Cerita Akomodasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di posting-an yang ini. Tentang inap-menginap sepertinya harus dibuat tulisan tersendiri. Dan kali ini saya ingin menuliskan sejarah per-inap-an (eh, bener nggak ya ini penulisannya?  :P). Sejujurnya entah karena saya-nya yang cemen atau gimana, dulu saya sangat menghindari menginap di hotel. Entah kenapa image hotel di mata saya kok jelek. Padahal ya by default, hotel itu tempat untuk menginap saat dalam perjalanan kan ya? Tapi sebisa mungkin saya menginap di tempat yang ada orang yang saya kenal. Saking tidak mau-nya menginap di hotel, saya pernah pulang-pergi Kobe-Hiroshima dalam sehari. Pulangnya sih pakai 18kippu, tapi perginya naik Shinkansen. Pokoknya nggak mau nginep di hotel ajah! (lah, terus apa gunanya pakai tiket murah sejenis 18kippu? -_-”).

Karena itu, saat awal-awal di Jepang, saat bepergian sebisa mungkin mencari kenalan untuk menumpang menginap. Tapi lama-lama segan juga sih ya. Apalagi kalau sebenarnya tidak terlalu dekat dengan orang tersebut. Alhamdulillah, sebagian besar orang Indonesia masih merasa memiliki perasaan sesama perantau yang senang tolong-menolong. Apalagi kalau saudara-saudara satu kampung yang kayaknya malah bakal tersinggung kalau sedang ke daerahnya, tapi memilih menginap di tempat lain. Kesannya jadi seperti tidak menganggapnya sebagai saudara. Di satu sisi bagus sih, tapi di sisi lain, tidak enak juga, karena rasanya kok akan merepotkan. Hehehe. Saya pribadi juga insyaAllah kalau memungkinkan dan kenal dengan orangnya, tidak keberatan untuk diinapi, kok.

Kembali ke paranoid dengan menginap di hotel, padahal ya saya sebelumnya sudah pernah lho menginap di hotel atau wisma. Tapi karena itu dalam rangka ekskursi atau memang sudah difasilitasi oleh kampus dan bersama teman-teman, jadi mungkin image hotel yang kurang baik di mata saya tertutupi. Tapi untuk travelling pribadi saya baru memulai menggunakan penginapan saat pertama kalinya ke Korea. Berhubung pesawatnya mendarat di Seoul dan teman-teman juga banyak yang di Seoul tapi kurang memungkinkan untuk ditumpangi, jadi lah pertama kalinya saya menggunakan booking.com untuk mencari penginapan murah-meriah di Seoul. Saat itu saya pilih jenis female dormitory, karena selain murah, penasaran saja bagaimana rasanya menginap satu kamar dengan sesama traveler.

dorm

Dormitory hostel (source)

Dan Alhamdulillah baik-baik saja. Tidak ada hal-hal “aneh” yang terjadi seperti dalam bayangan saya. Saya pun jadi tidak parno lagi kalau harus menginap sendiri dengan hotel dan sejenisnya. Malah sekarang lebih nyaman menginap di hotel daripada harus menumpang. Selain tidak merepotkan orang lain, juga lebih bebas.

Kalau di Jepang, akomodasi ini bisa dibagi menjadi beberapa jenis seperti: hotel berbintang 3 ke atas (biasanya juga tersedia fasilitas-fasilitas seperti gym, sauna, dll), business hotel (biasanya dengan kamar single bed dan harga menengah ke bawah), dormitory, dan capsule hotel yang kebanyakan digunakan oleh budget traveler. Tidak hanya itu, masih ada juga tempat lain yang biasa digunakan orang Jepang untuk menginap, yaitu karaoke dengan free-time (biasanya dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi dengan harga mulai 1000an yen) dan internet café dengan night pack-nya. Dua-duanya biasanya menyediakan free soft drink sepuasnya.

toyokoinn

Standard single room at business hotel (source)

asahi-plaza-capsule-hotel-03

Capsule hotel (source)

Dan yang lebih menyenangkan lagi, semuanya bisa dipesan lewat internet. Kalau hotel (termasuk jenis dormitory dan capsule hotel), bisa di cek di booking.com, agoda, hingga rakuten. Sedangkan untuk internet cafe dan karaoke bisa dicek di sini dan di sini.

Masih ada sih hotel dengan image sebagai tempat kurang baik, tapi setahu saya tidak bisa reservasi via website, melainkan harus datang langsung ke tempatnya saat akan menggunakan. Di Jepang disebut “Rabuho” a.k.a “Love Hotel”. Kalau berdasarkan video-video yang di-upload youtuber asing yang tinggal di Jepang, hotel jenis ini sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan hotel normal. Hanya saja interior-nya lebih “sophisticated”. Monggo di-search saja kalau penasaran😛. Yang jelas sih hotel jenis ini tetap lebih mahal daripada dormitory dan capsule hotel. Apalagi kalau dibandingkan dengan internet cafe atau karaoke😛

Cara lain yang juga seru adalah dengan airbnb atau couchsurfing. Dua-duanya adalah layanan menerima akomodasi. Hanya saja, untuk airbnb biasanya masih ada tarif dan dengan fasilitas tertentu. Sedangkan couchsurfing, setahu saya benar-benar pure menumpang menginap dengan fasilitas yang benar-benar terserah oleh host yang memberi tumpangan. Saya mendaftar sih di kedua website ini. Tapi belum pernah menggunakannya, baik sebagi guest maupun sebagai host. Akun couchsurfing saya malah sudah tidak pernah dibuka karena lupa password. Hehehe.

Bagaimana dengan masjid? Yah, kalau di Indonesia tidak jarang masjid juga digunakan untuk rehat sejenak oleh para “musafir”, kan ya? Hmm… saying-nya masjid di Jepang biasanya tutup setelah isya, atau setelah tarawih khusus di bulan Ramadhan. Mungkin ada sih beberapa masjid yang memfasilitasi kegiatan i’tikaf, tapi setahu saya biasanya hanya untuk jamaah laki-laki saja.

Jadi, mau menginap di mana kah?🙂

7 responses to this post.

  1. Pernah dengar soal hotel kapsul dan kayaknya aku gak bakal bisa tidur deh ngeliat ukurannya yang cuma muat sebadan itu. Kalo hostel oke mba di jepun?

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on June 16, 2016 at 1:37 pm

      nggak cuma sebadan kok. kita masih bisa duduk di dalamnya🙂
      kalau hostel ya rata-rata dormitory. Ada yang mixed atau female.

      Reply

      • oh bisa duduk toh mba😮 aku baru tau. kirain cukup nya buat baring tok. Brati dormnya sama yaa kayak yg pada umumnya

  2. aku udah mikir airbnb aja deh kalau sekarang seandainya hotel mahal. hotel kapsul pengen sih nyobain tapi Matt gak suka diruangan yang terlalu kecil

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on June 16, 2016 at 1:38 pm

      Iya sih kak. Untuk cowok kayaknya agak kurang nyaman.
      meskipun ada juga sih kapsul yang gedean. Tapi harganya sekitar 600ribuan kalau di rupiahin. Mending airbnb sekalian kali ya.. hehehe

      Reply

  3. cha, masi di jepang ga?

    Reply

  4. Posted by Hicha Aquino on June 16, 2016 at 1:39 pm

    giaaa… yaampun, apa kabar neng? Iya, masih di Jepang. Gia sekarang di mana kah? perasaan dulu kerja di Jakarta bukan ya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: