Cerita Mereka

Melanjutkan postingan sebelumnya. Tiga cerita saya posting di sini ah… 😀

Cerita 1

Saya sedang berdiri di depan paviliun, berusaha beramah-tamah dengan pengunjung. Dibilang berusaha karena aslinya saya nggak bisa berbasa-basi. Tapi salah satu keuntungan bekerja di sini bikin saya mau nggak mau jadi berusaha lebih berinteraksi dengan sesama. And really, I don’t mind about it kok. 🙂

Me : Selamat malam, mau mencoba jadi dubber?

Adik X : Jadi dubber?

Me : Iya, jadi nanti kamu akan bekerja sebagai pengisi suara di anime. Kalau sudah selesai, DVD anime berisi suaramu bisa kamu bata pulang lho…

Adik X : wah, menarik… tapi sayangnya kami sudah reservasi kerjaan yang lain.

Me : Oh iya tidak apa-apa. Kalau ada kesempatan dicobain ya… have fun.. 🙂

Adik X : Makasih sudah menyapa

Dialog di atas saya artikan kurang lebih dari percakapan aslinya dalam Bahasa jepang. Rada kaku karena kami diharuskan memakai Bahasa formal agar anak-anak merasa diperlakukan layaknya orang dewasa.

Nah,  entah kenapa saya jadi terharu dengan kalimat terakhir adik X ini. Biasanya kan paling sekadar “makasih” atau “oke” aja. Dan saya juga nggak ngarep bakal dibalas dengan kalimat lengkap begitu. Kalau yang menjawab begitu orang dewasa sih rasanya kayaknya biasa aja. Tapi ini yang ngomong begitu anak SD umur 9-10 tahun. Sungguh ku terharuuuu… duh dek, your parents have really educated you well 🙂

Cerita 2

Pekerjaan saya sebagai supporting staff dari paviliun dimana anak-anak akan “bekerja” sebagai dubber dalam Bahasa Inggris. Pekerjaan ini direkomendasikan bagi usia enam tahun ke atas yang umumnya sudah mulai bisa membaca minimal hiragana (yap, anak Jepang belajar membaca pertama kali umumnya dari huruf hiragana). Meskipun begitu bagi yang usia enam tahun ke bawah atau belum bisa membaca, maka tugas supporting staff mendikte dialog tersebut untuk ditiru oleh si anak.

Pada suatu hari, saya kebagian sebagai recording staff yang bertugas menyiapkan alat-alat recording, DVD, dan gaji anak-anak ini. Iya, masing-masing anak akan digaji setelah menyelesaikan pekerjaannya, persis pekerjaan yang dilakukan orang dewasa, hanya saja uang yang digunakan hanya berlaku di tempat itu saja. Duh, kok jadi lost focus.

Staff yang berinteraksi langsung adalah senior saya yang cakep usianya lebih muda 8-9 tahun dari saya. Berhubung ada satu anak yang belum bisa baca, jadilah senior cakep ini juga bertugas mendiktekan dialog anak tersebut. Pas latihan sih lancar-lancar saja, pas sesi rekaman:

dek senior cakep (SC) : Y-san, nanti anda ikuti kata-kata saya seperti pas latihan, ya. Tapi bedanya, pas rekaman nanti suara saya berbisik-bisik biar suara saya nggak ikut teretam, tapi Y-san ngomongnya dengan suara seperti pas latihan ya. Ok, mari kita coba. Y-san Halo (dengan suara kecil)

Adik Y (Y): Halo (menirukan dengan suara seperti bicara biasa)

(…dan sesi rekaman pun berlanjut)

SC : I am hungry (memang dialognya begitu)

Y : I am full (dengan suara ceria)

(Mas SC nyengir, saya ngikik tertahan di belakang)

Setelah selesai dek SC ini pun bertanya “Emang tadi aku bilangnya I am full kah?”, nggak kok dek… Adik Y aja yang mungkin nggak pengin berdusta dengan ngomong saya lapar padahal sebenarnya dia kenyang 😛

Cerita 3

Kali ini saya yang bertugas sebagai sound director dan berinteraksi langsung dengan anak-anak. Pada suatu hari datanglah sekeluarga dengan dua anak, perempuan dan laki-laki. Si anak laki-laki (kita sebut saja adik Z) ini baru berusia 3-4 tahun dan akhirnya mau nyobain jadi dubber karena yaa… ngikutin kakaknya sih kayaknya.

Berhubung adik Z ini belum bisa membaca, jadi sama seperti adik Y di atas, dialognya saya dikte dengan harapan adik Z akan menirukannya. Saat latihan si Adik Z ini masih menirukan perkataan saya. Hanya saja suaranya sangat kecil ditambah lagi posisi berdirinya yang jauh dari mic, bikin suaranya tambah nggak kedengaran.

Berhubung kami diminta untuk meng-encourage anak-anak agar melakukan pekerjaannya sebaik mungkin dengan sesering mungkin, dan tentu saja tanpa kalimat negatif (seperti kata ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’), saya pun berusaha agar adik Z bisa mengucapkan dialognya dengan lebih jelas dengan berkata “Z-san, ayo lebih dekat lagi ke mic, ayo suaranya lebih keras lagi ya,” gitu-gitu lah… pokoknya sebisa mungkin tanpa menakut-nakuti. Maklum ya kan konsepnya amusement park, jadi buat nilai-nilai yang mesti ditanamkan meski dengan kalimat negatif mah biarkan lah itu tugas orang tua dan guru di sekolah. Hehehe.

Lah, kok sebelum rekaman, pas saya ulangi lagi perkataan tersebut buat memastikan. Dia langsung melepaskan headphone, berjalan mundur sedikit (kalau mundurnya banyak mentok kaca), dan berjalan seperti robot dengan ekspresi tanpa ekspresi (?), eh beneran tanpa ekspresi lho…, menuju ruangan di belakang booth rekaman, kemudian berdiri mematung setengah menunduk. Dan saya pun bingung. Waduh… piye ikii…

Dan berhubung saya tetap harus memperhatikan anak-anak yang lain juga, akhirnya senior saya yang berusaha membujuk adik Z yang masih berdiri mematung di ruang tersebut. Entah bagaimana senior tersebut merayunya, akhirnya adik Z mau kembali ke recording booth. Wajahnya masih tanpa ekspresi, tapi tatapan matanya menghindari tatapan saya. Dan dia pun hanya diam mematung, meskipun saat rekaman saya mendiktekan dialognya. Hanya sesekali memandang ogah seolah tatapannya berkata “you’ve hurt my pride”. (^_^”)

Dan lagi-lagi, berhubung sedang rekaman dan ada anak-anak lain yang sungguh-sungguh mengerjakan tugasnya, akhirnya dialog adik Z jadi terlewatkan begitu saja.

Sampai setelah selesai sesi pekerjaan kali itu dan saatnya saya menyerahkan “gaji” mereka, adik Z menerima gajinya tetap dengan tatapan “you’ve hurt my pride”-nya. Saya antara mau ketawa karena bingung tapi nggak bisa dan nggak sempat, karena sesi berikutnya sudah menunggu, di sisi lain merasa “ini perkataan gw sebegitu melukai harga dirinya, kah?” (^_^”)

Sampai saat ini sih alhamdulillah masih senang-senang aja kerja di sana. Entah lah, bagi saya berinteraksi dengan mereka membuat saya lupa sesaat dengan dunia nyata. Hihihi. Dan sebelumnya saya kira saya tipikal yang sulit nyemplung ke dunia yang berhubungan dengan service dan langsung berhadapan dengan konsumen. Ternyata, yah… sebenarnya kita merasa takut, tidak nyaman, atau bahkan benci pada sesuatu karena kita belum tahu akan sesuatu tersebut.

Oke deh, tiga cerita dulu aja ya… Kapan-kapan kalau ingat dan kalau sempat disambung lagi. 🙂

 

 

Advertisements

2 responses to this post.

  1. Iya bener, kita ketakutan karena gak tahu jd cuma bs ngira2 yg jeleknya aja

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: