Posted in Stories

Santai dalam Enam Babak

Hola, Blogosphere! Belakangan WFH mulu tapi kerjaan malah ‘tumpah ruah’ *lebay dikit biarin 😝* Jadi lah baru update lagi. Emang dah, saya kayaknya ngisi blognya dua minggu sekali aja cukup! Wkwkwk.

Eniwei, kali ini pengen nge-post cerita pendek aja. Dan ada quiz kecil-kecilan berhadiah Rp. 100.000 (bisa berupa uang tunai atau top-up GoPay/OVO) untuk satu orang pemenang yang bisa menjawab pertanyaan di postingan ini.

Sekali-sekali biar seruan dikit… hihihi

*terus was-was ga ada yang ikut 🙈*

Oke deh, selamat menikmati dan ditunggu partisipasinya. 😘

Babak I

Sayaaaang… Ayo, bangun!” Aku terkesiap. Ternyata hanya mimpi. Aku mengerjapkan mata. Sayup-sayup terdengar tangisan bayi yang semakin lama semakin menjadi. Ke mana perempuan yang biasa membangunkanku itu?

Dengan bergegas aku menuju crib tempat putri semata wayang kami yang baru berusia tiga bulan itu berada. Kuraih dalam gendongan dan bergegas keluar kamar mencari sang ibu.

Babak II

Aku capek!” hanya ada secarik kertas dengan tulisan itu di atas meja makan. Oh, tidak! Apakah ini berarti Aya kabur dari rumah? Sambil terus berusaha menenangkan Hana, aku masih berusaha mencari-cari, siapa tahu ada jejak yang ditinggalkan Aya.

Dan kutemukan secarik kertas A4 yang penuh dengan tulisan tertempel di kulkas. Mulai dari cara menyiapkan susu untuk Hana, sampai pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan. Entah untuk hari ini saja atau memang itu yang dilakukan Aya sehari-hari.

Aku masih celingak-celinguk. Tangisan Hana mulai membuatku naik darah. Kutarik napas dan menghembuskannya perlahan. Mau marah pun, aku bisa marah pada siapa? Hanya ada aku dan Hana di sini, saat ini. Tidak mungkin aku memarahi putri kecil kami yang tidak tahu apa-apa ini.

Dia menangis, karena hanya itu cara satu-satunya untuk berkomunikasi.

Babak III

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Sudah belasan kali kucoba menghubungi ponsel Aya. Masih dengan jawaban yang sama. Oh, Tuhan! Ke mana perempuan yang biasanya selalu ceria itu? Apakah aku sebagai suami begitu buruk sampai tidak menyadari kelelahan istri sendiri?

Kembali ku hela napas panjang. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi terasa panjang sekali. Setelah lebih dari satu jam akhirnya aku berhasil menyiapkan susu, meminumkannya, dan menidurkan Hana.

Kulihat dapur berantakan dengan berbagai wadah, hanya untuk sekali membuatkan susu Hana. Kupandangi kembali secarik kertas A4 tadi. Kucoba mengingat-ingat apa yang sudah kulakukan akhir-akhir ini.

Pekerjaanku sebagai seorang researcher di bagian R&D sebuah perusahaan heavy industry dengan segala tuntutan report, patent, dan jurnal ilmiah, memang membuatku lebih sering tiba di rumah saat anak-istriku sudah terlelap. Apakah karena itu Aya ingin menghukumku?

Padahal sepertinya aku tidak pernah menuntut semua keperluanku harus disiapkan. Aku terbiasa menghangatkan makan malam sendiri, makan, dan mencuci piring bekas makanku sendiri.

Apalagi sejak Hana lahir, sebisa mungkin aku membantu Aya dengan apa yang kira-kira bisa kubantu. Mungkin hanya sekadar membuang sampah dan menjemur pakaian di pagi hari. Karena sungguh, aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Dan Aya pun tak pernah menuntutku untuk begini begitu.

Dengan pergi dari rumah seperti ini, aku jadi berpikir jangan-jangan memang aku yang kurang peka pada kondisi Aya?

Babak IV

Tak pelak dahiku masih mengernyit. Sudah entah berapa kali aku menghela napas. Akhirnya kuputuskan untuk mulai mengerjakan apa yang tertulis di kertas A4 tersebut. Dari pada aku tambah gusar, lebih baik aku mencoba menenangkan diri dengan mengerjakan pekerjaan domestik.

Jauh di lubuk hati, aku masih berharap Aya hanya pergi sebentar saja. Meskipun sisi pesimistisku mengelak dan mengatakan kalau hanya sebentar saja untuk apa sampai meninggalkan daftar pekerjaan rumah tangga. Itu berarti mulai saat ini dia ingin agar aku bisa mengerjakan tugas domestik tanpa harus bergantung padanya, bukan?

Kucoba menepis pikiran buruk itu. Lebih baik kukerjakan saja apa yang bisa kukerjakan saat ini. Biarkan saja dulu seharian. Mungkin Aya memang benar-benar lelah dan ingin refreshing. Kalau sampai sore dia tak juga bisa kuhubungi, akan kucari cara lain.

“Kruucuk… krucuuk…” Oh, tidak! Aku lupa ada perut sendiri yang juga minta diisi. Kucoba mengubek-ngubek dapur, hanya ada selembar roti di lemari pantry dan baru kusadari kulkas pun kosong minta diisi. Kenapa bisa sampai kosong begini? Padahal hampir semua gajiku kuserahkan pada Aya. Aku hanya ambil sedikit untuk bensin dan makan siangku sehari-hari saat hari kerja. Ya, sejak melahirkan Aya tak sempat lagi membuatkanku bekal. Itu bukan masalah besar bagiku, di kantor ada kantin, dan tak jauh dari tempatku bekerja juga ada area pertokoan dengan banyak restoran di sana.

Tapi kenapa bisa-bisanya tidak ada bahan makanan saat ini? Apakah Aya tidak sempat berbelanja? Padahal aku tidak pernah menggerutu kalau dia memintaku untuk mampir ke supermarket dan berbelanja sebentar sepulang kerja. Lalu kenapa dia tidak memintanya?

Aku berpikir keras, berusaha mengurai masalah. Minimal masalah yang ada di hadapanku saat ini. Pekerjaan rumah tangga, perut lapar, tidak ada bahan makanan. Yang mana yang harus aku dahulukan? Sambil berpikir kumakan saja dulu selembar roti tadi. Sambil melihat sekeliling. Hmm… agaknya sudah lama aku tidak memperhatikan kondisi rumahku sendiri.

Baru kusadari, ternyata berantakan sekali. Baju-baju yang belum sempat disetrika dan buku-buku parenting milik Aya tersebar di kursi dan meja ruang keluarga. Lantainya pun berdebu, mungkin sudah beberapa hari tidak di-vacuum. Berkebalikan dengan lantai dapur yang terasa lengket, sepertinya lupa dipel.

Kepalaku jadi pusing, mungkin sebaiknya aku cuci muka saja dulu. Terlupakan, karena saat bangun langsung disibukkan dengan Hana.

Setibanya di area kamar mandi, kulihat tumpukan baju kotor yang menunggu untuk dicuci. Oh, iya! Tertulis di kertas A4 tadi, hal pertama yang harus kulakukan adalah memasukkan cucian ke mesin cuci dan mendelegasikan pekerjaan mencuci baju pada kemajuan teknologi bernama mesin cuci.

Tanpa pikir panjang langsung kulakukan, sambil berpikir apa lagi pekerjaan rumah tangga yang bisa kuhibahkan pada kecanggihan zaman.

Hmm… baiklah, mari kita delegasikan belanja dan makanan pada delivery service. Selanjutnya urusan lantai kita serahkan pada Roomba si robot vacuum cleaner yang kuadopsi setelah Aya merengek minta dibelikan untuk mempermudah pekerjaan bersih-bersihnya.

Babak V

Akhirnya, mesin cuci berputar-putar, berusaha membersihkan kotoran pada baju-baju kami. Aku pilih mode kilat, yang hanya butuh waktu dua puluh menit saja untuk menyelesaikan cucian kami sekeluarg.

Roomba juga sudah berjalan ke sana kemari. Belanjaan sayuran dan teman-temannya tak jadi aku check-out karena ternyata butuh paling cepat satu hari untuk sampai. Masa aku harus puasa seharian?

Tapi aku sudah memesan fast food yang akan diantarkan dalam setengah jam. Setidaknya bisa untuk mengganjal perut sebelum aku menyiapkan makanan nanti.

Oke, berarti tinggal berbelanja bahan makanan. Tapi berhubung Hana masih tidur dan aku tak ingin membangunkannya, jadi lebih baik belanjanya nanti saja saat Hana sudah bangun.

Baiklah, aku akan membereskan ruang keluarga sambil menunggu Hana bangun.

“Tiit… tiit… tiit…” suara panjang berasal dari area kamar mandi.

“Zzzt… zztt… zzzt… tilulilulit… tilulilulit… tilulilulit…” Hah, suara apa lagi itu?

“Oeekk… oeek…” Oh, tidak! Sepertinya Hana terbangun karena suara-suara berisik itu.

Segera aku berlari menuju kamar untuk menenangkan Hana.

“Sreeet… Pletak! Dukk! Aduhhh!!” aku terpeleset dan terjatuh. Sikuku menghantam Roomba yang masih berisik bersahut-sahutan dengan suara error mesin cuci dan tangis Hana yang semakin membahana.

“Ayaaaaa….” Entah kenapa aku jadi ingin merengek pada Aya.

Babak VI

Ivan…?” Aya membuka pintu, tergopoh-gopoh menuju tempatku. Plastik belanjaan di tangannya diletakkan secara asal di lantai. Aku yang awalnya bengong dan merasa nge-blank dengan apa yang harus aku lakukan, jadi seperti melihat malaikat penolong turun dari langit.

“Aya, maafin aku kalau selama ini kurang terlibat dalam mengurus Hana, maafin aku kalau sering lembur, maafin aku yang nggak ikut bantuin ngurusin rumah… maafin aku…” entah kenapa aku terisak. Biarlah aku dibilang cengeng, tapi sungguh, rumah berantakan, perut lapar, dan berbagai suara dan bunyi berulang yang bersahut-sahutan mengaktifkan kelenjar hormon kortisolku dan membuat otakku meresponnya sebagai kondisi stress.

Padahal ini masih pagi…

“Maaf ya, Van… aku cuma jalan pagi dan berbelanja sebentar… aku…”

Belum selesai Aya dengan kata-katanya segera kusela, “Nggak! Kamu nggak salah, wajar banget kalau kamu capek! Aku yang salah karena kurang peka. Tapi sungguh, aku nggak tau gimana caranya. Please… please… omongin, kasih tau apa yang bisa aku lakukan…”

Aya berlari ke kamar, mungkin dia cemas dengan tangisan Hana. Segera digendongnya dan kembali ke ruang keluarga tempat aku masih duduk bersimpuh menata pikiran dengan kondisi saat ini.

“Iya, Van… maafin aku yang sulit mengomunikasikan perasaan dan keinginanku…” katanya sambil menenangkan Hana.

“Yuk… satu-satu kita bereskan bersama…” katanya lagi sambil menyerahkan Hana dalma gendonganku.

“Sepertinya Hana belum ganti popok sejak semalam, makanya tidurnya tak tenang dan gampang bangun. Tolong mandikan sekalian ya… aku akan menyiapkan susu dan sarapan untuk kita.” Katanya lagi, kali ini dengan senyuman yang seperti biasa, selalu menenangkan.

“Kalau memang sulit mengungkapkan apa yang kamu rasakan dengan ucapan, kamu bisa tulis pesan, kok… yang penting, please banget tolong sampein. Aku nggak bisa baca pikiran kamu…” kataku lagi sebelum menerima Hana dalam gendonganku.

Aya pun mengangguk dan tersenyum lagi.

“Btw, kenapa kamu tulis segala pekerjaan rumah di kertas A4 itu, ya?” Tanyaku lagi sebelum membawa Hana ke kamar mandi.

“Hah? Kertas itu sudah ada sejak Hana lahir, kok… biasanya ada di meja, sih… aku tulis biar nggak lupa aja. Kadang karena terlalu banyak yang harus diberesin plus sambil ngurusin Hana juga, aku jadi lupa harus ngerjain apa… Hehehe…”

Aku tertawa getir, sekaligus kesal pada diri sendiri. Masa iya selama tiga bulan ini tak menyadari eksistensi kertas tersebut.

Baiklah, mungkin memang mulai saat ini aku harus belajar untuk lebih perhatian. Perhatian pada kondisi rumah, terutama perhatian pada istriku. Kalau bukan aku siapa lagi yang semestinya memperhatikannya, bukan?

FIN

Pertanyaan: Di mana letak SANTAI dalam cerita ini?

Tuliskan jawabannya di kolom komen, ya… (komen berisi jawaban akan ditahan dulu approval-nya)

Ditunggu sampai Sabtu, 17 Oktober 2020, Pukul 23:59, ya… 😊

Author:

To many special things to talk about... =p

34 thoughts on “Santai dalam Enam Babak

  1. ini santai buat istrinya…😁😁 alhamdulillah istri jadi bahagia kalo seperti ini. nice story kak..🙂🙂

    1. sekali-sekali istri emang butuh santai ya mba… biar dikata di rumah aja, padahal kerjaan seabrek-abrek, berulang, seperti ga kelar-kelar XD

  2. Aya yang jalan pagi dan pergi belanja. Dia menyempatkan santai sejenak dari rutinitas kondisi pagi hari yang pasti pakepuk, heboh. Buat aku, belanja tuuuh termasuk me-time, santai, walaupun yg dibeli yaa keperluan rumah sih.

    1. Bisa jadi santai sih si istrinya, tapi yang saya maksud sebenarnya S A N T A I bu… duh, hint-nya kurang ya kayakny 🙈

      Kayaknya buat seorang istri tuh saat bisa sendiri ga digelendotin anak atau ditempelin suami bisa disebut me-time ya bu… 😁

  3. Tebak-tebakan yang menarik Kak Hicha 😆
    Aku malah terbawa suasana cerita, sampai lupa kalau ini tebak-tebakan wkwkwk

    Kalau boleh nebak, letak santainya saat si bapak terjatuh, kan jatuhnya duduk, saat dia jatuh, istrinya datang, tapi si bapak belum bangun-bangun dari posisi duduknya, akhirnya dia bisa bersantai sampai tiba waktu untuk memandikan sang anak. Ah kayaknya nggak masuk akal jawabanku 😂

    Terima kasih karena udah membuat kuis ini Kak Hicha 🥰

    1. Wah… asumsimu boleh juga, Li… di luar bayanganku itu wkwk
      Bisa dijadiin cerita tersendiri nih kayaknya 😆

  4. Waduh pertanyaannya susah, ini maksudnya santai dalam situasi nggak santai kah, mba? 😂 heheheehe ~

    Mungkin letak santainya ada di Aya yang ke luar belanja dan nggak tau kalau Ivan kelabakan di rumah (?) 🙈 hehehehe.

    By the way, tulisan mba Hicha baguuuus, sudah seperti cerita penulis terkenal. Alurnya seru untuk dibaca 😁💕

    1. Kayaknya memang saya kurang ngasi hint ya, mba… 🙈

      Makasih mba Eno… jadi kembang-kempis nih idungnya kalau dipuji begitu 🤣

  5. ahhh aku bingung dimana ya, kayaknya di Babak ke IV
    dibagian akhirnya kan beli mesin Roomba, jadi bisa dibilang alat ini membantu banget untuk kerjaan rumah, jadi ada waktu buat santai hehehe

  6. Uni Hichaaaa aku juga nggak tahu letak santainya di mana, hahaha. Tapi, tbh aku rada gemes baca ceritanya di atas meski udah tahu kalau ini quiz, hahaha. Semangat buat yang ikut dan aku penasaran dimana letak santainya, hahaha, karena otak aku nggak nyampe😂😂

  7. Setelah baca ulang sampai 3 kali, iya, tiga kali saking penasarannya 😂😂 Akhirnya kumenemukaaann..
    Kata SANTAI ada di huruf awal setiap babak. S di babak 1, A di babak 2 dann seterusnyaaa 😆😆
    Beneeer kaaann.. hehehe..

  8. Santainya menurutku adalah terletak pada si suami, yang ternyata selama ini dipikirnya sudah sangat lelah dengan berbagai pekerjaan ternyata jauh lebih santai daripada istrinya yang ngerjain sejumlah tugas rumah belum lagi mengurus anaknya yang masih kecil.

  9. wah ada kuisnyaa! meski uda lewat batas waktu, aku pgn ikut jawab wkwkw

    Sesuai clue awalnya…serta judul pada pos ini. SANTAI ada di dalam enam babak sebagi huruf kapital pada awal masing-masing babak hehe

    ceritanya seruuu kak! Si Ivan uda neting aja kalo Aya kabur dari rumah hihihi
    Efek kurang peka nih emaang

      1. Hehehe iyaa telatt. Gpp kakak. Aku turut seruuu ikut kuis dari kak Hicha hehehe
        ceritanya pun menarik ^^

      2. Makasih mba Frisca…
        Semoga ada kesempatan buat bikin lagi nih… setidaknya kalau ga dijadiin kuis, cerpennya aja pun boleh lah… aku payah bener bikin ending heuheu

    1. bagus kok kak Hicha! Endingnya engga payah hehehe
      Justru menarik, plotnya bisa dibikin gitu
      tulisanku malah lebih jelek kak hahaha kurang bisa bikin cerpen yang menarik saat dibaca

  10. Telat banget aku baca kuisnya :). Dan lgs nyari jawaban aja.. keren juga kata SANTAI nya di bikin di awal babak hahahahah. Ga kepikir aku mba :).

    Selamaaat utk yg menang yaaaa. Btw ceritanya baguuuuus mba :). Sesuatu yg relate bngt sbnrnya sama kehidupan pasangan yg baru punya anak yaaa . Rempongnya dan capeknya lgs kebayang bgt 🙂

    1. Padahal di masing2 kata di awal babak sudah ku bold nih mba huruf awalnya 😅

      Tapi kayaknya aku ngasi hint-nya kurang kali yaa 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s