jadi agak berkurang, seiring dengan berkurangnya akses ke dorama. Saat itu juga circle saya nggak banyak yang ngikutin dorama. Karena ternyata, nggak semuanya juga tau akses hiburan (tidak legal) di kampus. Atau simply memang sudah occupied dengan akademik dan kegiatan himpunan atau unit yang juga cukup menyita waktu.

Sampai sekarang saya masih bertahan dengan dorama dan cukup senang karena mulai banyak dorama yang tayang di platform legal. Meskipun 95% dorama lama yang sudah saya tonton semua. 😁

  • JOMO dengan dorama dan Jejepangan

Dan tibalah di masa sekarang, di mana bisa dibilang setiap hari saya bersentuhan dengan Jejepangan. Sampai kerjanya pun bersinggungan dengan Jepang. Udah kayak yang cinta bener sama Jepang. πŸ™ˆ

Sementara itu di mana-mana, hampir di seluruh dunia kayaknya terserang demam Korea. Apalagi dengan hadirnya idol group generasi 3 (cmiiw) kayak BTS yang sukses menembus pasar Amerika dan fandom-nya yang sangat loyal.

Tapi mungkin karena itu juga saya jadi semakin merasa enjoy untuk tidak mengikutinya. Rasanya, buat mengikuti apa yang lagi nge-hyped itu exhausting sekali. Apalagi semakin banyak yang ngomongin, semakin banyak juga opini. Mulai dari yang disampaikan dengan biasa, sampai yang nyebelin. Rasanya sungguh bikin overwhelmed dan menguras energi. Padahal buat saya dunia hiburan seperti tontonan ataupun musik itu, kan, untuk refreshing, jadi buat apa mengikuti sesuatu yang menguras energi saya, bukan? ✌

Makdarit, saya memilih untuk JOMO dengan dorama dan Jejepangan.

Meskipun begitu, sampai beberapa minggu sebelum ini, timeline di media sosial saya isinya kebanyakan hal-hal yang lagi ngetren. Padahal saya memutuskan untuk tidak mengikuti, jadi rasanya seperti dijejali makanan yang saya tidak suka.

Untung saja saya ketemu Eya yang seleranya mirip-mirip.

Ternyata, gimana mau ‘bersih’ TLnya, kalau yang saya follow hanya teman-teman saya yang seleranya beda sama saya. Hahaha.

Langsung saja saya follow akun fanbase Jejepangan. Fitur Trending for You di Twitter juga saya set location ke Jepang aja. Begitupun fitur Explore di Instagram. Yang sekiranya bikin energi terkuras, lebih baik di-hide saja. Jadi makin missing out aja deh saya dengan segala sesuatu hal yang sedang happening

Tapi, saya senanggg… πŸ’–πŸ’– Berasa difasilitasi banget keinginan buat fangirling. 😍😍

Yah, siapa lagi yang bisa memfasilitasi kesenangan saya kalau bukan saya sendiri. Toh, yang paling tau tentang apa yang saya senangi juga saya sendiri, bukan… πŸ˜‰


Baca juga pendapat Eya di sini, ya…

Sampai jumpa di postingan selanjutnya~~😘

Penulis:

To many special things to talk about... =p

15 tanggapan untuk “(Doramatalk Ep.6) Being An Anti-mainstream (and Member of JOMO)

  1. Wah…akhirnya ada kakak yang nulis tentang rindu-rindu aizawa…

    Mel suka banget sama ost nya kak…tapi itu sedih banget ..hehee…

      1. Ndak ingek detail kak…cuma ingek itu kisah tentang anak piatu gitu kak…dan punyo anjing kesayangannyo kalo ga salah kak…

        Mel nontonny pun dulu tuh bukan di rumah kak…tapi ke rumah orang yang bersih siaran TV ny kak … Tv Mel barasiahny cuma TVRI doang kak…wkwkw…

  2. Aku sebagai penyuka kedua nya..Jepang dan Korea cuman bisa duduk tenang aja di kursi penonton πŸ˜‚. Aku setuju banget dengan statement Kak Hicha β€œRasanya, buat mengikuti apa yang lagi nge-hyped itu exhausting sekali”.

    Bener banget kak, Bener banget!! Hahaha. Ini kalo aku pikirin laagi ya setelah sepuluh tahun lebih ngikutin industri hiburan korea berasa banget capeknya ngikutin segala macam drama. Dan sekarang kayak udah β€œlah bodo amat dah terserah, seberapa tau sih emang kita sebagai fans cuman bisa liat dari Layar kaca doang” . *jadi curhat* πŸ˜…. Kadang malah seneng sendiri kalo suka sama sesuatu yg antimainstream, rasanya tenang aja gak ada yg ganggu wkwk.

    1. Jadi penonton emang paling enak ya, mba Reka… hahaha

      Ya gitu deh mba… semakin banyak fans, semakin banyak kepala juga yg ikut2an, berasa paling tau, padahal ada banyak yang ga diperlihatkan kan, ya… πŸ˜…

  3. Hai sobat wibu-ku πŸ˜„πŸ˜„

    Dipikir-pikir mungkin aku juga karena anak pertama juga kali yaa, jadi ada kecenderungan buat ga ikutan orang karena emang dari kecil ga ada tokoh yang buat diikutin πŸ˜„

    Bener banget yang soal mengontrol timeline. Kan kota ga bisa yaa ngatur orang lain harus gimana di sosmed, jadi kudi dari kitanya sendiri yang ngatur-ngatur apa yang boleh sama ga boleh muncul di timeline kita. Aku banyak banget mute kata gitu sampai nama tiap tokoh/public figure yang lagi heboh diomongin di mana-mana tuh selalu aku masukin ke muted word, abisnya males liat nongol terus padahal kita ga follow πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. Hai jugaaa 😎😎

      Paling ngikutin ortu, ya… tapi pasti beda ngikutin kakak yang biasanya sejaman sama ortu yang beda generasi, tea… hahaha

      Aku jarang ngemute word karena, eh… caranya gimana ya? lupaaa, wkwkwk *males ngulik2* *plakkk*
      Aku kadang ngemute temen yg suka like atau retweet hal yg bikin exhausted. Karena suka muncul gitu kan di timeline πŸ˜…

  4. Mba Hicha.. aku lagi asik2 baca ini sambil tiduran di ruang TV ehh terus masa ada kecoa terbang hinggap di punggung naik ke leher.. sontak hp nya langsung tak lempar smpe kena lemari. Hahha 🀣🀣 untung nggak papa.

    Lanjooott

    Soal AiB dan SG ini.. hmmm. Aku nggak paham mereka kenapa. Padahal kedua filmnya punya daya tarik masing2 sih. Kenapa pula harus disandingkan. Aku sndiri malah dengan semangat merekomendasikan AiB semisal ada teman yg nnya. “Rekomendasi film game thriller selain SG apa Bay??”

    Dua2nya bagus sih… all out.. out the box juga..

    Dan aku setuju banget soal “Hanya kita yg bisa menentukan kesenangan sendiri bukan orang lain”
    Dulu sewaktu aku sering gambar, ada 1 orang nih (kita emng nggak temenan sih, cuma rekan kerja aja) yg hobi banget ngomenin aktivitas orang..

    Dlu pas aku sering gambar dibilang kaya bocah hobinya gambar2… skrang hobi posting ikan dikomen juga “apaan ikan doang, hiduplu nggak menarik bay” terus aku mulai posting buku dibilang BAC**tt.. hahah.

    Aku yg dnger aslinya gedek cuma tak bawa haha hihi aja. Wkwk. Dan aku baru nyadar kalau dia ini sepertinya fans berat karena terlalu sering ngurusin hidup aku.. 🀣🀣🀣

    1. Yaampuuun mas Bayu, intermezzo-nya horor amat, tapi aku numpang ngakak yaa 🀣🀣

      Merekanya sih ga kenapa2, yg rese fans2nya hahahaha
      Cuma karena yg nonton SG lebih banyak karena lebih ngehyped, jadi yang rese juga berasa lebih banyak. wkwk.

      Duh, itu orang kenapa, ya? πŸ€¦β€β™€οΈ
      Siapa yg pernah nyakitin dia, sampe kata2nya jadi nyakitin orang lain gitu… πŸ˜‘
      Aku jadi inget kata2 ibuku, anggap aja yg suka komen itu sedang ngasih perhatian. Mas Bayu lebih keren sih, dianggap fans sekalian! Wkwkwk… Mantappp!! 🀣🀣

  5. Full Houseeee
    sampe sekarang kalau disuruh nge-ranking, drama ini masih tetep masuk peringkat buatku, zaman dulu, pas munculnya Full House, drama ini kayak jadi pembuka banyaknya drakor yang bagus-bagus

    tadi pas baca judulnya JOMO, aku malah bacanya JOMPO hahaha, astagahh pulang kantor buka laptop terus BWan, efek lelah letih lesu kali yak wkwkwk

    kalo soal drama jejepangan sekarang ini aku ga apdet, taunya ya kalau baca post mba hicha atau mbak eya aja. yang pernah aku tulis di postku, kalau drama jejepangan, yang jadi favorit ya masih anchor woman, siapa dah tuh yang ganteng imut pemainnya, duhh mendadak lupa πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s