Diposkan pada Experience, Learning or Studying

Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup

Walaupun katanya blogosphere kalah jauh dengan media sosial, tapi adanya komunitas bikin semangat bikin postingan tetap menyala. Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas MGN atau MamahGajahNgeblog yang merupakan subgrup dari ITBMotherhood.

Selain menyediakan tulisan menarik dari kontributor dengan berbagai tema, mulai dari finansial sampai tips ngeblog, tiap bulannya juga ada Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema yang berbeda-beda. Tema-tema ini kadang membuat kita jadi harus keluar zona nyaman dalam kepenulisan.

Salah satunya untuk bulan September ini, tema tantangannya adalah Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup.

Sebagai orang Indonesia, sepertinya bukan hal yang aneh kalau kita familiar dengan lebih dari satu bahasa. Seperti kita ketahui bersama, ke-bhinneka-an menjadikan ada beratus bahasa daerah di negara ini. Keberagaman tersebut kemudian disatukan oleh bahasa Indonesia sebagai lingua franca.

Saya sendiri terlahir dari orang tua berdarah Minang dengan bahasa Minang sebagai bahasa yang digunakan oleh keduanya. Tetapi, karena lahir dan besar di Aceh, kedua orang tua saya memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama untuk komunikasi di dengan anak-anaknya.

Karena lahir di Aceh pula lah saya jadi akrab dengan bahasa Aceh yang banyak digunakan oleh teman-teman dan tetangga di sana.

Untuk penggunaan bahasa, sejujurnya bahasa ibu saya tetap bahasa Indonesia. Tapi, saya pernah mempelajari beberapa bahasa, walaupun kebanyakan hanya sekadar kenal. Tidak sampai mengetahui atau mengingat banyak kata atau pola kalimatnya. Tidak hanya bahasa daerah tempat di mana saya tinggal, tapi juga beberapa bahasa asing.

Bahasa Asing

  • Bahasa Arab

Memasuki usia sekolah, saya dimasukkan ke madrasah oleh orang tua. Di sini selain belajar mengaji dan ilmu agama, seperti tauhid dan fiqih, kami juga diajari bahasa Arab. Sehingga bisa dibilang saya terpapar bahasa asing pertama kalinya di sini.

Sayangnya, karena masih terlalu kecil, saya tidak memiliki keinginan yang cukup kuat untuk belajar sampai ke tahapan menguasai. Belajar karena masuk dalam kurikulum saja. Sekarang yang masih diingat cuma beberapa kata saja. Sangat sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari, jumlah kata-kata dalam bahasa Arab yang masih saya ingat.

Karena minimnya minat untuk lebih memperdalam juga lah, nilai bahasa Arab saya di madrasah tidak bisa dibilang bagus. Bahkan, saya masih ingat pernah salah semua untuk ujian bahasa Arab di kelas II. Kayaknya bisa dibilang nilai nol pertama dan satu-satunya selama saya hidup! Hahaha.

  • Bahasa Inggris

Selayaknya kebanyakan orang daerah di Indonesia, kami baru mulai belajar bahasa asing di sekolah saat memasuki sekolah menengah. Meskipun begitu, saya pribadi sudah mulai terpapar bahasa Inggris karena tontonan saat kelas 5 SD. Saat itu saya suka menonton serial Sabrina the Teenage Witch, Party of Five, dan Friends di sebuah stasiun swasta.

Berbeda dengan bahasa Arab, karena adanya tontonan tersebut, saya jadi lebih memiliki ketertarikan untuk mempelajari bahasa Inggris. Mungkin karena mulai masuk pre-teen juga. Sudah mulai memiliki keinginan dan pendapat sendiri. Juga, lebih mudah terpengaruh pada apa yang dilihat daripada apa yang disuruh.

Saat menonton serial-serial tersebut, sejujurnya, saya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya jadi sangat bergantung pada subtitle di setiap episodenya. Tapi, sesuatu yang berbeda memang cenderung lebih menarik perhatian. Dan saya terpesona dengan bahasa Inggris, gesture, dan ekspresi yang ditampilkan dalam setiap dialognya. Hingga tak sabar dan meminta dimasukkan ke kursus bahasa Inggris yang ada di kota saya.

Masuk SMP juga membuat pergaulan jadi lebih meluas dan saya pun jadi mengenal selebritas manca negara melalui majalah remaja yang dibawa oleh teman sekelas saya.

Di SMP juga lah bahasa Inggris saya mulai terasah, karena saat kelas dua, wali kelasnya juga guru bahasa Inggris dan memiliki cara mengajar yang seru. Beliau juga membuka kursus bahasa Inggris dan tentu saja saya pernah jadi siswa di tempat kursusnya. Hanya saja, karena saat itu kondisi keamanan Aceh yang tidak menentu, akhirnya saya hanya masuk sebanyak 3-4 kali saja.

  • Bahasa Mandarin

Bahasa asing berikutnya yang saya kenal adalah bahasa Mandarin. Tentu saja terpengaruh film-film Hongkong yang juga ditayangkan oleh stasiun TV yang sama. Maklum saja, siaran TV saat itu belum mencakup ke seluruh wilayah di Indonesia. Jadi, stasiun televisi yang saya tonton juga itu-itu saja.

Kali ini sebenarnya tidak bisa disebut belajar juga. Saya hanya membeli kamus Mandarin – Indonesia dan mencoba menghafalkan beberapa kata yang ada. Tentu saja tidak efektif. Tahu sendiri, kan, bahasa Mandarin itu intonasi berubah artinya bisa berbeda. Belum lagi tata bahasa, dll yang memang tidak mungkin dipelajari melalui kamus.

Maka dari itu, sebenarnya saya tidak bisa dibilang pernah belajar bahasa Mandarin. Hanya pernah kenalan dengan kamus Mandarin – Indonesia saja. Hehehehe.

  • Bahasa Korea

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, saya memiliki waktu luang di malam hari dan saat weekend. Karena sudah tidak punya akses internet yang mudah lagi seperti saat masih di kampus, saya jadi mulai kenalan dengan DVD bajakan yang dijual di pasar Simp. Dago. Yah, masih bajakan, karena tidak tahu juga bisa mengakses serial secara legal di mana *jangan ditiru*. Apalagi saya juga tidak punya TV dan saat itu tidak terbersit niat untuk membeli TV.

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan drama Korea. Sayangnya, kebanyakan yang dijual adalah film Hollywood atau drakor. Untuk film sendiri saya lebih prefer nonton di bioskop. Selain untuk menghargai pembuatnya, vibes yang dirasakan juga lebih ‘dapet’ daripada menonton di layar laptop. Karena itu, pilihan tontonan untuk menemani makan di kosan hanyalah drakor.

Dari menonton drakor, selain makanannya, saya malah tertarik dengan bahasanya. Karena itu untuk mengisi waktu luang, saya membeli buku Belajar Bahasa Korea dan mulai mempelajarinya secara otodidak.

Sayangnya, ketertarikan tersebut tidak cukup kuat. Apalagi karena memang dasarnya saya lebih suka nonton drama Jepang daripada drakor. Jadi terhenti dan sampai sekarang saya hanya bisa membaca sedikit tulisan hangul, tanpa mengerti artinya apa.

  • Bahasa Jepang

Karena sudah tertarik dengan drama Jepang sejak kuliah, setelah memiliki penghasilan sendiri, saya mulai tertarik untuk belajar bahasa Jepang atau nihongo juga, dan mulailah ikut kursus belajar nihongo. Sebelumnya les TOEFL dulu, sih… Baru setelah bekerja setahun saya mulai melirik nihongo.

Tentu saja mulai dari nol, alias dari huruf hiragana dan katakana, juga dengan menggunakan buku Minna no Nihongo. yang sudah terkenal sebagai buku belajar bahasa Jepang untuk orang asing.

Saat itu saya juga mulai memikirkan untuk mencari beasiswa ke Jepang.

Sayangnya, kelas nihongo saya terhenti di pertengahan buku Minna no Nihongo 2 karena kurang murid. Jadi, saya mulai fokus di usaha mencari beasiswa saja.

Saat baru tiba di Jepang, saya menyadari bahwa kemampuan bahasa Jepang saja cuma sebatas aisatsu (greetings) saja. Untungnya, kampus memfasilitasi mahasiswa asing penerima beasiswa MEXT G-to-G dengan kelas intensif nihongo. Di sanalah perkembangan bahasa Jepang saya mulai meningkat dan saat ini berguna di pekerjaan saya.

Karakter dan Bahasa

Dari sekian banyak bahasa yang saya pernah terpapar olehnya, hanya tiga bahasa saja yang akhirnya sering saya pergunakan di kehidupan sehari-hari. Itupun tidak ada bahasa daerah. Kecuali bahasa Indonesia dengan logat Jakarta bisa disebut bahasa daerah, ya… πŸ˜‚

Ketiganya adalah bahasa Indonesia, English, dan Nihongo.

Dari ketiga bahasa tersebut, saya jadi menyadari kalau ternyata karakter seseorang (saya maksudnya πŸ˜€) bisa berubah tergantung bahasa yang sedang dipergunakannya. Setelah saya googling ternyata sudah ada penelitian[1] mengenai hal tersebut.

Paper ilmiah tersebut, memaparkan fenomena switching identitas oleh individu yang sama yang memiliki latar belakang biculturals bilingual dengan studi kasus bilingual berbahasa Inggris dan Spanyol. Hasil penelitian secara empirik tersebut menyebutkan bahwa individu yang sama memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah obyek, saat diminta untuk menjelaskan obyek tersebut dengan menggunakan bahasa yang berbeda.

Bagi saya pribadi, saya juga merasakan hal demikian. Saat menggunakan bahasa Indonesia, yang sudah jadi bahasa native sejak saya bisa bicara, saya punya kecenderungan lebih ke menjadi seorang observer. Bisa jadi lebih bawel di saat lawan bicara saya kalem, tapi lebih sering mengambil posisi sebagai pendengar.

Mungkin karena kebanyakan orang-orang berbahasa Indonesia yang saya temui, cenderung lebih senang berbicara daripada pengguna bahasa lainnya.

Untuk bahasa Inggris, saya lebih sering menggunakan logika untuk menguatkan argumen saya. Bukan karena saya lebih sering bertengkar dengan penutur English. Tapi karena kesempatan saya bertemu dengan mereka kebanyakan di lingkungan profesional dibandingkan dengan event santai. Kalau pun ada acara jalan-jalan bersama, paling dalam setahun hanya 1-2 kali saja. Itu pun tidak setiap tahun ada.

Dalam berbahasa Inggris. susunan kalimat saya juga lebih berantakan. Tentu saja karena English bukan bahasa ibu saya. Belum lagi pola kalimat dan pelafalan kata yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, menjadikan otak saya harus berpikir lebih keras saat berbicara dengan penutur bahasa Inggris.

Sedangkan saat berbahasa Jepang, sepertinya saya jadi memiliki kepribadian yang lebih bubbly. Mungkin karena kebanyakan orang Jepang cenderung pendiam di awal, membuat saya jadi lebih inisiatif untuk memulai pembicaraan. Selain itu, meskipun orang Jepang punya kecenderungan pendiam, bahasa Jepang sendiri secara bahasa malah sebenarnya merupakan bahasa yang ekspresif. Bisa dilihat dari penggunaannya di manga atau anime.

Sebagai perbandingan, jika dalam bahasa Inggris filler seperti “uhm…” dan sejenisnya dianggap mengganggu, dalam bahasa Jepang justru dianggap penting dalam berkomunikasi dengan orang lain, karena bisa jadi bentuk ekspresi juga.

Saya pernah menuliskan mengenai filler dalam Nihongo pada postingan di bawah ini:

Tips Belajar Bahasa

Dari pengalaman berbahasa selama ini, saya jadi menyadari beberapa hal tentang belajar bahasa. Siapa tau bisa jadi tips yang berguna. πŸ˜‰

  • Memantapkan niat dan tujuan

Kecuali untuk bahasa ibu, yang kita gunakan sejak bisa berbicara, untuk belajar bahasa kedua dan seterusnya, niat adalah yang pertama. Tidak hanya dalam belajar bahasa, sih, sebenarnya. Tapi, untuk segala hal, memang harus dimulai dari niat. Bahkan rukun beribadah pun diawali dengan niat, bukan?

Dengan bahasa Arab, Mandarin, dan Korea, niat saya kurang kuat. Makanya akhirnya berhenti di tengah jalan dan tidak menguasai sama sekali sampai sekarang.

Selain niat, tujuan juga sama pentingnya. Saya mulai belajar bahasa Jepang karena saya punya tujuan ingin mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliah ke Jepang. Meskipun pada saat seleksi ternyata kemampuan bahasa Jepang saya saat itu bisa dibilang tidak berguna, tapi dengan adanya tujuan tadi, saya jadi tidak berhenti di tengah jalan, seperti bahasa-bahasa yang saya pelajari sebelumnya.

  • Mulai dari hal-hal yang menyenangkan

Misalnya tontonan atau lagu.

Saya mulai tertarik belajar bahasa Inggris karena menonton serial barat di TV. Selain belajar di sekolah, saya juga senang mengoleksi kaset dari penyanyi-penyanyi western yang menyertakan lirik di setiap sampul kasetnya. Kadang-kadang saya juga mendengarkan radio kemudian merekam lagu barat yang disiarkan dan mencoba menuliskan liriknya sendiri dari apa yang saya dengar.

Maklum, saat itu belum kenal Google. πŸ˜€

Dari ketiga hal yang berhubungan dengan dunia hiburan itu lah saya jadi sekalian belajar bahasa.

  • Kemampuan berbahasa akan semakin terasah bila selalu digunakan

Practice makes perfect. Walaupun sudah pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya, baru saat ‘dipaksa’ harus menggunakan Nihongo dalam kehidupan sehari-hari lah, yang menjadikan kemampuan berbahasa Jepang saya meningkat pesat.

Awalnya memang berasa awkward karena saya hanya hafal sapaan dan beberapa kata-kata saja. Tapi dengan mendengarkan orang sekitar, bertanya pada saat tidak tau, dan dikoreksi oleh penutur asli, poin-poin kesalahan tadi lebih gampang diingat. Kosa kata yang dikuasai semakin banyak, pola kalimat juga jadi lebih teratur sesuai dengan kaidah bahasa tersebut.

Penutup

Berbahasa merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam berkomunikasi dan sebagai orang Indonesia, sudah sepatutnya kita bersyukur karena umumnya sudah mengenal lebih dari satu bahasa sejak kecil. Dari berbahasa juga, selain untuk berkomunikasi, kita bisa jadi lebih mengenal diri sendiri karena adanya fenomena switching identitas yang terjadi. Bikin belajar bahasa jadi terasa makin seru, kan? πŸ˜‰

[1] Luna, D., Ringberg, T., Perrachio, L. A., “One Individual, Two Identities: Frame Switching among Biculturals”, Journal of Consumer Research, Inc., Vol. 35, No. 2 (August 2018), pp. 279-293

Penulis:

To many special things to talk about... =p

18 tanggapan untuk “Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup

  1. Wahh accidentally ketemu sesama alumni kampus gajah juga di sini πŸ™‚ Aku tau ada ITBMotherhood dari temen-temenku, tapi baru tau ada subgroup khusus ngeblog. Kalo yang belum nikah apalagi punya anak kayak aku gak bisa ikutan ya? πŸ˜‚ Btw, salam kenal ya Mba!

    1. Halo, Mba! Saya manggilnya Nabilah aja, kah? 😁
      Bisa, kok… sama kayak ITBMotherhood, yang belum nikah juga boleh gabung. Paling untuk subgroup ini syaratnya selain alumni mahasiswi kampus gajah, juga punya blog. Hehehe.
      Bisa cus langsung di web-nya atau colek-colek teteh admin di IG mamahgajahngeblog. ^^

  2. Semua yang disebut diatas bener banget. Saya kebetulan peminat bahasa walaupun nggak fasih-fasih banget dari lima bahasa yang dipelajari akhirnya yang fokus hanya tiga(di luar bahasa ibu). Sempat dulu nekad belajar dua bahasa dalam satu waktu. Langsung korslet lidahnya. Ternyata harus kuasai satu dulu sampai minimal intermediate lah, sebelum pindah. Perasaan saat ganti bahasa sama persis dengan yang mbak Hicha sebut. Saat bicara Inggris rasanya jadi intelek, bicara Prancis jadi artistik, dsb. dsb (kepanjangan kalau diceritakan πŸ˜‚)

    1. Wah… tiga bahasa itu bahasa apa aja, mba Pheb? Aku iseng2 belajar bahasa Prancis sm Spanyol iseng2 di Duolingo, berakhir belibet dan kebalik-balik wkwkwk

  3. Belajar bahasa memang susah kalau nggak dibiasakan ya mbak, kadang harus kepepet dulu baru bisa. Soalnya aku udah 4 tahun lebih belajar bahasa Jepang ya masih gini2 ajaπŸ˜† mungkin kalau kuliahnya di negeri sakuranya sendiri lain cerita kali ya. Apalagi soal mood yg naik turun, harus konsisten kalau mau cepet bisa, hihi.

    Btw aku salfok, mbak Hicha dulu lulus seleksi MEXT G to G toh? Kereeeenn😍 biasanya kalau GtoG susah banget kata temen2ku. Berarti sekarang mbak Hicha masih di Jepang?

    1. Apalagi kalau jadi beban akademis kayak kuliah gitu ya, Awl… yang tadinya menarik juga, wajar banget kalau kadang-kadang bikin jenuh. Hehehe.

      Kebetulan lagi beruntung aja aku, mah… πŸ˜† Di Jepangnya sampe 2019, sekarang sih udah jadi budak korporat di ibukota. Wkwk.

  4. Wahhh sama nih, karena keseringan nonton film luar jadi agak bisa cara ngomongnya, tapi gak terlalu paham terkait arti-artinya walaupun ada terjemahannya.. Tapi membantu banget sih buat belajar hhe

    1. Iya, apalagi berkesempatan masuk ke lingkungan native, banyak kata-kata yang didapet dari tontonan bisa langsung dipakai. Jadi berasa puas gitu, karena berhasil mendapatkan manfaat, ga cuma hiburan aja. Hehe

  5. enam taun belajar bahasa arab waktu SD, gak ada yang nempel. 3 tahun belajar bahasa jepang di SMA, gak ada yang nempel juga. selalu salut sama yang bisa belajar bahasa lebih dari satu selain bahasa ibu, karena saya susah banget blas belajar bahasa. kalau boleh jujur, baru beberapa tahun ini aja saya lebih “mendingan” soal listening bahasa inggris. dulu susah banget karena gak suka nonton film/video. ya benar kata mbak hicha, harus mulai dari hal yang menyenangkan dulu baru jadi berminat ingin tahu lebih jauh.

    (soalnya, saya belajar bahasa inggris itu dari fanfic… ssst, jangan bilang-bilang ya…)

    1. Kayaknya bahasa ini ada bakat-bakatan juga kali ya, mba Mega
      Ada temenku pas dateng ke Jepang, bahasa Jepangnya nol, tapi nggak berapa lama kemudian ambil JLPT N2 langsung lulus sekali tes. πŸ˜†

      Boleh dong dibisikin baca fanfic-nya di mana, mba *eh 😝*

  6. Wow… mba Hicha jebolan Mext G to G… πŸ‘πŸ‘πŸ‘ prokprok.. kerenn beud mba.. πŸ˜„

    Bahasa yg pernah disentuh Mba Hicha banyak ya. Aku sendiri pernahnya Korea. Itupun karena dlu pas lulus SMK pernah mau masuk ke perusahaan Posco. Tapi berhubung nggak diterima jadi woless.. bablas angine.. 😁

    Setelah itu. Udah paling cuma belajar Bahasa Inggris aja. Baru akhir2 ini. Kerja di perusahaan punya jepang. Mulai belajar sedikit2 bahasa jepang. Cuma ya gitu. Karena belajar sndiri dari anime, manga, dan berhubung perusahaan udah ada fasilitas Translator jadi suku katanya masih minim. Tapi kalau hitungan satu smpe 10 lancar lahh πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… *bangga..

    Jadi ingat, dulu pernah ditegur sama sensei karena keseringan ngomong “haikhaik”. Ahaha. Kata sensei nggak sopan.. karena itu kaya ngomong “iyaiya”.. πŸ˜„ padahal sendirinya kalau lagi marah sering banget ngomong “baka iye”. Aku awal2 pas digituin smpe berlinang lohh mba.. tapi sekarang setiap dpet kata Baka Iye, aku malah jadinya ketawa.. πŸ˜†

    1. Kebetulan lagi beruntung, rejekinya dapet mas Bayu… hehehe

      Aku jadi googling ttg Posco. Kirain ada hubungannya sama Pasco, merk roti di Jepang. Ternyata beda jauh yaa hahaha

      Gapapa, tg penting usahaa πŸ˜‰

      Eh, iya, lho… haik itu kalau diucapin dua kali jadi kayak β€œiyedah serah lo, biar cepet” gitu, mas Bayu… πŸ˜†

      Wah, senseinya mas Bayu dari daerah manakah? Soalnya β€œbaka iye” itu kayak aksen gitu. Kata aslinya mah β€œbaka” aja 😁

  7. mba Hichaaaa aku padamu πŸ™‚
    apalagi praktek bahasa jepangnya masih kepake sampe sekarang di dunia kerja, mantul banget ini mah.
    aku belajar 2 bahasa selain inggris, yaitu korea sama mandarin, dan dari 2 ini, kyaknya korea yang menuruku lebih mudah. sayangnya pas udah lulus kuliah jarang dibuka lagi

    terus aku kenal bahasa inggris ya pas masuk SMP, sayang banget sejak SD ga belajar english
    tapi dulu tuh waktu belum mahir inggris, sok sokan ngomong sendiri pake english, biar cas cis cus, padahal yang diomong juga ngarang, pengennya pas gede lancar jaya
    ehhh malah ga lancar juga hahaha

    1. Mba Ainun dulu kuliahnya ada hubungannya dengan bahasa Korea atau Mandarin gitu kah, mba?

      Belajar bahasa emang lebih mantul kalau ada lawan bicaranya ya, mba… apalagi kalau sama native, ngobrol seminggu juga udah berasa banget perubahannya 😊

  8. Setujuuu, niat itu penting. Kalo itu ga ada, susah sih mau menguasai bahasa apapun.

    Cha, jangan sedih, akupun kalo udh bahasa Arab wassalam aja hahahahaha. Dulu di sekolah ini termasuk nilai pelajaran yg paling rendah yg aku dpt. Masih lebih tinggi ujian bahasa Aceh ahahahaha…

    Aku cuma menguasai bahasa Indonesia dan Inggris doang. Kalo yg pasif, cuma bisa ngerti tapi pas ngomong amburadul, itu bahasa Baiko, bahasanya orang Sibolga, Krn papa mama kan dr sana. Nah mereka itu selalu ngomong BHS Baiko di rumah, tapi giliran Ama anak2nya BHS indonesia. makanya aku cuma bisa pasif.

    Bahasa Inggris aku suka, Krn pelajaran ini udh ada sejak kls 3 SD dan aku di les-in private sejak kls 1 SD , makanya udh terbiasa. Blm lagi pas kuliah di Malaysia, BHS pengantar juga Inggris, trus kerja di HSBC, English wajib dan banyak dipakai saat bicara Ama nasabah yg kebanyakan bule dan utk komunikasi tertulis di kantor. Cuma jujur aja, sejak aku ga kerja, agak menurun sih, Krn aku jarang ngomong skr kan. Cuma terbantu aku msh rutin baca berita2 berbahasa Inggris. Intinya sih, selain niat bahasa itu hrs dipakai. Kalo ga, pasti bakal cepet lupa

    1. Di sekolah dulu pernah ada pelajaran bahasa Arab, kak?
      Adekku malah nilai bahasa Acehnya lebih tinggi daripada Bahasa Indonesia :)))

      Aku baru tau kalau Sibolga punya bahasa sendiri. Selama ini pernah dengernya cuma Toba dan Karo aja. Hehehe.
      Bener, kak… kalau suka tuh emang jadi lebih gampang belajarnya. Apalagi kalau lingkungannya mendukung (atau memaksa XD) buat menggunakan bahasa tersebut. Pasti jadi lebih cepet lancarnya, ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s