Posted in Japan and Japanese

Love and Fortune

Akhir-akhir ini saya punya kebiasaan, memilih tontonan di Netflix hanya dari thumbnail-nya. Tanpa membaca sinopsis atau mencari tau siapa kesemua pemainnya.

Yang pertama Was It Love?, yang saya tonton karena ada Song Ji Hyo di thumbnail-nya. Karena dulu penonton setia Running Man (sudah berhenti sejak 2012 sih tapi), jadilah saya penasaran dengan akting Ji Hyo.

Episode 1-nya sih, seru. Saya pikir ceritanya tentang perjuangan seorang single mother, gitu. Nonton episode 2 yang keluar keesokan harinya, saya mengernyitkan dahi. Kenapa jadi begini? Akhirnya saya baca juga deh sinopsisnya.

Ternyata inti cerita utamanya tentang single mother dan empat orang laki-laki yang tertarik padanya. Pantesan… tapi tetap dilanjut sih, walaupun sekarang nggak tau deh udah ketinggalan berapa episode. 😅🙈

Beberapa hari yang lalu, saya yang bingung kenapa di Netflix lebih banyak KDrama dari pada JDrama dan sedang bosen nonton KDrama, iseng-iseng masukin query ‘japanese’ di search box-nya. Dan membuat saya malah tambah bingung. Selain karena jumlah JDrama yang muncul kayaknya nggak sampe 20an judul, juga karena sebagian besar thumbnail-nya bernuansa dark.

Duh, orang maunya nyari yang ringan-ringan, nonton tontonan dark itu kan bikin tambah suram.😝

Lalu ketemulah saya dengan sebuah serial yang thumbnail-nya pasangan lagi ngobrol di bawah langit yang cerah. Judulnya seperti judul posting-an ini.

Nonton episode 1, despite of adegan ‘dewasa’-nya, saya terpesona dengan sinematografi dan directing-nya. Mulai dari lighting tone, angle dan detil pengambilan gambar, suara dan musik background, seperti nonton film dalam bentuk serial. Filmnya film karya Makoto Shinkai, lagi! Versi live action tentunya, dan dengan adegan dewasa👻.

Per episode-nya juga cuma 24 menit, jadi tanpa terasa tau-tau sudah episode 9 saja (total 12 episode). Dan baru di episode 9 ini saya ngeh kalau ternyata rating-nya 18+! Ya pantes aja di tiap episode ada aja scene anonoh-nya. 😂🙈

Kirain masih rating 13+ gitu, karena walaupun adegannya explicit, tapi masih dalam konteks cerita dan tidak ada ‘anggota tubuh’ yang ditampakkan. Jadi ya wajarlah ya kalau bikin saya nggak nyangka, kalau ternyata… *sok polos😝*

Eniwei, ceritanya sendiri gimana? Hmm… saya tidak berniat menceritakannya. Lah, saya aja nonton cuma berdasarkan thumbnail ini… 🤪

Tapi, boleh deh, mari kalau mau lihat trailer-nya.

Kalau dari trailer-nya ceritanya gimana, hayo? 🤪

Ya udah, saya copy-paste sinopsinya dari Netflix, deh… 😌

              “Frustrated by life with her boyfriend, thirty-something Wako can’t stop herself from being interested in high schooler Yumeaki, despite their age gap.” Synopsis by Netflix

Kalau baca sinopsis duluan sih, bisa dipastikan saya nggak jadi nonton. Karena kok kayaknya tidak ada sesuatu yang spesial banget atau gimana gitu kan. Hahaha.😆

Tapi karena awalnya saya nggak tau ini cerita tentang apa, alurnya mengalir dengan pas, belum lagi narasi Wako mengenai apa yang dia rasakan, ditampilkan bersama simbol-simbol untuk menganalogikannya, sungguh membuat saya mikir “Mungkin ini kali ya yang disebut karya seni. Dari cerita yang kelihatannya bukan sesuatu yang sangat spesial pun bisa membuat penonton jadi ‘terhanyut’”

Dan saya pun binge watching sampai selesai!

Duh, kayaknya pertama dan terakhir kalinya nonton dari ep.1 sampai selesai sekaligus itu cuma Meteor Garden pas SMA. Itu pun karena nontonnya rame-rame. Kalau sendiri mah, udah dadah babay, kutinggal ke kasur. 🤣🤣

Saya jadi binge watching, mungkin selain karena durasinya yang pendek dan episodenya yang nggak banyak, juga karena sampai episode terakhir, saya nggak tau ini ceritanya mau dibawa ke mana. Padahal kalau mau pakai logika mah kayaknya simple, tinggal diakhiri saja. Apalagi sudah jelas-jelas di Jepang itu hubungan dengan anak di bawah umur (18 tahun ke bawah) itu termasuk tindakan kriminal. Tapi lagi-lagi project keroyokan beberapa sutradara ini kok ya bikin lupa realita. Malah bikin ‘terseret’ hanyut dalam cerita. Iya, saya sampe nyari tau ini sutradaranya siapa. Kok bisa bikin karya se-artistik ini.

Tapi meskipun begitu, cerita di dorama ini biarlah jadi karya seni saja. Kalau di dunia nyata, apa yang Wako lakukan terhadap Yumeaki di awal-awal dan yang dilakukan Yumeaki terhadap Wako di akhir-akhir, keduanya masuk kategori pelecehan.

Jadi cukup hanya menjadi tontonan saja. Bayangin gimana rasanya jadi orang tua Yumeaki kalau tau apa yang terjadi pada anaknya. 😢

Dari dorama ini saya juga jadi tersadarkan, bahwa terkadang pelecehan seksual bisa terjadi karena pelaku tidak memiliki kepercayaan diri, merasa tidak punya apa-apa lagi, atau karena takut si korban pergi meninggalkannya, yah… intinya lebih karena ego pelaku dibandingkan karena pakaian korban.

Jadi sungguh toxic masculinity sekali kalau masih ada yang menyalahkan korban, menganggap wajar, bahkan berkata “Namanya aja laki-laki, sama aja kayak kucing dipancing sama ikan, mana ada yang nolak…”

Hey, yang masih ngomong kayak gitu! Laki-laki itu manusia, lho… kucing itu hewan. Masa mau disamain sama hewan? *esmosi*

Eniwei, dorama ini IMO worth to watch, tapi mungkin memang tidak untuk semua orang. 😊

Author:

To many special things to talk about... =p

14 thoughts on “Love and Fortune

  1. Aku masih belum nonton kalo dorama Jepang nih mba. Lah yg Drakor aja liatnya nambah trus yg akan ditonton wkwkwkwk. Eh tapi ini tiap eps nya pendek2 yaa? Kayaknya boleh juga aku liat ntr.

    Td nonton trailernya biasa aja sih, ga terlalu tertarik. Kalo mba ga cerita ini ttg apaan, aku ga bakal mau nonton mungkin. Sesekali aku pengen juga refreshing nonton drama yg bukan Korea 😀

    1. Lumayan buat selingan dr drakor yg tiap episode-nya 1jam-an mba… 😂

      Nah, iya mba… saya juga kalau ngeliat trailer atau sinopsisnya mungkin ga jadi nonton. Tapi ya karena ga ngeliat itu juga sih jadi tau ternyata sesuatu yg biasa aja bisa diramu jadi kayak karya seni gitu *IMO sih, saya bukan orang seni jg, jadi sebenarnya ga ngerti2 amat 🙈*

      Tapi buatku ini dorama dgn sinematografi paling bagus, mba. Detil tiap scene-nya kayak bener2 dipikirin banget gitu sama yg bikin 😁

      Baru kali ini saya nonton serial bisa smp fokus ga main hape… wkwk

  2. aku termasuk orang yang jarang nonton drama..wkwkkwk
    tapi setelah bahas sedikit ulasan mbak hicha, jadi kepikiran tentang plot cerita yang ingin berbeda dengan kenyataan apa yang terjadi di Jepang. Mungkin adegan 18+ untuk menguatkan plot ceritanya

    1. Eh, gimana maksudnya, mas?
      Sepengetahuan saya sih kehidupan remaja Jepang itu sudah bebas sekali. Cuma memang kalau utk dgn 18thn ke bawah, masih dihindari karena pada takut ditangkap polisi 😅

  3. Kalau dari trailernya doank ga nyangka ceritanya gituu.. Soalnya trailernya bahasa Jepang n ga ada subtitle nya, kukan tak mengerti bahasa jepang, beda sama Hicha. Hahahahha 😆 Masalah percintaan age gap memang rawan, salah2 bisa dianggap pelecehan yaaa..

    1. Nah itu juga, Ca… entahlah Jepang mau melindungi para pelaku seni-nya atau emang sok eksklusif, tapi emang lebih susah dijangkau dorama2 ini mah 😅

      Pada dasarnya di Jepang hubungan dgn anak di bawah umur dgn atau tanpa consent udah dianggap tindakan pelecehan 😅

  4. cuma liat trailernya aku kurang pahaaam. Baru deh pas baca sinopsi jadi ngertiii.. Ternyata oh ternyataaa..

    Jadi kepo kan apa yang dilakuin si Wako ke Yumeaki.. Kok bisa gituu berhubungan sama anak sekolahan. Ketemu di mana? Ditangkep apa gimana? Terus jadi bayangin #eh Tapi bukan bayangin adengan anonoh ya >.<

    Makasih anyway reviewnya!

    1. Asiiik… ada yg jadi penasaran 😆

      Bisa dilihat di Netflix ya mba…
      Di youtube jg ada sih, tapi ga ada subtitle-nya 🙁

  5. Paling nggak bisa deh saya dikasih racun series Netflix hahahaha. Semakin panjang saja daftar series yang harus ditonton 😆

    Thanks mba Hicha, untung dikasih review jadi ada bayangan ceritanya seperti apa. Kalau hanya 20 menitan berarti 12 episode kurang lebih 4 jam, bisa jadi selingan 😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s