Alat Transportasi Massal di Jakarta dan sekitarnya: antara TransJakarta, KRL, MRT, dan LRT

Woohoo… Sudah dua bulan jadi perantau di Jakarta, bagaimana kesannya? Seperti yang tersirat di tulisanini, Jakarta tidak seperti yang saya suudzon-kan sebelumnya, kok. Bisa jadi karena ekspektasi yang saya set itu rendah, jadi saat mendapatkan yang melebihi, tentu saja jadinya senang. Better be surprised than disappointed, ceunah! 😁

Yang ingin saya bahas kali ini mengenai transportasi di Jakarta, khususnya moda transportasi massal-nya.

Sekembalinya ke Indonesia, atau tepatnya di Bandung, saya merasa sangat terbantukan dengan kehadiran ojek online seperti GoJek dan Grab.

Jarak yang zaman kuliah dulu ditempuh dalam waktu 1.5jam, bisa menjadi 20menit saja! Iya, dulu saya kira Bandung itu guedeee banget! Gimana nggak, dari BTC ke GatSu kalau naik angkot nggak 1.5jam sungguh suatu keajaiban. Lah, ini, dengan ojol, saya tiap hari dari kosan temen ke tempat magang nggak sampe setengah jam udah sampe aja…

Setelah dari Bandung, kembali ke kampung halaman yang hanya ada ojoff (ojek offline, iya, ini singkatan ngarang 😛), kemana-mana saya bareng ortu, lah! Wong jarang pergi-pergi ini… hahaha…

Kembali jadi anak rantau, kali ini di Jakarta, 3-4 hari di awal saya masih setia dengan ojol. Dan baru saya rasakan, ternyata mencari driver di jam pulang kantor itu, bikin uring-uringan! Huhuhu…

*Apakah ini pertanda rating saya sebagai penumpang itu rendah? Hiks*

Akhirnya setelah tanya sana-sini, saat mencari kost diputuskanlah mencari yang dekat dengan stasiun MRT. Dan alhamdulillah, saya tidak menyesalinya. 😊

Jadi kalau mau ke mana-mana di Jakarta, lebih baik menggunakan moda transportasi yang mana, nih?

Jawabannya, ya… tergantung kebutuhan, lah! :))

  1. TransJakarta

Kalau kata Wikipedia, TransJakarta atau duunya disebut juga sebagai busway adalah BRT (bus rapid transit) pertama di Asia Tenggara dan Selatan, lho! Ditambah lagi, TransJakarta punya jalur lintasan terpanjang di dunia! Wow! Kubaru tau!

Saya pertama kali mencoba moda transportasi ini saat kerja praktek di GMF, Juni-Juli 2008. Saat itu, ayah saya menghadiri pernikahan saudara sepupu satu moyangnya. Yang bersaudara tuh buyut keduanya, apa yak? Nggak ngerti juga saya. Maklum, urang awak semua bersaudara. Hahaha.

Saya berangkat dari Cengkareng dengan angkot M1, kemudian lanjut lagi beberapa moda transportasi sampai akhirnya naik TransJakarta ini.

Waktu itu HP saya masih monokrom. Jadi, ya tentu saja nggak kenal sama Google Maps. Wkwk. Cuma bermodalkan nanya-nanya sama bapak-ibu di angkot, di terminal, di jalan…

Alhamdulillah banget ya, nggak kenapa-kenapa. Soalnya keliatan banget anak daerah yang sok polos akutu… 🤣🤣

Kalau nggak salah waktu itu dari Cengkareng ke Ciledug (rumah saudara ayah saya itu) memakan waktu 2.5jam. Paling lama di TransJak, saya berdiri terus pula… heuheu.

Penyebab utamanya, tentu saja macet, diperparah dengan kendaran lain yang masuk ke jalur TransJak. Ckckck.

Dan di tahun 2020 ini, terutama di jalur utama seperti Sudirman, Thamrin, dan sekitarnya, jalurnya sudah lebih rapi, dan dijaga agar tidak ada kendaraan lain yang menerobos. Perjalanan pun menjadi relatif lebih cepat.

Yang menyenangkan dari moda transportasi ini adalah biayanya yang cukup terjangkau. Sejak awal beroperasi sampai sekarang masih Rp.3500 saja sekali perjalanan, selama tidak keluar dari gate.

Harmoni Central Busway Transjakarta 1

TransJakarta di Halte Harmoni (Source)

Saat ini bahkan sudah ada Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelit di sekitarnya. Menjadikannya sebagai alternatif moda transportasi bagi pekerja di Jakarta yang rumahnya di kota-kota tersebut.

2. KRL

Atau disebut juga commuter line, masih menjadi andalan warga bodetabek yang bekerja di Jakarta. Kereta listrik ini sebenarnya sudah beroperasi sejak 1925 di zaman pemerintahan Hindia-Belanda, tapi dihentikan pengoperasiannya oleh Presiden Soekarno pada tahun 60an, selain karena kondisi kota Jakarta yang tidak kondusif, juga karena penggunanya yang terus merosot.

Mungkin karena masih ada moda lain yang terjangkau seperti oplet dan bajaj, kali ya? *analisis sotoy* *males googling*

KRL_Commuter_Line_JR_205_seri_205-121F_BOO_SF-8_Rangkaian_Kereta_di_Stasiun_Angke

KRL CommuterLine (Source)

Saya sendiri pertama kali menggunakan KRL pada saat bersama teman-teman ke Kebun Raya Bogor. Perginya naik bus dari Bandung, pulangnya naik KRL dilanjut naik bus lagi sampai ke terminal Leuwi Panjang.

Saat itu, kami-kami yang mahasiswa tingkat akhir yang pusing sama TA memutuskan untuk ke Kebun Raya Bogor pada hari kerja. Lupa tanggal tepatnya. Hari yang sama dengan meninggalnya Michael Jackson, aja pokoknya.

Karena pas hari kerja, saat pulang juga berbarengan dengan jam pulang kerja. Tentu saja saya kaget, karena kereta penuh banget, bahkan sampai ada yang duduk di lantai. Untung aja ACnya kencang, jadi nggak gitu terasa sesak juga.

Kembali ke masa sekarang, selama di Jakarta saya sudah dua kali menggunakan KRL. Yang pertama ke Depok dan yang kedua ke Tangerang. Keduanya saat weekend, jadi kalau pun penuh, nggak yang sesak banget juga.

Ongkosnya pun relatif murah untuk jarak tempuh yang jauh begitu. Cuma armadanya kayaknya masih kurang, ya… jadi sering banget denger cerita-cerita “seru” di KRL ini.

3. MRT

Moda transportasi yang satu ini, baru beroperasi untuk umum Maret 2019 yang lalu. Awalnya sempat selentingan terdengar kabar kalau setelah masa promo, jumlah penumpang menurun, karena rute yang ditawarkan relatif pendek, dengan ongkos yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan TransJak atau KRL Tapi sepertinya kabar tersebut tidak benar. Lah, saya tiap hari nggak pernah dapat tempat duduk ini…

Tapi kucinta MRT! 😘

M

Penampakan dalam Stasiun (Foto Dok. Pribadi)

Tapping Gate (Foto Dok. Pribadi)

MRT Menuju Bundaran HI (Foto Dok. Pribadi)

Awalnya nggak kebayang kalau saya akan jadi daily commuter dengan MRT. Saya pikir, saya akan jadi pengguna setia ojol aja, yang punya kemampuan menembus macet dan terjangkau sampai ke gang tikus.

Tapi semua berubah saat mencari kost. Adik sepupu saya menyarankan untuk mencari kost di sekitar stasiun MRT aja. Daripada di sekitar kantor saya di daerah Sudirman yang harganya selangit itu… Masa mau tinggal di apartemen daerah SCBD? Biaya sewa sebulannya sama dengan gaji saya berbulan-bulan, keleus… Bayar pake apa, coba? Pake cinta? Huhahahaha…

Jangankan apartemen, kosan B aja dekat sana pun harganya di atas UMR, dong! Huhuhu…

Jadi mending agak jauh dikit, gapapa deh nambah ongkos. Lha sewa kost+ongkos pun masih jauhhh lebih murah daripada harga sewa apartemen di sekitaran kantor.

Kembali ke MRT, sampai saat ini, ini moda transportasi paling nyaman, tetapi harganya relatif terjangkau kantong perantau baru seperti saya.

Stasiunnya bersih, kereta datang sesuai jadwal, dengan interval di rush hour yang hanya lima menit sekali. Tentu saja, bebas macet, dong… hohoho… alhamdulillah, ya… 😊

Ongkosnya sendiri, sesuai jarak stasiun, mulai dari Rp. 3000 sampai Rp.14000 kalau dari ujung ke ujung (Lebak Bulus – Bundaran HI). Bisa sepertiga dari ojol. Nggak perlu panas-panasan dengan debu dan asap kendaran, lagi! Alhamdulillah banget, kan! 😊

Penampakan di Gerbong Khusus Wanita. Rush hour pun alhamdulillah nggak terlalu padat (Foto Dok. Pribadi)

Dan kebetulan kantor saya juga ambil bagian dalam proyek MRT, jadi beberapa waktu lalu, karena kerjaan, saya berkesempatan mengunjungi kantor dan Depo MRT di Lebak Bulus.

Kantor dan gedung-gedungnya juga bersih dan lumayan teratur, karyawannya juga banyak yang usia 30 tahun ke bawah. Karena bukan BUMN juga kali, ya… (BUMD, apa ya? cmiiw) jadi “aura” BUMN yang ya gitu deh… *ifywim* nggak terasa di sana.

Sayangnya nggak boleh foto-foto… hahaha…

4. LRT

Kalau yang satu ini, sejujurnya saya belum pernah mencoba sendiri. Karena memang yang sudah beroperasi untuk umum baru rute Pegangsangan Dua-Velodrome. Nanti, deh, kapan-kapan kalau ada kesempatan saya cobain.

LRT_Jakarta

LRT Jakarta (Source)

Nah, itu dia empat moda transportasi massal di Jakarta dan sekitarnya. Masih ada Kopaja, bus Patas, dan angkot juga. Tapi nggak saya bahas karena nggak tau rute dan terlalu malas buat nyari infonya, nggak sesuai juga dengan judul postingan ini. Huehehe.

2 responses to this post.

  1. […] Alat Transportasi Massal di Jakarta dan sekitarnya: antara TransJakarta, KRL, MRT, dan LRT Oleh Hicha A […]

    Reply

  2. masih betah ngeblog, salut. Hajimemashite.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: