People Change

yet, they change for nobody but themselves.

Pasti pernah mendengar atau minimal melihat sekilas di sinetron atau di mana gitu, ada adegan dengan dialognya “Kenapa sih kamu nggak mau berubah?” atau simply sekadar “Kamu nggak pernah berubah, ya!”. Begitu juga kalau lagi kesel entah sama siapa, kemudian berandai-andai “Coba aja kamu bisa begini…” atau “Kenapa sih dia nggak begitu aja?” dan sejenisnya. Atau bahkan ke diri sendiri saat sedang sadar introspeksi diri, “Duh, kenapa gue pemales banget nyuci piring?”, gitu-gitu, deh.

Namanya aja manusia, kecenderungannya itu seperti idiom-nya orang Jepang 他人に厳しく自分に甘い (dibaca: tanin ni kibishiku jibun ni amai, kurang lebih sama dengan “hard on others but easy on oneself”). Contoh gampangnya ngomel-ngomel protes soal banjir ke pemerintah tapi sendirinya suka buang sampah sembarangan atau yang seperti orang yang suka merebut antrian tapi nyolot kalau dikasih tau, gitu-gitu, deh. 😝

(Same ending with the previous paragraph, huh? *apasihcha*)

Yah, manusia memang nggak gampang buat berubah. Padahal sebenarnya sih tiap detik juga berubah (?). Minimal dari dimensi waktu. Toh, setiap detik berlalu. Setiap detik juga seseorang berubah, minimal bertambah usianya lah… Jadi sebenarnya manusia itu berubah.

giphy

Coba hitung ada berapa kata ‘berubah’ sampai di sini? Hahaha.

Sebenarnya inti postingan ini hanyalah sekadar pengingat bagi diri sendiri akan sebuah kejadian beberapa hari yang lalu.

Saya yang sudah tidak berlebaran di rumah lebih dari dua kali bang Toyib (lebarannya doang, di luar lebaran 2-3 tahun sekali pulang lah…), ke tempat adik ibu saya yang sedang mengadakan acara di rumahnya. Sebenarnya saya sih merasa nggak ada yang beda kelakuan saya antara dulu dan sekarang. Tapi di akhir acara tante tersebut berkomentar “Wah… Hicha sudah banyak berubah…” yang tentu saja saya tanggapi dengan hehehe alias cengengesan aja. Lha iya, mau ditanggapi gimana lagi coba?😬

Dan kalau dipikir-pikir, meskipun sebenarnya keadaan yang MEMAKSA saya berubah, tapi perubahan itu terjadi atas kehendak saya sendiri. Bukan karena permintaan apalagi paksaan seseorang.

Mungkin sama seperti keimanan. Kita tidak akan pernah bisa meminta siapapun untuk percaya pada apa yang kita percayai, selama dianya sendiri tidak percaya itu. Akal dan nurani seseorang itu memang hak prerogatif masing-masing individu. Kita mungkin bisa mem-brain wash-nya, tapi percayalah, hanya Tuhan yang bisa Memaksanya.

So, instead of thinking about changing anybody, what about changing your perspective and how you react on others character or behavior?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: