Dua Garis Biru dan Cara Mendidik Anak: Sebuah Analisis Sotoy

Beberapa hari ini timeline lagi rame dengan film Dua Garis Biru. Film yang mengisahkan tentang hubungan anak SMA yang kebablasan. Nggak bisa dibilang pergaulan bebas juga, karena dua-duanya sebenarnya anak baik-baik. Tapi seperti kata nenek, sepasang manusia berbeda jenis dan straight, berdua-duaan, maka yang ketiganya adalah setan.

Kali ini saya ingin membahas tentang kemungkinan cara mendidik anak oleh orang tua dalam hubungannya dengan reaksi terhadap film ini.

So, tenang aja, tulisan ini tidak mengandung spoiler kok 😃

Ada beberapa kubu yang bereaksi mengenai film ini. Yang pertama yang belum menonton dan menentang habis-habisan film ini karena berasumsi bahwa film ini mengampanyekan perzinahan. Kemudian, ada yang sudah nonton dan merasa justru film ini bagus karena memberikan gambaran bagaimana susahnya menanggung akibat dari hubungan seksual sebelum menikah. Ada juga yang belum nonton tapi tertarik untuk nonton karena ingin membuktikan sendiri dan ada juga yang belum nonton karena yaa memang nggak tertarik aja, sih. Sayangnya belum ketemu yang udah nonton dan tetap merasa film ini harus diboikot.

Sebagai seorang yang belum punya anak, apalagi anak remaja seperti kisah di film ini, mungkin saya nggak related. Tapi, berhubung dari “per-cekcok-an” warganet, saya jadi tertarik untuk menganalisis lebih lanjut mengenai pola pikir dan bagaimana kemungkinan masa depan anak-anak dari masing-masing kubu.

Sayangnya (lagi), analisis ini nggak akan bisa bikin saya lulus dari studi saya, karena… apa hubungannya dengan CFD, maliiih?? *tertawa getir* *nge-blog dulu we lah* *anggap aja self-healing* *hehehe*

Okeh, mari kita mulai analisis sotoy ini.

1. Kelompok yang belum nonton dan menentang habis-habisan.

Bisa dilihat, poin penting dari tipe yang pertama ini adalah menentang habis-habisan. Contohnya meminta film ini diboikot, dan sejenisnya.

Orang dengan tipe seperti ini biasanya sulit diajak bertukar pendapat, karena kecenderungannya ogah mengalah. Kebayang nggak gimana jadinya kalau orang seperti ini taqlid buta terhadap sesuatu. Contoh paling umumnya pada agama. Tentu saja kita merasa hal yang kita yakini, baik meyakini suatu agama atau justru tidak meyakini agama apa pun, adalah hal yang paling benar. Tapi merasa paling benar dan mengambil agama sebagai ‘beking’-an (saya sebut ‘beking’ karena biasanya agama hanya dijadikan sebagai alat untuk memaksakan pendapat dan memuaskan egonya saja), kenyataannya berefek sebaliknya. Orang yang “dipaksa” justru akan akan memilih untuk melawan atau kabur aja gitu, nggak mau dekat-dekat dengan orang tersebut. Nah, lho… emang mau gara-gara kamu maksain apa yang kamu anggap benar, akibatnya malah orang tersebut makin jauh dari agama karena either merasa agama hanya mengekang atau merasa takut akan jadi orang berpikiran sempit seperti kamu?

Orang-orang seperti ini juga kalau jadi orang tua akan menjadi orang tua yang merepresentasikan anaknya sebagai dirinya. Pokoknya kalau dia bilang A, si anak harus nurut dan melakukan A. Begitu juga kalau dia bilang nggak, itu artinya nggak, si anak nggak perlu tau apa alasannya. Dia beranggapan semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan si anak. Si anak tinggal ‘nurut’ aja. Such an overprotective parent, isn’t it?

Hasil penelitian yang dipublikasikan di beberapa jurnal akademik (daftar referensi di bagian bawah) menyimpulkan bahwa orang tua yang protektif berlebihan, justru meningkatkan resiko anak terkena gangguan kecemasan (anxiety) dan bahkan gangguan prilaku.

Kalau dipikir-pikir pakai logika sih jelas ada hubungannya. Coba aja kita membayangkan berada di posisi si anak. Sejak kecil, sejak dia nggak tau apa-apa, terus diminta nurut dan dilarang melakukan sesuatu yang menurut ortunya bukan hal yang patut dilakukan, maka seiring dengan bertumbuhnya si anak dan semakin melihat dunia, either dia akan ragu-ragu dan cemas dalam menghadapi sesuatu yang baru, atau justru dia akan berontak karena merasa “Ini hidup gue, kenapa gue harus menjalani hidup seperti keinginan ortu?”

Iya sih, mungkin orang tuanya hanya ingin menjalankan apa yang dianggap olehnya sebagai perintah agamanya. Tentu saja ini baik sekali. Dan berdoa saja supaya anak-anak tetap nurut dan menjadi seperti yang dimaui.

Si ortu akan berkeras ngomong, nggak usah pacaran, perbanyak ibadah, perbanyak mengaji.

>> Oke, sampai sini mungkin masih baik. Tapi tetap akan lebih baik kalau bisa menjelaskan alasannya berdasarkan dalil naqli DAN dalil ‘aqli. Manusia lebih gampang melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal yang tidak hanya tertulis dalam kitab suci, tapi juga dapat diterima akalnya, bukan?

Nggak usah melakukan hal-hal yang nggak perlu, nggak usah pergi ke tempat-tempat yang nggak perlu!

>> Hmm… ini perlu dan nggak perlu menurut siapa? Definisinya apa? Alasannya kenapa?

Ngapain coba, nonton, mendengarkan musik, ke taman bermain?

>> Mungkin yang ngomong begini memang tidak suka atau sudah tidak tertarik dengan film, musik, dan hal-hal yang berbau hiburan. Tapi sayangnya, apa yang kita suka belum tentu orang lain juga, begitupun dengan yang kita benci. Selama itu dua kepala yang berbeda, maka punya pola pikir dan opini yang timbul akan berbeda pula. Kita mungkin bisa ‘berusaha’ mem-brainwash seseorang, termasuk anak sendiri. Tapi keputusan tetap ada di tangan orang tersebut. Toh, anggota tubuhnya dikendalikan otaknya sendiri, bukan? Bisa aja sih maksa, apalagi kalau masih kecil. Cuma, saya nggak kebayang aja damaged atau trauma psikologis yang dirasakan oleh yang dipaksa.

2. Kelompok yang belum nonton dan tidak tertarik untuk nonton

Yang ini bisa terdiri dari dua kubu lagi, yang belum nonton karena alasan agama, seperti kelompok nomor 1 di atas, tapi nggak berusaha memboikot juga, karena ya ngapain juga sih, memaksakan sesuatu yang kita nggak benar-benar tau karena sendirinya nggak nonton ini…

Kelompok yang begini kalau menjadi orang tua, sepertinya akan mengajarkan tentang agama dengan sebaik-baiknya pada si anak, tapi masih memberi ruang pada anak untuk bertanya. Cukup ideal di tengah zaman dengan arus informasi yang semakin menggila ini.

Yang kedua yah… karena emang nggak tertarik aja. Bodo amat, ain’t of my business. Kalau tipe ini menjadi orang tua, analisis hubungan dengan film ini juga jadi bodo amattt 😝

Nggak bisa dilakukan, karena cara mendidik anak-anaknya nggak akan ada hubungannya sama film tersebut.😬

3. Kelompok yang sudah nonton dan mendukung

Kelompok yang ini biasanya tidak atau belum sepenuhnya menjalankan perintah agama, tapi punya concern lebih pada tatanan masyarakat. Yah, kalau dipikir-pikir pernikahan di bawah umur karena hamil di luar nikah itu kan memang lebih banyak mudharat-nya. Bagaimana caranya mereka bisa mendidik anak menjadi anggota masyarakat yang sesuai norma kalau mereka sendiri sebenarnya belum siap jadi orang tua secara fisik, mental, dan finansial?

Dari film ini mereka beranggapan bahwa film ini bisa mengenalkan sex education dan akibat dari hubungan di luar nikah yang seringnya masih tabu dibicarakan di negara Indonesia kita tercinta ini. *ahzeeg*

Tentu saja, kelompok ketiga ini biasanya ‘bertabrakan’ dengan kelompok pertama. Yang pertama merasa kelompok ini terlalu liberal dan hidupnya tidak sesuai norma agama yang dianut pihak pertama, dan kelompok ketiga merasa kelompok pertama sebagai orang-orang berpikiran sempit dan merasa paling benar sendiri.

Jika kelompok ketiga ini menjadi orang tua, mungkin mereka akan menjadi orang tua yang memprioritaskan keterbukaan dengan si anak. Masalah agama, bisa jadi diperkenalkan sesuai pengetahuan, tapi mungkin tidak menjadi lebih utama dibandingkan toleransi dan tatanan masyarakat yang makmur-sentosa.

Dan yang lebih penting bagi mereka, si anak mau terbuka dan bisa mengomunikasikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

4. Kelompok yang belum nonton dan tertarik untuk menonton

Sama seperti kelompok ketiga, kelompok ini juga mungkin tidak atau belum sepenuhnya menjalankan perintah agama. Mungkin belum nonton karena belum ada waktu atau belum duit buat nonton aja. Tapi punya kuota dan waktu buat mantengin timeline atau ngegosip ngobrol dengan yang mantengin, makanya jadi tau tentang film ini. Yaiyalah, kalau nggak gimana caranya bisa dapat informasi soal ini, coba? 😅

Yang jelas, kubu yang ini biasanya nggak langsung percaya dengan pendapat atau berita dari orang lain. Harus dilihat atau dibuktikan sendiri dulu.

Kalau jadi orang tua, sepertinya kelompok ini bakal jadi orang tua yang asyik buat berdiskusi. Mulai dari diskusi akademik sampai tentang apapun pendapat dan keputusan si anak. Mereka akan mengajak anak untuk berpikir kritis, mempertanyakan kenapa ini bisa begitu dan itu bisa begini. Meskipun, bisa jadi kadang dianggap berisik juga, sih… Hahaha.

5. Kelompok yang sudah nonton dan menentang habis-habisan

Saya belum ketemu kasus seperti kelompok nomor lima ini, jadi belum bisa komentar. Hehe.

Oke deh, sampai segini dulu analisis sotoy saya. Tentu saja, ini hanya berasal dari observasi, belum jadi orang tua, jadi belum tau juga saya bakal berada di kubu yang mana. Dan tentu aja nggak saklek. Bisa jadi masuk kelompok kedua atau ketiga, tapi parenting style-nya tetap mengajarkan si anak untuk tetap kritis. Yang jelas sih tipe pertama dan ketiga nggak akan saling melengkapi. Bertolak-belakang gitu lhoh…

Lagian, kalau belum nonton dan menentang habis-habisan, gimana ceritanya dalam waktu yang bersamaan juga sudah nonton dan mendukung? Premisnya nggak masuk, cyiin 😝

Etapi, yang lain juga premisnya beda-beda sih… Nah, lho… jadi bingung sendiri… 😅 *brb cari textbook logika matematika*

Apapun itu semoga ada hikmah dan manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini. Yang jeleknya silakan dibuang aja. Peace out! ✌️

 

Reference:
  1. McLeod, B.D., Wood, J.J., and Weisz, J.R., “Examining the association between parenting and childhood anxiety: A meta-analysis”, Clinical Psychology Review, Vol. 27(2), Mar 2007, pp. 155-172.
  2. Gere, M.K., Villabo, M.A., Torgersen, S., and Kendall, P.C., “Overprotective parenting and child anxiety: The role of co-occurring child behavior problems”, Journal of Anxiety Disorders, Vol.26(6), Aug 2012, pp. 642-649
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: