Posted in MindTalk

Berprogress, Berproses

Ada sebuah hadits, yang meskipun sanad-nya dhoif, tapi kadang bisa jadi motivasi kalau lagi nggak semangat.

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia termasuk orang yang celaka.”

Yah… namanya aja manusia, kan, ya… kayaknya susah banget kalau tiap hari grafik kualitas dirinya harus naik terus. Pasti ada hari-hari yang terasa biasa-biasa aja, atau malah lebih buruk dari hari kemarin. Tapi, kalau pas lagi bad day dan pas pula teringat hadits tersebut, saya berusaha buat paling nggak ada satu hal aja yang bisa lebih baik dari kemarin. Hal kecil se-simple makan malam yang lebih bergizi dari malam sebelumnya, atau tidur lebih cepat dari malam sebelumnya. Maklum, sini orangnya temenan deket sama begadang. Tapi nggak sampe pagi, kok… *eaa, ngeles is a must 🤪*

Kebetulan beberapa hari yang lalu ada tantangan dari mba Eno tentang improvement, baik itu pengembangan diri maupun skill.

Saya sendiri kepikiran tentang berprogress dan berproses dalam hal konsistensi dan empati.

Manusia sendiri sebenarnya selalu berprogress dan berproses. Sebelum mencapai usia dewasa, kita bisa berprogres, minimal dari sisi akademis. Selalu ada hal-hal baru yang kita pelajari. Yang sebelumnya nggak pernah nyentuh tambah-kurang-kali-bagi, tau-tau sudah berhadapan dengan aljabar. Yang saat balita belum pernah dengar tentang Majapahit, tau-tau sudah bertualang bersama Napoleon dan Marie Antoinette. Masih belum kenal siapa mereka, sih… maklum, nggak sempat kenalan… 😝

Mungkin saat itu kita nggak sadar, bahkan mungkin malah menganggap pelajaran-pelajaran di sekolah hanyalah beban. Iya, kan? Iya, kan? Jangan bilang cuma saya doang yang begitu?😅 Tapi, kalau dipikir-pikir, masa sekolah adalah masa paling signifikan dalam pertambahan ilmu dan kemampuan.

Dulu tuh sebenarnya udah sering banget denger nasehat-nasehat orang dewasa, entah itu guru maupun orang tua. Belajar itu untuk mencari ilmu, bukan hanya mencari nilai.

Bener, sih… tapi, kan yang tampak oleh mata itu kan nilai, ya… Jadi belajar untuk nilai itu seperti sudah datang dari alam bawah sadar! 🤪.

Setelah dewasa barulah saya mengerti arti sebenarnya dari belajar untuk mencari ilmu. Telat banget, karena saya jadi struggling sendiri dalam ‘menikmati’ proses belajar tersebut. Yang ngantuk pas lagi baca jurnal lah, penelitian mentok nggak nemu-nemu jawabannya lah, atau sekadar ‘berantem’ sama pak guru yang hari ini maunya begini, kemarin maunya begitu, besok berubah lagi jadi begitu. Jangan-jangan pak guru sendiri nggak tau apa yang dimau? *lho?*

Back to belajar, untuk hal-hal yang baru sih, saat baru mulai memang rasanya seruuu…

Tapi, setelah 3-4 kali, seriiing banget mulai merasa bosan. 😭

Maka dari itu, PR utama saya saat ini adalah menjaga konsistensi.

Masing-masing dari kita terlahir dengan privilese-nya sendiri-sendiri. Ada yang memiliki privilese yang jadi standar sosial, seperti nama belakang, kedudukan, dan kecantikan (hi there! Beauty privilege!). Ada juga yang memiliki privilese karakter-karakter yang bisa dijadikan modal untuk melangkah lebih maju, seperti bersikap konsisten.

Ya, konsistensi ini ada yang udah punya karena memang ‘bawaan orok’, lho… Pemiliknya betah melakukan hal yang sama, terus-menerus sampai tujuannya tercapai. Sayangnya kadang yang punya nggak nyadar, malah sibuk merutuki hal yang tidak dimiliki. Kan, sayang banget potensinya jadi nggak digunakan maksimal 🙁

Dan untuk sikap konsisten, sayangnya saya bukan salah satu pemiliknya. 🙈

Tapi, seperti privilese-privilese lainnya, semua bisa diusahakan. Bisa dengan membuat goal lengkap dengan perencanaannya, bisa juga dengan memaksakan diri untuk disiplin dengan plan yang dibuat meskipun bosan melanda. Belum tau juga di saya apa yang paling efektif. Kan saya masih belajar buat jadi konsisten… 😬

Karena itu kalau ada yang tau tips dan trik biar jadi konsisten, boleh banget lho saya dibisikin… 😉

Selain itu, satu hal lagi yang juga masih harus saya pelajari, yaitu bersikap empathetic. Bagi beberapa orang, bersikap empatik bukan hal yang sulit. Apalagi perempuan yang stereotipnya lebih dominan perasaan. Sayangnya, sejujurnya saya masih sulit membedakan kapan saya harus bersikap empatik, kapan saya boleh pasang sikap default saya yang cuek ini.

Tapi sejujurnya kadang saya jadi bertanya, kalau saya sampai harus belajar untuk bisa berempati, apakah kemudian sikap empati saya jatuhnya jadi tidak tulus, ya?

Kalau dilihat-lihat lagi, sifat kurang empati ini bisa jadi karena pembawaan saya yang cuek tadi, dan pembawaan ini bisa jadi sebenarnya usaha alam bawah sadar saya untuk menjaga diri saya sendiri. Karena reaksi orang terhadap sikap kita berada di luar kontrol kita, kan ya… Jadi, daripada saya mendapatkan reaksi yang malah menyakiti diri saya sendiri, lebih baik saya cuekin aja. Toh, saat dia butuh saya, dan saya bisa bantu bakal dibantu juga.

Saya nggak tau apakah sifat ini merugikan atau tidak, karena itu tadi, saya nggak tau kapan dan bagaimana harus berempati. Apakah dengan memberi perhatian? Ntar jatuhnya nggak malah mengasihani, tuh? Saya sendiri aja nggak suka dikasihani, masa saya melakukan hal yang tidak saya sukai ke orang lain?

Hmm… baiklah, untuk sikap empatik ini sepertinya saya punya PR dengan to-do list yang panjang. Bahkan dimulai dari mengerti akan arti empati itu sendiri. Hayo, ada yang bisa menjelaskan ke saya, arti empati itu apa? 😁🙏

*eaa… kenapa jadi ribet sendiri, coba? Wkwkwk*

Semoga saja, baik menjadi konsisten maupun bersikap empatik termasuk dalam usaha berproses agar berprogres jadi manusia yang lebih baik. Meskipun untuk hari per hari sepertinya sulit buat literally selalu lebih baik dari hari sebelumnya, tapi semoga grafiknya kalau ditotal dari lahir sampai akhir kehidupan kita berprogres ke arah yang lebih baik, ya… 😊

Author:

To many special things to talk about... =p

20 thoughts on “Berprogress, Berproses

  1. Mba Hicha, hola 😁

    Sama nih mba, soal belajar untuk menuntut ilmu, mungkin karena dulu fokusnya ke-nilai, jadi setelah lulus, ilmunya mental semua, alias nggak menempel sama sekali yaaa hahahaha 😂 Asli deh, ini agak mirip dengan kalimat jangan dihapal tapi dipahami, tapi karena terbiasa menghapal, alhasil setelah dapat nilai, lupa semua. Coba kalau paham, meski nggak hapal, minimal mengerti maksud subjects-nya, kaaan? 🙈

    Well, untuk improving yang ke dua, saya pribadi nggak tau pasti empati itu sebenarnya bagaimana, kalau arti berdasarkan kamus mungkin saya tau, tapi untuk prakteknya susah susah gampang. Bahkan saya sendiri nggak yakin saya ini masuk tipe empati atau cuek seperti mba Hicha 😆 Kalau sudah begitu, hanya ikuti kata hati saja ketika bersikap, semoga minimal kita tau cara bersikap pada tempatnya, mba. Hihihi, kalau nanti mba Hicha sudah tau detail soal empati, mungkin bisa dibahas di blog mba 😍

    Thank you untuk insights-nya, mba 🥳

    1. Iya, mba…
      Kalau lihat anak2 sekarang, apalagi yg sekolahnya di sekolah swasta kota2 besar dgn kurikulum IB atau Montessori tu, berasa banget bedanya. Not only mereka diajari tentang bagaimana caranya belajar, tapi jg tentang bagaimana cara menikmati belajar itu sendiri. Di kita dulu ga mempan, mungkin karena kita lebih ke dikasi tau doang kali ya… jadi masuk kuping kiri keluar kuping kanan 😅

      Nah, itu dia mba, saya juga tau hanya sebatas definisi di kamus 😆
      Iya, mba, mungkin bisa diawali dgn seperti yg mba eno bilang, bersikap pada tempatnya dulu, kali ya…

      Pengen sih mba, dibikin tulisannya kalau suatu saat sudah bisa berempati. Tapi yg nilai seseorang itu empathetic atau tidak itu orang lain kan ya… ntar deh, kalau udah ada yg bilang saya kayak gitu, baru saya pikirin gimana nulisnya *mau nulis aja panjang perjalanannya nih kayaknya 🤣*

  2. Atasanku pernah bilang, empati itu kita coba membayangkan seolah ada di posisinya si penderita. Yang membedakan Ama simpati. Jadi sepertinya empati lebih dalam laah yaaa.

    Konsisten, aku ga ada masalah tentang itu. Aku tipe yg sangaaaaaat sabar dan disiplin soal mencapai tujuan :D. Pokoknya kalo udah ada keinginan, aku bakal stick to the plan, dan konsisten ngejalaninnya sampe target tercapai.

    Tapi empati, aku juga ga terlalu bisa terkadang mba. Apalagi kalo orang yang membutuhkan empati bukan orang yang aku hormati. Rasanya malah dalam hati mau menyukuri. Jadi kalo dipaksa untuk mengucapkan kata2 empati, kok ya kesannya jd ga tulus

    1. Aku ga yakin jg mba, kita bisa bener2 membayangkan berada di posisi orang lain. Karena kita ga pernah tau apa yg ada di pikiran orang lain 🤔

      Wah… I so envy you, mba… aku masih belajar buat konsisten, smp sekarang masih aja naik turun. Heuheu

      Kalau untuk org yg nyebelin sih mungkin emang sulit buat berempati, ya mba… tapi, aku sih lebih milih buat ga peduli aja. “Lu mau seneng, mau sedih, none of my business, yg penting jgn ganggu hidup gw aja pokoknya mah….” gitu kira2 mba. Saking malesnya, smp buang2 energi buat nyukurin dia pun ga rela… wkwkwk

  3. Haii, mbak..
    Aku jg gitu dulu, nasihat yg sering didapat ketika sekolah atau kuliah adalah kalo belajar itu untuk mencari ilmu, bukan nilai doang. Tapi yaaak, namanya anak sekolahan atau anak kuliahan, pasti yg paling utama adalah nilai. Sebab kalo ga gitu, nilai bisa jelek, takut takut ga naik kelas, atau ipk kecil, atau mengulang pelajaran yg sama di tahun depan. Itu sih yg ditakutkan. Maka yaa gitu, fokus ke nilai sajaa. Akhirnya banyak dari kita yg menghalalkan segala macam cara demi dapat nilai yg baik. Sering kita dengar adlah kunci jawaban UN, contohnya. Miris sekali…

    1. Wah… iya, pas jaman SMA dulu banyak yg tuker2an kunci UN, tau dah dapet dari mana.

      Jamanku dulu, nilai UN SMA cuma buat lulus aja. Jadi aku bingung juga, ngapain smp segitunya coba? 😅

      1. Untung di zamanku, nilai UN bukan jadi syarat kelulusan (mulai di zaman angkatan ku, tahun 2015 ini).
        Kalo itu jadi syarat kelulusan, alamat ga lulus kmrn hahahahaa

  4. Kak Hichaaa, kok kita malah berkebalikan 🤣 aku malah mau belajar cuek lho karena lelah kalau dikit-dikit tersentuh perasaannya *halah*

    Tapiii semoga resolusi Kak Hicha di tahun ini bisa tercapai yaaa 💕 semangqaaaaa~

    1. Terlalu cuek jg ga bagus, li… sering disangka ga punya perasaan 🤣

      Jadi seimbang udah yg paling bener emang, ya… hanya menjadi cuek atau perasa saat dibutuhkan saja 😁

  5. Toss sama mbak…sebagai orang yang suka dominan kiri harus belajar mengenali empati yang beragam. Nggak gampang tapi harus. Apalagi di dunia tulisan…

    Semoga resolusinya tercapai

  6. Hallo mba hicha…

    Ih tulisannu membuatku tersinggung nih. Aku pengen reset ulang hidup rasanya kalau udah ga konsisten gitu. Biasanya itu muncul kalau habis menstruasi..entah knoa mesti aja amburadul dr jadwal biasam

    Nah, aku jg baru menyadari maka belajar ini malah skrg. Waktu org tuaku suka nanyain ‘Nahla kapan sekolah? Sekolah kan buat menambah pengetahuan, bukan buat pamer sekolah, jd sementara ini nambah pengetahuan lewat belajar d rumah, lewat baca buku gt mnrtku itu udh proses. Senengnya lg bonding lebih kuat.

    1. Samaan, mba… pas mens itu kayaknya bawaannya mager mulu, ya 🙈🤣

      Iya, mba… kalau udah ‘dapet’ dan memahami artinya belajar, ga cuma di sekolah aja, tapi di mana pun bisa belajar 😊

  7. Semakin dewasa, jadi sadar ilmu bukan sekedar mencari nilai tapi ada hal lain yang lebih bermakna ya kak. Cuma karena dari kecil kaya lebih dihargai kalau nilainya bagus. Atau dibandingkan gitu sukanya.

    1. Bener banget, mba…

      Mungkin karena itu kita jadi lebih terpaku ke belajar untuk mendapatkan nilai daripada untuk mendapatkan ilmu, ya… 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s