Diposkan pada Experience, Japan and Japanese, Learning or Studying

Cerita Hi, Mochi! Podcast

Sebenarnya, sampai 3-4 bulan yang lalu, saya nggak kepikiran sama sekali buat bikin podcast. Alasannya simply karena saya sadar diri kalau saya belum bisa akur dengan yang namanya konsistensi. Tapi, sekitar bulan Mei kemarin, tetiba kepikiran aja, gitu… 😁

Saya kan sebenarnya tipe yang jarang menelepon, ya. Baik teman maupun keluarga. Bukannya gimana-gimana, selain karena memang lebih enak ngobrol langsung, kadang juga sudah terlalu occupied dengan keinginan mengerjakan ini dan itu. Maklum, anaknya BMnya bukan di barang tapi di kegiatan. Hehehe.

Nah, pada suatu hari, seorang teman, kita sebut saja Upik (tanpa abu *halah*) yang saya kenal karena sefakultas di Jepang, baru pulang ke Indonesia dan kelihatannya mengalami Graduation Goggles yang IMO bisa bikin reverse culture shock jadi berasa double nggak enaknya.

Jadi iseng-isenglah saya telepon, eh, kok ya obrolan berlanjut sampai tiga jam. Obrolannya sendiri instead of ber-sambat ria, malah ‘daging’ banget. Mulai dari bahas penyetaraan ijazah, sampai ke tahapan membeli rumah! Hahaha.

Saat itu saya mikir, sayang juga, kalau pembicaran ‘berisi’ tapi lewat begitu aja dan mulai lah kepikiran buat bikin podcast.

Orang pertama yang saya ajak, ya tentu saja Upik yang sudah memberikan ‘hidayah’ buat nge-podcast, dong. Wkwkwk.

Untung aja orangnya menerima dengan tangan terbuka. Kalau nggak yah, kayaknya nggak bakal jadi ini podcast. Hehehe.

Terus, biar ramean dikit, saya ajak juga Manik, junior Upik yang kebetulan masih di Jepang dan berlanjutlah sampai sekarang udah di episode 6 aja. Sungguh lah ini pepatah bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi kita runtuh bisa dipakai di sini. πŸ˜†

Untuk namanya sendiri, masing-masing ngerekomendasiin beberapa nama, kemudian dipilih yang terbanyak. Yah, sebanyak-banyaknya juga dua lawan satu atau tiga-tiganya setuju, sih… kan pesertanya cuma tiga orang. Hahaha.

Nama yang terpilih ini usulan Manik dan kalau dijabarkan Hi itu selain sebagai sapaan, karena yang nodong ngajak-ngajak itu Hicha, jadi diambil lah ‘Hi’-nya. πŸ˜…

Sedangkan Mochi sendiri adalah snack Jepang yang rasanya manis dan cenderung lengket. Selain melambangkan background kami yang sama-sama pernah di Jepang, juga melambangkan pertemanan yang lekat bagai mochi. Nggak cuma pertemanan antar kami tapi juga harapannya pendengar juga bisa merasa ‘dekat’ karena topik-topik yang diangkat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jadilah akhirnya channel podcast kami diberi nama Hi, Mochi! Podcast.

Hi, sobat Mochi! πŸ€—

Secara umum tema besar yang mau diangkat itu ada empat, yaitu Millenials’s Life, Jejepangan, Science & Technology, dan topik-topik yang sedang trending. Mumpung isinya masih sedikit, berikut topik-topik yang sudah kami bahas:

Episeode 1: Quarter Life Crisis

Topik ini tuh pembahasan yang nggak akan pernah habis, selama masih ada manusia di dunia ini gitu, ga sih? 😁

Menjadi dewasa itu sepertinya tidak akan pernah mudah dan masing-masing individu struggle dengan krisis yang berbeda-beda.

Episode 2: Tokyo Olympic 2020

Episode ini tentu saja bentuk pengejawantahan rasa happy kami di ajang olahraga terbesar dunia ini. Apalagi di masa-masa pandemi begini. Saat banyaknya rasa khawatir dan tertekan karena harus di rumah aja, kemenangan tim Indonesia di Tokyo Olympic sungguh bagaikan oase di gurun sahara *mulai lebay* 🀣

Tak hanya ungkapan selebrasi, tapi di episode ini kami juga membahas vibes olimpiade di negara penyelenggaranya. Maklum, yang ngobrolin pernah mencicipi beras Jepang semua… πŸ˜†

Episode 3: HUT RI ke 76

Masih di bulan Agustus, berarti masih sah ngomongin HUT Kemerdekaan negara kita. Saya dan kedua teman saya tadi, ngobrolin bagaimana perayaan Kemerdekaan RI di sekitar kami. Baik saat pandemi ini, maupun saat di Jepang dulu, dan sekarang.

Episode 4: Rumah untuk Millennial (Part 1)

Ini, nih, bahasan yang menjadi trigger kenapa saya jadi kepikiran buat bikin podcast. Karena kali ini dibahas bertiga, jadi pembahasannya juga lebih berkembang. Sampai jadi dua part saking banyaknya yang dibahas.

Untuk part 1 kami mengungkapkan masing-masing pendapat mengenai perlu kah sebenarnya kita membeli rumah?

Episode 5: Rumah untuk Millennial (Part 2)

Dilanjut ke part 2 mengenai tahapan-tahapan membeli rumah dengan KPR. Kali ini saya berdua saja dengan Upik, karena Maniknya habis divaksin Moderna yang lumayan, ya, efeknya… πŸ˜…

Episode 6: Hospital Playlist Quiz

Bagaimana jadinya saya, yang kudet dengan per-drakor-an, dan Manik, yang hanya ‘menonton’ lewat linimasa, diberikan kuis mengenai drakor yang nge-hyped banget ini, sama salah fans berat serial ini?

Seru, ih, ternyata… πŸ˜†


Buat menemani tiap episodenya, kami jadinya juga membuat akun IGnya. Berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan episode tersebut.

Ditunggu kunjungannya, gaes… πŸ˜‰

Kalau ditanya apa yang menjadi goals dari podcast ini, saya juga masih mencari. Sepertinya untuk saat ini masih sebagai ‘wadah penyimpanan’ obrolan, biar nggak asal lewat. Hehehe.

Oh, iya! Menjadikan proses dalam mengerjakan tiap episodenya sebagai goals juga boleh, kan? πŸ˜‰

Kalau teman-teman sendiri paling suka mendengarkan podcast tentang apa?

Penulis:

To many special things to talk about... =p

14 tanggapan untuk “Cerita Hi, Mochi! Podcast

  1. Wah waahhh, seru jugaaa bikin podcast sama temen2 gini mbak😍 topik yang dibahas juga daging semua, bukan ngalor ngidul gak jelas, tapi erat dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi yang rumah untuk millenials itu, jarang-jarang ada yg bahas selain akun khusus propertiπŸ˜†

    Semoga sukses dan lancar podcastnya, mbak! 😁

    1. Thanks, Awl 😊

      Aku salut sm Awl bisa lanjut nge-podcast meskipun sendiri. Susah banget ngelakuin sesuatu secara konsisten tuh kalau sendirian. Apakah mungkin ini adalah bukti kalau aku lebih cenderung ekstrover? *lah OOT 🀣*

    1. Aku walopun save podcast bbrp teman, tapi sbnrnya jarang dengerin Cha. Kayaknya aku memang LBH suka mendapatkan informasi itu dari buku daripada podcast ato video sih πŸ˜…. Apa karena aku basically ga suka bicara yaa, lebih sering menumpahkan sesuatu lewat tulisan.

      Eh tapiii ini aku sambil dengerin cerita kalian yg ttg quartet life crisis :D. Baru kali ini denger cerita Icha :).

      Eh tapi kalo temanya ntr ttg jejepangan, aku mau lah dengerin, kan aku pecinta Jepang bangeeet especially for travel destination yaaa. Kalo doramanya mah, masih blm terlalu keracunan hahahah

      1. Samaan kita, kak… mungkin karena kita lebih ke visual kali, ya… 😁

        Thanks udah mampir, kak… 😍 Boleh banget kalau mau nyumbang ide, buat kami jadiin bahan, kapan2 kami bahas tentang travel in Japan ala lokal kali, yaa? Atau kak Fanny mau sekalian jadi narsum yang sudah bolak-balik ke Jepang? *padahal udah dibilang kalau kak Fanny ga gitu suka bicara hahahaha*

  2. Aku jarang dengerin podcast, maklum orangnya gaptek mbak.

    Jadi podcast itu macam obrolan yang direkam gitu ya mbak?

    Seru juga topik obrolan nya terutama yang perlukah rumah untuk generasi milenial. Sepertinya perlu aku dengerin nih , pengin tahu pendapatnya.

    1. Kalau gaptek mah ga bisa ngeblog atuh, Mas Agus… πŸ˜†

      Yah, mirip2 sama siaran radio jaman dulu, cuma bedanya ini di internet dan bisa diulang-ulang.

      Jadi Mas Agus tim merasa perlu rumah atau nggak, nih? 😁

  3. temanya bergizi banget mbak terutama seputar masalah dewasa
    etapi konten tentang olimpiade Tokyo juga menarik buat didengerin secara kan di sana masih pro kontra ya
    aku penasaran juga jadinya kenapa Miss International dicancel padahal olimpiade bisa dilaksanakan
    semoga sukses berkontennya mbak

    1. Makasih, Mas Ikrom ^^
      Mau pro atau kontra, pada akhirnya ttp berjalan juga, ya… ^^”

      Mungkin karena olympic melibatkan jumlah peserta, sponsor, dan persiapan yang lebih banyak, jadi pas udah siap tapi ga jadi itu, denger2 pemerintah Jepang bisa kena denda. Hehehe

  4. Mba Hicha temanya daging bangett Yesss… Aku suka.!! Follow 😁! Aku tuh tipe orang yang hampir tiap hari dngerin Podcast. Jadwalnya sih sama.. Setiap menjelang mau tidur.. haha. Senang aja gtu dnger cerita2 orang model kaya beginian… Hahaha. Bikin sadar “Ohh saya nggak sendirian…”

    Seemangaat terus Mba Hicha… πŸ˜€ ngbrol2 gini bikin seruu 😁.. Tadi aku dngerin yang Quarter Life Crisis (Asam Garam Kehidupan kalau kata Mba Upik) LOOVVEE IT…. Aku banget soalnya.. hahah

    1. Makasih, Mas Bayu, it means a lot. Jadi tambah semangat buat bikinnya, nih… πŸ™‚

      Semangat juga, Mas Bayu! We can conquer it! πŸ’ͺ

  5. seruuu bisa bikin rame rame begini, nggak terduga pula kan ya awalnya. semacam reunian
    temanya macem macem mbak, jadi menarik gitu. ada daily life, sampe bahasan rumah.
    bahasan rumah ini menarik, karna aku juga bingungdari taun ga enak mau beli rumah apa enggak, padahal dalam hati pengen. ketakutannya adalah takut ga di acc wkwkwkwk

    baidewei, kenapa tampilan yang kotak kotak diatas kalau di laptopku kayak ga muncul ya mbak. ntar deh aku coba di komputer lain.
    biasanya aku dengerin podcast soal self improvement, terus soal pengembangan kualitas dunia kerja, gimana ngisi waktu yang produktif, yang gini gini yang aku dengerin. dulu dengerinnya pas jam kerja, karena biasanya dengerin musik, jadi sesekali aku coba dengerin podcast
    ehhh karena sering wara wiri nggak dimeja, jadinya nggak konsen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s