Posted in Japan and Japanese, MindTalk

Ikigai dan Yarigai

Waktu baru-baru datang ke Jepang, saya sempat merasa terheran-heran, kenapa orang-orang Jepang (di sekitar saya) ini kok pada baik-baik banget. Saya benar-benar merasa, sebagai manusia, saya itu di-manusia-kan selayaknya manusia, yang sebenarnya sih sewajarnya begitu, cuma kok seringnya terlupa bahkan oleh saya sendiri. Iya, kadang kita tuh pengennya diperlakukan baik oleh orang lain, tapi kok ya kitanya sendiri memperlakukan orang lain dengan kurang baik. 🙈

Sebagai orang yang dari lahir sudah dicekoki tentang agama, perlakuan mereka membuat saya jadi bertanya-tanya, kalau saya berbuat baik karena Tuhan yang memerintahkan demikian, orang-orang yang sehari-harinya tidak bersentuhan dengan agama ini berbuat baiknya untuk apa?

Baca juga: Memanusiakan Manusia

Yah, dikemudian hari saya mengerti kalau bisa jadi hanya bias, masih masa-masa honeymoon gitu, kan… 🤪

Toh, mau di mana pun tetap saja tidak ada yang seratus persen baik atau seratus persen buruk.

Dua-tiga tahun kemudian saya malah pernah masuk ke tahapan “Ah… semua kebaikan kalian itu palsu! Fake! Baik karena memang kerjaan menuntut begitu. Coba kalau gw ga ada hubungannya sama lo, paling juga lo cuekin!”🙈

Padahal ya nggak juga. Tetap ada yang namanya kebaikan yang tulus dari orang Jepang. Setidaknya kebaikan tulus karena mereka memanusiakan manusia. Memperlakukan orang lain selayaknya ingin diperlakukan oleh orang lain.

Saya pernah skeptis duluan itu, karena beberapa kali menyaksikan bahkan mengalami sendiri, kenapa ini orang-orang saat temannya susah malah ‘membiarkan’ temannya seorang diri? Kok pada tega, ya?

Padahal bisa jadi sebenarnya mereka sedang menjaga ‘harga diri’ temannya. Yah, mungkin stereotyping, tapi believe me or not, kebanyakan orang Jepang menganggap, lebih baik ‘susah sendirian’ daripada harus ‘dikasihani’. Dan memang terbukti, saat si temannya happy kembali, mereka juga ikut merayakan dengan mengucapkan selamat atau mentraktir teman tersebut sebagai ungkapan bahagia mereka.

Memang kita harus bisa melihat dari berbagai sisi, ya… 😊

Dan jadinya terulang kembali, saya jadi bertanya-tanya lagi kenapa mereka bisa begitu memanusiakan manusia padahal tidak mengenal Tuhan?

Akhirnya saya temukan jawabannya dari konsep Ikigai.

Ikigai (生き甲斐)terbentuk dari kata 生きる (ikiru) yang artinya hidup, dan 甲斐 (kai) yang artinya bisa jadi effect, worth, atau result, tapi untuk kata ini, worth yang paling sesuai dengan maknanya. Ya, bisa dibilang berarti the worth of living. Sesuatu yang membuat kita rela bangun pagi dan menjalani hari-hari. Sesuatu yang membuat kita merasa bahwa hidup itu berarti.

Ikigai ini tentu saja berbeda bagi tiap-tiap individu. Bahkan tak sedikit juga yang masih mencari ikigai-nya. Yet to find about what’s worth about his/her life. Masih menjalani hidup hanya karena memang masih diberi waktu untuk hidup, tapi belum menemukan makna bahwa hidupnya itu worth it.

Saya pernah terlibat percakapan dengan Pak Guru, untuk apa dia tiap hari bangun, commuting 3 jam sehari, dan menjalani hidupnya sebagai professor dan researcher setiap hari, menerima banyak mahasiswa yang akhirnya jadi keteteran sendiri, bahkan sampai bawa kerjaan ke rumah dan mengerjakannya sampai pagi? Toh kalau meninggal juga paling di’sedihin’ beberapa waktu, terus 100 tahun yang akan datang, belum tentu juga ada yang mengingatnya?

Dan beliau menjawab “Of course, it is for myself. You know the world is full of problems, don’t you? And it is worth of living to at least try to do something to solve them.”

Saat itu saya cuma “Oh gitu, ya, Pak…”

Dan pembicaraan berpindah ke riset saya yang nggak maju-maju. 👻

Dari situ saya mulai mengerti tentang konsep Ikigai. Tapi, ternyata ikigai saja tidak cukup. Punya tujuan hidup saja tanpa memasukkan ke dalam tindakan ya nggak akan tercapai juga.

Di sini lah Yarigai dibutuhkan.

Yarigai sendiri terdiri dari kata 遣る(yaru) yang artinya melakukan, dan 甲斐 (kai) yang artinya sudah saya jelaskan di atas. Jadi bisa dibilang yarigai berarti being worth doing.

Seorang guru mengajar murid dengan semangat setiap hari, karena baginya ada yarigai dalam pekerjaannya tersebut. Tentu saja tidak semua guru bisa dan mau ‘bersemangat’ mengajar. Ada juga yang bekerja sekenanya saja. Hanya untuk menuntaskan kewajiban, karena bisa jadi baginya pekerjaan tersebut tidak worth doing. Entah dengan alasan apapun itu.

Ada orang yang mencari perkerjaan yang memiliki yarigai, ada juga yang berusaha menumbuhkan yarigai dalam pekerjaan yang tengah dijalani. Yang mana pun itu, tidak ada benar-salah. Tergantung sikon yang mengalami. Hehehe.

Bagi orang yang tidak punya masalah keuangan, bisa jadi mencari pekerjaan yang memiliki yarigai yang lebih baik buatnya. Dari pada dia ngerjainnya setengah hati gitu, kan… buang-buang waktu, mempengaruhi kesehatan mental pula.

Tapi bagi yang tidak punya pilihan lain, mau nggak mau harus menumbuhkan yarigai dalam pekerjaan yang dimiliki saat ini. Yang mana pun itu yang tau kondisinya ya masing-masing orang yang menjalaninya. Dan yang mana pun itu, semoga kita bisa melakukan apa yang ada di depan mata dengan yarigai di dalamnya. 😊

Author:

To many special things to talk about... =p

42 thoughts on “Ikigai dan Yarigai

  1. Hallo mba hachi, salam kenal

    tulisannya thoughtfull sekali. Saya baru tahu tentang ikigai aja, yang yurikai ini masih baru.

    Tapi pemikiran mbak pas awal ke jepang juga saya rasakan pas awal saya ke belanda. Prinsip treat others like you treat yourseslf itu sudah melekat dalam jiwa mereka sepertinya. Prinsip kuat memang tidak akan mudah goyah.

    Tanpa mengesampingkan agama, kita sendiri meyakini bahwa baik itu sifatnya universal. Justeru karena kita makhluk beragama, maka kebaikan itu seharusnya lebih terpatri yaa. But in fact, justeru kita harus menelisik kembali, bagaimana kok bnyk yg beragama malah justeru tidak memanusiakan manusia?

    Ajaran-ajaran jepang ini sebenarnya ada jg dalam niai keberagaman kita, hanya saja penanamannya mkgn yg tidak kuat dan menyeluruh ya. Masih tergantung, entah itu orangtua, lingkungan, maupun pertemanannya.cmiiw.

    1. Halo juga, mba Ghina…
      Salam kenal juga, ya… 😊

      Benar sekali, mba… kenapa kita yg beragama ini malah sering lupa memanusiakan manusia, ya?

      Ada banyak faktor penyebab yang kayaknya butuh riset multidimensi buat mengerti akar permasalahan dan cara penyelesaiannya kayaknya 😊

  2. Manusiankan lah manusia! Ini bener bannget sih haha. Cuman yg capek kita baik, eh dibales jahat. Haha.
    Aku bangun tidur malah males banget ke kantor, kalau gajian baru bahagia. Udah ada tujuan dalam hidup setiap bangun pagi can’t wait untuk itu. Cuman ya lagi diwaktu untuk mengapainya, jadinya masih terasa males karna blum dapet😅

    1. Kalau dibalas jahat, mungkin bisa dikonfrontasi. Biar tau penyebabnya kenapa dia jahat. Siapa tau sebenarnya ga bermaksud jahat, cuma emang masih selfish aja. Siapa tau dengan begitu dia jadi membuka diri 😊

  3. Menarik banget cerita tentang Ikagi dan Yarigai-nya.. sebuah konsep yang unik dan bermakna mendalam ya… Kadang aku juga masih sering bertanya sama diriku sendiri tentang sense dali Ikagi dan Yarigai dalam kehidupanku walaupun ngga tau kalau termnya dalam bahasa indonesia itu apa haha… lebih condong ke dalam wadah life crisis kalau di bahasa kita, tapi salut deh sama orang jepang karena mereka bisa mengkonsepkan dan mendalami pentingnya Ikagi dan Yarigai mereka.

    1. Mungkin dengan adanya istilah itu yang bikin lebih mudah dimaknai kali, ya… ^^
      Saya yakin di Indonesia sendiri juga sebenarnya banyak falsafah kehidupan zaman nenek-moyang kita yang masih relevan dengan zaman sekarang.
      Tiba-tiba merasa termotivasi buat nyari tau tentang falsafah nenek-moyang Indonesia nih jadinya… ^^”

  4. Hi mba Hicha, ini pertama kali main kesini dan memutuskan meninggalkan jejak, kolom komennya unyu ih, jadi suka ngetiknya, lha? Hahaha.

    Saya pernah baca dan cari tahu tentang Ikigai mba tapi baru tahu tentang istilah Yarigai mba, Jepang ini unique ya mereka punya istilah-istilah untuk menggambarkan kehidupan masyarakatnya. In the end thank you mba atas informasinya.

    1. Hahaha
      Halo juga mba Sovia yang sesama perantau Minang 😉
      Jadi bingung nih saya manggilnya mba atau uni aja, ya? wkwk

      Mungkin masih banyak filosofi hidup ala Jepang yang bisa kita pelajari. Tapi kadang orang Jepang-nya sendiri ga ngeh lho, mba…. ^^”

      Dan sebenarnya dari tiap-tiap daerah di Indonesia juga saya yakin ada falsafah yang tak lekang oleh waktu, sayangnya lekang oleh ingatan ^^”

  5. Jadi ingat sama buku Ikigai yang terkenal, mba. Konsepnya memang bagus ya. Terlepas apapun kepercayaannya even nggak percaya Tuhan, tapi tetap berusaha agar punya hidup yang berkualitas. Kalau di Korea meski nggak punya konsep semacam Ikigai, mereka pun percaya bahwa diri mereka sendiri adalah pemegang segala keputusan. Jadi kegagalan atau keberhasilan itu bukan hanya bergantung takdir, melainkan usaha mereka secara personal.

    Mungkin karena itu setiap kali mereka yang nggak percaya Tuhan merasa gagal, mereka anggap hidup mereka runtuh seketika. Karena mereka nggak punya “pegangan”. Mereka nggak tau kalau kita bisa mengadu pada Tuhan. Buat mereka gagal itu karena mereka kurang berusaha keras. Jadi mereka depresi seketika 🙈

    By the way saya baru tau soal Yarigai, jadi tambah ilmu setelah baca tulisan mba Hicha. Thanks for sharing, mba 😍

    1. Apalagi kalau di Korea persaingannya terlihat sangat berat ya, mba…
      Tiap-tiap individu dinilai mulai dari penampilan sampe semuanya.
      Kalau ga punya tujuan hidup yang kuat, depresi sampai suicidal itu berasa dekat banget 😦

      Dulu saya pikir suicide rate di Jepang udah tinggi banget, ternyata di Korea lebih tinggi lagi :((

  6. Rata-rata tahunya ikigai nih mbak. Termasuk aku. Ternyata bukan hanya ikigai saja yang harus ditahan tetapi membutuhkan action ya yang dinamai yarigai. Membuka wawasan banget.

    1. Iya ya, mba… kayaknya karena kalau soal Ikigai ini sudah dibikin buku kali, ya… 🙂
      Yarigai itu kalau secara harfiah sebenarnya hal yang terkandung dalam action tersebut yang membuat kita mau melakukannya, mba
      Semoga bermanfaat bagi kita semua ya mba… 🙂

  7. Hi kak Hicha, thank you for sharing 😍

    Aku baru terpikir kenapa orang yang tidak beragama bisa baik dan memperlakukan manusia seperti manusia ya, ternyata karena konsep hidup Ikigai dan Yarigai ini ya.

    Pemikiran tentang Ikigai dan Yarigai ini dalem banget ya. Aku jadi pengin tahu lebih lagi 😁. Sering sih lihat buku tentang Ikigai ini lalulalang di toko buku dan setelah baca tulisan kak Hicha ini, aku jadi semakin penasaran sama isi buku Ikigai tersebut 😆

    Sekali lagi, terima kasih atas insightnya ya, Kak!

    1. Dipikir-pikir orang zaman dulu itu pemikirannya pada dalem banget, ya…
      Terlepas dari asal negaranya. Saya yakin falsafah hidup nenek moyang kita juga ada yang bisa dipake dan masih relevan sampai saat ini.
      Cuma mungkin kurang dieksplor saja 🙂

  8. Memang sangat menarik kalau ngomongin pegangan hidup yang dalam sebuah masyarakat atau negara. Jepang salah satunya.

    Beberapa film jepang juga menampilkan hal itu. Seperti film the last samurai, di film ada seorang samurai yang memilih untuk bunuh diri (harakiri) daripada malu karena kesalahan yang diperbuat. Itu cara menjaga kehormatannya.

    Aku mengenal ikagai dari sebuah chanel youtube. Bbrapa bulan yang lalu. Sungguh sangat menarik.

    Artikel yang bagus mbak hicha 🙂

  9. Dulu saya dicekoki pemahaman bahwa orang Indonesia terkenal keramahannya di seluruh dunia. Tapi setelah tau bagaimana orang Jepang, jujur, saya tidak melihat di tempat lain yang lebih baik daripada di Jepang.

    Mereka itu sopan, rendah hati, baik hati, dan sangat menghargai sesama. Saat saya diundang pemerintah Jepang ke sana, saya diperlakukan selayaknya tamu terhormat. Beda dengan perlakuan orang di negara maju lainnya, yang tetap saja memandang Indonesia kelasnya berada di bawah mereka. Orang Jepang mungkin berhak juga bersikap seperti itu, tapi mereka tidak melakukannya.

    Ada pengalaman unik, waktu saya dan teman saya dari Kolumbia, sedang berusaha mencari restoran sushi di Kobe. Tapi karena kemalaman, restoran yang kami tandai di google, sudah tutup. Jadi harus cari yang lain, yang kami tidak tau cari kemana.

    Akhirnya kami cegat satu orang yang kayaknya otw pulang. Bertanya dengan bahasa Inggris sedikit ditambah bahasa isyarat. Sementara dia sama sekali tidak bisa bahasa Inggris, tapi itu tidak menghalanginya untuk membantu kami. Karena tidak bisa menunjukkan arah dalam bahasa Inggris, dia antar kami coba! Tidak cuma itu, dia tunjukin restoran sushi yang arahnya berkebalikan dengan arah pulangnya.

    Ah, saya masih merinding kalau mengingat itu.

    Sekarang saya tahu, ajaran apa yang mendasari sikap dan karakter mereka. Terima kasih sudah shareng tentang ikigai dan yarigai.

    1. Hmm… Sebenarnya sama saja, selama masih manusia, mau dari negara mana pun tetap aja ada sisi baik dan buruknya. Orang Jepang juga ga semuanya baik, kok… 🙂

      1. Iya sih mbak, mungkin saya yang berlebihan, tapi memang begitu pengalaman saya dan perbandingan perlakuan yang saya terima di Jepang dengan beberapa negara lain yang saya kunjungi.

        Bahkan saya pernah sesekali mencoba menjadi orang ‘jahat’, misalnya tidak tertib, merokok sembarangan (dulu saya perokok), dsb., tetap saja mereka berbuat baik tapi tegas menegur saya. Hehe,, jangan ditiru.

        Makanya sampai sekarang saya menobatkan di dalam hati saya, Jepang adalah tempat terbaik yang pernah saya kunjungi (tidak termasuk Indonesia, karena bagaimana pun jeleknya kata orang, negara ini adalah rumah saya).

        Entah mungkin suatu hari saya berkesempatan lagi mengunjungi negara lainnya yang mungkin lebih baik daripada Jepang.

  10. Wah baru dengar lagi yang namanya Yarigai 😀

    Konsep ikigai ini yang meyakinkan aku bahwa hidup hanya bermodal passion aja nggak cukup. Butuh aspek lainnya supaya hidup kita nggak cukup berarti buat kita sendiri, tapi juga memberi nilai pada orang lain. Kalo dipikir-pikir, bener juga yang Mba Hicha bilang, orang Jepang tidak kenal Tuhan tapi mengapa kepribadian mereka bisa dibilang sangat baik ya? Aku tuh kadang masih heran saat ke sana dan mengalami kebaikan kecil yang mereka lakukan ke turis asing, kok ya mereka bisa “all out” banget dalam membantu orang.

    Btw, terima kasihh Mba Hicha untuk berbagi sudut pandangnya (:

    1. Aku baru nyadar Ikigai udah banyak yg bahas lho, mba…

      Kalau dr yang kulihat juga, salah satu budaya Jepang itu adalah “bersungguh-sungguh dengan apa yg sdg dihadapi”, mungkin karena itu kalau nolong juga jadi terasa “all out” kali yaa 🙂

  11. Setuju sih Hicha, klo semua suku bangsa pasti punya plus minusnya. Di Jepang mereka bagus dg prinsip hidupnya, walaupun banyak flaws di kehidupan mrka sperti tingginya tingkat stres n bunuh diri..
    Ikigai ini menarik ya, udah lama denger tp blm sempat cari tau lbh dalam. Nice sharing cha..

    1. Iya, ca, ke Jepang enaknya buat jadi turis aja. Kalau untuk menetap harus ada persiapan mental tambahan 😆

  12. Yaaa, setuju sekali. Di Jepang yang katanya banyak ga percaya Tuhan. Nyatanya mereka bekerja dengan penuh semangat dan bertanggung jawab. Ditambah lagi, suka menolong sesama. Kita di Indonesia, yang katanya paling tinggi tingkat religiusnya, malah berbeda jauh dengan Jepang.
    Semoga kita, orang-orang Indonesia menjadi lebih baik!

  13. Itulah yg aku suka dari orang2 Jepang ini mba. Mereka memang sangaaat memanusiakan manusia, bener2 beda saat masih zaman penjajahan dulu. Mungkin ini yg bikin aku ga pernah bosen untuk balik ke Jepang buat liburan.

    Sekian banyak negara yg aku pernah kunjungi, cuma di Jepang yg bener2 bikin aku berkesan Krn karakter orang2nya. Disiplinnya mereka, usaha mereka untuk membantu walopun mungkin terkendala bahasa, tapi ttp effortnya kliatan utk bisa menolong. Padahal aku ga prnh berharap sampai dibantu segitunya.

    Konsep ikigai dan yarigai ini, sbnrnya selalu diterapkan di perusahaan tempat aku kerja yg trakhir. Padahal ini bukan perusahaan Jepang, melainkan Inggris. Tapi prinsip yg dipakai malah prinsip orang Jepang ini:).

    Intinya perusahaan ingin para staff menumbuhkan dulu rasa cinta terhadap perusahaan. Menganggab ini adalah rumah kita yg kedua, di mana kita bisa makan, bisa membahagiakan orang2 di rumah Krn penghasilan yg kita dapat. Tp itu tergantung dari produktifitas yg kita tunjukkan buat perusahaan. Kalo rasa cinta itu ada, pasti kita akan melakukan apapun untuk perusahaan, Krn ini memang layak kita pertahankan. 🙂

    1. Mungkin karena mereka berusaha untuk tetap me-reserved ajaran2 filosofi hidup nenek moyang kali ya, mba… 🙂
      Saya juga setuju, mba. Jepang memang enak buat bolak-balik liburan. Tapi kalau untuk tinggal, mesti nyiapin mental juga, sama seperti tinggal di negara mana pun… hehehe

  14. sejauh ini hanya tau ikigai
    dan baru denger ada yarigai juga

    sama ikigai aja belum khatam dan sudah harus memahami yarigai
    hahah
    sepertinya satu-satu dulu deh nih
    harus mengkhatamkan ikigai dalam diri sendiri dulu
    baru setelah itu yarigai

    ngomongin istilah-istilah dalam tradisi jepang itu emang seru ternyata ya
    ehe

  15. Kalau Ikigai, sudah seringkali saya dengar. Apalagi sempat liat bukunya. Tapi Yarigai ini baru saya dengar. Kalau sudah selesai dengan dunia, kayaknya Yarigai akan lebih asik untuk diterapkan. Selain karena kesehatan mental, juga menghargai waktu.

    Eh, salam kenal kak Hicha

    1. Setuju, kadang ga semua orang punya kesempatan buat mengerjakan sesuatu dengan yarigai di sana. Kadang simply ngerjainnya karena emang butuh, buat menuntaskan kewajiban atau buat bertahan hidup.

      Tapi, IMO, mungkin kita bisa berusaha menumbuhkan Yarigai terhadap apa yg kita kerjakan. Hehe

      Salam kenal juga, Mas Rahul. 😊

  16. Wahhh saya pernah mendengar ikigai dan yarigai ini dari beberapa teman, kalau tidak salah ada step by step gitu gak sih (Seperti pencapaian) dalam hidup dari berbagai pengalaman yang pernah dilakukan setiap harinya.. Nah kalau sudah mencapai Step itu tinggal melangkah ke step berikutnya.. Kalau gak salah sih ikigai itu, kalo gak salah denger hihi

  17. woaa meski aku suka hal-hal tentang Jepang dari sejak sekolah, tapi aku baru tau konsep ini dari kak Hicha hehe

    Makasih kak tambahan ilmunya ^^

  18. aku baru tau ada dua istilah ini mbak. memang nggak heran ya kalau orang jepang ini bener bener menghargai apapun siapapun dimanapun.
    aku melihat semangat mereka semua dalam menjalani hidup memang sangat tinggi, menghargai waktu juga.
    cuman aku baru tau aja kalau persepsi tiap orang dalam memaknai hidup disana bisa berbeda juga ya “goal”nya.

    1. Iya, mba. Sampai makanan pun dihargai. Makanya waktu makan nyebutnya “itadakimasu” yang artinya “saya terima”, kalau ga salah itu bentuk singkat dr “saya terima kehidupanmu (makanan) utk kehidupan saya” katanya sbg bentuk syukur terhadap bahan makanan yg sudah ‘mengorbankan’ diri dr mulai tumbuh smp jadi makanan 😁

      Yg repot kalau ga punya ‘goal’ ya mba… makanya banyak yang bunuh diri, meskipun alasannya belum tentu krn ga punya goal juga. Ada yg krn demi menjaga harga diri (terutama orang2 zaman dulu), ada juga yg bahkan karena pengen nyusahin keluarganya krn merasa ditelantarkan. Biasanya kalau yg terakhir bunuh diri nya berhubungan dgn kereta, jadi kalau jadwal kereta jd terganggu keluarga yg bunuh diri harus bayar denda ke perusahaan provider kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s