Tentang Menyerah

*Tulisan 2000 kata lebih dikit.  You’ve been warned, read with your own risk! 😛*

Sudah cukup lama sebenarnya terpikirkan dengan hal ini. Baca-baca tentang ‘perjuangan’ hampir semua orang berusaha untuk selalu mengeluarkan positive vibes. “Jangan menyerah!”, “Yosh! Mari kita semangat!”, “Ayo! Sedikit lagi”. Entah itu untuk menyemangati diri sendiri maupun orang lain. Bagus, sih. Apalagi kalau yang melihat atau membacanya jadi ketularan ‘semangat’nya. 

Kalimat-kalimat penyemangat tadi, jika diucapkan oleh orang lain, memang lebih bikin hati ‘hangat’ daripada menerima komentar “Yah, itu sih belum seberapa, gue dong blablabla”. Percayalah, Hukum Tanda pada Perkalian di mana negatif bertemu negatif akan menjadi positif tidak berlaku untuk hal ini. 😑

Tentu saja, tidak bisa dibandingkan dengan ucapan “Gue nggak, sih.” dan dilanjut dengan membanggakan dirinya sendiri. Eaa… ada nggak ya orang yang seperti ini? Ada kali, ya? Mending jauh-jauh aja deh. Dari pada emosi terus malah nampol tu orang. 👻👻

Kembali ke orang yang ‘memberi semangat’, adakalanya saat orang yang tidak merasakan apa yang kita rasakan lalu atas nama simpati berusaha memberi semangat, meskipun saya tahu mereka tak berniat jahat, kadang-kadang terbersit juga pemikiran, “Well, you can say it easily, because it’s not you who wear the shoes.”

Nope, I won’t say about respecting other’s feeling. Karena sejujurnya, standar atau value seseorang tentang sesuatu itu bisa jadi berbeda-beda. Entah itu tentang menghargai, berempati, maupun hal-hal yang bagi sebagian orang tampak ‘kecil’ dan seperti sudah menjadi common sense untuk dilakukan, tapi ternyata bagi sebagian yang lain common sense-nya justru mengatakan sebaliknya. Seperti membuang sampah, menggunakan toilet, atau mengenai etika makan di ruang publik.

Ribet amat ya kalimat gue? Hahaha.

Kita contohkan saja, deh. Membuang sampah itu memang bagi beberapa orang sudah secara ‘nalar’ dilakukan di tempat sampah. Tapi, coba deh ke desa-desa yang penduduknya masih dekat dengan alam. Mereka tidak terlalu dekat dengan plastik. Sehari-hari membungkus makanan dengan daun. Bahan makanannya sendiri dekat dengan mereka. Sayur dan buah tinggal ambil di kebun. Ikan tersedia banyak di empang. Bahkan beras pun sudah tersedia di lumbung penyimpanan setidaknya untuk empat bulan ke depan.

Common sense atau nalar mereka tentang sampah, ya nggak apa-apa dibuang di alam. Toh nanti akan terurai bersama tanah.

Padahal kan beda cerita kalau sampahnya berupa plastik.

Kebiasaan turun-temurun, anak melihat orang tua, orang tua melihat orang tuanya juga, saat akhirnya plastik pun sudah digunakan di mana-mana, sampahnya yang dibuang sembarangan pun akhirnya ada di mana-mana.

Itu baru tentang membuang sampah. Belum lagi soal hal-hal yang lebih abstrak seperti berempati dan menghargai.

Jadi saat kita merasa tersinggung dengan sikap orang lain, bisa jadi karena memang ‘standar’ menghargai orang tersebut berbeda dengan apa yang kita pegang. Bisa jadi dia tidak merasa menyinggung karena memang bagi nalarnya hal tersebut bukan sesuatu yang menyinggung.

Lalu, apakah kita harus memakluminya? Wah, itu lain cerita. Tapi bakal jadi terlalu panjang untuk sebuah contoh. Udah melenceng dari niat utama nulis tulisan ini, ini mah… Fokus, oi! huahuahua.

Okay, kembali ke ‘menyerah’. Sepertinya semakin bertambah usia, semakin kita harus menghadapi kenyataan bahwa hidup kadang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Apa itu ‘muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga’? 😂😂😂

Slogan itu seringnya hanya untuk bercandaan, cita-cita masa muda penuh tawa, untuk menghibur diri bagi saat menghadapi hidup yang sedang membercandai. *ahzeegg* *apasih*😅😅😅

Etapi, bisa jadi ada, ding. Anak dari new money (kalau old money biasanya anak-anaknya nggak ngerti apa itu foya-foya, karena prinsip hidup ‘prihatin’ yang diajarkan turun-temurun) yang foya-foya saat muda, terus tobat, akhirnya kerja keras dengan warisan dan beribadah sungguh-sungguh.

Eaaa… ilang fokus lagi kan akutu… 🙈

Nah, saat kita berkeinginan atau bercita-cita dengan sesuatu dan berusaha untuk meraihnya, tapi kenyataan membuat kita merasa “Jangan-jangan ini bukan tempatku.” atau “Sepertinya gue ga bakat, deh…”, kadang memang membuat kita ingin menyerah saja. Dan kita pun lalu bingung dengan apa yang harus dilakukan.

Mau dilanjutkan kok rasanya ‘tersiksa’, mau dihentikan kok sayang dengan semua usaha yang sudah dilakukan.

Saya menggunakan kata ‘kita’ karena sejujurnya, saya sendiri juga sering berada di posisi itu. Bahkan saat ini juga masih. Heuheuheu.

Mungkin yang bisa kita lakukan adalah me-review kembali. Menganalisis lagi dan berkali-kali tentang hal yang sedang kita hadapi dan mengenai pilihan yang mungkin ada.

Kita ambil contoh kisah Suzume di Asadora NHK berjudul Hanbun, Aoi.

*major spoiler alert*

Kenapa tiba-tiba ke asadora? Biarin ah, ceritanya related dengan postingan ini, sih… 👻👻👻

(Note: Asadora berasal dari kata asa yang artinya pagi dan dorama, Bahasa Jepang untuk drama. Merupakan serial yang ditayangkan pukul 8 pagi di NHK, berdurasi 15 menit per episode, Senin-Sabtu, selama kurang lebih setengah tahun.)

Suzume sejak kecil suka menggambar, terutama manga (komik Jepang). Bahkan, dia meng-ejawantah-kan perasaannya saat putus cinta masa SMP dengan menggambar komik.

Keluarga dan teman-teman dekatnya juga sangat mendukungnya untuk menjadi mangaka (komikus dalam Bahasa Jepang). Support dari sekelilingnya itu yang membuatnya percaya diri dengan kemampuannya.

Diawali dengan berusaha sekuat tenaga mencari perhatian mangaka idolanya. Mulai dari menyerahkan langsung komik buatannya, sampai menyogok sang idola dengan gohei mochi (salah satu cemilan manis khas Jepang) buatan sang kakek yang menjadi kesukaan mangaka tersebut.

Suzume akhirnya diterima bekerja di rumah Haori Akikaze, sang mangaka tersebut.

Tapi, alih-alih menjadi asisten komikus, dia dijadikan ART, bertugas membersihkan rumah dan memasak.

Memanglah Suzume ini karakternya ceplas-ceplos dan gigih, akhirnya bisa juga dia jadi asisten komikus. Berjuang dari nol, mulai dari tidak tahu apa-apa tentang dunia manga (yang ternyata nggak cuma sekadar menggambar aja!), sampai akhirnya Akikaze-sensei memintanya untuk mencoba mengirimkan contoh manga ke majalah, demi kesempatan debut sebagai mangaka muda di majalah tersebut.

Tentu saja, namanya asadora (dan percayalah, ternyata di banyak kasus dalam kehidupan nyata juga begitu), perjuangan akan berbuah, bisa jadi manis maupun asam, wkwkwk, demotivating sekali, ya… 😝

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Suzume berhasil debut dan mendapatkan kontrak komik bersambung di majalah tersebut. Suzume pun naik kelas lagi, dari asisten menjadi mangaka beneran. Meskipun belum terkenal banget, apalagi sampai sekelas Akikaze, setidaknya dia sudah berhasil menerbitkan beberapa komik sendiri, bahkan punya asisten sendiri.

Waktu pun berlalu, selama bumi berotasi, roda kehidupan pun ikut berputar. Hasil voting untuk komik Suzume makin lama makin turun. Tiap hari membuat komik, di satu titik justru membuatnya mentok, tidak bisa mengembangkan kemampuannya lagi. Bahkan seperti tidak lagi merasakan nikmatnya membuat komik.

Dasar memang orangnya gigih, dia merasa, mungkin dia butuh trigger untuk bangkit kembali dan memohon untuk diberi saran atau jalan keluar oleh Akikaze-sensei.

Saat kemudian Akikaze diminta mengisi komik lepas oleh editor di sebuah majalah, Akikaze meminta Suzume untuk menggantikannya.

Segala usaha dilakukan Suzume, mulai dari mencari ide di kafe, sampai begadang berhari-hari pun dilakukan. Udah bukan mau nangis lagi usahanya, mah… pingsan pun hal yang wajar kalau melihat bagaimana dia memforsir fisik dan pikirannya.

Sayangnya, sampai deadline pun akhirnya Suzume tidak bisa menyelesaikan komiknya.

Suzume minta maaf pada editor yang bertugas. Untung saja diam-diam Akikaze-sensei menyiapkan komik cadangan, sehingga space buat serial tersebut akhirnya tetap bisa terpenuhi.

Setelah kejadian tersebut, Suzume akhirnya pelan-pelan menyelesaikan draft komik lepas tadi, dan setelah selesai dia menyerahkannya pada Akikaze-sensei serta mengundurkan diri dari rumah produksi tempat dia memulai dari nol tersebut.

Suzume menelepon sang kakek, anggota keluarganya tempat dia paling bisa bercerita apa saja. Sambil air matanya menitik dia berkata (terjemahan bebas, jadi mungkin kurang pas dan kurang dapet feel-nya 😛) “Kek, setelah sepuluh tahun, aku putuskan, aku berhenti.” Dan dia pun terisak. Yah, kebayang dong rasanya melepaskan sesuatu yang sudah bertahun-tahun diusahakan sepenuh hati…

Iya, Suzume akhirnya menyerah, tidak lagi menjadi mangaka. Lalu apakah ceritanya berhenti sampai di situ? Atau berlanjut dan Suzume bisa kembali menjadi mangaka?

Tonton saja sendiri, kalau penasaran. 🤪

Yang jelas, berkaitan dengan ‘menyerah’, saya jadi me-review kembali tentang arti kata tersebut. Apakah kita memang tidak boleh menyerah? Bagaimana jika perjuangan kita ternyata menyakiti diri sendiri? Sampai di titik mana kita harus berjuang? Lalu, apakah jika kita meninggalkan satu hal dan mencari pilihan yang lain, itu juga termasuk menyerah?

Ok, satu cerita lagi. Please, bear with me. ✌️✌️✌️

Kalau yang tadi kan dari dorama, kali aja ada yang bilang, “Yah… namanya aja cerita, beda lah sama kenyataan…”, ini gue kasih kisah nyata, deh!

Sebut saja X yang sejak kecil menyukai Matematika. Menurutnya, Matematika itu seru dan nggak perlu dihapal kalau sudah paham konsepnya. Jadi nggak perlu belajar buat ujian, gitu lho… wkwk.

Saat kuliah X mengenal Mekanika Fluida (kita singkat saja menjadi MekFlu), di mana Matematika seperti ‘menari-nari’ dan bersatu dengan fenomena fisik. Nilai-nilai kuliahnya yang berhubungan dengan MekFlu ini nggak bagus-bagus amat, kalau nggak mau dibilang jelek. 🤪

Tapi, justru karena itu, entah kenapa dia merasa tertantang atau mungkin simply dia-nya aja yang nggak tau diri 😅, dia pun memilih tema Tugas Akhir di bidang tersebut.

Tentu saja dia struggling dengan TA tersebut (emang ada gitu yang nggak? 😅). Saat akhirnya lulus pun, dia lulus lebih lambat dari jadwal seharusnya.

Dia kemudian diterima bekerja dengan pekerjaan yang tidak menyentuh MekFlu sama sekali. Dia pun lalu memilih untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi karena merasa belum bisa menguasai si MekFlu tadi. Entahlah, bisa jadi karena masih merasa tertantang, atau lagi-lagi, tak tahu diri dengan kemampuan sendiri 🙈

Mungkin memang kenyataannya otaknya yang tidak cukup cerdas, dia terseok-seok, mulai dari ujian masuk bahkan sampai lulus Master. Lagi-lagi (dan lagi), dia merasa belum benar-benar menguasai si MekFlu ini. Saat ada kesempatan, akhirnya dia memutuskan untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Yang ternyata tantangannya berkali-kali lipat dari yang telah dihadapi.

Sampai akhirnya, sejak berkenalan sampai empat belas tahun kemudian, dia tiba di satu titik. Titik saat dia mulai bertanya-tanya dan merasa sampai di mana dia harus berjuang? Apakah tujuan menguasai si MekFlu ini worth segala usaha, materi, dan waktu yang masih harus dikorbankan di masa yang akan datang?

Iya, si X ini cerita saya. Hehe.

Saat ini saya sedang mundur sejenak. Mencoba menganalisis apakah saya harus tetap berjuang demi menguasai MekFlu melalui pintu S3 ini, memaksa membukanya dengan kunci artikel yang di-publish di jurnal internasional, atau saya lebih baik berusaha mencari kunci lain, atau bahkan sekalian pintu yang lain?

Sejujurnya, saya sendiri masih bingung. Rasa penasaran dan ingin menguasai MekFlu sekarang berubah menjadi pertanyaan, “Apakah ini worth it untuk dilanjutkan?”, “Sampai sebatas mana saya harus berusaha?”, “Apakah sampai harus menyakiti diri sendiri?”, “Sampai mana saya sudah dikatakan berusaha?”, “Apakah harus sampai roboh dan dirawat di RS?”, “Apakah 14 tahun itu saya masih belum cukup berusaha?”, “Apakah mungkin sebenarnya saya itu sudah harus mengakui kekalahan saya pada si MekFlu?”

Dan pertanyaan-pertanyaan tadi masih berlanjut dengan pertanyaan mengenai kunci yang saya pegang dan pintu yang harus saya lewati tadi.

“Saya hanya ingin menguasai MekFlu, tapi kenapa saya dipaksa harus berhadapan dengan orang yang saya nggak respect lagi?”, “Kenapa saya dipaksa harus mem-publish artikel ilmiah, padahal saya tidak puas dengan hasilnya?”, “Kenapa saya tidak punya ide bagaimana mendapatkan hasil yang memuaskan bagi diri saya sendiri?”, “Apakah harus ‘yang penting lulus’?”, “Bagaimana dengan pilihan ‘dari pada yang penting lulus, mending nggak usah lulus sekalian, dan memilih pilihan lain’?”

Entahlah, mungkin ‘menyerah’ pada satu hal juga menjadi satu pilihan tersendiri. Dan setiap pilihan selalu datang dengan konsekuensinya.

Mungkin yang bisa kita lakukan adalah menganalisis pilihan tersebut bersamaan dengan konsekuensi yang harus diambil.

Kalau akhirnya memilih melanjutkan, maka konsekuensinya biaya yang harus dikeluarkan, waktu yang harus disediakan, belum lagi kelelahan fisik dan pikiran. Masih untung kalau tidak sampai depresi.

Kalau akhirnya ‘menyerah’, maka konsekuensinya perasaan campur-aduk yang harus dihadapi, bisa jadi lega, sedih, atau bahkan takut? Belum lagi kalau kita kamu tipenya sangat memikirkan pandangan orang lain. Ketakutan akan bagaimana pandangan orang lain terhadap pilihanmu, juga menjadi salah satu konsekuensi.

Untungnya, opportunity juga hadir dalam pilihan, bisa jadi tambahan bahan pertimbangan. Hayo lho… ini untung atau malah bikin tambah bingung? Wkwkwk.

Apapun yang kita pilih, kita sendiri lah yang akan menerima konsekuensi DAN opportunity tadi. Karena itu, saya masih mempertimbangkan pilihan mana yang harus saya pilih. Bisa jadi ‘melanjutkan’ atau ‘menyerah’ dan mencari pintu yang lain.

Selama kita hidup akan selalu ada pilihan. Bersamaan dengan konsekuensi dan kesempatan yang hadir dengannya. Dan ‘Menyerah’ juga salah satu pilihan.

Ya, selama kita memilih untuk hidup, ‘menyerah’ pun adalah salah satu pilihan. Entah itu ‘menyerah untuk mencari pintu yang lain’ atau ‘menyerah untuk kabur dari sesuatu yang membuat kita menderita’. Dua-duanya belum tentu pilihan yang benar. Belum tentu seratus persen salah juga.

Ya… SELAMA KITA HIDUP!

Jadi kalau pun saya harus berkata “Jangan menyerah…” (entah untuk diri sendiri atau untuk orang lain), maka saya akan melengkapi kalimat tersebut dengan, “…dengan hidup.”

Yes, Jangan menyerah dengan hidup, people (and myself)!

Sekian tulisan panjang separuh curcol ini. ✌️

Have a nice weekend! 😊

3 responses to this post.

  1. Bener sih kalau udh nyerah yah abis deh

    Reply

  2. Halo mba, salam kenal 🙂

    Kalau untuk sekolah sih, meski rasanya sudah hampir menyerah ya waktu itu, aku masih memegang prinsip, selesaikan apa yang sudah kamu mulai.

    Kalau untuk hal lain, yang tidak ada deadlinenya, seperti pekerjaan, urusan cinta (asekk), menyerah bisa terjadi karena aku merasa tidak ada masa depannya. Tentu banyak pertimbangan, mengingat investasi di awal yang sudah dilakukan, waktu yang sudah ditanamkan.

    Namun sebagai orang ekonomi, dalam matkul akuntansi manajemen (serius ini mah, terkesan sekali waktu dosenku yang ganteng menjelaskan), pertimbangan masa lalu tidak bisa dijadikan ukuran untuk membuat keputusan. Yang dijadikan patokan adalah, potensi pengembalian (return) yang akan diperoleh di masa depan.

    Jikalau potensi returnnya tidak sesuai dengan harapan, well buat apa diterusin kerugiannya. Masa lalu tidak bisa ditarik kembali, sudah jadi “expense”. Yang bisa dilakukan adalah mengontrol expense berikutnya.

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on October 17, 2019 at 11:24 am

      Wah… makasih banget komen-nya, mbak. Detail banget! 😁
      Iya, nih… pertimbangan utama memang dr segi effort, materi, dan waktu yg harus dikeluarkan di masa depan. Belum yakin akan worth it atau nggak

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: