It’s All About “Kepentingan”

Sebut saja A, seorang researcher, dalam perjalanan menuju international conference. Pada masa transit, A menyempatkan jalan-jalan di tempat menarik kota tersebut. A mendengar sekeluarga yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Dia diam saja. Tidak bertatap muka apalagi menyapa. Karena memang tidak ada kepentingannya.

Keesokan harinya, A bertemu kembali dengan orang yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa ibunya. Kali ini adalah seorang senior researcher dari universitas ternama di negaranya. A langsung memperkenalkan diri dan menjadi sangat ramah sekali. Secara kepentingan mungkin berhubungan dengan masa depan risetnya.

Kemudian A berada di lokasi konferensi dan mengikuti sesuai tema yang dia minati. Tentu saja dengan berusaha memperkenalkan diri ke berbagai pihak yang berhubungan dengan kepentingannya. Meski sulit karena kepribadiannya yang sebenarnya pemalu, tapi demi memperlancar kepentingannya dia mengusahakan energi ekstra.

Sebut saja B. Punya cerita yang mirip dengan A. Hanya saja dengan kepentingan berbeda. Sesuatu yang dianggap penting oleh A, sayangnya tidak atau belum penting bagi B, begitupun sebaliknya.

Yah.. Semua tentang kepentingan. Manusia beribadah karena kepentingan pada kekuasaan Tuhan. Orang tua menyayangi anak-anaknya karena kepentingan akan memberikan kasih sayang dan tanggung jawab dalam membesarkan mereka. Guru mengajar murid dengan kepentingan sebagai pendidik atau bisa juga hanya karena kepentingan akan pekerjaan dan murid belajar dengan kepentingan terhadap ilmu atau terhadap nilai.

Ada orang yang ramah dan senang bergaul, mungkin karena bergaul adalah hal yang penting baginya. Dan ada pula yang menarik diri karena memang bukan pergaulan yang penting baginya. Begitu pula dengan pekerjaan, ada yang bekerja demi mencari uang atau demi aktualisasi diri, atau bahkan mungkin demi membunuh waktu yang tanpa disadari justru adalah omset kehidupan yang paling berharga. Dan masih banyak lagi.

Nope, saya tidak bilang kalau itu adalah salah. Toh, bisa dibilang semua di dunia ini mungkin hanyalah tentang kepentingan. Dan sepertinya itu sudah sunatullah dan wajar saja. IMO, yang tidak benar itu adalah saat menjadi yang berkepentingan maka kita melakukan segala cara, bahkan hingga “menjilat”. Tetapi, mengacuhkan orang membutuhkan hanya karena merasa kita tidak punya kepentingan dengan orang tersebut. Setidaknya, saat tidak memungkinkan untuk membantu, maka beritahukanlah dengan baik-baik. Karena kita tidak tahu bagaimana masa depan. Bukan tidak mungkin suatu saat posisi “kepentingan”-nya menjadi terbalik, bukan?

Yup, this post is also a self-reminder for me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: