Posted in Experience, Japan and Japanese, MindTalk

Jepang: Antara Ekspektasi dari Dorama dengan Realita yang Ada

Saya kenal Jepang dari buku sejarah, sebagai negara yang pernah menduduki Indonesia selama 3.5 tahun, tetapi meninggalkan ‘bekas’ mendalam tak kurang dari Belanda yang menjajah lebih dari 3.5 abad. Selain itu, saat kecil saya juga mengenal Jepang dari Ksatria Baja Hitam, Oshin, Rindu-rindu Aizawa, dan Doraemon di TV, saat stasiun TV swasta sudah masuk ke daerah tempat tinggal saya.

Beberapa tahun kemudian, saya mengenal Tokyo Love Story. Nggak kok, saya mah sama sekali nggak tertarik dengan serialnya. Belum ngerti, kaka… 😝

Yang menjadi perhatian bocah yang saat itu baru masuk SD ini cuma iklan kulkas Tosh*ba yang masih membekas di otak saya sampai saat ini. Iya, yang saya tunggu hanya iklan tersebut. Iklan yang hanya muncul di serial itu mungkin karena pabrikan elektronik tersebut jadi sponsor tunggalnya, kali ya… Sayangnya, saya search di Youtube nggak ketemu, euy.

Belasan tahun berlalu, saya mulai mengenal internet dan Rileks. Yoi, tempatnya anak ITB mengunduh serial-serial terbaru dari para suhu penguasa Comlabs. Eh, sekarang masih ada nggak, ya? Yah, kalau pun masih ada udah nggak bisa masuk lagi saya, mah. NIMnya sudah terlalu jadul untuk dipakai. Hahaha.

Serial Jepang pertama yang saya ikuti adalah One Litre of Tears, cerita tentang seorang gadis 15 tahun yang divonis menderita Spinocerebellar Degeneration Disease dan ditiru mentah-mentah oleh sebuah sinetron Indonesia yang udahlah niru tapi nggak ngaku, tapi ending-nya dibikin beda, sih. Terus, pemeran utamanya malah cinlok dan pacaran lama sampe sekarang udah nikah dan punya anak. Hayo, ada yang bisa nebak judul serialnya? 👻

Eaaa… ilang fokus deh… hahaha…

Drama atau yang dalam pengucapan oleh orang Jepang disebut ‘dorama’ ini, sempat jadi perdebatan antara saya dan orang di sekitar saya. Yah, seperti judulnya yang ‘seliter air mata’, sudah sewajarnya kalau banyak penonton yang berurai air mata. Sayangnya, saya tidak. Bukannya tidak bersimpati atau tidak punya empati, hanya saja mungkin gengsi saya terlalu tinggi untuk mengakui kesedihan pada sesuatu yang tidak terelasi. Saya merasa kasihan kok pada pemeran utama dan keluarganya, tapi untuk menangis, nanti dulu… Hehehe…

Setelah itu, saya seperti tersihir dengan dorama Jepang. Entah sudah berapa puluh judul (atau bahkan jangan-jangan sampai ratusan 🙈) yang sudah saya lahap. Ada yang sampai selesai, ada pula yang baru berapa menit langsung saya drop.

Tipe yang saya lanjutin sampai habis sih biasanya yang jalan ceritanya menarik. Entah itu dari genre keluarga, romcom, medical, foodie, bahkan hukum dan keuangan.

Nah, ini juga yang bikin dorama Jepang itu mengasyikkan. Tema ceritanya luasss banget! Mulai dari standar cerita cinta, sampai cerita dunia kerja yang nggak standar pula, seperti lika-liku dunia proof-reader bahkan petugas forensik dan pemilik sarana kremasi pun ada doramanya, lho! 👏👏👏

Melihat Jepang dengan kacamata dorama ini, bikin saya punya ekspektasi sendiri dengan kehidupan di Jepang. Biasalah, ekspektasi yang kadang berkebalikan dengan realita. Hahaha.

Ini saya jabarkan beberapa yang saya ingat, ya…Tapi ini stereotyping dari orang-orang di sekitar saya aja, sih. Pengalaman orang lain sangat mungkin berbeda. Bisa jadi malah berkebalikan dengan yang saya alami. Hehehe.

1. Tempat tinggal

Kalau lihat di dorama, tempat tinggal orang Jepang itu kebanyakan di apartment atau mansion. Namanya sih apartment, tapi bentukannya lebih kayak kontrakan satu kamar dan dapur. Kalau yang mansion mungkin masih mirip dengan apartemen yang agak elit di Jakarta.

Sedangkan kalau sudah berkeluarga, kebanyakan tinggal di rumah dua tingkat, yang compact di daerah pinggiran. Dibangun dari KPR dengan cicilan sampai 30an tahun, suami bekerja dan commute dengan kereta setiap hari.

Realitanya? Ya emang kebanyakan gitu, sih. Apa itu rumah cem istana kek di sinetron Indonesia? Nggak ada tanahnya. Nggak affordable juga buat standar gaji karyawan di Jepang.😬

tempat tinggal
Contoh bentuk rumah dalam dorama. Diambil dari dorama Proposal Daisakusen

Jadi waktu saya pindah kosan ke apato (Japanglish dari apartment), karena cuma bisa tinggal di asrama kurang dari setahun, saya langsung merasa, “Wah… beneran kayak di dorama-dorama, nih…”

2. Hubungan orang tua dan anak

Mungkin saya-nya aja yang kebanyakan nonton dorama dengan tema keluarga. Yang saya tangkap dari dorama-dorama tersebut, hubungan orang tua dan anak di Jepang itu hangat. Kalau ada masalah apa-apa orang tua akan jadi ‘sekutu’ yang selalu berpihak dan berbuat demi kebaikan sang anak.

Kenyataannya? Hmm… mungkin karena permasalahan di dunia nyata nggak se-dramatis di drama, jadi ya nggak terlihat drama juga. Malah orang-orang Jepang di sekitar saya hubungan dengan orang tuanya cenderung dry. Kering aja gitu kelihatannya. Tipe ortu yang melepas dan sangat membebaskan anak.

Kebanyakan jadi mandiri, sih. Tidak sedikit yang dari SMA udah nggak minta uang sama ortu lagi. Buat kebutuhan pribadi, sebagian besar anak muda Jepang memenuhinya dengan bekerja part-time.

Bahkan, ada beberapa teman saya yang saat kuliah masih tinggal sama ortu tapi membayar tiap bulan. Anggapannya sebagai ganti kos-kosan. Tentu saja, namanya ortu nggak bakal tega meminta setara atau lebih mahal dari uang sewa kosan beneran. Tapi di luar nalar saya aja sih, masih kuliah harus bayar ke orang tua tiap bulan. 🙄

Selain itu, kebanyakan kalau udah lewat abege, udah nggak manggil ortu dengan sebutan selayaknya ortu lagi. Jadi kalau mau nanya sesuatu biasanya:

Orang Indonesia: “Ma/Bu/Mi, lihat bajuku, nggak?”

Orang Jepang: “Lihat bajuku, nggak?”

Pakai ‘otousan-okaasan’ aja jarang, apalagi ‘papa-mama’ yang image-nya hanya digunakan oleh anak-anak.

Bahkan, beberapa kenalan saya memanggil ortunya langsung dengan sebutan nama selayaknya teman saja, terutama ke ortu perempuan. Masih pake ‘-chan’ sih di belakangnya, jadi nggak yang kayak manggil bawahan juga.

Cuma, I just can’t relate calling my mom with name-chan. 😅

Satu lagi, teman-teman saya ada juga yang sengaja nggak mau meng-approve friend request ortu-nya di media sosial. Alasannya sih, males di-kepo-in. Padahal bukan keluarga yang saling gontok-gontokan juga. Setiap tahun mereka selalu menyempatkan liburan bareng sekeluarga.

Sungguh ku tak mengerti, tapi begitulah adanya di sekitar saya.

3. Stereotype penampilan

Lagi-lagi, bisa jadi karena dorama yang saya tonton kebanyakan yang down-to-earth jadi ekspektasi saya tentang orang Jepang tuh, mereka pada sederhana dan penampilannya apa adanya banget. Nggak beda jauh lah sama saya yang lebih doyan pake T-shirt dari pada dress. T-shirt-nya itu-itu doang pula! 😝

Contohnya dari laman IG resmi dorama Hanbun, Aoi! yang diputar di NHK di atas. Penampilannya biasa banget, kan? Kayak bakal ditemuin aja gitu di jalan. Hahaha.

Realitanya? Wow! Lebih ngartis dari artesss… *lebay* wkwkwk.

One-piece dress itu pakaian sehari-hari ceciwi Jepun lhoh… Mereka juga kebanyakan full make-up. Tentu saja hasil akhirnya di foto atau dari jauh, terlihat natural ala-ala no make-up make-up, gitu deh… Tapi perlengkapannya seabrek-abrek dan kalau dandan bisa 1-2jam!

Kata mereka sih, nggak pake make-up tuh sama kayak nggak pake baju!

Dari realita ini juga akhirnya saya sadar, wajah flawless di foto itu bisa jadi karena make-up dan skill make-up yang mumpuni! Kalau dilihat dari dekat, tetap saja kelihatan tebal.

Nggak menor, sih… tapi tebal! *teteup* 😛

4. Akan selalu ada seseorang yang datang membantu atau sekadar memberi semangat

Lagi-lagi (dan lagi), sepertinya dorama yang saya tonton sungguhlah hanya yang bikin hati hangat. Karena bagaimana pun permasalahan yang didapat, akan selalu ada seseorang yang membantu, mendorong, memberi semangat, demi kebaikan si tokoh.

Misalnya, untuk ‘bumbu’ percintaannya, kalau si tokoh utama kadung jatuh cinta lagi padahal udah punya pasangan, maka kebanyakan si tokoh utama akan berusaha mati-matian untuk setia dengan pasangannya (namanya aja protagonist, wajar dong kalau sifat baiknya dominan 🤪). Tentu ini hal yang bagus.

Tapi masih di kebanyakan dorama yang saya tonton, biasanya si pasangan tokoh utama ini yang justru akan berusaha mati-matian menyadarakan si tokoh utama untuk tidak membohongi dirinya sendiri. Si pasangan cinta sama si tokoh utama, saking cintanya dia rela mundur demi kebahagiaan si tokoh utama. Sungguh memegang motto “cinta tak harus memiliki”, nih! Hahaha.

Contoh lainnya, kalau si tokoh utama tidak melakukan sesuatu sesuai isi hatinya, misalnya melakukan sesuatu dengan setengah hati, tidak bersungguh-sungguh, entah karena tidak sesuai dengan passion-nya atau karena nggak pede pada kemampuannya sendiri, maka akan ada seseorang yang ngajak ngobrol, memberi semangat, bahkan sampai memarahi agar si tokoh utama ini pede dan mengikuti kata hatinya.

Kenyataannya? Kalau untuk hal-hal menyenangkan seperti lulus ujian dan sejenisnya, sepenglihatan saya, orang Jepang akan dengan tulus memberi selamat dan ikut gembira. Tidak jarang malah memberi hadiah dan menraktir yang sedang gembira tersebut.

Tapi saat sebaliknya, kalau bukan pasangan sendiri, kayaknya bahkan keluarga sendiri pun cenderung membiarkan, tidak berusaha menghibur, atau memberi semangat dengan menggebu-gebu. Paling hanya sekadar kata-kata “Sayang sekali. Tetap semangat, ya!” Ya, hanya sekadar kata-kata. Dan mereka sibuk lagi dengan urusannya sendiri.

Ini bisa jadi karena selain tidak ingin merepotkan (dan tak ingin suatu saat direpotkan), kebanyakan orang Jepang harga dirinya setinggi gunung Fuji. Kebanyakan pada nggak pengen dikasihani gitu… Ini bikin orang disekitarnya bakal serba salah sih emang. Mau membantu nanti bakal dikira meremehkan. Nggak bantuin, dianggap orang luar sebagai manusia tak berperasaan. Jadi, ya udahlah, I’ll just shut-up and mind my own business, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.🤔

5. Nikahan di Jepang

Bukan pernikahan, ya. Acara nikahan alias resepsi. Untuk pernikahan sih, saya masih harus riset lebih dalam. Maklum, kebanyakan orang Jepang kan sangat private dan tertutup. Jadi kalau nggak dekat-dekat banget, susah mengorek-ngorek tentang kehidupan pernikahan mereka.

Kenalan-kenalan saya yang baru nikah di bawah 10 tahun sih, kebanyak masih terlihat adem-ayem saja. Tapi lebih dari 50% juga kenalan saya yang tinggal hanya dengan salah satu ortu saja. Bahkan tidak sedikit yang sejak ortunya berpisah, mereka tak pernah bertemu dengan ortu yang satunya lagi.

Lagi pula, pernikahan itu kan pembahasannya nggak bisa dipukul rata sih, ya… masing-masing punya permasalahan yang unik.

Makdarit, kita bahas resepsinya aja lah.

Kalau di dorama, nikahan di Jepang itu resminya cuma dengan memasukkan form nikahan ke ward office (setingkat kantor kecamatan). Untuk resepsinya sendiri, biasanya yang keukeuh pengen ngadain tuh dari pihak perempuan. Kayaknya kalau di dorama tuh, cita-cita perempuan Jepang tuh jadi manten, pake wedding dress putih, biar berasa kayak princess gitu katanya.

Terus, undangannya juga sedikit banget. Seratus orang aja udah kebanyakan kayaknya. Acaranya intimate, dengan durasi 3-4 jam. Acara dimulai tepat waktu, sehingga tiap undangan diharuskan mengisi RSVP dan datang sebelum waktunya.

Kalau yang western style, resepsinya kurang lebih kayak di postingan IG di atas.

Kalau di dunia nyata? Ya sama sih. Yang ribet ngurus-ngurus juga kayaknya pihak perempuan. Tapi untuk dress-nya sendiri, banyak juga yang memilih warna selain putih. Sedangkan untuk acaranya sendiri juga kurang lebih sama kayak yang di dorama.

Selain itu, di dorama juga ada yang hanya ingin nikahan sebatas mendaftarkan ke ward office saja. Nggak usah pake resepsi lah… ngapain? Ribet, mahal pula!

Di dunia nyata, saya baru 1-2 kali ketemu yang nggak pake resepsi. Selebihnya, kayaknya kenalan saya pada terobsesi dengan wedding dress. Rasanya nggak nampol kali ya, kalau nikahan nggak pake resepsi.

Tambahan lagi, di dorama tuh banyak yang tinggal serumah tanpa nikah. Di dunia nyata? Sama aja! Ortunya juga nyantai-nyantai aja, tuh. Kalau saya, mungkin udah dipecat jadi anak kayaknya. Hahaha.

Nah, karena udah ‘keasyikan’ tinggal serumah tanpa menikah, biasanya makhluk yang nggak suka ribet bernama lelaki itu, keterusan, lupa kalau ada makhluk yang terobsesi dengan kepastian.

Baik di dorama maupun di dunia nyata, dua-duanya kadang sama aja kasusnya. Si lelaki dijebak oleh pasangannya dengan ‘menghamilkan diri’ supaya dinikahi.

Yah, walaupun negara bebas, untuk masalah anak, secara hukum masih pakai adat ketimuran lah… Anak di luar nikah, bakal ribet masuk sekolah, jaminan kesehatan, dll dst dsb.

Sepertinya, yang saya lihat di sekitar saya, perempuan Jepang lebih memilih nikah-punya anak-lalu cerai dari pada punya anak tanpa nikah.

Lebih-kurang begitu lah yang saya perhatikan sebelum dan setelah tinggal di Jepang. Bisa jadi ada yang punya pengalaman berbeda. Apalagi kalau sumber ekspektasinya berbeda. Kalau saya dari dorama, mungkin yang doyan anime atau manga bisa beda lagi ceritanya. Nanti kalau ada lagi, bakal ditambahin deh…

Author:

To many special things to talk about... =p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s