Posted in Experience, Learning or Studying

Review Online Learning Platform

Salah satu yang saya syukuri dari hidup ini adalah saya hampir tidak pernah menyesal dengan semua yang pernah saya lakukan di masa lalu. Kalaupun ternyata keputusan saya untuk melakukan sesuatu itu berakhir kegagalan, toh setidaknya dengan mencobanya sudah satu langkah lebih maju daripada tidak melakukannya sama sekali.

Untuk hal-hal yang saya putuskan tidak dilakukan pun, alhamdulillah juga sepertinya tidak (dan semoga jangan pernah) menyesalinya. Terutama dalam hal berbelanja barang. Pokoknya lebih baik nyesal nggak beli daripada nyesal membeli.

Karena kalau udah kadung beli barang, udah kadung keluar duit, harus effort buat menyediakan tempat menyimpannya pula. Kalau nggak beli, kan, uang aman, nanti-nanti juga bakal lupa… Kecuali kalau nggak lupa-lupa juga, bisa jadi itu sebenarnya bukan keinginan, tapi kebutuhan. Huahahaha.

Tapi, kalau memang harus mengulang satu hal di masa lalu, maka jawabannya saya mau belajar yang banyaaaaak. Mau berusaha mencintai dan menikmati proses belajar. Karena sungguh, rajin dan cerdas dalam belajar itu jauuuuh lebih keren daripada dapat nilai bagus tanpa belajar.

Maklum, ya… pas masih bocah, rasanya kok kewl aja gitu nggak belajar tapi juara kelas. 🙈

Saat masih ada yang guru atau dosen yang ngajarin, yah, masih bisa lah menikmati gaya hidup sibuk main dan berkegiatan ini-itu tapi nilai nggak jelek-jelek amat. Pas persiapan ujian masuk S2, baru deh saya kelimpungan dan tersadar kalau saya nggak pinter-pinter amat. Kemampuan saya jauuuuuh di bawah teman-teman se-lab yang barengan ikut ujian saat itu. Padahal mereka lebih muda beberapa tahun dari saya.

Sebenarnya mereka pada baik-baik, sih… kalau minta diajarin, bahkan lagi sibuk banget sekalipun, mereka dengan sukarela ngajarin. Dan saya kalau dibaikin gitu tentu saja jadi malah nggak enakan. Apalagi waktu itu saya berada di fase ‘nggak ngerti apa yang saya nggak ngerti’. Kan bingung juga gimana minta ajarinnya.

Dari situlah, akhirnya saya mulai mencoba untuk belajar. Di saat usia sudah lewat seperempat abad. Better late than never, huh? Dan tentu saja, jauuuuuh lebih susah daripada jika sudah kenal nikmatnya belajar sejak kecil.

*hayo, coba hitung ada berapa u dalam kata ‘jauuuuh’ yang sudah muncul sampai paragraf ini? 😝*

Untungnya, sejak memasuki abad 21, perkembangan informasi sudah sangat bagus, sampai ke level semua ada dalam genggaman tangan. Termasuk di antaranya learning platform.

Ya ampuuun… pembukanya aja udah sepanjang ini, dong…🤣

Sebelum keterusan curcol, berikut beberapa learning platform yang pernah saya coba, sejak usia 25 tahun. Usia di mana katanya mulai memasuki quarter life crisis, yang di saya jatuhnya entrance exam crisis 😂

(klik nama platform untuk langsung menuju ke website-nya)

Khan Academy

Ini platform online learning yang pertama kali saya kenal. Ketemu setelah iseng-iseng googling sekitar tahun 2012-2013. Platform belajar yang dikembangkan oleh organisasi non-profit yang didirikan oleh Sal Khan pada tahun 2006 ini, saat saya pertama kali menggunakannya, memiliki konten yang mencakup sains dan sosial.

Untuk sains sendiri, cakupannya terutama Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan Computer Science & Programming. Sedangkan untuk ilmu sosial ada Art & Humanities dan Economics.

Sekarang juga ditambahkan Reading and Language Art dan Life Skill yang pada saat pertama kali saya kenal Khan Academy, sepertinya belum ada atau mungkin bisa jadi cuma nggak ngeh aja kalau ada. ✌

Di sini materi-materi yang diberikan cukup detil. Hanya saja masih terbatas pada level sangat dasar dan teoritis. Pengguna juga hanya bisa memilih maksimal 9 grup modul pembelajaran yang ingin dipelajari.

Bagus, sih… membuat kita jadi harus fokus dan nggak loncat-loncat pengen belajar ini-itu, tapi jadinya cuma sebatas bagian intro-nya saja *kayak siapa, tuh? 😝🙈*

Tampilan UI/UX baik di web maupun di aplikasinya juga cukup mudah dimengerti dan digunakan. Media utamanya berbentuk video Youtube berbahasa Inggris dengan subtitles dan transkrip yang disediakan di bawahnya. Meskipun berbahasa Inggris, subtitles-nya ada dalam bahasa Indonesia juga, kok… 😊

Pada setiap chapter, disediakan juga tips dan challenge/quiz yang berhubungan dengan materi pada chapter tersebut. Durasi per video juga cukup pendek, antara 2-5 menit.

Tampilan video materi di web Khan Academy
Tampilan di aplikasi Khan Academy

Kalau ditanya kekurangannya, selain tidak semua modul ada di aplikasinya (sebagian besar masih di platform web-nya), Khan Academy juga masih fokus pada konsep dasar. Sehingga, modul practical skill untuk pengguna dewasa yang dapat digunakan di dunia kerja masih sangat terbatas. Meskipun begitu, platform ini sangat bagus untuk pelajar, khususnya di bidang sains. Rentang materi Matematikanya bahkan tersedia untuk tingkat Pre-K.

Sistem point dan badge yang bisa didapatkan dan dikumpulkan dengan mengikuti tiap modulnya, juga bisa bikin pengguna, terutama anak sekolahan, jadi tambah semangat.

Untuk platform gratisan dan hanya bergantung pada donasi, saya salut dengan komitmen dan kerja keras tim pembuat Khan Academy ini, karena sangat membantu pelajar yang ingin belajar secara mandiri.

Coursera

Kalau di Khan Academy kita bisa belajar hal sangat basic bahkan sampai ke tingkat pra sekolah dasar, course yang ada di Coursera lebih diperuntukkan untuk tingkat SMA ke atas. Materi-materinya juga lebih mendalam. Tentu saja ada quiz atau assessment di setiap akhir chapter dari satu course.

Pengajarnya juga profesional di bidang yang diajarkan dan pada beberapa kelas terdapat assessment berbentuk project dengan sistem peer-to-peer correction. Jadi benar-benar mirip di kelas perkuliahan. Tambahan lagi, kita bisa dapat sertifikat kalau menyelesaikan satu course.

Tampilan aplikasi Coursera. Belum kelar karena free cuma di intro-nya saja. Chapter selanjutnya berbayar.

Tak hanya itu, di sini juga tersedia full class untuk tingkat bachelor dan master dari beberapa universitas di US dan Eropa.

Sayangnya, tidak semua free class. Terutama untuk level degree dan professional certificate, kita harus membeli course-nya dengan biaya yang tidak murah. Sebagai contoh, kelas Master of Computer and Information Technology di Penn Univ. dihargai mulai 2500 USD/course, atau 25000 USD++ (plus tambahan fee setiap course mulai 135 USD/course) untuk total 10 course yang ditawarkan. Hampir setengah milyar rupiah juga itu… *menangiss*

Mungkin tetap lebih murah daripada mengambil enroll langsung di sana. Belum lagi dengan biaya hidup yang beberapa kali lebih mahal dari pada di Indonesia. Tapi, kalau sampai ratusan juta, ya PR juga nyari duitnya di mana. *dilema kelas menengah*

Saya sendiri pernah mengambil beberapa kelas di sini. Tapi yang selesai cuma Introduction to Calculus doang. Itu juga kelas yang harusnya kelar 3 bulan, di saya molor jadi 6 bulan, dong… 🙈

Oh iya, satu lagi kurang enaknya kelas di sini tuh, mungkin karena ada assignment peer-to-peer jadi kebanyakan kelas hanya dibuka pada rentang waktu tertentu, selayaknya term di perkuliahan. Bisa sih, kita minta perpanjangan waktu, tapi ya tetap saja akhirnya dibatasi deadline.

Kalau tidak diperpanjang, otomatis nggak bisa ikut kelasnya lagi. Jadi mesti enroll pada term selanjutnya yang kadang kelasnya nggak dibuka. 🙁

Udemy

Kalau di dua platform sebelumnya, metode pengajarannya lebih mirip dengan kelas di sekolah atau kampus, di platform yang satu ini kita bisa menambah skill dalam bidang tertentu dari para expert yang jadi instrukturnya.

Bentuknya juga video tutorial, tapi materinya lebih praktikal, mungkin harapannya murid-murid bisa langsung mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di dunia kerja. Makanya di sini kebanyakan materi yang ditawarkan dalam bidang desain, IT, bisnis, finansial, bahkan sampai musik juga ada.

Tampilan halaman featured di aplikasi Udemy. Bisa dilihat, ada kelas belajar gitar versi komplit level beginner sampai advanced. Sayang, mihil ya cyiin 😭

Selain itu, kita tidak hanya bisa jadi murid, kalau sudah merasa expert, jadi pengajar juga bisa. Asal mau usaha buat membangun kelasnya sendiri aja.

Saat ini tercatat ada sekitar 70.000 pengajar dari berbagai negara. Tentu saja pengajarnya tidak hanya English native speaker aja. Ada lebih dari 65 bahasa yang ditawarkan dari pengajar-pengajar tersebut.

Kita sebagai murid bisa memberikan rating untuk kelas yang diikuti dan memilih kelas berdasarkan rating-nya. Jadi meskipun siapa saja bisa membuat kelasnya sendiri, pada akhirnya rating juga yang akan berbicara.

Untuk kelas-kelas professional skill, sebagian besar berbayar mulai dari USD 20 per kelas untuk diakses seumur hidup. Kalau lagi promo bisa turun jadi USD 10 per kelasnya.

Kenapa berbayar? Yah, membangun kelas itu, kan, nggak gampang, ya… belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk belajar dan practice biar jadi expert. Jadi harga segitu sebenarnya masih terjangkau dan menghemat waktu dibandingkan explore di google kemudian belajar sendiri.

Apalagi buat yang kemampuan belajar mandirinya rendah seperti saya.😛

Kadang, kalau pengajarnya niat, kelasnya juga di-update sesuai dengan perkembangan teknologi terbaru. Misalnya kelas tentang Adobe Photoshop, bisa jadi dengan dirilisnya versi terbarunya, video-video di kelas tersebut juga menyesuaikan dengan versi terbaru.

Saya sendiri pernah purchased dua kelas di sini. Dua-duanya tentang web, tapi yang satu lebih ke coding, yang satunya lagi lebih ke praktik langsung membangun web sederhana dan belum responsive. Dan dua-duanya saat itu sedang diskon jadi 20% harga normal. Tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. 😝

Untuk kelas yang pertama, sudah diupdate sama pengajarnya, sedangkan yang kedua sampai saat ini sih, masih sama seperti saat saya beli beberapa tahun yang lalu.

LinkedIn Learning

Kalau ketiga platform sebelumnya adalah platform yang berdiri sendiri, sesuai namanya LinkedIn Learning (atau kita sebut LL aja, biar nggak kepanjangan ngetiknya 😝) ini berafiliasi dengan LinkedIn. Jadi dengan menjadi anggota premium LinkedIn, kita bisa ikut mengakses LL.

Platform belajar ini dulunya bernama Lynda.com, tapi kemudian diakuisisi LinkedIn sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Dari segi materi yang ditawarkan, LL ini lebih mirip Udemy daripada Coursera atau Khan Academy, yaitu berfokus pada kelas-kelas dengan materi practical skill yang bisa diaplikasikan dalam dunia kerja.

Hanya saja, untuk profesionalitas dan konsistensi kualitas materi, LL lebih superior dari Udemy karena menawarkan kelas-kelas yang dipegang para profesional terpilih. Berbeda dengan Udemy yang kelasnya bisa dibuat oleh siapa saja, selama dia merasa punya kemampuan di bidangnya. Sayangnya, karena penyeragaman kualitas tersebut, jumlah kelas yang ditawarkan LL juga jauh lebih sedikit dibandingkan Udemy.

Untuk harga, karena LL ini sudah menjadi bagian dari LinkedIn, maka dengan membayar keanggotaan premium di LinkedIn mulai dari USD 29.99 per bulan (atau USD 239.88 per tahun), kita sudah bisa menikmati semua kelas yang ditawarkan di sini.

Di sini juga kita bisa mendapatkan sertifikat setelah menyelesaikan satu course, dan (kalau mau) bisa dimasukkan ke profil LinkedIn juga.

Tampilan di aplikasi LinkedIn Learning. Kalau sudah menyelesaikan satu course, bisa dimasukkan ke profil LinkedIn

Satu feature yang saya juga suka, LL ini menyediakan Learning Path, untuk bidang tertentu. Jadi kita seperti dibimbing mempelajari sesuatu mulai dari pengenalan sampai ke jenjang yang menjadi goal utama kita. Misalnya untuk Full Stack Developer, Learning Path yang ditawarkan mulai dari belajar HTML sampai ke performance testing.


Nah, lebih kurang segitu dulu review yang bisa saya berikan. Sebenarnya masih ada (banyak) platform belajar lainnya. Tapi either saya belum mencobanya, atau bisa juga karena platform tersebut khusus membahas satu bidang saja, seperti coding saja, web developer saja, atau UI/UX design saja. Jadi tidak saya masukkan ke sini, deh… *udah kepanjangan juga postingan ini mah…😀*

Kalau ada yang ada rekomendasi lainnya, boleh banget ditambahkan, lho… Ditunggu di kolom komentar, ya… 😊

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan berikutnya~ 💖

Author:

To many special things to talk about... =p

16 thoughts on “Review Online Learning Platform

  1. Baru sekali rasanya saya belajar di platform begini. Dibayari kantor untuk belajar di Udemy, materinya tentang technical documentation.
    Kalo yang bayar sendiri dan dari lokal Indonesia, lebih banyak ‘manual’-nya. Pakai zoom, rekaman video, tugas online, WhatsApp Group, dst.

    1. Oh iyaa… kalau versi satu field tertentu aja dan khusus berbahasa Indonesia, banyak yg berbentuk webinar dan kulwap gitu, ya…

      Saya jarang nyobain yang metodenya Live kayak webinar gitu. Pengennya belajar dgn pace sendiri aja 😅

    2. Wow… aku malah jadi pengen nyoba Khan Academy karena free.. wkwk
      Tapi LL sepertinya lebih menarik ya Mba. Karena sistem payrollnya nganut sistem berlangganan untuk akses ke semua learning..

      Kalau aku, baru dnger ke empatnya yah baru skrang… Learning platform yg baru diikutin yah zoom itu.. haha.😅
      Tapi dlu smpat ikut bootcamp ttg gambar2 yg diadain sama salah satu selebgram. Feenya 30 dollar dan pesertanya dibatasin 60 orang yg dibagi jadi 3 grup. Jadi tetap bisa fokus. Keren sih sama pembahasannya. Yah walaupun komunikasi pke Bahasa Inggris yg kadang bikin bingung. Haha.

      Btw, keren banget Mba Hicha.. aku hanya bisa berWow2 baca ini.. 😆

      Mba hicha udah beres S2nya? Kerenn beud. Salah satu impian aku kepengen kuliah smpe jenjang ini. Doain ya Mba moga yg S1 ini lancar smpe lulus. Wkwk.

  2. Serem amat Hicha bacaannya.. Gue mah terus terang ga sanggup dah belajar lewat online. Saya lebih suka membaca dan kemudian utak atik sendiri.. Hahahaha

    Hadeeuh.. tapi salut deh sama semangat belajarnya. Hebat…

  3. Wow… aku malah jadi pengen nyoba Khan Academy karena free.. wkwk
    Tapi LL sepertinya lebih menarik ya Mba. Karena sistem payrollnya nganut sistem berlangganan untuk akses ke semua learning..

    Kalau aku, baru dnger ke empatnya yah baru skrang… Learning platform yg baru diikutin yah zoom itu.. haha.😅
    Tapi dlu smpat ikut bootcamp ttg gambar2 yg diadain sama salah satu selebgram. Feenya 30 dollar dan pesertanya dibatasin 60 orang yg dibagi jadi 3 grup. Jadi tetap bisa fokus. Keren sih sama pembahasannya. Yah walaupun komunikasi pke Bahasa Inggris yg kadang bikin bingung. Haha.

    Btw, keren banget Mba Hicha.. aku hanya bisa berWow2 baca ini.. 😆

    Mba hicha udah beres S2nya? Kerenn beud. Salah satu impian aku kepengen kuliah smpe jenjang ini. Doain ya Mba moga yg S1 ini lancar smpe lulus. Wkwk.

    1. Iya, mas Bayu. Apalagi kalau lebih lengkap dan practicable, udahlah yang lain ga bakal dilirik kayaknya 😆

      Oh iya, kalau yang kayak bootcamp gitu biasanya lebih spesifik bahasannya, limited waktu dan pesertanya juga. Jadi bikin lebih fokus dan sungguh-sungguh. Kalau yang begitu aku pernahnya nyobain webinar dengan zoom atau kulwap. Tapi milih2 banget dari segi pengisi materi, waktu, dan biayanya. Ogah rugi, gitu lhoh… wkwk.

      Aamiin… semoga dilancarkan dan dimudahkan jalannya, ya… 😉

  4. Wah, selama ini tari malah belum pernah belajar lewat online sudah memahami apa yang disampaikan oleh yang menjelaskan materi online tersebut lebih mudah belajar langsung .

    1. Iya, mba… memang lebih enak langsung sih sebenarnya. Tapi, karena keterbatasan waktu, plus saat ini lagi pandemi juga, jadi belajar online biar lebih memudahkan dalam kondisi keterbatasan saja 😉

  5. aku baru denger yang Khan Academy ini.
    sekarang banyak pilihan buat belajar online, aku sendiri kadang bingung kalau liat iklan iklan yang isi kelasnya materinya pada bagus-bagus.rasanya kayak pengen diikuti aja gitu semuanya

    1. Hahaha
      Iya, mas… preference orang mah beda2, ya… 😆

      Kalau bisa dibalikin pun, aku ttp bakal mikir berkali2 buat beli barang, terutama yg gede atau yg mahal. Tetap harus mengeluarkan energi dan meluangkan waktu. Anaknya mageran soalnya 😅🙈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s