Posted in MindTalk

Tidak Suka dan Tantangan Reply 1988

Saya sering sekali mengatakan bahwa kalau tidak suka itu bukan berarti benci. Simply tidak sampai pada tahap menyukai sesuatu aja, selevel lah sama tidak benci. Ngapain harus benci, coba? Buang-buang energi. Nggak benci sama seorang idol atau boyband kan bukan berarti ngefans juga. Nah, begitu juga sebaliknya. Tidak suka ya rasanya biasa aja. Hmm… mungkin bisa disebut netral kali, ya?

Jadi kalau suka dan benci itu seperti bertolak belakang, si “tidak suka” dan “tidak benci” ini jadi penonton drama antara si “suka” dan si “benci” aja. Asyik kok, jadi penonton. Serunya dapet, energinya tidak terbuang. 🤣

Anyway, sebagai seorang couch potato yang doyan nonton serial dari balita *yeah, harap maklum, ilmu parenting jaman dulu belum seperti sekarang*, nggak afdhol rasanya kalau nggak nonton drakor juga.

Drakor ini biasanya saya tonton kalau lagi bosen sama dorama. Hubungan saya dan drakor ya nggak bisa dibilang benci. Kalau benci nggak akan ditonton, lah! Tapi nggak bisa dibilang suka juga. Setahun paling cuma 2-3 drakor yang sanggup saya tonton sampai selesai. Yah, karena emang banyak yang nggak cocok aja. Kalau menurut saya seru toh ditonton juga. Hanya masalah selera saja.

Sedikit cerita, saat-saat sering nonton drakor itu pas baru lulus S1 dan nggak punya akses Ril*ks-nya Coml*bs lagi yang punya stok dorama nggak abis-abis, tea… Tau dah di mana itu para suhu dapetinnya.

Saat itu internet cepat masih mengawang-ngawang. Saya bahkan nggak punya smartphone dengan koneksi internetnya. HP masih monochrome dan tentu saja screen time saya lebih banyak di laptop. Itu pun masih saingan dengan membaca. Kalau sekarang mah baca via layar saja lah… Lumayan buat ngurang-ngurangin barang, ngurangin hal yang berpotensi bikin stress juga. Maklum, barang yang banyak itu sumber anxiety-ku. 🙈

Saat itu, kalau mau nonton serial ya hanya ada di penjual DVD bajakan yang kebanyakan menjual DVD film atau drama Korea. Tentu saja illegal, tapi mau gimana lagi, akses legal kok ya susyee bener… Kemana coba bisa kucari dorama-dorama itu? Jadilah circa 2010-2012 saya nonton drakor aja. Karena di abang penjual DVD, nyari dorama seperti nyari mangga di musim rambutan. Ada, tapi lebih banyak yang jual rambutan.😝

Beberapa drakor yang saya beli DVD bajakannya bahkan saya nggak ingat lagi judulnya dan entah sudah di mana itu DVD-DVDnya. Tapi beberapa yang saya ingat saya tonton sampai selesai, baik DVD maupun hasil copy/download di antaranya (semua link-nya dari Wikipedia atau AsianWiki, yaa… siapa tau ada yang belum nonton dan kepo dengan sinopsisnya):

Dan yang terakhir Reply 1988 yang ingin saya bahas di sini.

Mau Tahu Lokasi Syuting Reply 1988? Cek Infonya di Sini

Banyak juga ya ternyata… hahaha…

Kalau dilihat-lihat dari list di atas, bisa dibilang KDrama yang saya tonton yang booming aja. Itu juga nggak semuanya dan sejujurnya tidak jarang saya skip kalau ada part yang menurut saya membosankan.

Saya pun berkesimpulan mungkin saya tidak suka drakor, tapi ya nggak benci juga sampai ogah buat memulai nontonnya.

Nah, salah satunya KDrama yang di judul ini. Dulu pas baru-baru ditayangkan sebenarnya orang-orang udah rame ngomongin. Waktu itu belum tertarik karena masih di Jepang ya nonton JDorama aja lah… ada akses yang legal dan free pula. Paling agak struggling karena nggak ada subs-nya. Lumayan lah buat bahan belajar listening Bahasa Jepang… 😝

Meskipun begitu, sebenarnya saya udah nyobain nonton 3-4 kali dan selalu berhenti di 15-20 menit pertama karena pusing kenapa ini kalau ngomong pada nggak nyantei, ngegas mulu… 😅

Yaudahlah ya, kalau nggak enjoy dan masih ada yang lain ngapain juga dipaksa gitu kan, ya…

Sampai tibalah di 2020, saat koronce menyerang dunia, istilah social distancing, lockdown, WFH, PSBB, deelel mulai terdengar dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang biasanya nongki-nongki cantik di kafe-kafe yang nggak kalah cantik, sekarang nongkrongnya via Zoom, Skype, atau Google Meet aja.

Banyak waktu yang dihabiskan di rumah, meskipun sebenarnya yang harus dilakukan sama saja. Malah seringnya bikin badan ‘bingung’ karena ini kan di rumah, tempat paling nyaman buat rebahan, kok malah harus kerja??? Akhirnya lihat kasur, lupa kerjaan dan langsung surrr meluncur 🙈

Karena PSBB dan teman-temannya juga, orang-orang akhirnya mulai beralih mencari hiburan di dunia maya instead of nongkrong cantik di luar rumah. Mulai lah penggunaan Netflix, dkk dioptimalkan. Selain lebih gampang diakses di mana aja, nggak perlu disambungin ke TV dulu, cukup via laptop atau HP, tayangannya juga lebih beragam dan kita bebas memilih mau nonton yang mana.

Jadilah orang-orang banyak merekomendasikan tontonan-tontonan yang menurut mereka menarik, salah satunya babang nasional kesayangan kita NicSap, yang jadi nonton Reply series hasil pengaruh mbak Disas yang juga kesayangan netijen +62.

Wah, NicSap aja sampai suka, masa saya 15-20 menit di awal udah bosen. Ada apa dengan saya, nih? Wkwkwk

Saya pun jadi merasa tertantang dan saya penuhi tantangan dari diri saya sendiri untuk menyelesaikan serial ini. Siapa tau kan ngeboseninnya cuma di episode satu aja, terus episode berikutnya jadi seru gitu… 😊

Akhirnya mulailah saya tonton dengan ekspektasi serendah mungkin dan dengan pikiran seterbuka mungkin. Ya gimana ya, percuma mah kalau dilakukan dengan keengganan dan pikiran sempit. Yang ada nanti nontonnya malah tertekan. Mau nonton aja kok ribet… hahaha.

Saya coba tonton dengan memperhatikan semua detil, alur, akting pemainnya, pokoknya coba nggak diskip deh. Siapa tau bisa dinikmati gitu, kan…

Jadi kalau mulai bosen dan hilang fokus ya ditinggal dulu. Makanya nontonnya lama, satu episode bisa tiga hari! 🙈

Dan apakah pendapat saya dengan serial ini jadi berubah seperti kesan orang-orang, bahkan babang NicSap yang sangat merekomendasikan drama ini?

Hmm… sebelumnya maafkeun kalau ini mungkin unpopular opinion, tapi setelah ditonton sampai selesai, saya tidak merasa yang wow gimana gitu seperti orang-orang.

Oke, ceritanya sederhana, tentang kehidupan sehari-hari. Tidak ada peran antagonis, masing-masing karakter punya kekurangannnya sendiri-sendiri. Cerita per episode-nya juga kadang random sama kayak kehidupan kita sehari-hari. Dari cerita cinta dengan tetangga, masalah keluarga, persoalan hubungan anak dan orang tua yang nggak gede-gede amat kalau dilihat dari luar, tapi ya bikin nyes juga saat mengalaminya, sampai cerita lomba nyanyi nasional tingkat kecamatan, bahkan soal menopause juga ada ceritanya, meskipun inti ceritanya tetap menebak siapa teman si lead actrees yang jadi suaminya di masa depan. Cerita persahabatannya juga manis dan minim drama. Nggak adalah itu adegan zoom in – zoom out ala ala sinetron azab.

Dari episode 1-10, saya pusing nontonnya. Kenapa harus teriak-teriak atuhlah kalau ngomong… apalagi kakak Sung Bora yang marah-marah mulu kerjaannya, heran gue *gue 👻*, nggak capek apa ya hidupnya marah-marah melee? *mulai ngegas:))*

Belum lagi kenapa lah ini orang-orang Korea kalau makan ngunyahnya nggak nyante, nggak cuma ngecap-ngecap tapi juga muncrat-muncrat. Saya yang nonton kan jadi geuleuh atuhlah… 😑

Tapi mulai episode 11, akhirnya saya mulai bisa menikmati kesederhanaan ceritanya. Karakter-karakternya mulai berkembang jadi lebih dewasa. Sudah beradaptasi juga dengan lawakannya yang pas awal-awal saya nggak ngerti lucunya di mana saking garingnya menurut saya. Sampai kemudian di sekitar episode 16-18 mulai mbosenin lagi, dan naik lagi pace-nya di dua episode terakhir.

Setelah nonton ini saya jadi mikir, ini apa ada yang salah dengan saya, ya? Kata orang-orang serial ini bikin hangat, tapi kenapa di saya biasa-biasa aja? Masa saya se-nggak berperasaan itu? Padahal saya kan tim drama-keluarga-atau-drama-yang-anget-anget-lah-pokoknya sekali, tapi kenapa serial ini nggak yang bikin saya jadi tersentuh seperti yang dirasakan orang-orang?

Sampe dua hari lho, saya jadi kepikiran… hahaha.

Dan dua hari kemudian akhirnya saya ngerti kenapa saya yang kayak B aja gitu dengan serial ini.

Ternyata jawabannya adalah…

Jeng jeng jeng

*zoom in zoom out*

*drama dikit biarin*

Justru karena saya anggota tim drama-keluarga-atau-drama-yang-anget-anget-lah-pokoknya yang sudah terpapar duluan dengan kehangatan-kehangatan itu di Asadora NHK.

FYI, Asadora itu jenis dorama Jepang yang ditayangkan setiap hari Senin-Sabtu jam 8.00-8.15 di NHK (Stasiun TV Nasional Jepang). Biasanya ditayangkan dua cerita selama satu tahun, masing-masing 150an episode. Banyak memang, tapi tiap episodenya cuma 15 menit, jadi ya kalau ditotal menit-menitnya nggak jauh beda juga sama Reply Series.

Tokoh utama yang diangkat itu sejak ditayangkan pertama kali tahun 1960an 90an persennya perempuan dengan perjuangan hidup meraih cita-cita dari kecil sampai dewasa, bahkan ada yang sampai nenek-nenek dan kemudian meninggal juga. Nggak melulu yang serius, sama kayak kehidupan sehari-hari aja, ada kocak-kocaknya, ada anget-angetnya, ada cinta-cintanya juga.

Beberapa di antaranya diangkat dari kisah nyata. Mungkin salah satu Asadora yang familiar di netizen Indonesia itu Oshin, yang diangkat dari kisah hidup Katsu Wada yang bersama suaminya membangun chain supermarket Yaohan (sekarang sudah diakuisisi oleh AEON).

Tapi saya nggak inget di Oshin ini ada tokoh antagonis-nya nggak, ya? Kalau Asadora 2000an sih nggak ada. Kalau pun nyebelin, dia pasti tetap punya sisi baik. Begitu juga dengan tokoh utamanya, nggak yang flawless baik hati sempurna nggak apa-apa ditindas ala ala Cinderella.

Massan - Wikipedia
Massan: Asadora  yang diangkat dari cerita hidup Rita Cowan, seorang foreigner dari Scotland yang menikah dengan Masataka Taketsuru di awal tahun 1900an yang di kemudian hari menjadi pelopor produsen wiski di Jepang
Mare - AsianWiki
Mare: Berkisah tentang gadis yang awalnya alergi dengan mimpi , gara-gara sang Ayah yang sangat mengagung-agungkan mimpi tapi malah terbelit utang sehingga membuat keluarga susah. Padahal Mare sangat suka membuat kue dan punya bakat jadi Pattisserie.

Nah, di Asadora ini saya udah keduluan dapat pelajaran-pelajaran hidup tentang keluarga, persahabatan dan perjuangan hidup seperti yang diangkat oleh Reply 1988. Dan yang bikin serial ini jadi terasa biasa, karena dengan durasi total yang kurang lebih sama, tapi alurnya lebih lambat sehingga kadang terkesan bertele-tele. Belum lagi cerita cinta tokoh utama yang sebenarnya jadi cerita utama, tapi karena cerita-cerita lain yang sebenarnya bisa di’mampat’kan, jadi nggak terlalu tereksplor, dan justru bikin saya sebagai penonton bingung, ini drama keluarga atau drama percintaan? Kalau mau dibilang drama keluarga, fokus utamanya masih percintaannya, tapi kalau mau disebut drama percintaan, tapi justru kisah cinta tersebut kurang cukup dominasinya untuk dapat disebut drama percintaan. Tuh, bingung kan saya? *Miss Bingung strikes back*

Meskipun begitu, serial ini tentu saja patut diapresiasi. Karena ya memang jarang-jarang ada drakor yang ceritanya sederhana kayak gini. Saya sendiri juga kalau mau merekomendasikan judul Asadora yang menurut saya lebih bagus, bingung bisa merekomendasikan buat ditonton di mana. Susye aksesnye, Kaka… heran dah ini orang Jepang medit atau gimana, yak? Semua aplikasi nonton legalnya nggak bisa diakses di luar Jepang, gitu lho… 😤

Dari pada saya jadi kayak manas-manasin gitu, kan… jadi kayak bilang “nih, gue udah nonton drama keluarga yang banyak pelajaran hidup, menghangatkan hati, tapi tetap bikin ketawa, nih… ah, payah lo ga bisa nonton… wkwkwk” *kemudian ditampol netijen*

Eniwei, buat yang tidak terlalu suka drakor, serial Reply 1988 ini mungkin bisa jadi batu loncatan. Walaupun buat yang sudah familiar dengan Asadora, mungkin saya nggak gitu merekomendasikan. Nonton yang cinta-cintaan aja lah sekalian biar nggak jadi bandingin sama Asadora. Hahahaha.

Eniwei lagi, jadi saya tim Jung Pal atau Taek, nih?

Hmm… saya tim Sun Woo – Bora aja lah… wkwkwk

Selain karena Sun Woo ini yang paling cakep, siswa teladan, anak baik-baik yang berbakti, tapi juga bisa tegas, lugas, cerdas, paket kumplit lah pokoknya, entah kenapa saya merasa sedikit banyak mirip dengan Bora *mulai halu*. Kecuali untuk super galaknya, saya mah lemah lembut kok anaknya… *prett* plus ku tak miliki dan hanya bisa iri dengan wajah putih mulusnya

Sama-sama anak pertama, sulit untuk menunjukkan afeksi, dan sratt srett jebret jebrett sama hidupnya *brb nyari padanan kata yang sesuai*, pokoknya Bora dan saya sama-sama orang yang kalau sudah punya satu kemauan, ya orang lain mau bilang apa juga cuma bakal lewat aja di kuping. Sayangnya saya jarang punya mau, sih… makanya keliatannya santuy terossss… 🤪🙈

Sebagai penutup, saya hanya ingin menyampaikan bahwa ini tentu saja cuma opini pribadi. Sebagian besar orang mungkin punya pendapat berbeda. Ya no problemo… selera mah nggak bisa dipaksakan. Kalau ada yang berlawanan dengan pendapat saya ya monggolet’s agree to disagree.

Males kan kalau ada yang keukeuh kita harus setuju dengan opininya sampai mendiskreditkan pendapat kita. Males juga kan saat kita suka A terus ada yang bilang B >>> A, apaan tuh A blablabla…

Heh! B itu lebih oke dari A kan menurut lo, biasa aja, dong! Nggak usah ditambah ‘apaan tuh blablabla-nya’! Kalau menurut gue A yang lebih bagus ya terserah gue lah! Emang gue maksa-maksa lo buat suka A dengan ngejelek-jelekin B? *maap ngegas*

Dan sebelum saya tambah ngegas, mari kita akhiri tulisan ini sampai di sini.

Wabillahitaufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*pake salam biar santuy*

Author:

To many special things to talk about... =p

22 thoughts on “Tidak Suka dan Tantangan Reply 1988

  1. Hi kak Hicha!
    Unpopular opinionnya keren menurutku. Selama ini yang aku lihat banyak orang bilang Reply series ini bagus banget dan harus ditonton banget, tapi tulisan kak Hicha malah memberi aku sudut pandang baru 😁
    Sampai saat ini, aku belum pernah nonton Reply series karena jujur aja, aku kurang tertarik dengan tema yang diusung, bahkan lihat trailernya aja belum pernah 🤣
    Aku lebih suka yang romance comedy atau campuran action #plakkk
    Habis ini mungkin aku akan dihajar massa karena bilang nggak tertarik nonton Reply series 😂
    Maafkan!! Kabur doloooo wkwkwk

    1. Hahaha
      Temenku jg bikin tim oposisi dr postingan ini nih… 🤣
      Untungnya masih becandaan aja. Orang2 di sekitarku mah nyantai we sama yg beda.
      Warna yang beda2 justru bikin pelangi jadi indah gitu kan ya.. *aseeek*😂

      Karena selera tak bisa dipaksa *aseeek kuadrat* 😂😂

  2. Satu pertanyaan yg gak sabar pengen saya tanyain ke mba setelah baca ini adalah, waaah mba tinggal di Jepang toh? Saya selalu excited kalau dengar Jepang karena lg belajar bahasanya😂 Selain Asadora, pengen minta rekomendasi dorama yg wajib ditonton jg nih jadinya hehe, siapa tau saya bisa akses ke situs2 tertentu buat curi-curi download😆
    Untuk drakor sendiri sih saya justru lebih rajin nonton drakor2 yg jadul dan yg hits di tahun 2010an saat saya SMP, mungkin karena masa itu lagi kepincut banget sama drakor. Kalau sekarang cenderung biasa aja, dan malah nonton drakor setahun cuma sekali, atau bahkan nggak sama sekali. Saking terlalu banyak judul dan keburu bingung mau nonton yg mana, akhirnya bye aja kesemua. Jadinya gak bisa komen soal drakor Reply😂

    1. Sudah pulang sejak tahun lalu, Awl… 🙂

      Untuk dorama sebenarnya tergantung genre yang kamu suka apa, as you know dorama Jepang itu temanya beragam bangeeeet :))
      Terakhir yang ngena di aku tuh ada Good Doctor

      Daripada bingung milih jadi dadah dadah aja lah yaaa…. hahahaha

      1. Saya baru liat kategori tentang Jepang di blog mba, ternyataa sudah lumayan lama ya disana? Mungkin saya akan baca2 lebih lanjut kategori tersebut😁

        Nah iya banget sih mba, bingung juga kalau nentuin yg mana yg bagus karena genrenya banyaak. Good Doctor ini saya juga ikutin berbarengan waktu mereka tayang disana, dan jadi salah satu medical drama favorit setelah Code Blue. Salah satu yg bikin saya seneng sama dorama karena genre di luar percintaan itu isinya memang nggak ada romantis2an, gak kaya drama Korea yg meski genrenya kedokteran, tetep gak bisa lepas dari romansa pemeran utama wanita dan pria. Walaupun sekarang udh mulai ada juga drama2 yg fokus dan gak melulu tentang percintaan kayak 365 Days: Repeat the Year. Episodenya jg cuma 12.

        Iya mba, mending dadah dadah ajaa haha toh pasti siklus drama korea bakalan terus ada yg bagus tiap tahunnya.😂

      2. Betuuul… terus genrenya juga kadang suka di luar dugaan. Masa sampai tukang ngepel, pemilik rumah kremasi, sampai proof-reader pun ada doramanya! 😂

  3. Eh aku barusan ngulas Reply series juga di blog, tapi yang kutonton hanya 1994 sih. Entah kenapa di sekitarku lebih banyak nonton yang 1988 ini. Kenapa oh kenapa? hahahaha

    Jujur belakangan ini aku suka iseng cari review drakor dari seorang yang bukan pecinta drakor banget atau malah sebelumnya nggak pernah nonton samsek. Karena biasanya akan mendapatkan sudut pandang yang baru. Soalnya kalo yang udah hardcore, review-nya bias semua huahaha

    Reply 1994 awalnya juga agak-agak ngebosenin, mencoba menebak-nebak alurnya. Eh ternyata emang nggak ada klimaksnya sampai akhir 🤣 aku nonton ini juga karena bucin salah satu aktornya aja *ehem*

    1. Soalnya sampe NicSap aja nonton gitu mbak… 😂

      Iya, ya… kalau bias mah semua juga jadi bagusss… hahaha

      Sayangnya biasanya yang bukan pecinta drakor seringnya malah ga nonton drakor sama sekali 🤣

      1. Kayaknya waktu sempat rame yang dia Live IG gitu… eh, apa jangan2 aku halu, yak? 🤣🤣

  4. Episode 1 reply 1988 udah lebih dari seminggu yang lalu dibuka..tapi sampai sekarang masih belum kelar…

    Dengan review-nya jadi pengen longkap ke episode 11 aja Mel kak… hehee…

  5. Reply 1988 emang terkenal banget tapi jujur saya juga belom nonton karena saya pribadi lebih suka drama atau film yang temanya thriller, action atau psikologis. Kalau dari jepang saya sukanya nonton anime😁
    Saya suka drama korea dan selalu axcited kalau nonton tapi saya juga jarang nonton karena masalah kuota😁 he…he…

    1. Iya nih, kuota juga jadi PR banget buat nonton serial luar, ya…

      Coba cerita sinetron lokal juga variatif dan mendidik, kan ga perlu nonton serial luar 🙁

  6. wah aku baru mendapatkan sudut pandang lain tentang drama ini…
    Aku sebagai tim yang pro dengan drama ini karena tiap episodenya bikin aku nangis. Adegan-adegan dalam drama ini menyentuh buatku hahaha
    apa karena aku belom nonton Asadora juga kali ya?

  7. Reply 1988 itu memang ga bisa cepet disukai kok mba. Aku aja butuh 2 eps dulu baru mulai tertarik. Mungkin Krn alurnya juga slow bangetttt sih yaaa :D.

    Tp kenapa aku bertahan, Krn sbnrnya ini ingetin masa2 di tahun itu, walopun 1988 aku msh kls 1 SD hahahahah. Jauh banget ternyata beda umur Ama Jung pal dkk :p.

    Sehabis nonton reply 1988 jujurnya aku sempet susah move on, msh kebawa Ama cerita dramanya :p. Sampe2 mau nonton reply 1997 aja sampe skr ga lanjut2 di eps 1 hahahah. Ga semenarik yg 1988. Ato aku butuh bbrp eps LG biar bisa suka :D?

    Naah kalo drama Jepang jujurnya aku jaraaaaaang bgt nonton. Oshin dulu sempet liat, tapi ga terlalu ngikutin. Lah pas filmnya diputer aku msh SD juga :p. Cuma inget bangettt mama yg ga pernah absen nonton Oshin. Kapan2 aku mau coba liat drama2 Jepang deh. Cuma ga kebayang kalo sampe ketagihan seperti Drakor :p

    1. Aku baru bisa lumayan “menikmati” setelah ep.10, mba… 🙈

      Wah, mba Fanny tahun segitu udah SD? Awet muda sekaliii… ngaku 25 pun kumasih percaya 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s