Cerita si Saya di Jepang (Ep.5)

Kelanjutan cerita si Saya dan teman-teman lab barunya.

Masih rada shocked dengan poster tempo hari. Tapi ya udah lah ya… 😝

Sebelumnya:

Intro & Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4


14 April 2012

Yay! Akhirnya saya mulai masuk intensif Bahasa Jepang!

Dari Senin sampai Jumat, mulai jam 08:50 sampai jam 14:50 di hari Senin dan Jumat, jam 16:40 di hari Selasa dan Kamis, serta jam 12:10 di hari Rabu. Setelah kelas intensif, biasanya saya ke student room di lab.

Nggak ngapa-ngapain, sih. Hanya meletakkan bahan-bahan kelas Bahasa jepang, mengerjakan tugas, dan (berusaha) bersosialisasi. Tapi berhubung saya pemalu dan teman-teman lab saya lebih pemalu lagi (plus pada sibuk dengan kerjaan masing-masing juga sih), jadi si Saya ini masih belum terlalu berinteraksi dengan mereka.

Di hari pertama saya ke sana bersama Bapak Sungai Sempit, setelah keluar dari student room yang merupakan tujuan terakhir dari lab tour hari itu, saya bertanya pada Pak Guru, “Bolehkah saya kembali ke student room? Sepertinya saya harus berusaha berinteraksi dengan mereka.” Berhubung si Bapak namanya saja yang ada “sempit”-nya tapi hati-nya seluas samudra *halah*, beliau tentu saja mengizinkan.

Tapi sebelum masuk lagi ke ruangan tersebut, si Saya ini jadi grogi sendiri. Iya, meskipun kadang suka malu-maluin, asli-nya saya kan pemalu…*prettt*

Tapi show must go on. Kali ini sepertinya sisi “malu-maluin” saya saja yang harus dikeluarkan.

Saya masuk lagi ke ruangan tersebut. “Emmm… saya boleh kenal kalian, gak?” tanya saya pelan-pelan dengan Bahasa Jepang yang patah-patah. Serius ini muka udah nggak tahu apa warnanya, saking malunya! Hahaha.

Di luar dugaan, mereka pada antusias, dong!

Fiuhhh… Alhamdulillah…

Yang duduknya paling ujung pun langsung berdiri dan mendekat ke tempat saya. Entah karena si Saya agak manis dikit (dikit doang, dilarang sewot, ah! 🤪), atau karena akhirnya ada mahasiswi yang akan masuk ke lab tersebut, atau karena sebenarnya ada keperluan lain di luar dan kalau mau keluar harus lewat tempat saya berdiri jadi sekalian saja kenalan.

Dan ternyata emang karena mau keluar buat makan siang juga sih… jadi sekalian lewat tempat saya. Hahaha, geer nih si Saya! 😛

Dan satu-satu pun memperkenalkan diri. Tentu saja, namanya seperti nama orang Jepang lainnya. Yang hari itu saya kenal ada Kakak Sumur Batu, Kakak Sawah dekat Pantai, Kakak Yang berasal dari Kastanye, Kakak Tiga Pohon Sawah, juga Kakak Tua Tegak. Di tulis dengan menggunakan “kakak” karena memang mereka jatuh-nya senior saya.

Entah kenapa saya ingin ketawa saat menuliskannya. Bukan hanya karena pengartiannya, tapi menulis kata Kakak padahal usia mereka rata-rata dua tahun di bawah saya bikin si Saya ini merasa sedang berada di film silat kolosal dari negeri tirai bambu yang di dubbing ke dalam Bahasa Indonesia. Wkwkwk.

Masih ada beberapa yang lain, tapi nanti saja saya cari tahu yang mana bernama siapa.

Saat saya menyebut nama, tiba-tiba Kakak Tua Tegak nyeletuk dan menambahkan ‘–chan’ di belakang nama saya. Dalam Bahasa Jepang, orang yang baru dikenal biasanya dilekatkan kata ‘-san’ dibelakang namanya, sedangkan ‘-chan’ khusus untuk anak-anak atau untuk perempuan yang sudah cukup dekat. Saya agak kaget juga saat dia menyebut demikian, tapi kemudian saya balas “Yah, pake –chan juga boleh…” dan sejak itu jadilah panggilan saya ada ‘-chan’nya. Yah… anggap saja sudah cukup dekat, atau mungkin karena saya kecil jadi dianggap seperti anak-anak kali ya? Atau karena… ya nggak ada alasan apa-apa, iseng aja si Kakak manggil gitu 🤪

Kakak Yang berasal dari Kastanye yang satu-satunya berusia lebih tua dari saya di ruangan itu, sebelum ke meja saya, mengetik sesuatu di komputernya dan mengambil sesuatu dari printer di dekat tempat saya berdiri. Ternyata itu list nama anggota lab, mulai dari tingkat doktoral sampai yang masih tingkat sarjana. Hmm… daripada ribet mengenalkan satu-satu kali, ya?

Setelah itu saya ngobrol-ngobrol sebentar dan ditunjukkan (calon) meja saya. Ya, tiap mahasiswa diberikan satu meja dan komputer. Berhubung saya belum terlalu membutuhkan, jadi saya diberikan komputer yang paling bawah spesifikasi-nya. Ya iyalah, kan belajar buat ujiannya cuma pakai alat tulis dan kertas, jadi mengerjakan latihan juga tidak terlalu membutuhkan komputer.

Untuk tugas-tugas kelas Bahasa Jepang sendiri semua harus dikerjakan dengan tangan. Ditambah lagi di ruangan tersebut tidak disediakan jaringan internet, kecuali dua buah komputer umum untuk mencari informasi. Jadi lagi-lagi berkurang alasan untuk saya memiliki komputer di ruangan tersebut.

Saya tidak sampai setengah jam di sana. Nggak tahu mau ngapain juga sih ya. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, anggota lab yang baru saya kenal tadi langsung sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi saya pun memutuskan pulang saja.

Saat saya turun ke bawah (ruangannya di lantai lima) dan keluar dari lift, tiba-tiba ada yang setengah teriak di belakang saya, “Otsukaresama desu!!” Katanya. Saya nggak tau siapa orangnya, karena backlight, yang kelihatan cuma siluetnya aja. Tapi dilihat dari tingginya yang kurang lebih 180 cm, kelihatannya itu Kakak Sumur Batu (mulai saat ini kita panggil SB aja ah… biar nggak kepanjangan nulisnya 😬).

Saat itu, saya juga belum tau arti dari yang diucapkannya. Jadi saya cuma bilang “Haik!” sambil membungkukkan sedikit badan aja.


Tambahan:

Saat saya baca lagi tulisan lama ini, saya sempat berpikir “Lah, ini siapa, ya?” Bingung dengan terjemahan sembarang saya sendiri terhadap nama-nama senior saya di lab itu. 😅

Akhirnya saya coba artiin kembali ke bahasa Jepang, tapi tetap aja ada satu yang saya nggak ngeh karena ternyata saya salah menerjemahkan kanjinya. Huahaha. Maklum, level kanji saya masih setara anak TK di Jepang (yang umumnya belum belajar kanji sama sekali 🤪).

Setelah menebak-nebak akhirnya saya tau, si ini yang mana. Tapi, nama yang salah saya biarin aja deh. Sebagai pengingat. Hehehe.

Maafkan saya Kakak Kebahagiaan Lawas, yang namanya saya artikan sembarang jadi Kakak Tua Tegak. 🤣 Entahlah, dari mana datangnya. 😅

Oh iya, si Kakak SB tadi nantinya berperan cukup penting dalam kehidupan per-Research Student-an *is it even a word 🙈* saya. Jadi, memang sudah tepat namanya dijadiin akronim saja. 😁

Episode 6

4 responses to this post.

  1. […] Cerita si Saya di Jepang (Ep.5) Fun Facts About Kobe […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: