Posted in Experience, MindTalk

Jalan Singkat

Di suatu malam saat kelas dua SD, ayah saya kedatangan tamu. Saat mereka ngobrol-ngobrol di ruang tamu, saya juga berada di sana. Tidak, saya tidak ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Terlalu sulit untuk dimengerti, sampai saya tak bisa mengingat lagi apa yang sedang mereka bicarakan saat itu. Saya hanya menonton TV yang kebetulan diletakkan di ruangan yang sama dengan mereka.

Tak berapa lama kemudian saya bosan dan akhirnya melangkahkan kaki ke luar. Saat itu kami tidak pernah diizinkan keluar rumah setelah azan maghrib berkumandang. Mungkin karena tempat tinggal kami yang masuk ke dalam wilayah DOM (Daerah Operasi Militer). Tapi, kalau ada tamu, orang tua saya menjadi sedikit melunak. Atau lebih tepatnya lengah.

Meskipun begitu, saya tidak berani main terlalu jauh. Bahkan sebenarnya hanya di jalan depan rumah saja. Di sana terparkir mobil pick-up milik tamu ayah tersebut. Saya mengitari mobilnya, nggak tau juga kenapa bisa kepikiran tawaf mengelilingi mobil tersebut 😅. Yang jelas, tidak berapa lama kemudian saya masuk dan duduk lagi di ruang tamu.

Saat itu channel di televisi sedang menayangkan sinetron horor yang sampai sekarang saya tidak tau judulnya apa. Tepat ketika saya duduk, adegan yang ditayangkan adalah seorang laki-laki tidur diselimuti kain putih di ruangan temaram, kemudian tiba-tiba melihat ke arah kamera dan membuka matanya.

Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa tayangan tersebut bertema horor, meskipun pada saat itu saya langsung menyadari bahwa adegan tersebut menggambarkan orang yang sudah meninggal tapi kemudian hidup lagi.

Saya kaget ketika si lelaki tiba-tiba membuka matanya yang berlingkaran hitam. Tapi yang membekas diingatan saya sampai saat ini bukan ke-horor-an (?) kejadian hidup laginya manusia yang sudah mati, tapi teringat oleh saya sampai saat ini, bagaimana stressnya saya beberapa detik setelah adegan tersebut karena kepikiran tentang kematian.

“Eh, semua orang akan meninggal, kan, ya?”, “Kalau sudah meninggal berarti, badannya tak bernyawa lagi?”, “Berarti, nanti sendirian di dalam kubur?”, “Berarti, terputus semua hubungan dengan manusia, bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun?”, “Terus, kalau hidup cuma untuk menunggu kematian, kenapa manusia disuruh menjalani hidup, gitu?” dan entah ada berapa banyak pertanyaan lain, yang bagi bocah kelas 2 SD, cukup untuk membuat susah tidur semalaman.

Tentu saja, sebagai bocah SD, saat akhirnya bisa menutup mata, keesokan harinya kejadian tersebut mengabur. Saya tetap bocah SD yang berangkat ke sekolah; belajar dan bermain bersama teman-teman; terlibat pertengkaran tidak penting dengan saudara; dan segala lika-liku kehidupan selayaknya bocah lainnya.

Tapi bayangan itu kadang muncul saat diri ini penat. Perasaan bahwa sesungguhnya hidup hanya sementara, hanya untuk menghadapi kematian.

Belum lagi di saat pengetahuan saya tentang alam semesta sedikit bertambah. Pengetahuan bahwa bumi berotasi pada porosnya setiap hari; berevolusi terhadap matahari selama setahun; matahari pun berotasi sambil berevolusi terhadap pusat galaksi bima sakti; juga tentang pusat galaksi yang mengelilingi pusat cluster; terus demikian dengan rentang waktu yang entah berapa juta tahun cahaya, mengingatkan diri ini bahwa manusia sejatinya sangatlah kecil dan hidup kita sebagai manusia sangat-sangat sebentar. Jalan kehidupan kita sangat-sangat singkat.

Mengingatkan bahwa meskipun kita, manusia, bukan remah-remah rengginang. Tapi sungguh hanya debu-debu semesta yang segera menghilang beterbangan terhempas gelombang waktu.

Tentang jalan yang singkat ini, kadang terasa panjang di saat harus menunggu. Kadang tanpa terasa sudah bertahun berlalu. Kadang ingin cepat-cepat memutar waktu, kadang ingin menghentikannya dan selamanya di situ.

Butuh beberapa belas tahun kemudian dan entah berapa puluh kejadian lain untuk saya pelan-pelan menyadari, bahwa meskipun hidup seolah-olah hanya menunggu kematian dan juga dalam rentang waktu seper-entah-berapa-milyar dari masa matahari mengelilingi pusat galaksi, kita tetap individu manusia dengan segala individualistiknya.

Masing-masing memiliki jalan hidup yang tak sama. Bahkan sepasang kembar yang dibesarkan di tengah keluarga yang sama, mengenal orang-orang yang sama, menjalani rutinitas yang sama, keduanya tetap individu yang berbeda.

Dua hal yang sama hanyalah kematian yang menanti di ujungnya, serta tak ada satu pun yang benar-benar tahu apa saja yang sedang menanti selama perjalanan menuju akhir jalan tersebut.

Di satu sisi, singkatnya jalan ini sering membuat saya terburu-buru. Merasa selalu tak punya cukup waktu.

“Pokoknya mau ngelakuin ini-itu!” “Wah, udah jam segini, padahal harus ngelakuin ini dan itu…” “Kerjaan ini kayaknya bisa disambi dengan yang itu, deh…”

Dan mulailah saya menasbihkan diri sebagai pelaku multitasking.

Mulut mengunyah makanan, mata membaca telepon pintar, tangan kiri mengeringkan rambut dengan hair dryer, tangan kanan membuka tutup dan mengoles wajah dengan produk perawatan kulit, sambil sesekali menyuapkan makanan.

Sungguh tidak sabaran.

Padahal, saya bukan termasuk orang yang ambisius. Pun bukan orang yang perfeksionis. Tapi tetap saja, rasanya ingin melakukan semua.

Di sisi lain, jalan singkat ini juga membuat saya kadang terlalu woles dan kadang juga sulit untuk berkomitmen atau mengikatkan diri pada sesuatu. Mulai dari “Ya udah, sih… nggak punya ini-itu juga gapapa, toh nanti dikubur cuma bersama kain kafan, doang,” sampai ke “Duh, punya kendaraan dan rumah itu merepotkan, ya… dari ngumpulin DP, bayar cicilan, sampai maintenance-nya. Belum lagi kalau ternyata baru 1-2 tahun merasa bosan, tapi kadung terikat, padahal masih banyak yang ingin di-explore

Keduanya terasa kontradiktif.

Pada akhirnya, seperti layaknya semesta dengan hukum kesetimbangannya, mungkin menyeimbangkan diri adalah kunci dalam menjalani jalan yang singkat ini. Seimbang antara keinginan menikmati dunia dan mempersiapkan kematian.

Sungguh sebuah PR yang tidak akan pernah selesai sampai ajal menjemput. Tapi harus diusahakan agar tidak terpeleset selama perjalanan.

Walaupun, sepertinya momen-momen terpeleset tersebut akan tetap ada. Tapi setidaknya, dengan mengetahui tentang betapa singkatnya jalan yang akan dilalui beserta PR yang menyertainya, mampu menjadi pemantik untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan kembali.

Author:

To many special things to talk about... =p

5 thoughts on “Jalan Singkat

  1. Pikiran yang sangat berat untuk seorang anak SD.
    Tapi saya pun begitu Mba Hicha. Kadang kalau lagi terdiam atau semisal lagi duduk santai. Sering banget tiba2 mikir ke arah situ.

    Tetiba kepikiran ttg akhir dari hidup ini. Apakah bekal saya sudah cukup… apakah kelak saya akan masuk surga dan bertemu dengan orang2 yg sudah mendahului saya..?

    Tulisan ini deep banget maknanya, dan relate banget ke semua orang. Hidup seimbang antara akhirat dan dunia memang PR banget ya Mba. Skrang sih saya cuma bisa berusaha sebaik yg saya bisa… terus melanjutkan hidup hingga waktu saya tiba.

    1. Dibilang negatif juga sebenarnya ga melulu buruk ya mikir kayak gitu. Biar gimana, kita tetap manusia, suatu saat akan mati. Harus berusaha untuk bersiap2. Karena memang cuma usaha dan doa yang bisa kita lakukan 😇

  2. perkara takut akan kematian saya juga pernah mengalami, padahal selama ini dengan sombongnya berkata pada diri sendiri, mati ya udah mati. udah seharusnya begitu, tinggal berbuat baik deh yang banyak ( sambil diri sendiri juga gak banyak berbuat banyak) , pokoknya arogan deh. sampai dikasih sakit beberapa tahun yang lalu sampai was-was akhirnya saya sadar, bukan hanya ketika melahirkan tetap sakit yang parah juga bisa menyebabkan kematian.

    yang terbesit di kepala saya saat itu adalah, bagaimana kalau saya mati lantas anak-anak saya bagaimana? siapa yang mengurus mereka? apakah mereka akan tumbuh kembang menjadi anak yang “rapuh” atau “cacat” dan mereka kesepian suemur hidup?

    Membayangkan itu aja saya langsung takut mati. saya harus sehat, harus! demi anak-anak. terus berdo’a dikasih sehat sampai mereka bisa mandiri dan kalau sudah waktunya saya pergi, mereka sudah siap.

    takut kematian juga saya alami kemarin saat ayah mertua meninggal di depan mata. Subhanallah kematian yang indah. tidak terlihat kesakitan dan pergi begitu saja. Ayah mertua memang geol ibadah, care sama siapapun dan takut sekali sama Allah. solawat dan dzikir gak pernah lepas.

    saat itu saya sadar, ibadah saya baru secuil. apa yang bisa saya bawa sebagai bekal teman di alam kubur? bagaimana saya bisa menghadapi siksa kubur?

    duh mengerikan. kematian jadi refleksi kita untuk ibadah dan hidup lebih bermanfaat untuk banyak orang

    1. Duh, komennya masuk di spam, nih, mbak eka *di komen pake mbak, di grup pake kak, ga konsisten ya saya… 😅*

      Iya, nih, mbak. Saya juga pernah mengalami masa kayak gitu. Terlintas aja gitu di pikiran, “duh, hidup gw kok santai2 aja, ga seru, nih…” Ga nyampe lima menit di kasi peringatan langsung dengan bunyi apaan ga tau, gede banget pokoknya. Tapi kok ya orang-orang di sekitar saya pada sante2 aja. Kayak cuma saya yang denger. Langsung istighfar banyak2, minta ampun udah sompral. 🙈

      Kalau udah ada anak atau tanggungan, jadi nambah lagi ya alasan buat takut mati.. Ikut mengaminkan doa, semoga sehat dan anak2 tumbuh sesuai dengan yg diharapkan. 🤗

      Cita-cita banget ya, mbak… meninggal dengan tenang itu tuh…

      Bener, mbak. Sayangnya, saya sendiri kadang suka lupa. Sering abai dengan kesibukan dunia. Hiks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s