Cerita si Saya di Jepang (Ep.8)

Sebelumnya:

Intro & Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4

Episode 5

Episode 6

Episode 7

27 April 2012

Sudah hari Jumat lagi aja. Seperti biasa, saya bangun, shalat subuh, menyiapkan bekal, dan bersiap ke kampus untuk kelas Nihongo a.k.a kelas Bahasa Jepang. Dari Port Island, naik Port Liner ke Sannomiya, ganti kereta Hankyu dan turun di Stasiun Rokko. Dari situ jalan sekitar 1 km menuju kampus. Kalau jalannya normal sih kayaknya 15 menit nyampe lah… Sayangnya jalannya mendaki dan kemiringan yang cukup terjal. Yah, namanya aja kampus di kaki gunung Rokko. Kalau nggak mendaki, diragukan keabsahannya *apa sih!*

Hari Jumat jadwal saya selain kelas intensif sampai jam 12.10, dilanjutkan dengan kelas Basic Kanji dari jam 13.20 sampai 14.50 (satu jam pelajaran 90 menit). Dosen pengajarnya sama buat kelas intensif maupun Kanji.

Di kelas Intensif B tempat saya belajar, muridnya cuma enam orang dan perempuan semua dongg. Dua orang dari Italia, satu dari Brazil, satu dari Vietnam, dan satu dari Kanada tapi native language-nya Mandarin. Sama satu dari Indonesia, ding! Hihihi.

Pas awal-awal ada satu lagi yang dari Cina. Tapi mbak mahasiswa PhD tersebut akhirnya mengundurkan diri karena sibuk dengan risetnya.

Hari ini, Fujita-sensei yang kena jadwal mengajar, membawakan kami perlengkapan sado atau tea ceremony. Kata beliau sih, cuma versi abal-abal. Yaiyalah, mana ada upacara minum teh dengan kursi dan meja. Biasanya kan harus di ruangan khusus, dengan pakaian yang khusus pula. Hehehe.

Beliau hanya ingin memperkenalkan bagaimana teh ala Jepang dibuat. Perlengkapan utamanya terdiri dari bubuk teh hijau, mangkuk khusus minum teh, whisk khusus, dan penganan (super manis) yang terbuat dari mochi dengan filling kacang merah.

Perlengkapan minum teh ala-ala

Sambil beliau menjelaskan tentang upacara minum teh yang sebenarnya, sambil beliau membuat teh abal-abal.

Berdasarkan penjelasan beliau, upacara minum teh yang sebenarnya itu dilakukan di ruangan khusus yang disebut chasitsu (ditulis: 茶室) yang di dalamnya sudah ada tempat khusus untuk memasak air panas dan peralatan lainnya.

Air panas dituang ke dalam mangkuk khusus yang sebelumnya diisi bubuk teh hijau. Kemudian diaduk dengan whisk baru diserahkan kepada anggota upacara minum teh lainnya yang duduk di ruangan tersebut.

Sebelum meminum, mangkuk ini harus diputar terlebih dahulu. Tujuannya agar penerima menikmati dan menghargai keindahan mangkuk dan teh yang ada dihadapannya. Lebih detilnya saya nggak ngerti juga. Pokoknya upacara minum teh beneran mah sangat detil *kalau nggak mau dibilang ribet 😅*. Bahkan ada sekolah khusus untuk sertifikasinya, dengan waktu belajar sampai bertahun-tahun!

Yoi, bagi orang Jepang mah totalitas is a must!

Tehnya sendiri rasanya pahit. Mungkin karena itu disertakan penganan yang sangaaat manis. Untuk menetralisir rasa pahit di lidah.

Lumayan lah, kapan lagi bisa makan-minum gratis di kelas *pemuja gratisan*. Makanannya dikasih sama dosennya pula. Hahaha.

Episode 9

Advertisements

2 responses to this post.

  1. […] « Cerita si Saya di Jepang (Ep.8) […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: