Life’s not Fair, is It? -Oh, the So-called Privilege-

So, there’s this person, never thinks about what to eat tomorrow, let alone how to get it, yet talks about happiness can’t be bought by money. And there’s another person who struggle to survive EVERY. SINGLE. DAY.

Mungkin tidak sedikit dari kita yang berpikir bahwa hidup ini tidak adil. Bahkan berkata di alam pikiran, “Kenapa kok hidup gue gini amat? Perasaan udah usaha banget buat kehidupan yang lebih baik. Tapi dari sisi materi ya segitu-gitu aja. Dari segi kecerdasan pun nggak bikin jadi pantes buat dapetin Noble Prize.” Sambil kemudian ‘berusaha’ menghibur diri dengan kembali berkata pada diri sendiri, “Tapi masih mending, sih. Masih lebih banyak orang yang lebih malang dari gue. Bahkan kadang nggak cuma kekurangan secara materi, tapi juga kemampuan fisik, seperti yang terlahir cacat atau yang keterbelakangan mental. Sungguh kasihan…” Berusaha mengangkat status dan kondisi diri sendiri dengan mengasihani orang lain yang belum tentu butuh dikasihani.

Yah… sepertinya sudah kodratnya manusia lebih senang merasa berada di tempat yang lebih tinggi dari orang lain.

Tidak hanya soal materi, banyak dari kita yang mengeluhkan berbagai hal setiap harinya. Mulai dari masalah percintaan, pertemanan, kesehatan, keluarga, akademik, bahkan sampai pemerintahan. Apa pun masalahnya pokoknya salah presidennya! *halah*

Beneran ada aja gitu yang bisa jadi bahan sambat. Istilah zaman sekarang, nggak sambat nggak nikmat. 🤪

Yang terlahir dengan kecerdasan akademik pas-pasan, kita sebut saja si A, mengeluhkan “Perasaan gue udah belajar tiap hari, tapi kenapa nilai gue gini-gini aja? Si B nggak pernah belajar tapi kenapa bisa juara kelas terus?” dan si B yang tidak pernah belajar tapi juara kelas terus di alam pikirannya pun mengeluh “Kenapa gue nggak bisa dapetin si C, ya? Padahal si A yang jadi pacarnya bukan yang cantik banget, apalagi yang pinter banget. Hmm…” Si B nggak ngeh kalau ada yang iri dengan kecerdasannya. Dan si A juga begitu, melupakan apa yang dimiliki karena fokus pada yang tidak dipunyai.

Dan seperti yang saya sebut sebelumnya, keluhan tentang hidup yang tidak adil bisa banyaaak sekali. Bahkan se-‘receh’ kondisi kulit dan berat badan!

Seseorang yang terlahir dengan kulit sensitif dan berminyak, harus mati-matian menjaga kondisi kulitnya. Lupa bersihin muka sekali aja, selamat datang bruntusan, jerawat, dan musuh kulit sehat lainnya… ☹️

Berbagai produk perawatan dicoba. Berbagai dokter kulit dan klinik kecantikan didatangi. Bahkan sampai di titik “Bodo amat sama make-up! Let me have a normal-dan kulit yang nggak rewel aja ku sudah bersyukur, Yaa Allah…” kemudian merasa tidak adil dengan anggota keluarganya sendiri yang dianugerahi kulit yang tidur tanpa cuci muka pun besok paginya tetap bersinar.

Masih dari hal yang tampak ‘receh’ tapi sebenarnya nggak receh juga, berat badan juga kadang bikin seseorang merasa hidup ini tidak adil. Ada yang sekali makan bisa sampai 6 kg (all hail Yuka Kinoshita) tapi BBnya segitu-gitu aja; ada pula yang hanya melihat orang menyantap Indomie beratnya langsung naik 2 kg.

Tentu saja itu hanyalah ke-lebay-an semata. Karena selama masih tinggal di bumi, masih akan berlaku Hukum Kekekalan Massa: massa yang tertinggal pada suatu sistem akan selalu sama dengan massa yang masuk dikurangi yang keluar. Jadi perihal naik 2 kg itu sungguh tidak masuk akal. Tapi biarkan saja, hanya sekadar contoh. 😁

Kasus lain, ada yang sudah mati-matian berusaha meraih cita-cita, belajar keras demi beasiswa ke universitas idaman. Tapi yang mendapatkannya justru seseorang yang ‘kelihatannya’ tidak butuh beasiswa. Tapi dianugerahi kecerdasan turunan orang tuanya yang keduanya sama-sama akademisi dan berhasil mendidiknya sebagai seseorang yang cinta belajar.

Ada pula yang sepertinya berhasil melewati ujian akademik dan ujian keuangan, tapi harus struggling dengan keluarga. Konflik karena ke-tidak cocok-an pola pikir dalam membangun keluarga dengan pasangan. Ditambah lagi komunikasi yang tampak hanya satu arah. Kemudian memandang sekelilingnya, dan merasa iri bahkan rendah diri, “Kenapa gue nggak bisa punya keluarga yang harmonis seperti teman-teman gue? Salah gue apa sampe harus begini?”

Dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

Bicara tentang hidup yang tidak adil, erat kaitannya dengan privilege.

Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan Steve Jobs adalah contoh dari sedikit orang yang diagung-agungkan sebagai DOers tapi sukses menjadi milyuner. Melihat mereka nggak sedikit yang jadi berpikir “Hidup memang nggak adil, ya… mereka DO kuliah tapi kenapa bisa jadi tajir melintir begitu? Lha gue lulus cum laude tetap gini-gini aja?”

Ada yang terlupakan bahwa ketiganya punya privilege terlahir sangat cerdas sehingga bisa lulus ujian masuk ke universitas top dunia DAN orang tua yang secara ekonomi berada di kalangan menengah ke atas.

Orang tua Zuckerberg bahkan pernah menawarinya uang untuk membeli franchise McDonalds demi masa depannya. Begitu pula Bill Gates yang orang tuanya seorang pengacara, dan Steve Jobs yang meskipun tinggal dengan orang tua angkat tapi sangat bisa menjamin kehidupannya in case perusahaannya gagal di awal.

Tidak lupa pula, orang-orang sukses yang memberi pengaruh pada perekonomian orang banyak seperti Nadiem Makarim si founder Go-Jek dan Hary Tanoe, PresDir MNC Group. Mereka berdua sama-sama datang dari keluarga yang tidak perlu pusing memikirkan besok bisa makan apa. Effort yang mungkin sama dengan yang dikeluarkan seorang anak petani di pedalaman Papua akan menghasilkan result yang jauh berbeda. Karena titik mulanya yang sudah berbeda.

Begitu juga dengan fisik. Seseorang yang secara genetis terlahir dengan kulit normal, tidak perlu terlalu pusing dengan perawatan kulit. Sungguh berbeda dengan yang berkulit sensitif yang kalau tidak hati-hati sedikit saja, bisa bikin pusing ‘membereskan’nya berbula-bulan.

Sama juga dengan seseorang yang secara genetis terlahir dengan tingkat metabolisme yang tinggi. Tidak perlu pusing dengan cara menguruskan badan, sebanyak apa pun dia makan, kalau pun tak jadi energi, bisa jadi septic tank di rumahnya penuh dua kali lebih cepat dibandingkan mereka yang makan 100 gr per hari tapi bertahan di badan berhari-hari.

Tidak bisa dibandingkan dan tidak perlu juga merasa bangga, karena sungguh titik permulaannya berbeda.

Titik mulai yang bernama privilege ini berdasarkan kamus Oxford artinya: “Having special rights, advantages, or immunities”

Privilege bermacam-macam bentuknya. Ada yang berupa latar belakang keluarga, atau kecerdasan, bakat, bahkan sampai genetical privilege berupa wajah menarik dan tubuh langsing (Yeah, tentu saja ini hanyalah istilah buatan saya 😝). Seperti yang sudah saya jelaskan panjang lebar di atas, dengan having that kind of special rights, advantages, or immunities maka titik mula atau starting point-nya sudah berbeda.

Kita-kita yang tidak memilikinya? Ya sudah, terima saja kenyataannya. Sambil mencari apa privilege yang sebenarnya kita punya, cuma nggak nyadar aja kalau sebenarnya kita punya. Karena menurut saya, privilege ini bukan hanya sesuatu yang didefinisikan oleh society seperti contoh-contoh di atas.

Tapi juga sesuatu yang sebenarnya sudah dianugerahi oleh Tuhan.

Tidak terlahir dari keluarga berada, otak juga pas-pasan, tidak berbakat apa-apa, dan secara fisik tidak termasuk golongan berwajah menarik? Mungkin Tuhan sudah memberikanmu privilege sebagai seseorang yang sehat, tidak pernah sakit, atau punya kemampuan leadership yang kharismatik, atau bisa juga punya daya juang yang tinggi.

Bahkan akhir-akhir ini saya merasa bahwa segala ujian dan kesulitan yang kita alami sebenarnya bukti dari privilege yang kita miliki. Karena Tuhan Maha Adil dan seseorang tidak akan diberi ujian diluar batas kemampuannya, bukan?

Kita diberi ujian yang ‘terasa berat’ karena kita telah diberi privilege ‘ketahanan terhadap ujian’ yang juga mumpuni. Ditambah lagi, dengan adanya ujian tersebut, kita juga diberi kesempatan untuk menjadi lebih dewasa, wise, dan tingkat ketahanan yang juga ‘naik kelas’.

Walaupun sejujurnya, saya pribadi pun sering berpikir “Ya Allah, nggak apa-apa deh hamba nggak naik kelas kedewasaan dan ketahanan juga, mah… Jadi jangan kasih ujian yang berat-berat dong Ya Allah…” Lha situ sape? Kok ngatur-ngatur Tuhan? 😑

Astaghfirullah… 🙈

Namanya aja manusia sih ya… kalau lagi susah rasanya seperti orang paling malang se-dunia. Sampai lupa segala nikmat yang sudah dipunya. Nikmat yang tampak ‘receh’ karena tidak pernah dipikirkan. Tapi begitu kehilangan, lagi-lagi bisa jadi merasa seperti orang paling malang se-dunia!

Nikmat bernafas, masih bisa berjalan, masih bisa makan, tidur, bahkan nikmat kelegaan setelah pup, setelah sebelumnya perut melilit. Terasa receh, tapi bayangkan bagaimana rasanya saat tidak bisa menikmatinya lagi.

Yah… privilege orang lain bisa jadi membuat kita merasa hidup ini tidak adil. Tapi tenang saja, mari melihat lebih dalam dengan pikiran lebih terbuka.

So, life is never fair, isn’t it? Maybe. But trust me, God is always Good. 😊

Advertisements

8 responses to this post.

  1. Hmm… saya merasa tersentil-sentil wkwk. But in a good way. I do believe that privilege, but having that privilege doesn’t mean that you don’t need to work hard 🙂 ini nih yg harus ditekankan. Dan ngga memiliki privilege bukan berarti “nggak bisa. Pasrah aja”. I’ve seen a lot of people who don’t have privilege, but they can make their way to the top

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on August 3, 2019 at 1:04 pm

      And see what if they had privilege and work as hard as they didn’t. Hasilnya akan berbeda, bisa jadi lebih menambah kebermanfaatan bagi lebih banyak orang, lho.. 🙂
      Well, the point wasn’t about “the hard work”, tapi lebih ke “tidak perlu terlalu bangga” dan “tidak perlu iri” karena toh masing2 kita punya “privilege” sendiri2 😉
      Anyway, the one who should feel “tersentil2” at first is myself, indeed. Wkwk.

      Reply

    • Karena keadilan itu bukan berarti mendapat hal yang sama, tapi mendapat hal yang sesuai dengan kebutuhan😊😊
      Sering banget sambat, tapi semakin kesini semakin nyadar sih, bahwa betapa banyak yang bisa kusyukuri. Dan aku juga bersyukur sudah sampai di tahap ini.
      Segala susah senang yang datang, disyukuri, dijalani, pasti nyampe. Gak usah khawatir.
      Kalau masih gak kuat, yo ditinggal ngopi 🤗🤗

      Reply

  2. Tertohok sekali membaca tulisan ini.

    iya juga ya? Kenapa baru bisa bersyukur ketika melihat kekurangan orang lain, padahal orang lain blm tentu minta dikasihani..

    Btw, Baru ngeh juga klo dipikir semua orang punya privilegenya masing-masing, gda satupun yg sama, mungkin mirip, tapi sama persis ndak…

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on August 4, 2019 at 10:46 am

      Bersyukur itu termasuk dalam golongan “gampang diucapkan, sulit dilakukan” ya mbak.. 😅

      Salam kenal ya mbak Ayu (atau mbak Devi?) 😁

      Reply

  3. Posted by Anggi on August 3, 2019 at 10:49 pm

    seperti pepatah jawa : “urip mung sawang sinawang”, keliatannya enak padahal nggak juga hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: