Unboxing iPhone 7 Plus

Percaya nggak percaya, saya baru punya smartphone pertama kali seumur hidup ya pas sampai di Jepang. Dari tahun 2003 sampai 2012, sejak pertama kali menggunakan telepon genggam kelas 1 SMA (Yah, ketauan deh umurnya :P), saya setia dengan HP monokrom yang tidak terkoneksi dengan dunia maya, hanya bisa telepon dan SMS saja.

Saat tiba di Jepang, yang pertama kali dilakukan selain urusan administrasi dan birokrasi di kampus dan ward office adalah urusan keuangan (membuka rekening di JP Post) dan urusan komunikasi (kontrak dengan provider). Untuk urusan terakhir, ini cukup penting mengingat saya anak rantau yang buta huruf dan level percakapan Japanese masih setingkat “selamat pagi-apa kabar” doang. Dengan memiliki telepon genggam, maka kekhawatiran tentang komunikasi akan berkurang. Saat itu pilihannya jatuh pada smartphone karena pertimbangan paket data untuk aplikasi halal, translate, dan maps. Di kemudian hari, saya berkenalan dengan aplikasi komunikasi berbasiskan paket data seperi LINE dan Whatsapp yang dengan keduanya, sms menjadi hampir sepenuhnya ditinggalkan. Yah, mau gimana lagi, free sms paling hanya ke sesama provider, beda provider biayanya cukup mahal. Apalagi makin kesini, tidak hanya komunikasi berbasiskan teks, tapi menelepon juga sudah tidak dengan line telepon biasa yang lagi-lagi jauh lebih mahal dibandingkan dengan telepon melalui aplikasi komunikasi tersebut.

Smartphone pertama saya adalah iPhone 4s yang di-launching akhir tahun 2011. Jadi awal tahun 2012 masih cukup fresh. Saya bukan Apple fans, tapi saat itu pilihannya jatuh ke iPhone karena… yah, mau gimana lagi, namapun orang buta huruf ya, jadi main “ho oh-ho oh” aje. Hehehe. Dengan kontrak selama dua tahun, smartphone pertama saya berhasil saya bawa pulang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun! (diawal, bulan-bulan berikutnya mah bayar lah ya! :P)

Setahun kemudian, keluar smartphone jenis terbaru dari pabrikan saingan. Pihak provider di Jepang jadi berlomba-lomba mencari konsumen dengan segala fasilitas cashback, etc yang menggiurkan. Banyak teman-teman saya yang akhirnya putus kontrak dan berpindah ke provider lain. Waktu itu, melihat banyak yang tergoda, saya yang (sok) anti mainstream malah jadi tidak tertarik untuk pindah. Ga deng, memang karena merasa belum perlu, sih. Eh tapi, sebab utamanya karena malas ribet ngurusinnya! Hehehe.

Kemudian waktu pun berlalu. Mulai dari 5, 5s, 6, 6s, sampai SE di-launched sudah. Kalau dari pabrikan sebelah malah sudah nggak ngerti lagi apa serinya. Dan saya masih setia bersama 4s! Dari diperlakukan bak permata (kayak pernah punya permata aja!), sampai sudah jatuh entah berapa kali dari sepeda; dari iOS 5 yang saat awal-awal begitu powerful, sampai sekarang nggak bisa update iOS lagi karena hardware-nya tidak compatible; Dari yang awal-awalnya sebel banget sama HP sendiri gara-gara merasa pabrikannya matre abis dah! sampai yaudahlah ya, pindah ke produk pabrikan sebelah kok mindahin datanya bakal rempong like rempong sedunia-akhirat! Yah, kalau untuk kesetiaan, saya sudah teruji lah ya… Kesetiaan yang beda tipis sama ke-malas rempong-an! wkwkwkwk.

Dan saya masih setia denga si 4s sampai wifi-nya mulai tidak bekerja plus kelemotan yang tiada tanding yang bikin saya kalau mau text message atau telepon dengan aplikasi berbasiskan data, saya akan melakukannya disambi dengan yang lain. Yah, gimana nggak, lha wong start-up aplikasinya aja bisa makan waktu 30 detik! -_-“

Terus sekarang udah ganti iPhone 7, dongs? Nggak. Belum. Itu judulnya lagi mau nge-test click-bait aja. Muhahahhahahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: