Fun Facts About Kobe

…atau lebih tepatnya Prefektur Hyogo. Hehehe….

Kalau orang ngomongin Jepang, pasti prefektur yang terlintas pertama kali itu Tokyo atau Osaka. Kemudian dilanjut dengan Hiroshima dan Nagasaki. Padahal ada 47 prefektur di Jepang dan masing-masing punya keunikannya sendiri-sendiri.

Saya belum ke semua prefektur, sih… Jadi nggak bisa membandingkan semuanya juga. Tapi kali ini, saya pengen membahas tentang prefektur yang saya tinggali selama lebih dari tujuh tahun ini.

Sudah sering saya bahas, benernya… Tapi nggak apa-apa lah ya… 😝

Oh iya, meskipun judulnya Kobe, sebenarnya yang pengen saya omongin ini lebih ke Prefektur-nya, sih. Kobe itu ibukota dari Prefektur Hyogo. Di Prefektur ini seperti prefektur-prefektur lainnya, ada banyak kota. Prefektur ini sendiri terbentang dari selatan ke utara, tapi ibukotanya terletak di bagian selatan. Nggak tau deh dasar pemilihannya apa. Mungkin karena termasuk kota pelabuhan awal-awal Jepang yang dibuka untuk perdagangan internasional, jadi terkesan lebih modern dibandingkan kota lainnya kali ya? 😅

Nah, untuk fun facts kali ini, saya akan menjabarkan empat tempat menarik yang nggak ada di prefektur lain. Tempat-tempat ini bukan tempat wisata, sih… Hanya saja, saat saya pertama kali mengetahuinya, lumayan bikin bangga juga. Wah… ternyata tempatnya ada di kota (prefektur) yang saya tinggali, tho…

Eaaa… lagi-lagi preambule-nya panjang ya, cyiin…

Baiklah, off we go…😊

1. Koshien Stadium

Summer Koshien (Pict by Wikimedia)

Bagi yang suka komik atau anime bertemakan baseball, pasti pernah dengar nama ini. Yoi, tempat ini adalah stadion baseball yang jadi tujuan utama anak-anak SMA dengan ekskul baseball di seluruh Jepang!

Kalau di Indonesia olah raga yang populer itu sepak bola atau bulu tangkis, sebagian besar anak-anak Jepang tergila-gila dengan baseball atau 野球 (yakyuu) dari kecil. Makanya kalau ke Jepang terus ke lapangan atau taman-taman di perumahan, bisa dipastikan ada yang sedang main lempar-tangkap bola baseball.

Baseball kelas profesionalnya sudah pasti terkenal, tapi yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Jepang sendiri adalah The National High School Baseball Championship, 全国高等学校野球選手権大会 (Zenkoku Koutou Gakkou Yakyuu Senshuken Taikai), atau Kejuaraan Baseball SMA Nasional se-Jepang. Biasa disebut juga Summer Koshien (夏の甲子園, natsu no koushien), karena memang diadakan di masa liburan musim panas.

Seperti namanya kejuaraan ini menjadi ajang adu kemampuan bagi tim-tim ekskul baseball SMA seluruh Jepang. Dan seperti namanya pula, diadakan di stadion Hanshin Koshien. Di kota Nishinomiya, prefektur Hyogo.

Alumni dari kejuaraan ini biasanya akan mudah masuk ke tim baseball profesional. Bahkan tidak sedikit yang masuk kuliah bermodalkan rekomendasi karena pernah berlaga di turnamen ini.

Tim-tim yang pernah berlaga di stadion ini, biasanya juga akan membawa pulang pasir sebagai kenang-kenangan. Pokoknya, bisa dibilang stadion ini tuh the Sacred Place for Baseball-nya orang Jepang, deh!

Tidak hanya para siswa-siswa SMA, seluruh Jepang akan terfokus pada event di dua minggu libur musim panas. Ditambah lagi, kecuali untuk supporter, kita bisa menonton dengan gratis. Jadi, bayangkan saja gimana antrian masuknya.

Acara dimulai dari jam 9.30, jam 6 pagi antrian sudah padat merayap! Apalagi untuk sesi finalnya. Mungkin harus datang saat masih gelap, kali ya? 🤪 Dan jangan salah… masih gelapnya musim panas itu berarti sekitar jam setengah empat pagi! Hahaha.

Saat menonton drama H2 yang diangkat dari komik berjudul sama karya Adachi Mitsuru, saya kira Koshien ini berada di sekitaran Tokyo. Yah… biasanya kan juga tempat-tempat nge-hits gitu adanya di sekitaran ibukota, kan ya…

Jadi saat tau kalau Koshien berada cuma dua stasiun dari rumah saya, jadi agak bangga dikit, deh! Hahaha.

Selain stadion, di sini juga ada museum yang berisikan sejarah stadion dan event baseball paling ditunggu setiap tahunnya itu. Sayangnya, saya belum sempat berkunjung ke museumnya, sudah keburu pulang. Huhuhu.

2. Kidzania Koshien

Di Jepang ada dua Kidzania. Di Tokyo dan di Koshien. Iya, namanya sama dengan nama stadion impian anak-anak ekskul baseball SMA se-Jepang, karena memang letaknya di seberang stadion tersebut. Hahaha.

Kidzania Koshien

Kidzania Koshien (Source pict from here)

Seperti Kidzania di seluruh dunia, di sini anak-anak usia 3-15 tahun bisa merasakan kehidupan orang dewasa dengan mencoba berbagai jenis pekerjaan. Mulai dari pembuat pizza sampai pemadam kebakaran!

Dan sama halnya dengan Kidzania lainnya, sebagian besar booth (atau disebut juga pavilion) memberikan “upah” berupa Kidzo yang dapat ditukarkan di Department Store yang juga ada di dalamnya.

Asyiknya lagi, Kidzania di Jepang punya program berbahasa Inggris, jadi anak-anak warga negara asing bisa tetap menikmati, dan anak-anak Jepang bisa mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya.

Karena letaknya yang seberang-seberangan sama stadion Koshien, tidak jarang juga penonton yang memilih mampir setelah menonton tim andalannya. Sekalian,,, supaya bisa dapat parkir gratis, gitu deh… hahaha.

Dulu saya kira tempat bermain berkelas internasional kalau tidak di sekitaran Tokyo adanya paling di Osaka (kota terbesar ke dua di Jepang). Apalagi Tokyo-Osaka itu hampir mirip langit dan bumi bedanya *lebay*. Yah… bisa dibilang pusat keramaian di timur itu di Tokyo sedangkan di barat itu ya di Osaka.

Jadi waktu saya tau ada Kidzania di prefektur Hyogo, saya agak kaget juga. Mungkin setelah riset mendalam, pemilihan tempatnya diputuskan di Koshien dengan pertimbangan adanya stadion Koshien, harga tanah yang belum semahal Osaka, tapi masih mudah diakses bahkan oleh orang Osaka sendiri.

Tentu saja, itu sih analisis sotoy saya aja. Nggak pernah nanya sama yang meriset tempat. Tau orangnya pun nggak! Hahaha.

3. Takarazuka Revue

Okay, sekarang kita beralih ke kota lain. Habisnya, dua tempat di atas sama-sama di kota Nishinomiya. Padahal kota Nishinomiya itu luasnya nggak sampe seperlima dari kota Kobe, lho! Apalagi dari keseluruhan luas prefektur Hyogo. Hihihi.

Makdarit, mari beralih ke kota Takarazuka.

Kota yang bisa diakses dengan kereta bernuansa vintage Hankyu Railways ini, terkenal dengan teater Takarazuka Revue-nya. Teater ini bisa dibilang titik balik dari dunia seni akting di Jepang.

Bagaimana tidak, Jepang zaman dahulu yang sangat patriarkis hanya memperbolehkan laki-laki untuk tampil di atas panggung. Seni performa tradisional Jepang seperti kabuki dan Noh hanya boleh ditampilkan oleh laki-laki, meskipun dalam ceritanya ada tokoh perempuan. Yoi, aktor laki-laki yang akan berakting sebagai perempuan.

Sedangkan di Takarazuka Revue bisa dibilang kebalikannya kabuki karena semua tokoh diperankan oleh perempuan. Selain itu, cerita yang ditampilkan juga lebih westernized dibandingkan kabuki yang biasanya menceritakan kisah tradisional Jepang.

Poster Takarazuka Revue’s Parisian Cabaret (Foto dok. pribadi)

Teater ini sendiri berawal dari Ichizo Kobayashi, President Direktur Hankyu Railways yang ingin lebih memajukan kota Takarazuka. Di awal abad 20 itu, kota tersebut sudah terkenal dengan pemandian air panasnya. Tetapi, sang PresDir percaya kalau sebaiknya dibuat satu tempat khusus yang akan mengingatkan orang-orang dengan Takarazuka dan bisa menjadi sumber pemasukan tambahan bagi masyarakat kota itu sendiri.

Karena itu, pada tahun 1913, dibukalah all-female theater Takarazuka Gekidan atau Takarazuka Revue.

Takarazuka Grand Theater (Pict from Wikimedia)

Untuk menarik perhatian publik dan menyediakan stok pemain, dibentuk pula sekolah khusus Takarazuka Music School di mana hanya 40-50 gadis remaja usia 15-18 tahun yang diterima. Sengaja pula dipilih gadis-gadis dari kalangan menengah ke atas dengan iming-iming pendidikan ala lady tak hanya di bidang seni peran, musik, dan tari tapi juga manner dan pola pikir yang menjadikan sekolah ini semakin terkesan elit dan sulit untuk dimasuki.

Apalagi di zaman modern ini, banyak alumnus teater ini yang langsung direkrut menjadi pemain drama di televisi seperti Yuki Amami, Miki Maya, dan Hitomi Kuroki.

Teater ini juga punya fans garis keras, lho! Makanya nggak heran kalau tiket penjualan bisa habis hanya dalam beberapa menit saja. Fans-nya yang kebanyakan juga perempuan ini bukan satu-dua yang akhirnya memilih tinggal di daerah Takarazuka demi dekat dengan idolanya.

Selain itu, bagi pemain aktif juga ada larangan untuk memiliki pasangan, apalagi menikah dan punya anak. Demi fans gitu deh… Jadi kalau ingin menikah, biasanya pemain akan mengundurkan diri. Tapi ada juga yang tetap aktif sampai akhir hayatnya yang sudah mbah-mbah.

Yang begini ini nggak cuma di Takarazuka Revue sih. Saya punya kenalan yang professor pembimbingnya juga memilih untuk tidak menikah sampai sudah berusia senja. Memang dah orang Jepang kalau untuk kerjaan, totalitasnya suka nggak nanggung-nanggung, ya!

Oh iya, sejak tahun 1933, mengingat kepopulerannya, teater ini akhirnya buka cabang di Tokyo, lho! Hanya untuk teater-nya saja, sih… Sekolahnya tetap di kota Takarazuka.

4. Nada High School

Kalau Todai atau Tokyo Daigaku alias University of Tokyo dikenal sebagai universitas paling top di Jepang, mungkin tidak banyak orang asing yang ngeh sama sekolah menengah paling top di Jepang.

Yah, yang ini khusus untuk bidang akademis sih… Karena ada juga sekolah yang favorit dalam bidang olah raga. Seperti sering mengantarkan muridnya berlaga di Koshien misalnya.

Kalau tiga tempat sebelumnya tidak terletak di kota Kobe, Nada High School ini berada di Higashi Nada ward, salah satu “kecamatan” di kota Kobe. Bisa dibilang sebagai the highest-ranked high school di Jepang dan sebagian besar mengirimkan siswa-siswanya ke Todai, bahkan universitas-universitas terkenal di dunia seperti Harvard, Princeton, dll.

Nada Junior and Senior High School (Pict from Wikimedia)

Sekolah swasta khusus laki-laki ini dibuka dari jenjang SMP dan tingkat SMAnya menerima 220 pendaftar dengan 180nya dari tingkat SMP. Jadi bisa dibilang hanya 40 orang yang diterima di SMAnya setiap tahunnya.

Ujian masuknya juga tidak tanggung-tanggung. Bahkan tidak sedikit calon murid yang mempersiapkan diri sejak kelas 1 SD!

Nggak tau juga sih itu beneran keinginan bocah kelas 1 SD yang sangat doyan belajar, atau ambisi orang tuanya. Huhaha.

Pas saya tau ada sekolah top di kota tempat saya tinggal, saya (lumayan) bangga juga. Walaupun nggak ada satu pun kenalan saya lulusan sana. Hahaha.


Nah, kira-kira begitulah empat tempat menarik di Prefektur Hyogo. Bukan (hanya) tempat wisata sih… Tapi belum tentu ada di Prefektur lain, lho… 👻

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: