Posted in MindTalk

Indonesia, September 2019

Bulan September sebentar lagi akan berakhir. Bagi bangsa Indonesia, bulan ini adalah bulan yang bisa dibilang “melelahkan” jiwa-raga.

Dimulai dari meninggalnya eyang B.J. Habibie, presiden ketiga RI yang selain sepak-terjangnya sebagaipresiden dalam waktu yang sangat singkat bisa mengkondusifkan kembali negaraini selepas reformasi di pertengahan 1998, juga tak jarang masuk ke dalam doaibu-ibu se-Indonesia agar putra-putri mereka bisa secerdas beliau. Begitu puladengan kisah cinta beliau dengan Ibu Ainun yang adem-ayem sampai mautmemisahkan dan semoga menyatukan keduanya kembali.

Dari banyaknya obituari yang ada, saya ingin mengcopy-paste sebagai arsip pribadi, obituari yang dituliskan oleh Bapak Hari Tjahjono, mantan ketua Ikatan Alumni Penerbangan (IAP) ITB. Beliau ini bisa dibilang murid “kesayangan” Alm. Prof. Oetarjo Diran, tokoh dirgantara Indonesia yang juga teman dekat eyang Habibie.

“Obituari: Eyang BJ Habibie

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Berita itu saya terima ketika saya sedang di atas S-Bahn di pinggiran kota Berlin, menemani sulung saya mengurusi start-up yang sedang dirintisnya. Beberapa hari sebelumnya berita tentang sakitnya Eyang Habibie memang sudah beredar dimana-mana, bahkan di group WA alumni SD, SMP, dan SMA saya di pelosok kampung di Caruban, Kabupaten Madiun. Semuanya mendoakan semoga pak Habibie lekas sembuh.

Pak Habibie sudah sering diberitakan meninggal sejak beberapa tahun lalu. Dan berita itu ternyata salah, sehingga harus dibantah oleh sekretaris pribadi beliau. Tapi berita kali ini ternyata benar adanya. Rabu, 11 September 2019, Eyang Habibie benar-benar meninggalkan kita. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga beliau husnul khotimah.

Saya sebenarnya tidak mengenal Eyang Habibie secara dekat, tapi ingin menggoreskan sedikit catatan tentang beliau. Saya tidak mengenal dekat beliau karena gap yang terlalu besar. Beliau adalah ahli pesawat terbang kelas dunia, sementara saya hanya pernah belajar bagaimana merancang pesawat terbang di bangku kuliah. Eyang Habibie pernah menjadi Presiden Republik Indonesia, sementara saya hanya pernah menjadi Ketua RT di sebuah kompleks perumahan di daerah Tangerang. Tetapi ada yang membuat saya merasa begitu dekat dengan Eyang Habibie, yaitu almarhum Profesor Oetarjo Diran, pendiri Jurusan Teknik Penerbangan ITB. Eyang Habibie dan Eyang Diran, begitu anak-anak saya selalu memanggil beliau berdua, adalah sahabat dekat sejak lama. Sejak beliau berdua menjadi mahasiswa di Eropa, sejak beliau berdua bekerja di sebuah perusahaan pesawat terbang di Jerman, sejak beliau berdua sama-sama berjibaku mengembangkan industri pesawat terbang di Bandung, bahkan sampai akhir hayat almarhum Profesor Diran di bulan September 2013. Ketika profesor Diran meninggal, pak Habibie khusus datang ke kediaman pak Diran untuk membacakan Surat Yasin.

Sekitar tahun 2010, sebagai Sekjen Ikatan Alumni Penerbangan (IAP) ITB, dengan sedikit ragu saya bertanya ke Prof. Diran apakah mungkin mengundang Prof. B.J. Habibie untuk mengisi acara buka bersama bareng temen-temen IAP-ITB? Pantes gak sih acara bukber komunitas kecil seperti IAP-ITB mengundang mantan Presiden RI? Surprisingly, saat itu juga Pak Diran langsung telpon Pak Habibie, dan dalam pembicaraan singkat itu beliau berdua saling memanggil nama kecil masing-masing: Rudy untuk Pak Habibie, dan Otoy untuk pak Diran. In short, pak Habibie bersedia mengisi acara bukber IAP ITB yang akan dilaksanakan di rumah pak Diran di daerah Menteng, Jakarta. Wow, saya dan pengurus IAP waktu itu senang dan bangga sekali. Persahabatan 2 orang tokoh penerbangan itu menjadi berkah tersendiri bagi anggota IAP, karena anak-anak muda anggota IAP berbondong-bondong menghadiri acara bukber bersama mantan Presiden! Ketika bukber diadakan, rumah pak Diran dipenuhi alumni Penerbangan ITB. Mereka ingin mendapatkan suntikan energi baru supaya industri penerbangan bangkit kembali. Dan seperi biasa, pak Habibie yang waktu itu sudah cukup sepuh, berhasil membakar semangat generasi penerus beliau supaya tidak lelah mencintai negeri ini. Memang sebagai mantan Presiden, tentu saja ceramah beliau saat itu tidak terbatas masalah teknologi penerbangan saja, tetapi sudah jauh meluas bagaimana membangun bangsa secara keseluruhan.

Dua tahun kemudian, 2012, Jurusan Teknik Penerbangan ITB akan memperingati ulang tahunnya yang ke-50. Sub Jurusan Teknik Penerbangan didirikan tahun 1962 sebagai bagian dari Jurusan Teknik Mesin ITB, oleh Profesor Oetarjo Diran. Sebagai Ketua IAP, saya mendapat tugas dari Pak Diran untuk membuat acara peringatan yang memorable, supaya semangat generasi muda untuk membangun industri penerbangan Indonesia tidak pernah surut. Saya pun menyanggupi, tetapi meminta syarat spesial ke beliau: saya dan teman-teman pengurus IAP akan bekerja keras mengadakan acara tersebut asal pak Habibie hadir memberikan key note speech. Bukan apa-apa, komunitas alumni Penerbangan ITB itu sangat kecil. Jumlah alumninya sejak didirikan di tahun 1962 hanya sekitar 600 orang saja. Jadi kalau mau membuat acara yang heboh dan memorable, ya harus ada pak Habibienya. Kalau enggak, acara itu bakal tak terdengar dan tak berbekas…

Pak Diran hanya senyum-senyum mendengar syarat yang saya ajukan. Beliau pun langsung angkat telpon, dan dalam pembicaraannya lamat-lamat saya dengar permintaan pak Diran yang straight to the point: “Rud, you bersedia khan memberikan key note di acara Peringatan Teknik Penerbangan ITB yang ke-50?” Dan seperti yang saya duga, pak Habibie pasti akan bersedia, karena akan memberikan bekal bagi generasi penerus untuk melanjutkan gagasan besar beliau membangun industri penerbangan yang kuat yang masih belum terwujud. Acara peringatan itu pun akhirnya berhasil diwujudkan dengan baik, ketika sekitar 400an alumni Teknik Penerbangan ITB tumplek blek memenuhi Jakarta Convention Center, di Senayan, Jakarta, untuk mendengarkan nasihat dari Bapak Teknologi Nasional.

Dua tahun kemudian, 2014, saya mendapat pesan dari Mas Agung Nugroho, salah seorang karyawan kesayangan Pak Habibie yang kini menjadi Direktur Utama PT Regio Aviasi Industri, perusahaan pesawat terbang milik keluarga pak Habibie. Mas Agung minta saya membantu beliau mensosialisasikan program pengembangan pesawat R80 kepada temen-temen diaspora penerbangan yang banyak bekerja di Airbus Industries, di Hamburg, Jerman. Walaupun bidang saya bukan lagi industri penerbangan, saya menyanggupi permintaan mas Agung itu. Dan berkumpullah sekitar 30 orang diaspora penerbangan di rumah pak Hera dan mbak Anggi di Hamburg untuk mendengarkan pemaparan program R80. Sejak itulah diaspora penerbangan di Hamburg rutin berdiskusi bagaimana membantu industri penerbangan di Indonesia sampai sekarang. Ya, sampai sekarang.

Dua tahun kemudian, 2016, berdirilah IAEC (Indonesian Aeronautical Engineering Center) di bawah naungan Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang), LAPAN. Asosiasi ini didirikan untuk melanjutkan perjuangan pak Habibie untuk menguasai teknologi tinggi, khususnya teknologi pesawat terbang. Asosiasi ini memayungi perusahaan UKM bidang rekayasa penerbangan, supaya mereka tetap tekun berkhidmat di industri ini walaupun pasarnya belum kondusif dan masih harus dibangkitkan. Semangat para UKM itu sungguh luar biasa. Mereka tidak kenal lelah untuk terus berusaha dan mengetuk pintu banyak pihak untuk melanjutkan cita-cita pak Habibie. Caranya memang tidak mesti sama persis dengan apa yang sudah dilakukan oleh pak Habibie. Tetapi semangatnya sama. Mereka ingin industri penerbangan Indonesia bisa kembali berjaya.

Walaupun sudah tidak aktif lagi di IAEC, optimisme saya justru makin membuncah bahwa cita-cita pak Habibie tidak akan pernah padam dan akan diteruskan oleh generasi penerus beliau. Kini pengurus IAEC berhasil mengegolkan acara Aerosummit, mengumpulkan seluruh stake holders industri penerbangan untuk duduk bareng merumuskan apa langkah kedepan untuk membangkitkan industri penerbangan. Dan hasilnya mulai kelihatan. Semua stake holders baik dari kalangan pemerintah, BUMN, dan swasta, kini rajin berdialog dan bertukar pikiran untuk membuat Roadmap Industri Penerbangan secara komprehensif dan feasible. Cita-cita Pak Habibie insya Allah tidak akan pernah pudar, karena banyak generasi penerus yang mencintai beliau akan terua melanjutkannya.

Selamat jalan Eyang Habibie, semoga engkau tenang di alam keabadian dan berkumpul kembali dengan Ibu Ainun yang telah menunggumu.

Berlin, 12 September 2019

Hari Tjahjono”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga amalan beliauditerima Allah SWT.

Setelah kehilangan sosok besar, bangsa ini kembali ditimpamusibah yang bisa dibilang akibat ulah elit korporasi bersama birokrat yangtidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan keuntungan pribadi dan kelompokmereka saja. Sungguh terkutuklah mereka. Karena sudah menyengsarakan masyarakatkecil dengan kabut asap akibat pembakaran hutan yang mereka lakukan.

Kejadian ini hampir setiap tahun terulang. Apa namanya kalaubukan disengaja? Dibiarkan oleh pihak-pihak yang berwenang tapi tidakbertanggung jawab? Innalillahi… Mungkin selemah-lemahnya iman hanya bisamelawan dengan hati, tapi semoga doa kita agar mereka kembali ‘waras’ danterlepas dari ‘nafsu duniawi’ yang sesat dan menyengsarakan orang banyak ini,dikabulkan oleh Allah SWT.

Ke’dagelan’an elit politik tidak hanya sampai di situ. Orang-orangyang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat di pemerintahan, lagi-lagimengecewakan dan bertindak hanya demi kepentingan pribadi dan kelompok merekadengan segala drama KPK dan UU-nya, ditambah lagi RUU yang buru-buru ingin disahkanpadahal isinya justru berpotensi menekan rakyat kecil.

Entahlah, sepertinya mereka benar-benar ingin membuat hukum di Indonesia sebagai hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Mahasiswa pun akhirnya turun tangan dengan turun ke jalan sejak tanggal 23 kemarin. Gen Z yang digital native ini membuktikan bahwa mereka masih peduli. Tujuh tuntutan yang mereka perjuangkan ke Gedung DPR saya tuliskan di sini sebagai pengingat di masa depan, bahwa ada suatu masa di mana wakil rakyat tidak menggunakan akal sehat dan nurani mereka dalam menjalankan amanat rakyat yang diberikan kepada mereka. Semoga dapat diambil pelajaran, agar tidak terjadi kembali di masa yang akan datang.

Sumber: Twitter (Ga nemu siapa yang posting pertama)

Sayangnya, pagi ini justru saya mendengar bahwa Ananda Badudu, eks-gitaris Banda Neira yang berinisiatif mengumpulkan dana untuk perjuangan mahasiswa agar tidak ditunggangi elit politik, ditangkap pukul 4 pagi tadi. Astaghfirullah…

Bulan September 2019 sebentar lagi akan berlalu. Bisa jadi diantara kita ada yang menginginkan agar seperti judul lagunya Green Day, Wake MeUp When September Ends, “Bangunkan saja aku setelah September berakhir”.

Mungkin memang selemah-lemahnya iman, tapi jika belum bisaberbuat dengan ‘tangan’, mari kita berdoa, bersungguh-sungguh dengan hati, agarSeptember tak hanya sekadar berakhir tanpa arti.

Author:

To many special things to talk about... =p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s