Posted in Experience

2021 March Wrapped-up

Again, udah masuk minggu kedua ketiga di April aja. Saya baru sadar, ternyata di bulan Maret hubungan saya dengan dunia per-blogging-an agaknya sedang kurang akur, alias nggak produktif banget!

Cuma satu blogpost aja, dong…

Blogwalking juga jadi jarang. Huhuhu.

Kemana aja, ngapain aja, bu?

PERSONAL THINGS

Selain sibuk dengan penutupan Fiscal Year 2020 di kantor yang kelihatannya kayak nggak ngaruh-ngaruh amat di saya, tapi lumayan bikin dikejar-kejar customer yang mau closing atau bikin budget buat FY 2021. Jadi, belakangan ini saya WFO terus, deh…

Oh iya, nggak tau kesambet apa, saya ngambil kelas online IELTS Speaking di Kobi Education, dong… πŸ˜… Sebenarnya, karena merasa bahasa Inggris saya semakin bapuks saja. Mumpung banyak dibuka kelas online, kayaknya lebih simple buat nyobainnya. Nggak perlu menyediakan waktu khusus untuk perjalanan, belajarnya pakai baju rumahan juga bisa. πŸ˜›

Kenapa akhirnya ngambil yang IELTS Speaking? Karena kebetulan aja kelas itu yang dibuka dan biayanya relatif murah (IDR 399.000 untuk 8 x 2 jam pertemuan).

Materi yang diberikan bagus, sih… Mulai dari basic, metode penilaian, tips dan trik, sampai excercise untuk tiap part pada tes IELTS Speaking yang sesungguhnya.

Kekurangannya cuma karena pengajarnya bukan native speaker, jadi kadang terpeleset juga di pronunciation dan grammar-nya. Selain itu, karena satu kelas diperuntukkan untuk 20 orang, jadi kadang ada peserta yang nggak kebagian berbicara saat petite test setelah materi. Tapi, masing-masing tetap kebagian jadwal exercise test untuk keseluruhan part, kok.

Nah, karena sebenarnya saya cuma pengen melatih kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris aja, jadi bukan yang pengen ngambil IELTS gitu (lebih tepatnya belum pengen), akhirnya saya browsing-browsing lagi. Siapa tau, gitu kan, bisa ketemu kelas speaking dengan native speaker.

Akhirnya ketemu di cerah.co. Dengan biaya IDR 82.500/jam untuk satu kali pertemuan, kita bisa latihan full satu jam bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Gurunya nggak bisa bahasa Indonesia, soalnya… 😁

Tapi, kalau dibilang native speaker-pun, belum tentu dari US, UK, Australia, atau negara dengan bahasa utama bahasa Inggris juga. Saya sendiri dapatnya dari Filipina. Mungkin tetap ada aksennya, tapi pembawaannya lebih natural dengan pronunciation dan grammar yang lebih meyakinkan. Materinya sendiri lebih umum, jadi saya nggak tau juga bakal efektif atau tidak untuk persiapan TOEFL atau IELTS.

Selain itu, bulan ini juga saya ikutan proyek postcrossing sama beberapa teman blogger. Nanti kapan-kapan diceritain lebih detail, deh…

MARCH’S SERIES/MOVIES

Di bulan Maret saya nggak terlalu banyak nonton. Bisa dibilang sehari paling satu episode aja. Dan yah… namanya aja dorama Jepang, satu episode-nya nggak sampai satu jam. Hahaha.

  • Shitteru Waifu (Familiar Wife 2021)

Dorama remake dari drama Korea berjudul sama. Saya sudah nonton versi Korea-nya. Untuk tema yang mirip, sejujurnya lebih suka Go Back Couple. Tapi untuk drakor vs doramanya, sejujurnya, sama seperti kebanyakan dorama yang kurang cocok dijadikan drakor, drakor dijadikan dorama pun kayak ada yang kurang gitu. Kecuali untuk Good Doctor dan The Good Wife, saya lebih suka versi originalnya.

File:FamiliarWife-JPD-p1.jpg
Shitteru Wife, Familiar Wife versi Jepang (pict source)

Mungkin karena ada gap budaya, jadi saat versi adaptasi tidak menyesuaikan dengan budaya setempat, malah dibuat terlalu mendekati dengan serial asalnya. Jadi terasa kurang realistis.

Contohnya di serial ini. Seperti kita ketahui, stereotype-nya orang Korea itu straightforward, sedangkan orang Jepang lebih reserved dalam mengungkapkan emosinya. Sehingga, adegan istri marah-marah dengan teriak-teriak DI TEMPAT UMUM itu, agak kurang realistis di Jepang. Kalau di rumah masing-masing, who knows, ya… tapi ini di tempat umum, lho… Bisa-bisa dipanggil satpam/polisi terus diusir keluar. πŸ˜…

  • Nijiiro Karute (Rainbow Chart)

Dorama ini berkisah tentang Kureno Masora, seorang dokter muda yang sangat menyukai pekerjaannya sebagai dokter di sebuah rumah sakit besar di Tokyo. Pada suatu hari, dia collapsed di ruang ICU dan setelah diperiksa, ternyata Masora-sensei kena penyakit pelemahan otot yang tidak bisa disembuhkan dan membuatnya tidak boleh kelelahan, sehingga terpaksa (dipaksa, sih lebih tepatnya πŸ™) berhenti dari RS tersebut.

Nijiiro_Karte-P1.jpg (753Γ—1066)
Nijiiro Karute (pict source)

Masora yang kebingungan bagaimana harus membayar student loan dan menghidupi dirinya sendiri, bertemu dengan Kepala Desa Niji no Mura (atau kita sebut saja Kampung Pelangi, karena niji itu artinya pelangi, dan mura itu artinya desa/kampung) yang sedang mencari dokter untuk melayani warga Kampung Pelangi ini. Masora mencoba melamar, sayangnya dia berbohong dengan menuliskan di form lamaran bahwa dia tidak memiliki masalah kesehatan.

Dorama ini tipe dorama yang menghangatkan. Warga Kampung Pelangi itu kampung yang guyub, orang-orangnya rame (padahal populasinya sangat sedikit), saling membantu tapi tidak reseh, bikin yang nonton jadi pengen tinggal di Kampung Pelangi aja, deh…

Dorama-dorama seperti ini yang bikin saya ‘terjebak’ pengen melanjutkan kuliah di Jepang dulu. Karena saya jadi mikir, ini orang-orang Jepang despite of sisi nyebelinnya sebagai manusia, kenapa pada tulus dan bersih-bersih banget hatinya… >,>

Padahal kenyataannya, ya sama aja namanya manusia, mah… Nggak mungkin 100% baik dan nggak mungkin juga 100% jahat. πŸ˜…

Oiya, yang bikin dorama ini menarik juga, karena dr. Masora ini walaupun penyakitan dan tokoh utama di sini, tapi dia juga punya sisi nyebelin. Jadi nggak melulu rendah diri dan nggak enakan karena penyakitnya. Bikin doramanya jadi kocak dan lebih hidup.

  • Izakaya Bottakuri

Kalau ini dorama tentang makanan (dan sake) di Netflix. Agak mirip Midnight Diner, dengan background sedikit berbeda.

Izakaya Bottakuri | Netflix
Izakaya Bottakuri (Pict source: Netflix)

Karena Izakaya (居酒屋) itu secara literasi artinya rumah minum, maka satu sampai tiga jenis sake juga dibahas di tiap episodenya. Mulai dari asal daerah, history, sampai filosofinya. Meskipun saya nggak minum sake, tapi cukup menarik juga menonton pembahasan tentang sake ini.

Ternyata budaya minum sake di Jepang nggak melulu tentang mabuk-mabukan, tapi juga tentang budaya kodawari (pickiness) yang tumbuh demi menghasilkan produk terbaik menurut standard si pembuat.

Kapan-kapan kita bahas budaya kodawari ini, ya… *kalau ingat dan kalau sempat πŸ˜›*

  • Parallel World Love Story

Ini film yang saya tonton gara-gara Tamamori Yuta di Oh! My Boss!

Ceritanya sendiri tentang Takashi Tsuruga (Tamamori Yuta) yang bersahabat dengan Tomohiko Miwa (Sometani Shota). Pada suatu hari, Tomohiko memperkenalkan pacar barunya Mayuko (Yoshioka Riho) pada Takashi. Keesokan harinya, Takashi bangun di dunia yang berbeda, dengan Mayuko sebagai kekasihnya.

File:Parallel World Love Story-P1.jpg
Parallel World Love Story (pict source)

Film ini alurnya agak lambat, dengan scene bolak-balik antara dunia di mana Mayuko adalah pacar Tomohiko dengan dunia Mayuko adalah pacar Takashi.

Agak membingungkan, tapi lumayan seru, kok, misterinya.

MARCH’S BOOKS

Di bulan Maret, saya juga hanya bisa menyelesaikan empat buku. Apa dibikin benchmark aja, ya? Minimal sebulan empat buku, gitu… πŸ˜›

  • Rumah Lebah

Baca ini gara mba Jane dan Lia membahas di postingan JanexLia. Kalau mau baca ulasan lengkapnya, monggo meluncur ke postingan ini. *dasar Hicha pemalas πŸ™ˆ*

Rumah Lebah by Ruwi Meita

Buku ini baguuus. Misterinya kadang bikin bulu kuduk merinding. Alurnya juga smooth, meskipun ada pertanyaan yang belum terjawab sampai akhir. Entah mungkin sudah terjawab secara implicit, tapi sayanya nggak ngeh, atau bisa juga mungkin memang sengaja dibiarkan demikian oleh penulisnya.

Karena sebelumnya pernah baca buku setipe, jadi sedikit banyak saya sudah bisa menebak pelakunya. Tapi karena ceritanya mengalir dengan enak, tetap nggak bisa lepas, dan cukup sehari buat nyelesaiin novel ini.

  • My Bittersweet Wedding

Lihat novel ini di GD recommendation, tertarik baca karena yah… namanya pernikahan itu memang kayaknya nggak melulu sweet, ya… Jadi saya pengen baca, siapa tau ada pelajaran pernikahan yang bisa diambil gitu, kan…

My Bittersweet Marriage by Ika Vihara

Ceritanya sendiri tentang Hessa yang menikah dengan Afnan setelah dikenalkan kedua orang tua mereka yang bersahabat. Sayangnya, Afnan ini posisinya di kota Aarhus, Denmark. Jadi setelah menikah, Hessa yang seumur hidupnya selama 27 tahun tinggal bersama orang tuanya, harus meninggalkan rumah, keluarga, dan pekerjaannya di Jakarta untuk mengikuti Afnan ke Aarhus.

Jadi bagian bitter di novel ini secara garis besar karena Hessa yang sering homesick.

Sebagai manusia yang sudah jadi anak kos selama hampir 20 tahun, saya agak kurang relate dengan Hessa. Jadi kurang bisa bersimpati dan lebih sering merasa kalau Hessa ini lebayatun.πŸ˜› Makanya, saya butuh seminggu lebih buat nyelesaiin buku ini.πŸ˜…

Tapi, bagi perempuan-perempuan di luar sana yang ceritanya mirip dengan Hessa, mungkin akan cocok baca buku ini dan merasa ada temannya.

  • Buku Sahabat Mahasiswa
Buku Sahabat Mahasiswa

Kalau ini buku kumpulan tulisan pengalaman beberapa mahasiswa yang (saat itu) sedang tinggal di Jepang. Buku ini saya pinjam dari salah satu penulisnya yang kebetulan juga menuliskan ulasannya di blognya.

  • Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

Buku ini adalah buku terakhir yang selesai saya baca di bulan Maret. Terkenal sebagai buku yang kontroversial di tanah penulisnya. Sampai kalau ada idol atau public figure yang menyebutkan tentang buku ini langsung di-dissed sama KNetz yang jempolnya terkenal nggak kalah ‘kejam’ dibandingkan dengan netijen +62.

Kim Ji-yeong Lahir 1982

Meskipun begitu, buku ini sudah difilmkan. Sayangnya, saya belum sempat nonton. Hehehe.

Membaca buku ini seperti membaca novel semi-dokumenter, karena ada banyak citation berupa data statistik yang mendukung tulisan pada novel tersebut.

Cukup membuka pandangan saya tentang budaya patriarkis di Korea.

Kurangnya, bagi saya, mungkin cuma satu. Alurnya cenderung datar tanpa adanya klimaks. Endingnya pun dibuat terbuka. Mungkin sebagai tanda bahwa perjalanan memperjuangkan gender equality yang masih panjang. Tidak hanya di Korea saja, tapi juga di seluruh dunia.

GLOBAL MATTERS

Di bulan ini, despite of segala kontroversinya, alhamdulillah sudah semakin banyak yang divaksin (tapi saya belum termasuk πŸ™‚).

Kemudian, pengesahan paid leave untuk miscarriage dan stillbirth di NZ juga cukup bikin TL Twitter saya rame. Lebih ramenya lagi karena abis itu dikait-kaitkan dengan white supremacy. Yaelah dah warga Twitter, semua adaaaaa aja salahnya. Wkwkwk.

CLOSURE

Baiklah, karena sudah terlalu panjang, mari kita akhiri postingan ini sampai di sini.

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan~

Semoga amal-ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.

Sampai jumpa di postingan berikutnya~πŸ€—

Author:

To many special things to talk about... =p

16 thoughts on “2021 March Wrapped-up

    1. Hayuuukk…

      Hahaha. Iya, nih… ide tulisan banyak, tapi pas eksekusi, sering tetiba ilang arah di tengah2. wkwk

  1. Hi Kak Hichaaa, pantas aja baru kelihatan batang hidungnya 🀣. Bulan ini masih sibuk atau udah lebih lenggang?
    Hiahaha ada yang ketularan baca Rumah Lebah nih πŸ™ˆ, seru ya bukunya Kak! Aku juga bacanya termasuk cepat terus banyak pertanyaan-pertanyaan menggantung sehabis baca bukunya, kayaknya sengaja dibiarkan penuh misteri oleh sang penulis #soktau
    Aku juga baru selesai baca Kim Ji Yeong di bulan Maret kemarin πŸ™ˆ filmnya juga belum nonton tapi katanya agak beda sama bukunya, mungkin kalau terlalu ngikutin buku jadi terlalu datar kali ya ceritanya makanya dibedain πŸ˜‚
    Btw, selamat menunaikan ibadah puasa, semoga lancar puasanya Kak Hicha πŸ™πŸ»

    1. Hi, peri kecil…
      Bulan ini pun tak ada bedanya sm bulan yg lalu 🀣

      Iya, nih… jadi penasaran sama bukunya Ruwi Meita yang lain. Tapi masih ada buku yang belum kelar dibaca. Plus, lagi belum pengen baca misteri2 πŸ˜†

      Iya, nih… kalau sama banget sm novel, bingung juga itu, bakal datar terus dong alurnya wkwk

      Makasih, Lia… πŸ˜ŠπŸ™

  2. wah, sama! Maret kemarin blog sempet ngga terurus!

    soal Bahasa Inggris ini, salah satu cara untuk melancarkan memang harus sering bercaka-cakap. ini salah satu kekurangan kita, saat ngomong pake Bahasa Inggris di sehari-hari, sering diledek.

    aku juga sebenarnya ngga gitu bagus bahasa Inggrisnya, tapi karena “terpaksa” akhirnya ya lama-lama “terbiasa”.

    semoga sukses IELTS-nya, mbak!

    1. Emang mesti nguat2in kuping dari ledekan ya, kalau mau lancar berbahasa asing, tuh… πŸ˜…

      Makasih, mas Zam…
      Tapi belum ada rencana ambil IELTS, emang saat ini cuma pengen nyari kelas speaking aja. Kebetulan yg lagi dibuka dan masuk budget itu kelas IELTSπŸ˜†

  3. Wahh maret Mba Hicha luar biasa dan produktif sekali..

    Mba makasih lohh udh share ini.. wkkw. Aku jadi Tau kalau ada online course bahasa inggris yg mumpuni kaya gini.. wkwkwπŸ˜… baru tau soalnya. *dasar udik emnk anaknya..*

    Wow Rumah Lebah ya.. belum smpat beli yg ini.. ntar deh.. sepertinya seruu.. 😁
    Sukses mba buat Bulan Aprilnya.

    1. Masa, sih? πŸ˜†

      Tentu saja the power of google 🀣
      Ada di GD kok, mas…

      Thanks, mas bayu…
      Sukses juga buat mas bayu 😊

  4. Mba, sebulan 4 buku udh lumayan lah, kayak aku :D. Hahahaha. 1 Minggu 1 buku. Dulu zaman sekolah aku bisa ngabisin 1 buku 2-3 hari. Tapi skr ampuuuuun, ga bisa :p. Jd buatku seminggu 1 buku udh cukuplah.

    Eh itu dorama yg Izakaya, aku mau nonton ah, setelah midnight Diner tamat. Keracun juga jadinya gara2 eya nih :D. Apalagi ttg kuliner Jepang hahahaha. Favoritku bangetttt .

    1. Iya ya, kak? Aku dulu harpot yg order of phoenix ga perlu sehari kelar soalnya… sekarang, buku 100an halaman bisa seharian. Apakah nambah umur, jadi lebih sulit fokus dan gampang terdistraksi? πŸ€£πŸ™ˆ

      Izakaya ini ceritanya lebih selow dari Midnight Diner. Ga ada masalah yg bikin pusing, episodenya juga lebih sedikit ☺️

  5. Ah seperti biasa… bukan kak Hicha namanya kalo gak nonton serial dorama hehe.

    Jadi, Rumah lebah sudah tuntas ya kak. Apakah bulan ini akan lanjut baca karya Ruwi meita yang lain?? 😁

    1. Hahaha… jadi malu… πŸ™ˆ

      Bulan ini belum kepikiran, sih…
      Ada rekomendasi novel Ruwi Meita yang seru kah, Reka? 😊

      1. Yang seru ya…. misteri patung garam kak, tapi sayangnya buku ini gak dibuat versi ebook dan buku fisiknya udah terbatas :’((

        Mungkin kak Hicha bisa coba yang judulnya Belenggu ilse😁

  6. aku selalu nggak apdet listdrakor, kalau ada yang review drakor selama ini, bisa membantu aku buat nentuin juga, drakor apa yang uapik
    cerah.co ini baru tau aku mbak, ehhh dan langsung aku kepoin hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s