Buku Bagiku: Sejak Berkenalan Hingga Saat Ini dan Nanti

Biasanya orang yang senang menulis itu berawal dari senang membaca. Belum pernah saya menemukan blogger atau penulis yang tulisannya ‘asyik’ tapi tidak dekat dengan buku.Surat pertama yang diturunkan dalam kitab suci pun, ayat pertamanya memerintahkan manusia untuk membaca. Dan surat kedua yang selesai diturunkan setelah Al Alaq dengan ayat “bacalah!”-nya tersebut adalah Al-Qalam, yang artinya pena, seperti menyiratkan perintah untuk menulis pada manusia. Wallahua’alam. Saya bukan ahli tafsir. Berbahaya juga kalau sotoy. Setidaknya hanya ingin mengaitkan untuk diri sendiri tentang bagaimana dekatnya hubungan membaca dengan menulis.

Berawal dari membaca, sudah tentu erat kaitannya dengan buku. Perkenalan saya dengan buku dimulai saat saya berusia tiga tahun. Seingat saya, saat itu tiba-tiba saya bisa membaca. Mungkin sebenarnya tidak tiba-tiba juga, sih… Setelah dikonfirmasi ke ibu, ternyata sudah diperkenalkan dengan huruf-huruf sejak lebih kecil lagi. Tapi trigger bisa membacanya, saat anak tetangga saya yang sudah mulai sekolah, mulai belajar membaca. Seingat saya, kakak L tersebut menyebutkan huruf ‘a’ pada kata ayam, yang entah bagaimana caranya tiba-tiba bisa saya baca dengan mudah.

Setelah perkenalan saya dengan kata ‘ayam’ tersebut, saya jadi keranjingan membaca. Apa saja yang ada hurufnya saya baca. Kesukaan saya majalah Bobo milik anak tetangga. Mungkin karena saat itu orang tua saya belum bisa memprioritaskan buku bacaan dalam pengaturan keuangan mereka.

Beberapa waktu kemudian, TVRI menayangkan sinetron Sengsara Membawa Nikmat, setelah sebelumnya menayangkan Siti Nurbaya. Kedua sinetron tersebut masih terlalu ‘dewasa’ untuk dimengerti seorang balita seperti saya saat itu. Tapi, berhubung semua orang di rumah menontonnya, mau tidak mau saya jadi ikut ‘terpapar’. Lumayan tertarik sih kayaknya. Terutama untuk adegan silat oleh si Midun yang diperankan Sandy Nayoan (Hayo, ada yang masih ingat dengan aktor ini, tidak? 👻)

Melihat saya yang suka membaca dan senang ikut menonton, Ibu saya yang seorang guru meminjamkan beberapa buku dari perpustakaan sekolah tempat beliau mengajar. Seingat saya buku-buku tersebut novel sastra yang terkenal di zamannya, seperti Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Dian yang Tak Kunjung Padam, beberapa novel karya NH Dini, dan Si Doel Anak Djakarta karya Aman Datuk Madjoindo.

Sesenang-senangnya saya membaca, ternyata belum cukup ‘umur’ untuk bisa ‘menikmati’ karya sastra tersebut. Sebagian besar berhenti di tengah karena yaiyalah… berat banget buku-buku itu buat balita, mah… 😐

Cuma Si Doel saja yang berkesan buat saya. Paling tipis soalnya. Hahaha.

Saya nggak ngerti juga kenapa ibu saya meminjam novel-novel sastra tersebut. Mungkin karena memang cuma itu yang ada di perpustakaan sekolah, atau mungkin juga beliau menganggap saya jenius karena sudah bisa membaca diusia segitu. Padahal bisa jadi itu hanyalah sebuah ke-‘halu’-an yang saya dengar banyak dialami ibu-ibu baru. 😬

Akhirnya saya kembali ke majalah Bobo. Dulu belinya di Arun Post. Belum kenal dengan Gramedia. Apalagi Kinokuniya 😝. Tapi itu toko buku paling hits di zamannya, di Lhokseumawe. Eh, masih ada nggak ya toko-nya…?

Bersama dengan toko buku Arun Post, saya juga mengenal perpustakaan daerah. Letaknya di seberang pasar Inpres. Kalau ibu belanja, saya mampir ke sana aja, deh.

Perpustakaannya kecil, mungkin ukurannya 4×12 m2. Buku-bukunya juga tak seberapa. Tapi dari situ lah sepertinya saya mulai mengenal buku-buku anak, sejenis karya-karyanya Enid Blyton. Sampai sekarang, Malory Towers masih menjadi novel karya beliau yang jadi favorit saya.

Makin lama saya makin jarang ke perpustakaan tersebut. Apalagi sejak pindah rumah ke daerah pinggiran, ibu lebih memilih belanja di pasar utama yang letaknya lebih dekat dengan terminal Labi-labi/Sudako bukan saudaranya Sadako (sebutan angkot di Lhokseumawe saat itu, bentuknya seperti oplet dengan bukaan pintu di belakang, tempat duduk di sisi kiri dan kanan, sehingga penumpang saling berhadapan).

Beruntungnya saya, terminal tersebut juga dekat dengan Arun Post. Makin menjadi-jadilah konsumsi saya terhadap majalah dan buku. Apalagi setelah masuk SMP, uang jajan saya diberikan per bulan. Betapa girangnya saya di awal bulan, bisa ‘belanja’ buku dan majalah sesuka saya. Tentu saja seminggu kemudian saya jadi ‘puasa’ jajan di kantin sekolah, deh… Hahaha.

Kesukaan saya akan buku dan membaca masih berlanjut sampai saya SMA, kuliah S1, dan bekerja. Membaca itu seperti menghipnotis dan membuat saya seperti berada di dunia saya sendiri. Saya bisa lupa diri dan hanya berhenti saat waktunya shalat (yang jadinya ditunda-tunda sampai akhir waktu 🙈) dan saat sudah tidak tahan harus ‘setor’ ke toilet. Makan saja bisa lupa! Kalau pun ingat, tentu saja disambi dengan membaca. Makanya jadi bisa baca Harry Potter and the Order of Phoenix dalam waktu 10 jam saja (terus abis itu mual sama huruf-huruf… wkwkwk).

Dua tahun bekerja, alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Jepang. Setibanya di sana, saya coba main ke toko bukunya. Tentu saja sebagian besar yang dijual adalah buku berbahasa Jepang. Mungkin hanya 1% yang berbahasa Inggris. Buku latihan tes TOEFL dan TOEIC saja bertaburan huruf Jepang ini… Apalagi yang lain! Hahaha.

Saat itu juga saya baru berkenalan dengan smartphone, Arus informasi dan pengetahuan berada dalam genggaman tangan, tentu saja membuat posisi buku jadi tersingkirkan. Lagi pula, pikir saya saat itu, dari pada memberikan effort lebih pada membaca buku berbahasa Jepang, lebih baik saya berusaha membaca paper atau textbook demi kelangsungan studi saya. Alasan aja sih… kenyataannya saya susah-payah juga baca paper-nya. Belum menikmati. 🙈Anehnya, untuk paper yang tidak berhubungan dengan tema riset, saya malah bisa menikmati. Gimana sih, cha! 😑

Karena susahnya menemukan buku-buku berbahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia!). Saya akhirnya mencari di marketplace saja. Masih terbatas, tapi tetap lebih banyak dari pada di toko buku offline seperti Junkudo,

Dari situ juga, 4-5 tahun yang lalu saya mengenal Kindle. Tablet khusus untuk membaca dan mengingatkan saya kembali pada magnet buku yang sekian lama terkikis. Antarmuka dan pilihan hurufnya yang dibuat sedekat mungkin buku ‘beneran’, jadi mengembalikan experience membaca yang mendekati dengan buku aslinya. Malah bisa lebih asyik karena tidak perlu membolak-balik halaman. Jadi bisa digunakan hanya dengan satu tangan!

Selain itu, beberapa kali pindah di Jepang dan melihat para senior yang back-for-good ke Indonesia, buku ‘beneran’ itu jadi terkesan ‘menambah beban’. Apalagi sejak saya sadar bahwa sumber anxiety utama saya itu adalah barang yang banyak, jadi dadah-babay lah sama bentuk buku fisik.

Bisa jadi karena saya sudah dewasa dan belum punya anak juga, sih. Jadi nggak pegang buku ‘selayaknya buku’ pun nggak apa-apa. Kalau punya anak, mungkin saya akan kembali ke buku tradisional demi mengenalkan bentuk, tekstur, dan ‘magnet’-nya. Juga meminim-kan interaksi dengan gadget yang katanya sebaiknya tidak diperkenalkan pada anak sampai usia tertentu.

Entahlah, masa depan hanya Tuhan yang tahu. 😊

Advertisements

8 responses to this post.

  1. Sampai sekarang aku merasa buku fisik belum tergantikan sih, romantisme yang receh hahaha tapi skrg jujur waktu untuk membaca buku berasa mahal sekali, hampir gak sempat membaca hiks. Resolusi th ini salah satunya menggerakkan kembali gerakan membaca 🤗🤗 salam kenal ya mba 😉😉

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on September 4, 2019 at 8:35 pm

      Iya sih mbak… Kalau aku nggak sumpek dengan barang yang banyak juga mungkin lebih milih buku fisik. hehehe.
      Salam kenal juga ya mbak 🙂

      Reply

  2. aku juga lebih suka baca buku elektronik sekarang walau msh beli juga sih buku fisik hehe

    Reply

  3. […] « Buku Bagiku: Sejak Berkenalan Hingga Saat Ini dan Nanti […]

    Reply

  4. […] Buku Bagiku Sejak Berkenalan Hingga Saat Ini Dan Nanti by Nesca […]

    Reply

  5. Kemarin2 sempet beli buku elektronik, tapi jujur yang lebih kebaca malah buku fisik, mungkin emang sayanya aja ini mah yg lebih niat baca buku fisik daripada lewat hp kali ya 😀

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on October 11, 2019 at 6:55 am

      Kebanyakan orang yang saya kenal juga memang lebih senang buku fisik sih… apalagi kalau di HP suka ribet karena ga cuma buat baca aja tp gampang terdistraksi notifikasi. Belum lagi layarnya yang kurang nyaman. Makanya saya lebih memilih baca dari Kindle, Hehe.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: