Posted in MindTalk

Bukan Sekadar Racun

Akhirnya gabung lagi dengan 1M1C setelah didepak karena bolos lebih dari 6 minggu. Hahaha.

Komunitas 1M1C ini komunitas blogger paling nyantai sih kayaknya. Kita hanya diminta posting satu blogpost seminggu sekali, boleh bolos sampai lima kali pula. Nggak ada tuntutan lain-lain. Kalau didepak pun tinggal daftar lagi ini… huhahaha.

Selain itu dari grup Whatsapp-nya juga saya jadi dapat asupan bahan bacaan yang bisa dinikmati sambil makan. Yah, mungkin secara table manner nggak baik ya, makan sambil membaca. Tapi daripada mata saya nganggur gitu lho… *millennial sejati lah emang, bosenan bin nggak sabaran… wkwkwk*

Sebulan sekali ada Minggu Tema. Kali ini tema yang mendapat polling terbanyak adalah ‘racun’. Terus saya bingung, mau nulis apa yang berhubungan dengan racun. Padahal tema-nya sudah diumumkan sejak hari Senin. Baru ditulis mendekati injury time. Sungguh procrastinator: checked! 😝

Saat membaca tema tersebut, malah membuat saya berpikir tentang media sosial yang akhir-akhir ini sering digadang-gadang sebagai tempat ‘beracun’, dan pas pula saya habis buka Twitter yang isinya kadang ya gitu deh…

Kebetulan hari itu akun Twitter saya ultah yang ke-11 dan dikirimin ucapan kan, seperti tahun-tahun sebelumnya, eh, kartu ucapannya malah jadi postingan IG Story. Bikinnya lebih cepet, sih… 😽

Lalu entah kenapa, tiba-tiba *ilham dari langit*, 2-3 hari yang lalu saya teringat seorang teman saya yang berprofesi sebagai pharmacist pernah berkata “Yang membedakan obat dan racun itu adalah dosisnya.”

Kalau dipikir-pikir iya juga, ya. Coba deh minum Panad*l sepuluh tablet sekaligus, berbusa juga tuh lambungnya.🤪

Dan setelah dipikir-pikir lagi *kebanyakan mikir ya saya? Hahahaha*, obat, racun, serta dosis itu nggak hanya berhubungan dengan yang dikonsumsi per oral (ataupun cara pengobatan lainnya), tapi juga berhubungan dengan apa yang dikonsumsi oleh otak dan hati.

Bersikap positif itu, mungkin bisa jadi obat penghibur hati, tapi saat ‘dosis’nya berlebihan, maka yang terjadi adalah toxic positivity.

Emosi negatif seperti marah, sedih, dan segala yang tampak tidak enak itu terlihat seperti racun, tapi kalau ‘dosis’nya pas, bisa saja jadi ‘bahan bakar’ pembangkit semangat.

Kayaknya nggak sekali-dua kali kita pernah mendengar cerita seseorang yang sukses dengan bekerja keras setelah merasa sakit hati dan dendam, kemudian ingin membuktikan pada orang yang meremehkannya. Bahkan sampai ada Glow-up Challenge segala lho di TikTok tuh… Pada keren-keren banget pula sekarang. Mantep dah…

Berikutnya seperti yang sudah tertulis di Intro tadi, mengenai media sosial. Sebenarnya medsos ini bisa jadi sumber informasi dan ilmu baru yang kadang bisa diakses lebih cepat, meskipun harus sering-sering tabayyun juga untuk kebenarannya.

Setelah era medsos, ilmu-ilmu terasa makin berkembang. Mungkin karena feedback-nya juga bisa diperoleh lebih cepat. Ilmu parenting, relationship, finansial dan investasi, kuliner, design, bahkan sampai ke full stack developer juga sudah banyak yang membagikan di media sosial.

Teman saya yang pharmacist tadi, juga membagikan ilmunya tentang obat-obatan di media sosialnya. Karena dia, saya jadi tahu kandungan dan kegunaan obat tertentu serta cara perhitungan dosisnya.

Yang dokter-dokter, banyak yang membagikan ilmunya mengenai perkembangan ilmu kedokteran saat ini. Apalagi lagi pandemi Covid-19 gini, kan… tentu saja bisa jadi bahan pembicaraan yang “alot”. Saking alotnya saya jadi tau kalau ada istilah Covidiot dan Pansos Covid. 😅

Teman-teman saya yang lain, ada yang mulai merambah dunia Podcast. Berhubung mereka para engineer di bidang dirgantara, jadi topik-topiknya yang nyangkut kedirgantaraan. Tenaaang, dibahasnya santai kok…

Dari media sosial juga saya jadi iseng-iseng nyobain ini-itu, ilmu-ilmu yang dulu saya anggap saya tidak suka, tapi karena nggak benci juga plus suka tantangan jadinya dicobain deh… Lumayan banget lho jadi nambah pengetahuan dan sedikit kemampuan baru, masih kulit terluarnya aja tentu saja. Tapi saya senang! 😊

Iya, ternyata bisa mempelajari sesuatu yang selama ini kamu nggak suka itu, kepuasannya terasa double lho… puas karena dapat ilmu baru, juga puas karena bisa melewati tantangan dari rasa tidak suka tersebut.

Walaupun untuk bisa diteruskan lebih mendalam sampai jadi expert sih lain cerita, ya… 🤪

Kembali pada ‘racun’, medsos sendiri bisa banget jadi racun bagi penggunanya. Racun yang menyebabkan perasaan inferior atau insecure yang datang karena komen netijen, maupun karena postingan kebahagiaan orang lain.

Dan dipikir-pikir, netijen ini aneh dah, orang posting hal bahagia dia julid, posting hal sedih tetep we julid. Siganamah mun teu julid teu mantul meureun nya? 👻

Eniwei, selain racun pada medsos, yang kalau disikapi dengan baik bisa jadi ‘obat’, kalau diperhatikan banyak juga hal-hal yang selama ini kita anggap racun, tapi sebenarnya kalau ‘dosis’-nya tepat bisa menjadi obat.

Racun tikus, racun serangga, dan segala racun hama lainnya, misalnya. Penggunaannya mungkin masih banyak ditentang, tapi harus kita akui kalau tak jarang racun-racun itu yang membantu para petani agar dapurnya tetap ngebul.

Selain itu ada racun ular. Oke, mungkin sebutan yang benarnya itu bisa ular. Tapi eksistensinya sebelas-dua belas lah sama racun. Jadi, kita anggap saja itu racun, ya… 😜

Seperti yang kita ketahui, bisa ular ini berbahaya kalau sampai masuk melalui tubuh dari gigitannya. Tapi kalau diolah dan dengan dosis yang tepat bisa ular ternyata bisa digunakan sebagai obat hipertensi maupun obat penyakit jantung.

Juga sampah-sampah domestik yang kalau dibiarkan bisa membusuk serta meracuni tanah dan air, bisa diolah jadi pupuk atau didaur ulang.

Tuh, yang dilabeli sebagai ‘racun’ sebenarnya belum tentu merusak juga, kalau ‘dosis’ perlakuannya sesuai.

Ngomongin sesuatu sebagai ‘racun’ maupun sebagai ‘obat’, pada akhirnya kembali ke ‘dosis’-nya. Dosis inilah yang digunakan agar tercapai ‘keseimbangan’. Saat dosisnya tepat, bisa menjadi obat karena tercapai keseimbangan, saat berlebihan menjadi racun karena ketidakseimbangan yang berefek merusak.

Dan untuk dosis ini belum tentu jumlahnya sama untuk tiap-tiap bahan baku pembentuknya. Tergantung kebutuhan.

Begitu juga dengan hidup. Karakter, latar belakang, maupun lingkungan dan hal-hal lain yang membentuk pribadi manusia itu masing-masingnya berbeda. Tapi pada akhirnya keseimbangan harus tercapai agar tidak menjadi ‘racun’, entah bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri.

Seseorang dengan latar-belakang materi berlebih, maka dia memiliki privilege untuk mendapatkan apa yang bisa diperoleh secara materi, tapi kalau ‘dosis’ dari ‘merasa cukup’-nya tidak tercapai, dia akan menjadi tamak dan lupa untuk bersyukur dengan apa yang telah dimiliki. Perasaan ini bisa meracuni dirinya untuk terus menerus mengejar materi, bahkan bukan tidak mungkin ketamakannya jadi merugikan orang lain. Jadi ‘racun’ untuk orang lain juga, kan…

Begitu juga dengan orang yang latar-belakangnya kekurangan materi, biasanya dia diberikan privilege dalam bentuk lain. Seperti yang pernah saya tulis di blogpost ini. Tapi kalau dia menganggap kekurangannya sebagai kelemahan, lama-lama akan teracuni dan jadi terpuruk sendiri. Padahal dia sudah memiliki kelebihan yang lain, hanya harus menyesuaikan ‘dosis’ kelebihan yang dia miliki tersebut.

Hmm… okay, mungkin nggak bisa dibilang ‘hanya’. Butuh effort beberapa kali lebih besar dari mereka yang starting point-nya sudah jauh di depan. Kalau ‘keseimbangan’ yang ingin dicapai itu mengenai materi. Tapi apakah itu benar-benar keseimbangan yang dicari? Yakin itu bukan malah jadi ‘racun’?

Pada akhirnya, untuk menyesuaikan ‘dosis’ dari kelebihan dan kekurangan kita agar tidak menjadi ‘racun’, yang kita butuhkan adalah mencapai ‘keseimbangan’ yang sesuai. Sayangnya, tidak semua dari kita sudah tahu dan yakin dengan keseimbangan apa yang paling baik untuk kita.

Yah… namanya juga hidup… sebagai manusia, pula! Banyak maunya, semuanya mau. Maunya yang enak-enak doang, pula! 😂🙈

Author:

To many special things to talk about... =p

17 thoughts on “Bukan Sekadar Racun

  1. Waahhh, dapet stigma baru nih dari kata ‘racun’. Keren, keren prok..prok..prok.. Cara pandangnya sangat luas, dan disampaikan dengan apik. Terima kasih untuk informasinya kaka author. Salam kenal dari Coffee Lady. Berkunjung juga yuuk, ke blogku sesama pengguna wordpress😆

  2. Mba hicha, komunitasnya kok keren?? Klo ada tema2an gini kan enak nulisnya jd semacam ada yg memecut wkwkwk

    Aniwei, ak msh blm trlalu bs mencerna soal toxic positivity ini ahahahaha

    1. Yuk ikutan 1m1c yuuk… hahaha

      Sepenangkapanku sih, toxic positivity itu seperti menyangkal emosi kalimat positif. Mungkin tujuan nya baik. Tapi kalau terus-terusan gitu, sepertinya kita tu ga boleh sedih/marah/down/sakit hati, padahal itu kan manusiawi sekali.

      Contohnya ada org yg mengalami kegagalan, terus ada yg ngomong “ah, biasa itu… semangat dong…” nah omongannya ini bisa tergolong ke toxic positivity. Karena dia menyangkal rasa sedih yg dialami orang tsb. Intinya, kata-kata positif yang efeknya berkebalikan kali ya…

      Tapi level toxic ini beda-beda jg, sih… tergantung yg menerima. Mungkin ada jg orang yg malah jadi semangat beneran. Tapi ada juga yg mikir “emang aku salah ya kalau sedih? Kok aku kayaknya salah terus, ya…” Jadinya malah tambah down kan…

      Kurang lebih gitu kali, ya… 😬

  3. Netyjen memang macam2. Niat orang untuk bermedsos beda2. Saya pernah sih nulis tentang tips menghadapi medsos saking bisingnya respon ttg bnyk hal. Paling aman medsos jangan diseriusin ya hahaha…

    Btw. Tulisan yang bagus…

  4. Hi mba Nicha 😁

    Saya setuju banget saya post mba mengenai keseimbangan. Saya pribadi selalu percaya kalau hidup yang kita jalankan harus seimbang, agar kita belajar untuk nggak terlalu greedy yang akhirnya justru merusak masa depan kita. Hehehe. Dulu ketika saya masih muda *eh*, saya pernah menjalani hidup yang saya rasa nggak seimbang, dan hasil akhirnya, saya bukannya bahagia justru merasa tertekan 😅

    Terus one day, saya baca kata-kata dari Epicurus, “Be moderate in order to taste the joys of life in abundance.” — since then, saya mencoba untuk moderate dalam melakukan segala hal meski perlu efforts besar karena kadang saya as a human, nggak tau batasan moderate itu sejauh mana. Perlu trial error sampai akhirnya paham dan waktunya pun terbilang lama 😂 however, dari proses tersebut, saya bisa menikmati hasilnya sekarang. Buat saya balance, dan living on peace adalah yang utama 🙈

    Terima kasih banyak untuk tulisan di atas, karena kembali mengingatkan saya agar tetap stay true, dan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga kita nggak menjadi racun di-hidup kita dan orang-orang yang kita sayang 💕

    1. Wah… sekarang ga muda lagi emang mbak? 😅

      Betul mbak, meskipun gitu, seringnya easier said than done, PR jadi manusia seumur hidup nih kayaknya… huhuhu

  5. Hichaaa, ca baru mampir nih, gara2 gabung bareng di 1m1c 😁 emank sih santainya, tapi lumayan bikin motivasi buat nulis. Paling ga 5 minggu sekali 😂

  6. Aku sempet bbrp kali pengen stop dari medsos2 yg kadang toxic memang isinya . Tapi setelah dinasehatin suami, kalo sebaiknya apa yg kita baca itu , jgn semuanya dimasukin ke hati. Bawa happy aja, bawa lucu2an. Ga usah serius2 amat menilainya.

    Susah sih, apalagi aku tipe yg emosional hahahaha.

    Bener sih mba, yg terpenting itu dosisnya. Melihat medsos kelamaan juga ga bagus buat kesehatan mata dan pikiran. Jd sbnrnya tergantung aku juga untuk mengatur waktu supaya bisa lebih balance. Dan medsos jd ga berasa seperti toxic lagi 🙂

    1. Bener banget, mba…
      Apalagi seringnya kadang di medsos gitu kita ga yg kenal2 banget secara pribadi. Jadi kok ya rugi banget baper dan buang2 energi krn mereka.

      Balance itu yg susah ya, mba… namanya manusia, kayaknya itu PR seumur hidup deh 😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s